Strategi Konservasi Wilayah Pesisir Yang Berkelanjutan

Bismilahirrohmanirrohim
Assalamualaikum warohmatullohi wabarokatuh
Yang saya hormati:
Pimpinan, dan Anggota Majelis Wali Amanah
Rektor, dan Pembantu Rektor
Pimpinan dan Anggota Dewan Audit
Pimpinan dan Anggota Senat Akademik
Pimpinan dan Anggota Dewan Guru Besar
Pimpinan Fakultas, Sekolah Pascasarjana, Kampus Daerah, dan Lembaga
Direktur Direktorat, Kepala Biro, dan Kepala Sekretariat Universitas
Ketua Jurusan/Program Studi, Sekretaris Jurusan serta Para Dosen,
Pimpinan Organisasi Kemahasiswaan
Para Karyawan di Lingkungan Universitas Pendidikan Indonesia
Para Tamu Undangan dan hadirin yang berbahagia
Puji dan syukur marilah kita panjatkan ke hadirat Allah Subhana Wata’ala yang telah melimpahkan rahmat dan karunia kepada kita, sehingga dapat hadir dalam pengukuhan guru besar hari ini. Semoga anugerah dan amanah sebagai guru besar Universitas Pendidikan Indonesia yang saya terima dapat saya jalankan secara optimal. Salawat dan salam senantiasa terlimpah curahan kepada Rosulullah Saw serta keluarga, sahabat dan umatnya akhir zaman. Amin
Pada hari yang berbahagia ini, perkenankanlah saya menyampaikan pidato pengukuhan guru besar dengan judul:
Strategi Konservasi Wilayah Pesisir Yang Berkelanjutan
Hadirin yang saya muliakan,
- A. Pendahuluan
Konservasi wilayah pesisir yang dimaksud dalam pidato ini adalah upaya perlindungan, pelestarian dan pemanfaatan serta ekosistemnya untuk menjamin keberadaan dan kesinambungan sumberdaya pesisir dengan tetap memelihara dan meningkatkan kualitas nilai dan keanekaragaman hayati (Departemen Kelautan dan Perikanan, 2007: 3).
Kata kunci dari konservasi wilayah pesisir mencakup pemanfaatan, perlindungan, pelestarian, serta terjaminnya ekosistem yang berkesinambungan. Hal tersebut dilakukan karena sumberdaya pesisir baik flora, fauna, dan ekosistem memiliki kegunaan dan nilai ekologis, ekonomis dan sosial yang penting.
Kualitas dan keanekaragaman hayati wilayah pesisir harus terus dikonservasi sehingga keanekaragaman hayatinya terus meningkat dan kondisi ekosistem dalam keadaan homeostatis. Sebaliknya, jika suatu ekosistem pesisir menunjukkan keanekaan hayatinya mengalami penurunan harus diwaspadai sebagai tanda perlunya upaya untuk pemulihan kembali. Sebab jika tidak dilakukan konservasi bukan saja ekosistem pesisir yang rusak, tetapi juga nasib manusia (masyarakat pesisir) yang terancam.
Pada saat ini program/strategi konservasi wilayah pesisir menjadi agenda penting mengingat kerusakan sumberdaya pesisir akibat pencemaran yang berasal dari wilayah pesisir dan sekitarnya. Dari daerah sekitarnya berupa pencemaran limbah domestik, limbah industri, bahkan adanya erosi dari lahan pertanian yang topografinya curam. Sedangkan dari wilayah pesisir berupa pencemaran yang berasal dari pertanian, perikanan, serta kegiatan lainnya.
Dampak pencemaran dan kerusakan lingkungan di wilayah pesisir dapat membahayakan kelestarian ekosistem pesisir. Ekosistem pesisir yang rusak dapat mengganggu kehidupan dan penghidupan manusia, spesies lain dan lingkungannya. Seperti dengan keanekaragaman hayati menurun menunjukkan terjadinya kepunahan spesies tertentu. Kepunahan spesies tertentu dapat mengganggu keseimbangan ekosistem pesisir, karena akan menyebabkan spesies lain akan melimpah sehingga rantai makanan terganggu. Padahal dalam sistem rantai makanan sebelumnya sudah demikian teratur.
Hadirin yang saya muliakan,
- B. Alasan Menekuni Konservasi Wilayah Pesisir
Mengapa saya tertarik menekuni konservasi wilayah pesisir? Hal ini disebabkan pada saat menempuh studi pada jenjang S-1 Pendidikan Geografi IKIP Bandung, lulus tahun 1986, saya disiapkan untuk menjadi guru geografi. Pada jenjang pendidikan ini saya diberi bekal ilmu kegeografian mulai dari Geografi Fisik, Geografi Teknik, Geografi Regional dan Geografi Sosial. Dengan bekal ilmu tersebut, diharapkan menjadi insan yang dapat memberikan pencerahan kepada generasi muda tentang fenomena keruangan yang wajib disyukuri disertai dengan perilaku yang ramah lingkungan.
Pada saat mengikuti pendidikan S-2 Pendidikan Lingkungan Hidup dan Kependudukan Program Pasca Sarjana IKIP Jakarta lulus tahun 1996, saya disiapkan menjadi Magister dalam Pendidikan Lingkungan Hidup dan Kependudukan. Diharapkan dengan bekal ilmu tersebut dapat memanfaatkan dan membangun masyarakat secara berkelanjutan. Berkelanjutan baik dilihat dari aspek lingkungan, ekonomi dan sosial. Tesis yang disusun pada jenjang magister yaitu Kemampuan Petani Mengelola Lahan Pertanian Secara Ekologis di Sub DAS Cikundul Cianjur.
Selanjutnya, saya memperdalam ilmu dengan menempuh S-3 Pendidikan Lingkungan Hidup dan Kependudukan, Program Pasca Sarjana Universitas Negeri Jakarta, lulus tahun 2003. Diharapkan dengan bekal ilmu tersebut saya disiapkan menjadi Doktor dalam bidang Pendidikan Lingkungan Hidup dan Kependudukan yang dapat memberikan pengetahuan, pencerahan, pemikiran dan inovasi kepada masyarakat agar dalam menjalankan hidup harus memperhatikan daya dukung lingkungan sesuai dengan prinsip pembangunan berkelanjutan. Pada saat menempuh program Doktor, penelitiannya difokuskan pada “Partisipasi Masyarakat Dalam Konservasi Wilayah Pesisir (Survei Di Pesisir Kabupaten Subang Provinsi Jawa Barat)”.
Saat ini degradasi lingkungan wilayah pesisir sudah mengancam kehidupan dan penghidupan manusia serta ekosistemnya. Rusaknya ekosistem pesisir mengakibatkan nilai guna langsung, nilai guna tidak langsung, nilai guna pilihan, serta nilai guna konsumtif tidak berfungsi lagi. Otomatis fungsi lingkungan hidup dari wilayah pesisir pun terganggu. Oleh karena itu, untuk menjawab tantangan tersebut maka jawabanya adalah konservasi, karena konservasi dapat melindungi, melestarikan dan memanfaatkan ekosistem wilayah pesisir secara berkelanjutan.
