UPI KUKUHKAN 4 GURU BESAR FPIPS
Universitas Pendidikan Indonesia menggelar acara pengukuhan guru besarnya. Acara yang digelar di balai pertemuan UPI ini dilaksanakan pada hari selasa, 17 juli 2012.
Para guru besar yang dikukuhkan pertama adalah Prof. Dr. H. Dadang Supardan, M.Pd dari bidang ilmu pendidikan sejarah. Kedua Prof. Dr. H. Mahmud Syafei, M.Pd dari bidang ilmu pendidikan agama Islam, Prof. Dr. H. M. Abdul Somad dari bidang ilmu pendidikan agama islam, Prof. Dr. Wanjat Kastolani dari bidang ilmu pendidikan geografi. Para guru besar tersebut membaktikan diri pada unit kerja Fakultas Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial.
Rangkaian acara dimulai dengan pembukaan oleh rektor UPI Prof. Dr. H. Sunaryo Kartadinata, M.Pd. Kemudian Pembantu Rektor II Prof. Dr. H. Idrus Affandi membacakan surat keputusan pengukuhan bagi para guru besar tersebut. Setelah itu Pembantu Dekan I FPIPS Dr.Elly Malihah memaparkan riwayat hidup keempat guru besar tersebut. Selanjutnya Prof. Dr. H. Dadang Supardan, M.Pd dalam kesempatan pertama memaparkan orasi ilmiah yang berjudul "Pembelajaran Sejarah Berbasis Multikultural dan Perspektif Sejarah Lokal, Nasional, Global dalam Integrasi Bangsa. Ada dua alasan kenapa topik ini diangkat karena sesuai dengan bidang ilmu dan semangat new history agar pembelajaran sejarah bisa lebih komprehensif dan lebih hidup.
Terdapat beberapa rumusan masalah pertama adalah analisis integrasi bangsa dan problematikanya. kedua analisis peranan pendidikan sejarah berbasis multikultural dalam integrasi bangsa. Ketiga analisis peranan pendidikan berperspektif sejarah lokal, nasional, dan global dalam integrasi bangsa. Ia menyimpulkan diantaranya bahwa pembelajaran sejarah berbasis mulltikultural memiliki peran penting terhadap integrasi bangsa. Pembelajaran sejarah berbasis multikultural menerapkan pendekatan interdisiplin dengan menggunakan konsep-konsep sejarahn antropologi, dan sosiologi akan mendorong siswa agar lebih menarik karena memiliki keterkaitan dengan kehidupan sehari-hari siswa yang menyentuh akar sosial-budaya dilingkungannya.
Kemudian Prof. Dr. H. Muhammad Syafe'i, M. Ag., M.Pd.I., memaparkan orasi ilmiah berjudul "Menggagas Model Pembelajaran Pendidikan Agama Islam Berbasis Pesantren." Ia mengungkapkan bahwa model pembelajaran pendidikan agama Islam berbasis pesantren menawarkan seperangkat konsep dan format baru. Terutama bagi pesantren yang selama ini masih menggunakan berbagai perangkat yang terkesan tradisional, tidak solutif, ekslusif harus bersegera merubah diri menjadi pesantren modern memiliki visi masa depan sebagai problem solver. Penetapan tujuan, program, proses dan kurikulum yang bersumber dari wahyu ??????? SWA, dan contoh serta teladan dari Nabi Muhammad SAW. Hal itu harus diintegrasikan dengan berbagai hasil kajian empirik, sebagaimana teori yang dikemukakan Ismail Raji al Faruki (1995) dan Naquib al Attas tentang "Islamisasi Ilmu Pengetahuan."
Tampilan Pendidikan Seni Musik dari Fakultas Pendidikan Bahasa dan Seni pun menghibur para hadirin di pagi hari tersebut. Tito Gusfia R dan Gina Umayati menyanyikan lagu "Phantom of The Opera", karya Andrew Llyod Webber dengan diiringi oleh Orkes Simfoni Bumi Siliwangi. Kemudian penampilan kedua adalah dinyanyikannya lagu "Jangkrik", karya Mang Koko. Lagu sunda ini dinyanyikan oleh Setra, Yanti, Ranti, Rina, Riski, Restu, Gan, Adam, Asep dan Juli. Terakhir adalah "Pangrawit," oleh Tedi Nur Rochmat, Bani Ambara dan Iwan Gunawan.
Orasi ilmiah kemudian dilanjutkan oleh Prof. Dr. H. M. Abdul Somad, M.Pd yang mengungkapkan orasi ilmiah berjudul "Pendidikan Keimanan untuk Mencapai Manusia Seutuhnya." Dalam paparannya ia menyampaikan bila lembaga pendidikan ingin mengokohkan diri sebagai lembaga berbasis keimanan maka sebaiknya porsi pendidikan agama dalam kurikulum nasional tidak hanya 25 persen. Kedua pendidikan harus punya peran strategis untuk menyuguhkan konsep keimanan yang benar. Ketiga pendidikan keimanan harus dilakukan secara terus menerus. Keempat para guru dan dosen seyogianya mempunyai komitmen yang sama untuk membina keimanan dengan cara. Mengintegrasikan disiplin ilmu dengan keimanan. Terakhir adalah pesan khususnya bagi UPI untuk memperkokoh jati diri sebagai Universitas Pelopor dan Unggul di bidang Ilmu Pendidikan Agama Islam dan pendidikan disiplin ilmu berbasis keimanan yang kokoh.
