PENDIDIKAN KEIMANAN UNTUK MENCAPAI MANUSIA SEUTUHNYA

Assalaamu’alaikum Warahmatullaahi Wabarakaatuh,

 

Yang saya hormati:

Pimpinan dan Anggota Majelis Wali Amanah                                   

Rektor dan Para Pembantu Rektor                  

Pimpinan dan Anggota Dewan Audit                                                                     

Pimpinan dan Anggota Senat Akademik                                               

Sekretaris dan Anggota Dewan Guru Besar                                                

Pimpinan Fakultas, Sekolah Pascasarjana, Kampus Daerah, dan Lembaga

Direktur Direktorat, Kepala Biro, dan Kepala Sekretariat Universitas

Ketua Jurusan/Program Studi, Sekretaris Jurusan dan Para Dosen

Pimpinan Organisasi Kemahasiswaan

Para Karyawan di lingkungan Universitas Pendidikan Indonesia

Para Tamu Undangan yang berbahagia

 

Pertama-tama, marilah kita panjatkan puji dan syukur ke khadirat Allah yang Maha Kuasa, karena hanya berkat qudrat, iradah dan inayah-Nyalah kita dapat menghadiri acara pengukuhan Guru Besar yang diselenggarakan UPI pada hari ini. Shalawat serta salam semoga dilimpahkan kepada junjunan kita Nabi Muhammad SAW, keluarganya, sahabatnya serta seluruh umatnya yang patuh dan taat kepada ajaran-Nya.

 

Hadirin yang saya muliakan,

 Pada kesempatan ini, perkenankanlah saya menyampaikan pidato singkat dengan judul: “Pendidikan Karakter Untuk Mencapai Manusia Seutuhnya”

 

Pendidikan Tinggi bukanlah sekedar membina para sarjana agar ahli dalam bidang ilmu, teknologi atau seni yang dipelajarinya. Inti pendidikan adalah proses me-manusia-kan ‘manusia’ (Soelaeman, 1988). Maksudnya adalah meningkatkan martabat manusia ke arah manusia ideal yang dikehendaki. Kepribadian utuh merupakan model manusia ideal yang dikehendaki oleh bangsa Indonesia. Kepribadian utuh adalah manusia yang seimbang perkembangan jasmani, nafsani, dan ruhaninya (Portofolio Prodi PU SPs UPI, 2001: 6). Muthahhari (1984), menyebutnya sebagai makhluk serba-dimensi; atau menurut al-Qusyairi (Praja, 1990) memiliki kesempurnaan unsur (yakni: jasad, hati, ruh, dan sirr atau rasa). Adapun manusia ideal yang dikehendaki oleh Islam adalah insân kâmil (manusia sempurna), yakni manusia yang beriman dan telah mencapai nafsu kamilah. (Rahmat, 2010).

Sistem dan praktek pendidikan dewasa ini cenderung mengejar profesionalitas dalam bidang ilmu, teknologi atau seni dengan mengabaikan keimanan dan ketakwaan, kurang mempedulikan agama dan moralitas. Dan yang lebih mendasar lagi jauh dari ideal manusia yang dikehendaki oleh Islam maupun bangsa Indonesia. Sistem dan praktek pendidikan di Indonesia tidak mungkin dapat mengantarkan peserta didik ke arah kepribadian utuh, terlebih-lebih lagi ke arah martabat insân kâmil.

Mari kita lihat kurikulum pendidikan agama. Fasih membaca Al-Quran, mengerjakan shalat lima waktu, dan berakhlak mulia merupakan tujuan pendidikan agama dalam berbagai kurikulum nasional (Kurikulum 1985, Kurikulum 1994, dan Kurikulum 2004). Mahir membaca Al-Quran, misalnya saja, direncanakan dapat dicapai oleh siswa SD. Tapi realitasnya pada jenjang pendidikan menengah dan jenjang pendidikan tinggi pun masih banyak siswa dan mahasiswa yang belum bisa membaca Al-Quran. 