Hadirin yang saya muliakan,
- C. Ancaman Kerusakan Wilayah Pesisir
Fenomena kerusakan wilayah pesisir dapat dipantau baik melalui media cetak dan elektronik maupun dapat dilihat secara langsung di lapangan. Kerusakan wilayah pesisir bukan hanya oleh penduduk wilayah pesisir saja, tetapi juga oleh penduduk sekitarnya. Penduduk pesisir biasanya membuang limbah domestik (sampah, hasil pengolahan ikan, dan kegiatan lainnya). Sedangkan penduduk sekitarnya tidak memperhatikan kaidah-kaidah konservasi, termasuk dalam kegiatan pertanian sehingga menimbulkan erosi. Erosi dan limbah dari daerah sekitarnya akan masuk ke sungai dan mengalir ke wilayah pesisir. Oleh karena itu, wilayah pesisir sangat rentan terhadap kerusakan lingkungan.
Wilayah pesisir tergolong sumberdaya milik bersama, harus tetap lestari dan berkelanjutan. Dengan telah terjadinya perubahan kondisi lingkungan berupa erosi dan pencemaran akan dapat mengancam keanekaragaman hayati dan sumberdaya alam. Menurut Hardin (1968: 162) bahwa pemanfaatan sumberdaya milik bersama harus mempertimbangkan faktor internalitas lingkungan dan faktor ekstenalitas lingkungan. Yang dimaksud dengan internalitas lingkungan adalah mengambil peran (bertanggungjawab) untuk mengelola dampak lingkungan yang dapat merugikan keselamatan manusia dan lingkungan sekitarnya. Sedangkan eksternalitas lingkungan adalah perilaku yang tidak bertanggungjawab atas kegiatan yang dilakukannya sehingga dapat merugikan manusia dan lingkungan sekitarnya.
Sumberdaya yang ada di wilayah pesisir sebagai sumberdaya milik bersama memiliki manfaat ekologis yakni (1) nilai guna langsung; (2) nilai guna tidak langsung; (3) nilai guna pilihan; dan (4) nilai guna nonkonsumtif (Wiratno et. al, 2004:144). Nilai guna langsung, meliputi komoditas pangan yang dihasilkan kawasan, produk-produk hutan atau laut dan manfaat rekreasi. Nilai guna tidak langsung, meliputi manfaat-manfaat fungsional dari proses ekologis yang secara terus menerus memberikan perannya kepada masyarakat maupun ekosistem. Nilai guna pilihan, meliputi manfaat sumberdaya alam yang tersimpan atau dipertahankan bagi kepentingan masa depan, misalnya sumber daya hutan yang menyimpan plasma nutfah atau sumber genetik. Nilai guna nonkonsumtif, meliputi nilai keberadaan, yaitu nilai yang diberikan masyarakat kepada kawasan konservasi atas manfaat spiritual, estetika dan kultural; serta nilai warisan, yaitu nilai yang diberikan masyarakat yang hidup saat ini terhadap suatu sumber daya tertentu agar tetap utuh dan bisa dimanfaatkan oleh generasi mendatang.
Oleh karena itu, apabila terjadi kerusakan lingkungan yang parah, diduga sumberdaya milik bersama ini akan kehilangan nilai guna langsung, nilai guna tidak langsung, nilai guna pilihan dan nilai guna nonkonsumtif seperti yang diuraikan sebelumnya. Terjadinya kerusakan lingkungan mengakibatkan habitat alami rusak.
Menurut Primack (1998: 59) bahwa di banyak wilayah kepulauan atau tempat-tempat yang banyak penduduknya, hampir semua habitat alami telah rusak, 47 negara dari 57 negara tropik di Afrika dan Asia telah kehilangan 50% atau lebih habitat hutan tropiknya. Bahkan di Asia, 65% habitat hutan tropiknya telah musnah.
Berdasarkan uraian di atas, ancaman utama pada keanekaragaman hayati di wilayah pesisir adalah terjadinya kerusakan lingkungan dan kepunahan habitat. Oleh karena itu, cara yang paling baik untuk melindungi keanekaragaman hayati yaitu dengan cara melakukan konservasi.
Hadirin yang saya muliakan,
- D. Tipologi Wilayah Pesisir
Kondisi fisik habitat wilayah pesisir banyak dipengaruhi oleh perubahan yang ada di daratan maupun lautan. Wilayah pesisir dalam Undang-undang No. 27 Tahun 2007 Tentang Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-pulau Kecil adalah daerah peralihan antara ekosistem darat dan laut yang dipengaruhi oleh perubahan di darat dan laut.
Dahuri (2003: 26- 143) membagi wilayah pesisir secara garis besar ke dalam dua kelompok ekosistem, yakni ekosistem yang tidak tergenang air dan ekosistem yang tergenang air. Ekosistem yang tidak tergenang air mencakup (1) formasi pescaprae dan (2) formasi barringtonia.
1) Ekosistem yang tidak tergenang air
(1) Formasi Pescaprae dikenal dengan sebutan gosong pantai berpasir. Formasi ini didominasi tumbuhan pionir, terutama kangkung laut (Ipomoea pescaprae). Orang kebanyakan melihat tumbuhan ini terkadang dianggap mengganggu pemandangan di pantai, padahal tumbuhan ini berfungsi sebagai pelindung pantai. yang dapat menahan ombak.
(2) Formasi barringtonia ditandai dengan komunitas rerumputan dan belukar yang ada di pantai berbatu tanpa pasir (gravvel). Formasi ini ditumbuhi cemara laut (Casuarina equisitifol) dan Callophyllum innophyllum.
2) Ekosistem yang tergenang air
Ekosistem yang tergenang air meliputi (1) terumbu karang (2) padang lamun (3) hutan mangrove (4) estuaria dan (5) rumput laut. Berikut ini diuraikan sepintas tentang ekosistem pesisir yang tergenang air.
(1) Terumbu karang
Terumbu karang berkembang baik hanya di daerah tropik. Terumbu karang terbentuk dari endapan-endapan masif terutama kalsium karbonat yang dihasilkan oleh hewan karang (filum Scnedaria, kelas Anthozoa, ordo Madreporaria Scleractinia), alga berkapur dan organisme-organisme lain yang mengeluarkan kalsium karbonat (Nybakken, 1986: 25). Hewan karang termasuk kelas Anthozoa berarti hewan berbentuk bunga (Antho artinya bunga; zoa artinya hewan).
