HUMAS NARSIS MAKA PT PUN AKAN EKSIS

Harapan menjadikan Universitas Pendidikan Indonesia sebagai universitas yang leading dan outstanding adalah tanggungjawab yang bertumpu dipundak berbagai komponen perguruan tinggi (PT) itu sendiri.  Salah satu ujung tombaknya adalah Hubungan Masyarakat (Humas), saat mempublikasikan berbagai media internal dalam menciptakan image PT yang handal di ranah nasional dan internasional.

Menarik dalam mencari strategi kreatif membuat media internal perguruan tinggi. Saat ini memang media internal dibuat bagi kepentingan internal perguruan tinggi namun pada realitasnya harus dapat  digunakan bagi kepentingan eksternal atau publik. Media internal (website universitas, website fakultas, website jurusan atau program studi, majalah, Koran, bulletin atau newsletter) adalah sarana untuk menyampaikan pesan kepada khalayak pembaca, juga sarana komunikasi untuk membangun keakraban antar pihak di dalam PT atau lembaga lainnya, serta  terakhir adalah sarana ekspresi bagi public.  Pada dasarnya relationship dapat dibangun melalui dunia jurnalistik.

Media internal jangan hanya digunakan untuk mengekspose  topik kesuksesan komponen SDM perguruan tinggi.  Perlu dipahami bahwa pembaca media internal bukan saja perguruan tinggi (jajaran pimpinan, karyawan, dosen, mahasiswa) , namun terdapat pembaca lain seperti mitra kerja dan usaha, serta para users (target pasar dan masyarakat luas dari berbagai latar belakang pendidikan berbeda).   Kedekatan dengan media eksternal perlu dilakukan, dan diusahakan di luar topik tersebut.

Jenis2 media internal, newsletter berita singkat(media informasi yang diterbitkan pada waktu-waktu tertentu. Sebaiknya pengelola adalah jurnalis atau pernah mengikuti workshop jurnalistik. Media informasi pun dapat  diterbitkan pada waktu-waktu tertentu, berisi berbagai hal terkini (singkat padat) tentang lembaga atau perusahaan, terutama yang berkaitan langsung dengan tujuan menggaet target. Sesuai dengan perkembangan media komunikasi, newsletter tak hanya berbentuk media cetak tapi juga elektronik.

Memang saat ini di UPI telah menerbitkan beberapa media sepeti website, koran, majalah. bulletin, dalam konteks kehumasan jenis media tersebut diatas member ruang yang luas untuk menciptakan  komunikasi antar stakeholder, sekaligus pencitraan lembaga atau perusahaan dengan cara-cara yang soft antara lain melalui  berbagai liputan human interest dalam bentuk features yang menggambarkan kegiatan serta profil SDM perguruan tinggi.

Pemilihan jenis media ini memang ditentukan sesuai kebutuhan untuk menginformasikan para pembaca agar tujuan publikasi tercapai.  Namun memang perlu ditingkatkan kemampuan editorial dari tenaga kehumasan di bidang jurnalistik. Tujuannya selain memberikan informasi juga diharapkan dapat menjadi  wadah ekspresi sehingga komunitas PT akan merasa memiliki media internal itu.

Upaya peningkatan kualitas media internal UPI tentunya berisi tentang tulisan hasil liputan aktivitas UPI, profil, program pendidikan dan non kependidikan yang ditawarkan,  kegiatan internal karyawan, serta harapan ke depan adalah adanya sarana “atasan dan bawahan” yang merupakan media kritik dan juga wadah ekspresi dosen dan mahasiswa atau komponen SDM lainnya.

Terdapat hal yang patut dicermati dari cover alias wajah media internal UPI dengan mencari body text yang mudah dibaca dan enak di mata, memiliki variasi jenis huruf atau judul yang jelas.  Selain itu  perlu direvisi yang selama ini dihiasi pemuatan foto-foto resmi namun berstandar fotografi (profesional). Pemilihan komposisi desain media internal patut apik (proporsional) antara teks,  gambar,  dan warna. 

Sebagai sarana introspeksi maka humas patut menderapkan langkah strategis sesegera mungkin dengan melakukan  perbandingan dengan media internal perguruan tinggi lainnya, yang akan membuka wawasan dan meningkatkan kualitas media itu sendiri. Sebagai teladan pun dapat disimak pengalaman Pepih Nugraha sang jurnalis bahwa “Sebaiknya konsep penulisan press release 5 W 1 H, berkonsep piramida terbalik, bersifat aktual, proximity, magnitude, menampilkan tema conflict, penting/menarik, prominent people, human.  Pada dasarnya prinsip menulis berita harus bertujuan ditulis untuk orang lain, oleh karena perlu  berbahasa sederhana, ringkas, jelas, runut, serta mudah dimengerti.“



Berita Terkait

0 Komentar : Closed

Kembali