SELAYANG PANDANG KULINER INDONESIA DI MATA NEGARA AMERIKA SERIKAT

Dewi Turgarini, S.S., MM.Par Dosen Program Studi Manajemen Industri Katering Fakultas Pendidikan Ilmu pengetahuan Sosial Universitas Pendidikan Indonesia berpartisipasi dalam acara “Konvensi Seni Kuliner Indonesia” yang dilaksanakan di Sekolah Tinggi Pariwisata Bandung”, pada Selasa (5 Juni 2012).
Kegiatan ini melibatkan para akademisi dari berbagai perguruan tinggi (UPI, STPB, STIEPAR), pelaku usaha kafe dan restoran, asosiasi (ICA, AKAR) dan para juru masak terkemuka di Gedung Nusantara STPB.
Menarik menyimak paparan Chef Widjiono (Yono) Purnomo tentang bagaimana bangsa Amerika secara antusias menerima masakan Indonesia. Ternyata terdapat beberapa alasannya, pertama bangsa Amerika kelaparan untuk rasa baru, dan menarik, rempah-rempah, bahan dan makanan pada umumnya. Kedua bangsa Amerika diantaranya mungkin telah mendengar tentang Bali, dan mereka selalu bersedia untuk mencoba sesuatu hal yang asing. Ketiga bangsa Amerika menyukai gagasan romantis, misteri yang yang eksotis. Keempat adanya kesadaran akan nilai nutrisi sebenarnya masakan Indonesia terbuat dari bahan baku dengan nilai gizi yang sehat dan menggunakan, serta metode pengolahan bahan-bahan seperti tahu, fabulous segar sayuran dan lainnya. “Sesuai pengalaman siapa yang bisa menolak rasa Santan, Kari, Jahe, Ketumbar dan Serai. selama 30 tahun tinggal di Amerika benar-benar menikmati memproduksi masakan Indonesia di New York, dan selama itu pun selalu bersedia mencoba sesuatu yang baru dan menarik.”ujar pria pemilik Yono’s Restaurant di Albany New York itu.
Ia pun menambahkan “Sekarang berkembang ilmu Gastronomi yaitu seni dan ilmu makan yang baik, dan orang yang berpengalaman dalam keahlian memasak disebut gastronome. Sedangkan Gastronomist adalah orang yang menyatukan teori dan praktek dalam studi keahlian memasak. Ilmu Gastronomi pada dasarnya melibatkan menemukan, merasakan, mengalami, meneliti, memahami dan menulis tentang persiapan makanan dan kualitas sensorik gizi manusia secara keseluruhan.(Www.wikipedia.com). Menyinggung definisi cuisine (dari masakan Perancis, memasak, seni kuliner, dapur, akhirnya dari Latin coquere "memasak") adalah serangkaian tertentu tradisi memasak dan praktek, sering dikaitkan dengan kebudayaan tertentu. Hal ini sering dinamai wilayah atau tempat di mana budaya yang mempengaruhinya. Sebuah masakan terutama dipengaruhi oleh bahan-bahan yang tersedia secara lokal atau diperoleh melalui perdagangan. (Www.wikipedia.com). Ia pun memaparkan seni kuliner adalah seni mempersiapkan dan memasak makanan. Kata "kuliner" didefinisikan sebagai sesuatu yang berhubungan dengan, atau tersambung dengan memasak. Culinarian adalah orang yang bekerja dalam seni kuliner. Sebuah culinarian bekerja di restoran umumnya dikenal sebagai juru masak atau koki. (Www.wikipedia.com).
Yono pun mengungkapkan “Suatu masakan di sebagian kawasan manapun tentunya akan dibentuk oleh banyak faktor, pertama adalah iklim karena hal ini akan menentukan peran bahan baku dan termasuk metode memasak. Kedua kondisi ekonomi pun akan berpengaruh kemampuan untuk mengimpor di banyak bagian dunia. Ketiga agama dan hukum di suatu negara akan menentukan masakan yang diperlukan atau dilarang. Keempat secara tradisional dunia dibagi menjadi daerah sesuai dengan penggunaan umum dari ketersediaan bahan baku yang utama. Sebagai ilustrasi Amerika Tengah dan Selatan Amerika adalah penghasil tanaman jagung yang baik, segar dan kering. Eropa utara penghasil gandum dan lemak hewani. Eropa selatan penghasil minyak zaitun, mentega, dan pasta dari gandum. Negara Cina penghasil beras dan mie. Negara di kawasan Timur Tengah penghasil domba, minyak zaitun, lemon, lada dan padi. Negara India penghasil buncis, gandum atau beras. Negara kita terkenal sebagai penghasil beras, kelapa, makanan laut.”
“Sejak akhir tahun 1800-an Negara Amerika telah menjadi melting pot dunia, terjadinya imigrasi membawa budaya, adat dan masakan asli imigran. Negara Amerika menyambut setiap masakan dari seluruh dunia. Permintaan untuk makanan etnis di Amerika adalah refleks keragaman bangsa yang berubah serta berkembangan dari waktu ke waktu. Saat ini di Amerika melakukan suatu gerakan yang dimulai di kalangan para koki terkemuka dan populer untuk memunculkan makanan etnis dalam setiap tradisi daerah mana tren ini berasal. Sebagai contoh adalah publikasi buku masak berjudul “Inspiring
Jadi setelah menyimak paparan Yono tersebut maka jangan ragu untuk melangkah segera untuk mempromosikan makanan khas Indonesia dengan segala keunikan bahan bakunya. Bangsa lain sudah siap menerima keunikan kuliner bangsa kita karena memang itu pula yang menjadi kekuatan bangsa kita sebagai industry kreatif yang ke 15 (Dewi Turgarini).
|








To day
Total
Online 