Ekosistem terumbu karang mempunyai produktivitas organik yang tinggi. Hal ini disebabkan oleh kemampuan terumbu karang untuk menahan nutrien dalam sistem dan berperan sebagai kolam untuk menampung segala masukan dari luar. Nilai produksi bersih terumbu karang berkisar 300-5000 g C (Carbon) m2 per tahun, lebih tinggi dari ekosistem sekitarnya (Nybakken, 1986: 27)
Secara ekologis, terumbu karang dapat berfungsi melindungi komponen ekosistem pesisir lainnya dari gempuran gelombang dan badai. Terumbu karang termasuk ekosistem yang sangat rentan terhadap gangguan akibat kegiatan manusia. Apabila rusak, terumbu karang memerlukan pemulihan dengan kurun waktu yang cukup lama.
Adapun yang menjadi parameter ekosistem terumbu karang yaitu tingkat kejernihan air laut, temperatur, salinitas, sirkulasi arus dan sedimentasi. Faktor sedimentasi dapat menutupi permukaan terumbu karang, sehingga berdampak negatif terhadap hewan karang dan biota yang berasosiasi dengan habitatnya.
(2) Padang lamun
Padang lamun. Tumbuhan lamun (seagrasses) termasuk tumbuhan berbunga (Angiospemae) yang telah sepenuhnya beradaptasi hidup terbenam di dalam laut. Tumbuhan ini mempunyai sifat yang memungkinkan hidup yakni karena (1) mampu hidup pada media air asin; (2) mampu berfungsi normal dalam keadaan terbenam; (3)mempunyai sistem perakaran jangkar yang berkembang baik; (4) mampu melaksanakan penyerbukan dan daur generatif dalam keadaan terbenam. Tanaman lamun memiliki bunga dan buah yang kemudian berkembang menjadi benih.
Lamun tumbuh subur terutama di daerah terbuka pasang surut dan perairan pantai yang dasarnya berupa lumpur, pasir, kerikil, patahan karang mati dengan kedalaman sampai empat meter. Padang lamun dapat berbentuk vegetasi tunggal, tersusun atas satu jenis lamun yang tumbuh membentuk padang lebat, sedangkan vegetasi campuran terdiri dari dua sampai 12 jenis lamun yang tumbuh bersama-sama pada satu substrat. Spesies lamun yang tumbuh dengan vegetasi tunggal adalah Thalassia henprichii, Enhalus acoroides, Halophila ovalis, Halodule uninervis, Cynmodocea serrulata, dan Thalassodendrom ciliatum. Pada substrat berlumpur di daerah mangrove ke arah laut, sering dijumpai padang lamun dari spesies tunggal yang berasosiasi tinggi (Dahuri, 2003: 39). Adapun yang menjadi parameter pertumbuhan ekosistem lamun mencakup tingkat kejernihan air laut, temperatur, salinitas, substrat dan kecepatan arus perairan.
(3) Hutan mangrove
Hutan mangrove ada yang menyebut sebagai hutan pasang surut, hutan payau atau hutan bakau. Bakau sebenarnya menunjukkan kepada salah satu jenis tumbuhan yang menyusun hutan mangrove yaitu jenis Rhizophora spp. Pemberian istilah hutan bakau dinilai kurang tepat, namun sebutan yang tepat adalah hutan mangrove.
Hutan mangrove termasuk hutan tropika dan subtropika yang tumbuh di sepanjang pantai atau muara sungai serta dipengaruhi pasang surut air laut. Mangrove banyak tumbuh pada wilayah pesisir yang dapat menahan ombak serta berada pada daerah yang landai. Pertumbuhan yang optimal dari mangrove spesies Rhyzophora spp terutama pada wilayah pesisir yang memiliki sungai besar dan delta yang aliran airnya banyak mengandung lumpur.
Pertumbuhan mangrove mengikuti pola zonasi. Pola zonasi berkaitan erat dengan faktor lingkungan seperti kondisi tanah (lumpur, pasir, gambut), keterbukaan terhadap hempasan gelombang, salinitas serta pengaruh pasang surut. Pembentukan zonasi dimulai dari arah laut menuju daratan, yang terdiri dari zona Avicennia dan Sonneratia yang berada paling depan serta berhadapan dengan laut. Zona dibelakangnya berturut-turut Rhizhopora, Bruguiera, dan Ceriops (Dahuri, 2003: 60).
Adapun yang menjadi parameter lingkungan utama dalam menentukan pertumbuhan mangrove antara lain suplai air tawar dan salinitas, pasokan nutrien, dan stabilitas substrat. Berdasarkan parameter tersebut, menunjukkan bahwa adanya sungai yang bermuara ke laut yang membawa air tawar yang diikuti dengan sejumlah nutrien merupakan faktor kunci pertumbuhan mangrove.
Ekosistem hutan mangrove secara ekologis memiliki fungsi sebagai tempat mencari makan, memijah, memelihara berbagai macam biota perairan (ikan, udang, dan kerang-kerangan). Hutan mangrove merupakan habitat berbagai jenis satwa, baik sebagai habitat pokok maupun habitat sementara, penghasil sejumlah detritus, dan perangkap sedimen. Dari segi ekonomi, vegetasi ini dapat dimanfaatkan sebagai sumber penghasil kayu bangunan, bahan baku kertas, kayu bakar, arang, alat tangkap ikan dan sumber bahan lain, seperti tannin dan pewarna (Mukkhtasor, 2007: 36).
Hasil penelitian MacFarlane et. al. (2003: 139-151) menunjukkan bahwa akar mangrove spesies Avicennia marina atau sebutan masyarakat adalah api-api digunakan sebagai indikator biologis lingkungan yang tercemar logam berat terutama tembaga (Cu), timbal (Pb), dan seng (Zn) melalui monitoring secara berkala. Hal ini menunjukkan spesies Avicennia marina memiliki toleransi yang besar serta mengakumulasi berbagai jenis logam. Sementara spesies mangrove jenis lainnya kurang toleran terhadap logam berat.
Apabila suatu daerah pesisir yang tercemar logam berat, seperti yang diuraikan di atas maka hanya mangrove spesies Avicennia marina saja yang dapat bertahan. Artinya spesies mangrove lainnya tidak dapat bertahan karena tidak mampu beradaptasi dengan perubahan lingkungan.
(4) Estuaria
Estuaria adalah wilayah sungai yang ada di bagian hilir dan bermuara ke laut, sehingga memungkinkan terjadinya pencampuran antara air tawar dan air laut. Estuaria didominasi oleh substrat lumpur yang berasal dari endapan yang dibawa oleh air tawar sehingga bersatu dengan air laut. Partikel yang mengendap kebanyakan bersifat organik, substrat dasar estuaria kaya akan bahan organik. Bahan organik tersebut sebagai cadangan makanan utama, bagi pertumbuhan mangrove dan organisme lainnya. Komponen fauna estuaria dihuni oleh biota air laut dan air tawar. Komponen fauna estuaria didominasi hewan stenohaline dan hewan eurihaline. Hewan stenohaline adalah hewan yang terbatas kemampuannya dalam mentolerir perubahan salinitas sampai 30 permil. Sedangkan hewan eurihaline adalah hewan khas laut yang mampu mentolerir penurunan salinitas hingga di bawah 30 permil.