Berdasarkan survey Tim Dosen PAI UPI (2001, 2004, 2009) di beberapa sekolah dan universitas di Kota dan Kabupaten Bandung, siswa SD, SMP, SMA, dan mahasiswa tingkat pertama yang bisa membaca Al-Quran masih sedikit (masing-masing hanya 10%, 25%, 35%, dan 40%).

Itu baru dari segi kemampuan membaca Al-Quran. Belum lagi diukur secara lebih luas dan mendalam, misal pemahaman dasar-dasar agama, pemahaman Al-Quran, dan pengamalan beragama.

Bila substansi keberagamaan adalah berîman, bertakwa, dan berakhlak mulia, kita amati hal-hal yang bersebrangan dengan kriteria keberagamaan. Para siswa begitu mudah terkena sugesti negatif dan begitu mudah marah. Tawuran pelajar akhir-akhir ini merupakan fenomena biasa. Malah akhir-akhir ini tawuran antar mahasiswa. Lebih melebar lagi tawuran pelajar dengan masyarakat, mahasiswa dengan masyarakat, maniak sepak bola dengan masyarakat, tawuran antar masyarakat, tawuran antar kampung, hingga tawuran masyarakat dengan petugas keamanan. Kasus penyalahgunaan narkotika dan zat-zat adiktif (NAPZA) sudah memasuki (hampir) semua SMP-SMA/SMK. Pergaulan bebas siswa-siswi sudah dipandang sebagai ciri pergaulan remaja dan ABG.

Sikap tidak hormat anak muda bukan hanya ditunjukkan kepada sembarang orang, bahkan juga terhadap guru-gurunya. Penghormatan dan bakti pada kedua orang tua pun memudar. Vandalisme sudah merupakan ciri pelajar kita; dan premanisme tumbuh subur hingga di lingkungan persekolahan. Kejujuran yang sangat didambakan sudah hilang dari kamus persekolahan. Fenomena menyontek dan joki sepertinya fenomena biasa yang disalahkan sekaligus dilanggar oleh semua pihak. Salah untuk orang lain, tetapi boleh untuk saya; salah untuk sekolah lain, tetapi boleh untuk sekolah saya. Sepertinya kamus ini yang dipakai sekarang. Demikian juga fenomena plagiat merasuki para dosen, padahal seharusnya mereka menjadi penegak dan teladan kejujuran.

Undang-Undang No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional telah berhasil merumuskan tujuan pendidikan nasional yang bagus. Jika unsur-unsur pendidikan lainnya (seperti core curriculum) bagus pula, maka tipe ideal manusia yang dikehendaki oleh Islam dan bangsa Indonesia dapat tercapai. Dalam Bab II pasal 3 disebutkan: Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang berîman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.

Dilihat dari segi tujuannya, bangsa Indonesia menghendaki peserta didik bukan sekedar berilmu, cakap, dan kreatif (dimensi intelektualitas), tetapi juga berîman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa (dimensi religiusitas), berakhlak mulia (dimensi karakter dan moral), dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung-jawab (dimensi kebangsaan). Tetapi dalam pelaksanaannya belum sebaik apa yang tertuang di dalam perundang-undangan itu. Aspek religi dan nilai-nilai masih terpinggirkan. Unsur pendidikannya terlepas dari unsur pengajaran. Jumlah jam mata pelajaran pendidikan agama dan moralitas sangat minim. Tidakalah heran jika Tilaar (1999: 99) mengemukakan bahwa pendidikan agama dalam kurikulum nasional Indonesia hanya sebagai penggembira saja, sekedar tidak dikritik sekuler oleh kalangan Ulama.