Prof. Dr. Wanjat Kastolani, M.Pd memaparkan judul orasi ilmiah, "Strategi Konservasi Wilayah Pesisir yang Berkelanjutan. Dalam orasinya ia menyampaikan bahwa konservasi wilayah pesisir yang berkelanjutan dapat dilaksanakan dengan menggunakan strategi yang tepat. Strategi itu adalah segera merumuskan kebijakan, membuat mekanisme koordinasi, mengembangkan kemitraan dalam pemanfaatan pesisir. Selanjutnya adalah melakukan strategi perlindungan dengan menetapkan zonasi perlindungan. Lalu strategi pelestarian harus dilakukan dengan menerapkan kebijakan insentif dan disinsentif untuk membangun sarana dan prasarana pelestarian untuk melestarikan keanekaragaman hayati wilayah pesisir dan meningkatkan apresiasi dan kesadaran nilai dan kebermaknaan keanekaragaman hayati wilayah pesisir. Tentunya semua itu dapat terlaksana dengan dukungan komitmen dari stakeholder dengan penerapan etika lingkungan berprinsip ekosentrisme.
Setelah orasi ilmiah yang dipaparkan oleh empat guru besar tersebut kemudian Rektor UPI memberikan kata sambutannya. Beliau memaparkan pentingnya pemaknaan dari orasi ilmiah para empat guru besar. Pesannya khusus bagi Prof. Dr. H. Dadang Supardan adalah mengajak untuk mengkaji keberadaan kita dalam kondisi sebagai bangsa yang multikultur, yang tentunya secara historis di indonesia akan berbeda dengan bangsa lain. “Lihatlah proses pembelajaran berbasis jati diri kultural bangsa Indonesia harus disebarkan ke bangsa ini. Terdapat persoalan empati, respek, etik yang menjadi masalah multikultur perlu dilakukan pemberian solusinya. Selanjutnya bagi Prof.Dr. Wanjat, tentang wilayah pesisir memang harus dikonservasi secara berkelanjutan dengan dilakukannya penjagaan agar sumber daya alam dapat diwariskan kepada generasi selanjutnya. Kepada Prof. Dr. H. Mahmud Abdul Somad, dan Prof. Dr. H. Muhammad Syafe’i orasi ilmiahnya telah mengungkapkan secara tegas untuk mengingatkan proses pendidikan agar tidak terlepas dari esensi manusia sebagai mahluk Allah SWA. Dan memang proses pembelajaran yang bernilai universal dari lembaga pendidikan pesantren menunjukkan pembangunan kemandirian, dan kemampuan bertahan hidup yang luar biasa. Namun pada prakteknya harus tidak lepas dari tujuan, kultur bangsa Indonesia yang tentunya berimplikasi besar. Rektor pun mengajak ke empat guru besar agar menjaga keutuhan pidato ilmiahnya agar menghasilkan konsep yang bisa bermanfaat bagi universitas, publik, bangsa, negara.
Setelah terlaksananya orasi ilmiah di FPIPS kemudian dilaksanakan acara penyambutan dan syukuran di FPIS. Dalam kesempatan tersebut Pembantu Rektor II Bidang SDM dan Keuangan Prof. Dr. H. Idrus Afandi menyampaikan pengukuhan ini merupakan puncak-puncak kepangkatan, sedangkan puncak keilmuan adalah doktor. Kedua hal tersebut melekat karena kepangkatan didukung keahlian. Guru besar bila tidak bisa mengembangkan, dan networking jurusannya masing-masing. Segeralah bergerak namun melanggar etika, mendorong generasi muda karena yang abadi hanyalah perubahan. Sebagai akademisi dan manusia yang terpenting adalah berusaha sekuat tenaga, lalu berdoa nanti tuhan yang menentukan semuanya. Oleh karena itu selama masa pengabdian harus berusaha optimal. Serta harus mempunyai cita-cita idealis namun pragmatis sebagai ibadah kepada Allah SWA dengan dipenuhi rasa ikhlas akan membuat diri berhasil.
Di penghujung acara sebagai wakil para guru besar yang dikukuhkan Prof. Dr. H. Dadang Supardan menyampaikan ucapan terimakasih atas dorongan Prof. Dr. Idrus Affandi, keluarga dan juga semua pihak yang mendukung untuk menjadi guru besar. “Hal yang terpenting adalah motivasi akan membuat diri mampu bekerja keras. Kedua anda semua harus menjadi pemimpin akademik yang mampu menyinari, mewarnai prodi dan jurusan. Tentunya harus mampu pula menciptakan budaya akademik kritis, kreatif dan inovatif akan menjadikan semua insane akademik yang sempurna.” pungkasnya.
|







To day
Total
Online 