Parameter lingkungan utama ekosistem estuaria antara lain sirkulasi air, partikel tersuspensi dan kandungan polutan. Dengan demikian ekosistem estuaria ini sangat sensitif terhadap perubahan sirkulasi air, tersuspensinya partikel dan polutan.
(5) Rumput laut
Rumput laut (seaweed) dapat hidup pada perairan yang cukup cahaya. Nutrien yang diperlukan oleh rumput laut diperoleh langsung dari air laut. Nutrien tersebut dihantarkan melalui upwelling, turbulensi dan masukan dari daratan.
Rumput laut memiliki produktivitas yang cukup besar, dan hewan pemangsa langsung rumput laut relatif sedikit. Diperkirakan produksi bersih rumput laut yang memasuki jaring makanan melalui pemangsaan hanya 10 %, sisanya 90 % masuk melalui rantai bentuk detritus atau bahan organik terlarut (Nybakken, 1986: 61).
Berdasarkan uraian di atas tentang ekosistem pesisir yang tidak tergenang air dan yang tidak tergenang air menunjukkan bahwa ekosistem tersebut memiliki nilai yang sangat penting bagi manusia dan lingkungannya. Terpeliharanya ekosistem pesisir dapat memberikan manfaat bukan hanya untuk saat ini saja, tetapi untuk masa yang akan datang.
Menurut hemat saya, ekosistem pesisir memiliki potensi yang sangat besar untuk dikembangkan terutama dalam bidang jasa-jasa lingkungan. Jasa-jasa lingkungan tersebut anatar lain kegiatan parisiwata, pendidikan dan penelitian wilayah pesisir.
Hadirin yang saya muliakan,
- E. Konservasi Wilayah Pesisir yang Berkelanjutan
Konservasi wilayah pesisir di sini mengacu pada konsep pembangunan berkelanjutan. Pembangunan yang berkelanjutan adalah pembangunan yang dapat memenuhi kebutuhan generasi saat ini dan kebutuhan generasi mendatang. Pembangunan yang berkelanjutan dilaksanakan tanpa mengurangi fungsi lingkungan hidup. Lingkup pembangunan berkelanjutan meliputi aspek lingkungan, ekonomi, dan sosial yang diterapkan secara seimbang serasi selaras dengan alam. Hal ini sesuai dengan amanat Undang-Undang No. 32 Tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup pasal 1 ayat 3, bahwa pembangunan berkelanjutan adalah upaya sadar dan terencana yang memadukan aspek lingkungan hidup, sosial dan ekonomi.
Purba ed. (2002: 18-20) mengemukakan lima prinsip utama pembangunan berkelanjutan yakni dengan menggunakan prinsip (1) keadilan antar generasi; (2) keadilan dalam satu generasi; (3) pencegahan dini; (4) perlindungan keanekaragaman hayati; dan (5) internalisasi biaya lingkungan dan mekanisme insentif.
Kelima prinsip di atas, mengandung arti bahwa pembangunan harus memberikan jaminan supaya serasi, selaras dan seimbang dengan daya dukung lingkungan. Oleh karena itu, daya dukung lingkungan yang ada di wilayah pesisir seharusnya tetap terpelihara dan terjaga baik sehingga dapat dimanfaatkan secara terprogram secara lestari bagi kesejahteraan generasi mendatang.
Mengapa kita harus melakukan konservasi wilayah pesisir saat ini? Untuk menjawab pertanyaan tersebut marilah kita ikuti uraian berikut. Seperti yang telah dibahas sebelumnya, bahwa kerusakan lingkungan telah terjadi di wilayah pesisir yang diakibatkan oleh perilaku manusia di wilayah pesisir dan di daerah sekitarnya. Kerusakan lingkungan tersebut dapat mengancam fungsi lingkungan hidup wilayah pesisir. Fungsi lingkungan hidup akan mengancam kelestarian tipologi ekosistem pesisir, yang meliputi ekosistem yang tidak tergenang air dan ekosistem yang tergenang air.
Konservasi wilayah pesisir sebagaimana telah diuraikan sebelumnya adalah upaya perlindungan, pelestarian dan pemanfaatan serta ekosistemnya untuk menjamin keberadaan dan kesinambungan sumberdaya pesisir dengan tetap memelihara dan meningkatkan kualitas nilai dan keanekaragaman hayati (Departemen Kelautan dan Perikanan, 2007: 3).
Hadirin yang saya muliakan,
Mengapa konservasi wilayah pesisir menggunakan kata “berkelanjutan”? Sebab ada konservasi yang tidak berkelanjutan. Seperti melaksanakan konservasi dengan vegetasi yang tidak sesuai dengan habitat asalnya, dengan cara mendatangkan tumbuhan-tumbuhan pendatang (eksotik) sesuai dengan keinginan yang menanamnya. Aspek lainnya yang kurang diperhitungkan adalah fungsi dari tumbuhan tersebut bagi ekosistem di tempat konservasi. Secara ekologis suatu tumbuhan sudah beradaptasi dengan habitat asalnya.
Dalam konservasi ada aspek yang tidak boleh diabaikan yaitu kondisi lingkungan, ekonomi, dan sosial. Lingkungan yang dimaksud mencakup tumbuhan dan hewan harus sesuai dengan habitatnya sehingga dapat tumbuh optimal. Ekonomi yang dimaksud bahwa untuk melakukan konservasi membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Konservasi harus memperhitungkan faktor biaya penanaman, biaya perawatan, dan biaya pengamanan. Faktor sosial yang dimaksud adalah bahwa dalam konservasi selayaknya melibatkan masyarakat. Karena dengan melibatkan masyarakat, tumbuhan dipelihara, dijaga dan dirawat sesuai dengan kearifan budayanya.
Manfaat konservasi wilayah pesisir yaitu manfaat biogeografi, keaneka-ragaman hayati, perlindungan terhadap spesies endemik dan spesies langka, perlindungan terhadap spesies yang rentan dalam masa pertumbuhan, pengurangan mortalitas, perlindungan pemijahan, manfaat penelitian, ekoturism, dan peningkatan produktivitas perairan (Fauzi dan Anna (2005: 73).
Manfaat konservasi tersebut, mencakup manfaat langsung maupun tidak langsung. Manfaat konservasi wilayah pesisir tidak hanya bersifat terukur (tangible), tetapi ada juga yang tidak terukur (intangible). Manfaat yang terukur mencakup manfaat kegunaan baik untuk dikonsumsi maupun tidak. Sedangkan manfaat tidak terukur lebih tertuju pada manfaat pemeliharaan ekosistem dalam jangka panjang.
Pembahasan konservasi wilayah pesisir meliputi pemanfaatan secara lestari, perlindungan dan pelestarian wilayah pesisir berdasarkan tipologi wilayah pesisir diuraikan sebagai berikut.
