Kuliah Kerja Lapangan, Prodi Sejarah Kunjungi Objek

Jurusan Pendidikan Sejarah angkatan 2010 FPIPS UPI, Selasa (29/5/2012) melaksanakan kuliah kerja lapangan ke beberapa objek yaitu Trowulan (Jawa Timur), Bali, Solo, dan Yogyakarta secara berturut-turut selama delapan hari. Acara rutin yang diadakan Jurusan Pendidikan Sejarah setiap tahunnya ini merupakan tugas praktikum gabungan dari beberapa mata kuliah semester empat, di antaranya Metodologi Penelitian Sejarah, Sejarah Lokal, serta Sejarah Pergerakan Nasional Indonesia. Semua mata kuliah tersebut mengangkat sejarah dari lokalitas tertentu, terutama yang banyak tersebar di Pulau Dewata Bali.

KKL diikuti 98 orang mahasiswa Jurusan Pendidikan Sejarah dan lima orang Dosen pembimbing. Dalam kegiatan tersebut, mahasiswa mengunjungi sejumlah objek yang telah ditentukan guna mendapatkan informasi yang berguna serta menunjang studi mereka di semester empat. Maka, mahasiswa mengunjungi situs Trowulan yaitu situs peninggalan Kerajaan Majapahit, Museum Bali (Museum Etnografi Bali), Museum Bajrasandi (Museum Perjuangan Rakyat Bali), Situs Garuda Wisnu Kancana, Museum van Leur (Museum Seni Lukis), Museum Arkeologi Gedong Arca,  Istana Kepresidenan Tampak Siring (Satu dari Enam Istana Kepresidenan RI), Desa Adat Panglipuran Bali, Pura Tanah Lot, Situs Manusia Purba Sangiran (Solo), Keraton Surakarta (Solo) dan Benteng Vredenburgh (Yogyakarta).

Mahasiswa dituntut berperan aktif dalam menggali informasi karena kondisi di lapangan sangat berbeda dibandingkan dengan suasana belajar di kampus yang kebanyakan hanya komunikasi dua arah antara mahasiswa dengan dosen.

Acara tersebut bertujuan agar mahasiswa Jurusan Pendidikan Sejarah UPI memiliki kecerdasan intelektual, kritis dalam menanggapi permasalahan dan lokalitas sejarah yang terjadi  langsung di lapangan, serta cepat tanggap dan tidak canggung dalam melakukan penelitian di lapangan dan terjun langsung dalam masyarakat ke depannya sebagai pendidik.

Diharapkan, kuliah kerja lapangan ini menjadikan mahasiswa Jurusan Pendidikan Sejarah lebih menghargai akan warisan peninggalan masyarakat di masa lampau, sehingga menjadi motivasi melakukan sesuatu yang berarti bagi bangsa dan negara serta memupuk rasa kepedulian terhadap kearifan lokal yang terkadang tidak disadari berada di lingkungan kita sebagai masyarakat intelektual di Universitas Pendidikan Indonesia. (WAS)



Berita Terkait

0 Komentar : Closed

Kembali