Praktek pendidikan di Indonesia sebenarnya tidak jauh berbeda dengan di Barat di mana manusia mengejar ilmu pengetahuan dengan asumsi bahwa ilmu itu bebas nilai (value free). Jujun S. Suriasoemantri (1982: 12-13) mengatakan bahwa tadinya ilmu pengetahuan hanya mempelajari alam apa adanya tanpa ada keterkaitan dengan nilai moral.  Ilmu hanya untuk ilmu, tanpa dikaitkan dengan agama, ideologi dan nilai-nilai luhur. Keberhasilan pendidikan seseorang hanya dilihat dari pencapaian akademis semata. Sejalan dengan Suriasoemantri, Ahmad Sanusi (1994) mengatakan bahwa pendidikan yang dewasa ini sedang berlangsung sangat dipengaruhi oleh logika positivisme; yakni logika yang hanya berorientasi pada keadaan dunia here and now yang dapat diindera oleh manusia. Pandangan ini mengakibatkan manusia menjadi sekuler dan hanya memikirkan masalah-masalah yang sifatnya dapat dijelaskan secara empiris dan melupakan masalah-masalah yang berkaitan dengan nilai luhur. Inilah awal dari didewakannya kemampuan nalar. Demikian juga Muhammad Nu`man Soemantri (2001: 4) mengemukakan bahwa keadaan di mana manusia menjauhkan diri dari agama merupakan produk dari pengaruh budaya Hellenisme. Pengaruh budaya ini akal mengalahkan agama (intellectus quaerrens fidem). Dikatakannya bahwa budaya Hellenisme merupakan budaya yang mendorong berkembangnya rasionalitas, individualisme, dan melepaskan diri dari agama dan teologi. Padahal pakar psikologi Barat pun, Zohar dan Marshall (2000: 11), menyatakan  bahwa diskusi tentang intelegensi manusia tidak akan lengkap tanpa menyertakan Spiritual Intelligence –SQ. Kecerdasan ini (SQ) bisa menjawab masalah-masalah tentang makna dan nilai. Dengan intelegensi ketiga ini kita bisa menempatkan tindak-tanduk dan hidup kita dalam konteks pemaknaan yang lebih luas dan lebih kaya; bisa menilai apakah suatu kejadian atau pengalaman hidup itu lebih berharga atau tidak dari yang lainnya. SQ merupakan fondasi yang diperlukan bagi keefektifan kedua fungsi IQ dan EQ. Selanjutnya Muhammad Numan Soemantri (2001: 4) mengatakan bahwa budaya hellenisme ini mempengaruhi dunia pendidikan sampai sekarang ini, termasuk pada ilmuwan, pendidik, penulis buku teks yang membanjiri perpustakaan, khususnya perpustakaan-perpustakaan yang terdapat di perguruan tinggi.

Cara pandang Barat disebut oleh Abul Hasan Ali an-Nadwi (1993) sebagai cara pandang Dajjal. Hadits-hadits menyebutkan bahwa Dajjal bermata satu dan buram. Maksudnya, Dajjal melihat kebenaran hanya dengan kacamata materialistik-positivistik (yang sebenarnya buram, tidak mungkin dapat mencapai kebenaran sejati) tanpa kacamata iman.

Naquib al-Atas (Daud, 2003: 221-225, Hafidhuddîn, 2004) mengingatkan tentang istilah universitas (universum) sebagai padanan dari kata kulliyah. Penggunaan istilah ini sangat erat hubungannya dengan konsep al-insân al-kulli (manusia universal) atau insân kâmil (manusia sempurna) yang merupakan ideal wujud manusia menurut agama Islam. Insân kâmil adalah manusia yang mampu mengenali dan mengakui tempat-tempat yang benar dari segala sesuatu, termasuk dirinya, dalam tatanan sedemikian rupa sehingga membimbingnya ke arah pengenalan dan pengakuan yang benar dari Allâh dalam tatanan wujud dan eksistensi. Jadi, menurut konsep ini, universitas harus melayani tujuan penciptaan manusia (yang diharapkan mencapai martabat insân kâmil), bukan sekedar warga negara yang baik sebagaimana di negara sekuler. Universitas modern sekarang ini ditujukan untuk mencetak pekerja-pekerja yang baik dalam rangka melayani program-program negara yang berorientasi semata-semata kebutuhan material (ekonomistik). Lulusan universitas hanyalah orang-orang yang menguasai keterampilan-keterampilan (know how), tetapi tidak mengenal tujuan hidupnya secara keseluruhan (know why). Spesialisasi dalam konteks ini adalah representasi utama dari universitas modern. Dengan demikian, produk universitas modern bukan lagi al-insân al-kulli atau insân kâmil, melainkan al-insân al-juz`i yang terpecah-pecah, yang tidak mampu mengenali diri dan lingkungannya dalam suatu keseluruhan.