1.Ekosistem terumbu karang
|
Kegiatan |
Deskripsi kegiatan |
|
Pemanfaatan |
Kegiatan menyelam (diving), mengamati dari permukaan (snorkling), budidaya teripang, budidaya ikan karang, dan budidaya ikan hias. |
|
Perlindungan |
Memonitor perkembangan predator yang menganggu terumbu karang seperti bulu babi, bintang laut Acanthester planci, pemburu ikan hias, udang dan ikan karang dengan menggunakan bom atau penggunaan bahan kimia. |
|
Pelestarian |
Melaksanakan program Bapak asuh karang dengan cara transplantasi terumbu karang, pembibitan teripang, pembibitan ikan dan udang karang. |
2.Padang lamun
|
Kegiatan |
Deskripsi kegiatan |
|
Pemanfaatan |
Budidaya ikan dan udang di daerah lamun, kegiatan pendidikan dan penelitian, ekoturism. |
|
Perlindungan |
Memonitor: pencemaran limbah pertanian, logam berat, minyak, sampah organik cair, perkembangan lamun dan biotanya |
|
Pelestarian |
Penanaman lamun di daerah yang terganggu, habitat ikan dan udang |
3.Hutan Mangrove
|
Kegiatan |
Deskripsi kegiatan |
|
Pemanfaatan |
Budidaya ikan, udang, kepiting, memancing, bahan bakar, penelitian, pupuk hijau, pendidikan dan penelitian, serta ekoturism. |
|
Perlindungan |
Memonitor: pencemaran sampah organik, logam berat, limbah pertanian, perkembangan hutan mangrove |
|
Pelestarian |
Pembibitan mangrove sesuai dengan spesies yang dibutuhkan lingkungan. |
4.Estuaria
|
Kegiatan |
Deskripsi kegiatan |
|
Pemanfaatan |
Budidaya biota estuaria, nipah sebagai bahan baku gula dan energi bioetanol. |
|
Perlindungan |
Memonitor pembabatan tumbuhan, dan pengambilan hewan di estuaria |
|
Pelestarian |
Penanaman nipah, pembibitan biawak, ikan, dan lain-lain |
5.Rumput Laut
|
Kegiatan |
Deskripsi kegiatan |
|
Pemanfaatan |
Budidaya rumput laut sebagai bahan makanan dan bahan kecantikan, budidaya teripang. |
|
Perlindungan |
Sebagai daerah asuhan ikan, berfungsi sebagai perangkap sedimen sehingga dapat diendapkan dan distabilkan, sebagai habitat udang dan ikan, daerah pemijahan dan asuhan. |
|
Pelestarian |
Pembibitan rumput laut |
Kegiatan pemanfaatan, perlindungan dan pelestarian di wilayah pesisir, selayaknya dengan menggunakan pendekatan secara bottom up. Pendekatan ini, sudah mengakomodir kebutuhan masyarakat yang ada di lapangan. Dengan kata lain pendekatan ini sudah sesuai dengan program yang sudah disusun komunitas (masyarakat pesisir).
Hadirin yang saya muliakan,
- F. Strategi Konservasi Wilayah Pesisir yang Berkelanjutan
Untuk melaksanakan konservasi wilayah pesisir yang berkelanjutan, diajukan beberapa strategi sebagai berikut.
1) Strategi pemanfaatan secara lestari dengan cara:
(a) Merumuskan kebijakan pemanfaatan wilayah pesisir yang berkelanjutan:
(1) Membuat aturan atau ketentuan dalam pemanfaatan wilayah pesisir.
(2) Menerapkan kearifan lokal masyarakat adat dalam pemanfaatannya.
(3) Memberikan insentif dan disinsentif dalam pemanfaatan.
(b) Membuat mekanisme kordinasi antara perencanaan dan pemanfaatan wilayah pesisir:
(1) Membuat analisis situasi wilayah pesisir.
(2) Membuat perencanaan program pemanfaatan
(3) Membuat rencana pemanfaatan wilayah pesisir.
(4) Monitoring dan evaluasi kesesuaian antara perencanaan dan pemanfaatan.
(c) Mengembangkan kemitraan dalam pemanfaatan pesisir:
2) Strategi perlindungan dengan cara:
(a) Menetapkan wilayah pesisir yang membutuhkan perlindungan mendesak (urgen):
(1) Identifikasi tipologi wilayah pesisir yang telah mengalami kerusakan;
(2) Merumuskan langkah-langkah berkelanjutan dalam melindungi wilayah pesisir.
(b) Menetapkan zonasi perlindungan wilayah pesisir
(1) Memetakan wilayah pesisir yang membutuhkan perlindungan;
(2) Menetapkan spesies tumbuhan dan hewan yang dilindungi
3) Strategi pelestarian yang diajukan:
(a) Menerapkan kebijakan insentif dan disinsentif dalam pelestarian.
(b) Membangun sarana dan prasarana pelestarian in situ untuk melestarikan keanekaragan hayati wilayah pesisir.
(c) Meningkatkan apresiasi dan kesadaran nilai dan kebermaknaan keanekaragaman hayati wilayah pesisir:
(1) Membangun kesadaran masyarakat tentang nilai keanekaragaman hayati dalam budaya kontemporer
(2) Menggunakan sistem pendidikan formal di dalam kelas
(3) Menggunakan kegiatan-kegiatan di luar sekolah
Hadirin yang saya muliakan
Berdasarkan uraian di atas, konservasi wilayah pesisir yang berkelanjutan dapat dilaksanakan dengan menggunakan stategi yang tepat. Strategi pemanfaatan yang lestari antara lain merumuskan kebijakan konservasi wilayah pesisir yang berkelanjutan, membuat mekanisme kordinasi antara perencanaan dan pemanfaatan wilayah pesisir dan mengembangkan kemitraan dalam pemanfaatan pesisir; Strategi perlindungan, meliputi menetapkan wilayah pesisir yang membutuhkan perlindungan mendesak (urgen), dan menetapkan zonasi perlindungan; serta Strategi pelestarian antara lain menerapkan kebijakan insentif dan disinsentif dalam pelestarian, membangun sarana dan prasarana pelestarian in situ untuk melestarikan keanekaragaman hayati wilayah pesisir dan meningkatkan apresiasi dan kesadaran nilai dan kebermaknaan keanekaragaman hayati wilayah pesisir.
Untuk melaksanakan strategi konservasi wilayah pesisir yang berkelanjutan, harus didukung komitmen dari stakeholder (pihak-pihak yang terkait) wilayah pesisir diiringi dengan penerapan etika lingkungan berdasarkan prinsip ekosentrisme. Sebagaimana yang diungkapkan Keraf (2010: 93) bahwa prinsip ekosentrisme lebih memfokuskan kepada komunitas ekologis secara holistik. Termasuk didalamnya pengembangan prinsip moral untuk kepentingan seluruh komunitas ekologis. Oleh karena itu, keberhasilan dalam menerapkan strategi konservasi wilayah pesisir perlu didukung penerapan cara pandang, nilai dan perilaku hidup berdasarkan prinsip ekosentrisme. Dengan demikian, gaya hidup yang kita lakukan semestinya selaras, serasi dengan alam, sehingga kesadaran pentingnya ramah lingkungan harus terus dikumandangkan diberbagai kesempatan, kegiatan dan secara merata di berbagai pelosok wilayah.
Hadirin yang saya muliakan
Sebelum mengakhiri pidato ini, perkenankanlah saya mengucapkan terima kasih dan penghargaan setinggi-tingginya kepada yang terhormat: Pimpinan dan Anggota Majelis Wali Amanat UPI, Bapak Rektor dan Pembantu Rektor UPI, yang telah membantu proses pengusulan Guru Besar kepada Menteri Pendidikan Nasional di Jakarta, Pimpinan dan Senat Akademik UPI yang telah menyetujui pengusulan Guru Besar. Pimpinan dan Anggota Guru Besar UPI yang telah membantu proses penilaian dan pengukuhan Guru Besar. Ketua dan Anggota Peer Group yaitu Prof. Dr. Awan Mutakin, Prof. Dr. Idrus Affandi, S.H. dan Prof. Dr. Darsiharjo, MS. yang telah menilai dan mendorong dari awal proses pengusulan Guru Besar, Dekan dan Para Pembantu Dekan FPIPS UPI.
Terima kasih juga disampaikan kepada Ketua, Sekretaris dan Dosen Jurusan Pendidikan Geografi, Ketua Prodi dan Dosen Manajemen Resort dan Leisure, Prof. Dr. Iih Abdurrachim (alm), Prof. Dr. H. Nursid Sumaatmadja, Prof. Dr. H. Maman Abdurachman, Prof. Dr. H Djamari (alm), Dr. Sutjipto (alm), Dra. Omi Kartawidjaja (alm), Drs. Marsidi, SU (alm), Drs. H. Moh Ma.mur Tanididjaja, Dr. Hj. Sri Hayati (alm), Prof. Dr. Hj. Enok Maryani, MS., Prof. Dr. Gurniwan, MS, Prof. Dr. Dede Rohmat, M.T., Para Promotor pada Program Doktor yaitu, Prof. Dr. Soeratno Partoatmodjo, MSc, Prof. Dr. I Made Putrawan, dan Dr. Paskalis Liberu, Prof. Dr. Ishemat Soerianegara, MSc, Prof. Dr. Hj. Lysna Lubis, Prof. Dr. Sumantoro, Dr. Ataswarin Bambang Sarah, Para Guru di SD Negeri 3 Gunung Leutik, Para Guru SMPN Ciparay Kabupaten Bandung, Para Guru di SMA Negeri 11 Bandung dan Keluarga Besar Bapak H.Soedjana Saleh di Jakarta, Keluarga Besar Bapak Maman di Bandung.
Terima kasih dan penghargaan yang sedalam-dalamnya atas kasih sayangnya kepada kedua Orang tua saya yaitu Bapak A Kosasih Maulana (alm) dan Ibu Hj. Sumaryati sehingga saya dapat berdiri di depan mimbar terhormat ini. Beliau telah mendidik, mendoakan dan membesarkan saya dengan tulus serta penuh kasih sayang.
Rasa terima kasih yang tulus saya ucapkan kepada istri tercinta Dra. Elly Hendriaty dan ananda tercinta Anugerah Rizki Kastolani (4 tahun), yang telah banyak memberikan doa, motivasi kepada saya baik dikala suka maupun duka. Juga teriring doa untuk anakku tercinta yang telah meninggal pada usia masih kanak-kanak yaitu Muhammad Iqbal Kastolani (Alm) dan Hikmah Hasanah (Alm).
Ucapan terima kasih yang tak terhingga kepada Bapak Mertua Hendra Permana, Ibu Mertua Sri Maryatun (alm) serta Adik-adik saya Ir. Harjana Kusumah, MM, Ir. Wahyu Juhana, Ajat Sudrajat, Dipl.Eng, SE, MM, Ir. Kusnandar dan Diki Prihedi, ST, serta adik ipar Drs. Asep Hery Hendra.
Akhirnya, saya mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang tidak dapat disebutkan satu persatu. Semoga Allah Subhana Wata’ala dapat memberikan limpahan dan rahmatnya kepada kita semua. Amin.
Billahi taufik wal hidayah
Wassalam’mualaikum Warahmatullahi Wabarokatuh.
Bandung, Juli 2012
DAFTAR PUSTAKA
Chiras, D,. 1991. Environmental Science: Action for Sustainable Future. California:
The Benjamin/ Cummings Publishing Company.
Dahuri, R. 2003. Keanekaragaman Hayati Laut: Aset Pembangunan Berkelanjutan
Indonesia. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.
Departemen Kelautan dan Perikanan. 2007. UU No. 27 Tahun 2007 Tentang
Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-pulau Kecil. Jakarta: DKP.
Fauzi, A., Anna, S., 2003. Pemodelan Sumber Daya Perikanan dan Kelautan.
Jakarta: Gramedia.
Hardin, G,. 1968. The Tragedy of the commons. Science 162: 1243-1248.
IUCN, WALHI, UNEP. 1993. Bumi Wahana. Terjemahan. Jakarta: Gramedia.
Keraf, A.S,. 2010. Etika Lingkungan Hidup. Jakarta: Kompas.
Mitchell, B. 2000. Pengelolaan Sumberdaya dan Lingkungan. Yogyakarta: Gadjah
Mada University Press.
MacFarlane, G.R., Pulkownik, A., Burchett, M.D. 2002. Accumulation and
Distribution of Heavy Metals in the Grey Mangrove, Avicennia marina (Forsk.) Vierh: Biological Indication Potential, Environmental Pollution 123: 139-151. Alsevier Science Ltd.
Michelson, W,. 1977. Environmental Choice, Human Behavior, and Residential
Satisfaction. New York: Oxford University Press.
Mukhtasor. 2007. Pencemaran Pesisir. Jakarta: Pradnya Paramita.
Mutakin, A. 2004. Dinamika Masyarakat Indonesia. Bandung: Genesindo
Nebel, B.J., Wright, R,. 2000. Environmental Science. London: Prentice-Hall.
Nontji, A. 1987. Laut Nusantara. Jakarta: Djambatan.
Nybakken, J.W,. 1986. Biologi Laut: Suatu Pendekatan Ekologi. Terjemahan.
Jakarta: Gramedia.
Primack. Et al (1998). Biologi Konservasi. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia.
Purba, J. ed. 2002. Pengelolaan Lingkungan Sosial. Jakarta: Yayasan Obor
Indonesia.
Sastrawijaya, A.T,. 2009. Pencemaran Lingkungan. Jakarta: Rineka Cipta.
Setyawan, W.B, Purwati, P,. Sunanisari, S,. Widarto, D,. Nasution, R,. Atijah,. O.
2005. Interaksi daratan dan Lautan. Jakarta: LIPI Press.
Supriharyono. 2000. Pelestarian dan Pengelolaan Sumber Daya Alam di Wilayah
Tropis. Jakarta: Gramedia.
Wiratno, Indriyo, D,. Syarifudin. A,. dan Kartikasari, A,. 2004. Berkaca Di Cermin
Retak: Refleksi Konservasi dan Implikasi Bagi Pengelolaan Taman Nasional. Jakarta: Departemen Kehutanan- Forest Press.
RIWAYAT HIDUP
Nama : Prof. Dr. Wanjat Kastolani, M.Pd
Tempat/Tgl lahir : Bandung, 12 Mei 1962
Jenis Kelamin : Laki-laki
NIP : 19620512 198703 1 002
Jabatan Fungsional : Guru Besar dalam Ilmu Geografi Lingkungan
Pekerjaan : Dosen UPI Bandung
Pangkat/ Golongan : Pembina Tk.1 / IV B
Alamat Rumah : Puri Cipageran Indah I Blok A-244 Kota Cimahi 40511
Telp Rumah / HP : 022-6645652 / 081321020135
E mail : wanjat_pci@yahoo.co.id
Orang Tua : Ayah: A.Kosasih Maulana (Alm)
Ibu : Hj.Sumarjati
Istri : Dra.Ely Suhaely Hendriaty
Pekerjaan : Guru SMA Negeri 6 Kota Bandung
Anak : (1) Muhammad Iqbal Kastolani (Alm)
(2) Hikmah Hasanah (Almh)
(3) Anugerah Rizki Kastolani (Usia 4 Tahun)
- A. PENDIDIKAN:
- SD Negeri 3 Gunungleutik Kec. Ciparay Kab. Bandung, Lulus tahun 1974;
- SMP Negeri Ciparay Kabupaten Bandung, Lulus tahun 1978;
- SMA Negeri 11 Kotamadya Bandung, Lulus tahun 1981;
- Jurusan Pendidikan Geografi Program S-1 IKIP Bandung, Lulus tahun 1986;
- Program Magister (S-2) Pendidikan Kependudukan dan Lingkungan Hidup Program Pascasarjana IKIP Jakarta, lulus lulus tahun1996;
- Program Doktor (S-3) Pendidikan Kependudukan dan Lingkungan Hidup Program Pascasarjana Universitas Negeri Jakarta, lulus tahun 2003.
- B. PENGALAMAN PEKERJAAN:
- Dosen Jurusan Pendidikan Geografi FPIPS IKIP Bandung (sekarang Universitas Pendidikan Indonesia) dari tahun 1987 - sekarang dalam mata kuliah: Ekologi Lingkungan, Geografi Hewan dan Tumbuhan (Biogeografi), Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL), Geografi Sumberdaya Hayati, Geografi Pertanian, dan Pengantar Geografi Regional.
- Dosen Manajemen Resort & Leisure FPIPS UPI Bandung 2006-sekarang dalam mata kuliah: Ekologi Pariwisata, Analisis Dampak Lingkungan Pariwisata, Monitoring dan Evaluasi Resort & Leisure, dan Praktek Lapangan.
- Dosen Manajemen Pemasaran Pariwisata dalam mata kuliah Ekologi Pariwisata (2006-sekarang).
- Dosen Tidak Tetap Jurusan Teknik Planologi Itenas dalam mata kuliah: Manajemen Lingkungan (1997-2002), Analisis Sumber Daya Lingkungan (2002-2009), Pengelolaan Sumber Daya Alam (2002-2009).
- Dosen Program Pascasarjana Universitas Siliwangi Tasikmalaya, dalarn mata kuliah:Kebijakan Kependudukan dan Lingkungan Hidup (2004 - 2009).
- Dosen SPs S-2 Geografi UPI Bandung dalam mata kuliah: Keanekaragaman Hayati (2010- sekarang)
- C. PENELITIAN:
- Perolehan Mobilisan Siswa Asal Pedesaan yang Bersekolah di Kabupaten Pandeglang. 1989, Ketua Peneliti.
- Studi Dampak Keterbukaan SMTA di Perkotaan Dalam Penerimaan Siswa Asal Pedesaan Jawa Barat, Biaya Dikti-Jakarta 1990, Anggota Tim Peneliti.
- Dampak Pola Perilaku Petani Terhadap Kelestarian Sumberdaya Lahan pada Daerah Aliran Sungai Citarum, Biaya Dikti Jakarta, 1992, Anggota Tim Peneliti:
- Kemampuan Petani Mengelola Lahan Pertanian Secara Ekologis di DAS Cikundul Cianjur, Tesis, 1996.
- Pelaksanaan Pengajaran PKLH SD di Jawa Barat. Penelitian Dosen Muda. Biaya DP2M Dikti 1997/1998, Anggota Tim Peneliti.
- Partisipasi Masyarakat Dalam Konservasi Wilayah Pesisir Utara Subang. Jawa Barat (2002), Disertasi.
- Pengembangan Obyek Wisata Minat Khusus Gua Buniayu Di Kecamatan Nyalindung Sukabumi selatan, Mei 2003, sebagai Ketua Peneliti.
- Penataan Ruang Pulau-pulau Kecil di Kep.Karimunjawa. P Bawean. dan Kep.Kangean Dalam Rangka Percepatan Pembangunan, sebagai peneliti dalam bidang lingkungan dan kependudukan (Juli- Desember 2004), sebagai Peneliti.
- Kajian Ekosistem Daerah Aliran Sungai Citarum Hulu, 2007, Penelitian Fundamental, Biaya dari DP2M Dikti, sebagai Ketua Peneliti;
10. Jejak Ekologis Pulau Sumatera dan Pulau Sulawesi, tahun 2008, Ketua Tim Peneliti.
11. Model Pengembangan Desain Handicraft Dengan Pendekatan Rekayasa Konstruksi Arsitektural Landasan Transplantasi Terumbu Karang di Wilayah Pantai Pangandaran, Jawa Barat, Penelitian Prioritas Nasional Bacth-1, DP2M Dikti, 2009, Ketua Peneliti.
12. Perencanaan Ekowisata di Bumi Perkemahan Ranca Upas, 2010, Ketua Peneliti.
- D. PENGABDIAN pada Masyarakat :
- PenyuluhanTentang Konservasi pada Lahan Miring di Desa Cihideung Kabupaten Bandung,2006, anggota tim PPM; Penyuluhan Tentang Konservasi Lahan Kritis di Kawasan Cicalengka Utara Kabupaten April 2006, anggota Tim PPM;
- Penyuluhan Tentang Pengelolaan Sampah Rumah Tangga di Lembang. April 2007;
- Pembuatan Kompos yang Berasal dan Sisa-sisa Tanaman di Lembang, April 2008.
- Program Latihan Profesi Guru Rayon 110 UPI Bandung, 2009 – sekarang.
- Identifikasi Kebutuhan untuk Pengembangan Kawasan Wisata Agro di Lembang, November 2011.
- E. JURNAL :
- Pengelolaan Potensi Kepariwisataan Kepulauan Karimunjawa Sebagai Kawasan
Wisata yang Berkelanjutan..Jurnal Manajemen Resort & Leisure. Vol.1 No.1 Oktober 2005 - Pengelolaan Potensi Kepariwisataan Pulau Bawean, Jurnal Resort and Leisure, Oktober 2007.
- Impact Tourism Activities on Ecosystem, Jurnal Manajemen Resort & Leisure, April 2008.
- Degradasi Lahan Sub DAS Citarum Hulu di Kabupaten Bandung dan Sumedang, Jurnal Gea, Oktober 2009
- Potensi Kawasan Hutan Mangrove Sebagai Destinasi Pariwisata Pesisir Jurnal Resort and Leisure, Oktober 2009.
- Menumbuhkembangkan Perilaku Ramah Lingkungan di Kalangan Pengrajin Kawasan Wisata Pangandaran, Jurnal Panggung, Terakreditasi, 2010 .
- Pengelolaan Potensi Kepariwisataan Kepulauan Karimunjawa Sebagai Kawasan
- Pengembangan Kawasan Pedesaan Sebagai Basis Keanekaragaman Hayati. Jurnal GeaVol. 4. No. 7 April 2004.
- Pengembangan Wilayah Kepulauan Kangean Sebagai Kawasan Wisata Bahari. Jurnal Gea Vol.5.No1.April 2005:
- Dampak Ekologis dari Rencana Reklamasi Pantai Utara Jakarta.Jurnal Gea Vol. 5 No2.Oktober 2005.
- F. SEMINAR DAN WORKSHOP:
- Seminar Internasional:
a) Issue in Education of Plulatistic Societies and Responses to The Global Challenges Toward The Year 2020 11-13 November 1996 (by 1K1P Bandung and La Trobe University- Australia)
b) Towards Rural and Urban Sustainable Communities: Restructuring Human-Nature Interaction (by Padjadjaran University and The University of Tokyo) Bandung January 6-7" 2004.
c) The International Seminar On Competence Base Teacirls)g On February 2005.
d) International Seminar: The Quaternary Geological Data As Life Supporting Information for Mankind and Environnrent, Hotel Horison Bandung from September 215` - 22"d 2005 by Geological Research & Development centre.
- Seminar Nasional:
a) Seminar dan Konferensi Nasional I Pengelolaan Sumberdaya Pesisir dan Lautan Indonesia, sebagai peserta di Kampus IPB Darmaga Bogor 19-20 Maret 1998.
b) Seminar Pendidikan Lingkungan Hidup yang diselenggarakan Universitas Terbuka dan Hans Seidel Foundation 5 Maret 1999 di Jakarta.
c) Seminar dan Tutorial Pengelolaan Sumberdaya Pesisir dan Lautan Secara Terpadu 30 November 1999 di ITENAS Bandung.
d) Seminar Komitmen Internasionai tentang Lingkungan Global dan Posisi Indonesia daiam Tatanan Lokal, Regional dan Nasionaf 6 Juni 2001 di Jakarta.
e) Seminar Nasional Pendidikan Kependudukan dan Lingkungan Hidup Untuk Mewujudkan Masyarakat Berkelanjutan yang diselenggarakan HIPA PKLH dan UNJ di Jakarta 9 April 2003.
f) Seminar Pengembangan Sekolah Berbasis Lingkungan, Auditorium JICA FMIPA UPI 1 Desember 2005 sebagai Pembicara (Nara Sumber).
g) Seminar Strategi Ketahanan Energi Jawa Barat Visi 2010 Sasana Budaya Ganesha ITB 7 Desember 2005 sebagai Peserta.
h) Seminar FPIPS: Jejak Ekologis Kawasan Wisata dan Dampaknya, Oktober 2010, sebagai Pemakalah/ Penyaji.
i) Seminar dan Pertemuan Ilmiah Tahunan Ikatan Geograf Indonesia (IGI), 6-8 Desember 2010, sebagai Penyaji/ Pemakalah.
- Workshop:
a) Workshop Sosialisasi Produksi Bersih Melalui Kegiatan Pengelolaan Bahan Kimia yang diselenggarakan KLH. GTZ Germany dan Kadin di Jakarta 26 Maret 2003.
b) Workshop Kebijakan Pendidikan Lingkungan Hidup yang diselenggarakan Kementrian Lingkungan Hidup di Jakarta 27-28 Mei 2003.
c) Workshop Pengembangan Kurikulum Pendidikan Keper,dudukan dan Lingkungan Hidup Pascasarjana Universitas Negeri Jakarta di Jakarta 28-29 Agustus 2003.
d) Lokakarya Nasional Peningkatan Kinerja Perguruan Tinggi di Indonesia di Hotel Panghegar Bandung 10-11 Pebruari 2004 sebagai pembicara.
e) Lokakarya Geologi Kuarter Dalam Kelangsungan Pembangunan dan Keseimbangar Lingkungan, Bandung: Puslitbang Geologi 22-23 November 2005.
- G. PELATIHAN:
Pelatihan yang pernah dilaksanakan antara lain:
- Social Empowerment & Participation In Environmental Management Training, as Trainers, 1 - 29 September 2003 dengan Penyelenggara Bapedal Regional Network Project- KLH, Universitas Indonesia dan AMYTHAS Expert & Associates.
- Diklat Pengawasan Lingkungan Hidup Kepulauan Bangka Belitung 20-21 Oktober 2003 sebagai Instruktur (Pelatih/ Trainers);
- Penulisan Karya Tulis Ilmiah, Prodi Manajemen Resort Leisure FPIPS UPI Bandung Januari 2010, Sebagai Pemateri.
- Pelatihan Pendidikan Lingkungan Hidup Bagi Guru Di Kota Bandung, Desember 2010, Sebagai Pemateri.
- Penulisan Karya Tulis Ilmiah, Prodi Manajemen Resort Leisure FPIPS UPI Bandung Januari 2011, Sebagai Pemateri.
- H. Buku YANG pernah ditulis :
- Pendidikan Lingkungan Hidup, 2008;
- Geografi Hewan dan Tumbuhan, 2008;
- Pengantar Geografi Pertanian, 2007;
- Ekologi Lingkungan, 2010.
- I. ORGANISASI Profesi
- Anggota Himpunan Peminat dan Ahli Kependudukan dan Lingkungan Hidup (HIPA PKLH 1993 - sekarang);
- Anggota Ikatan Geograf Indonesia (1990 – sekarang).
- J. PIAGAM PENGHARGAAN:
- Karya Bhakti Satya 10 Tahun dari Rektor UPI Bandung,
- Satyalancana Karya Satya 10 Tahun dari Presiden Republik Indonesia.
|








To day
Total
Online 