Jika mengacu kepada Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional, pendidikan nasional Indonesia seharusnya sarat dengan pembelajaran yang berdimensi agama dan moralitas. Untuk itu perlu dicari solusi bagaimanakah mendekatkan praktek pendidikan dengan perundang-undangan, jangan sampai praktek pendidikan itu mengkhianati amanat perundang-undangan. Pendidikan di Indonesia seharusnya kaya dengan agama dan moralitas, kaya dengan pendidikan keimanan dan ketakwaan, agar ideal manusia yang dikehendaki (manusia utuh atau insan kamil) dapat tercapai.

Islam adalah sebuah agama yang memiliki ajaran yang lengkap dan sempurna. Pendidikan formal yang melalui Pendidikan Agama Islam di Indonesia tidak mungkin mampu menjelaskan kelengkapan dan kesempurnaan agama Islam, antara lain karena jam pendidikan agama sangat minim. Pada jenjang pendidikan dasar dan menengah hanya 2 jam perminggu, bahkan pada jenjang pendidikan tinggi hanya 2-4 SKS dari total perkuliahan program S-1. Bandingkan dengan pendidikan agama di negeri-negeri Islam lainnya. Jumlah jam pelajaran Pendidikan Agama di Pakistan 4 (empat) kali lipat jumlah jam pendidikan agama di Indonesia. Malah selain itu, mata pelajaran Ilmu Sosial bermuatan ajaran Islam, dan mata pelajaran bahasa digunakan sebagai media memperkaya Pendidikan Agama. (Asian Centre of Educational Innovation for Development, 1977). Di Iran lebih kaya lagi. Separoh kurikulum pendidikan dasar di Iran adalah agama (Bureau of Research on International Educational Sistems, 1984).

Sejak 20 tahun yang lalu memang telah ada upaya-upaya sekolah dan universitas untuk memperkaya pendidikan agama, baik melalui penambahan jam pelajaran agama atau melalui kegiatan ekstra kurikuler wajib dan pilihan. Tentu saja kegiatan-kegiatan keagamaan seperti itu di satu sisi cukup menggembirakan, karena label sekolah dan kampus sekuler dapat terhapuskan. Sivitas akademika, khususnya siswa dan mahasiswa, yang mencari dan bergairah belajar agama pun dapat terpuaskan. Tetapi di sisi lain, kegiatan-kegiatan ekstra demikian biasanya hanya diikuti oleh sivitas kampus yang memang memiliki gairah beragama, tidak menyentuh mereka yang tidak memiliki gairah beragama.

Persoalan yang lebih urgen yakni kualitas pendidikan yang menjadi kegalauan semua pihak. Kurikulum nasional diganti hampir setiap sepuluh tahun. Berbagai pendidikan dan pelatihan bagi para guru dan kepala sekolah pun terus dilakukan. Sejalan dengan era otonomi daerah, desentralisasi pendidikan pun dilakukan. Tujuannya tidak lain untuk meningkatkan kualitas pendidikan.

Pada bidang keagamaan, tujuan pendidikan pun lebih dikembangkan. Perubahan keempat UUD 1945 pasal 31 ayat (3) disebutkan, “pemerintah mengusahakan dan menyelenggarakan satu sistem pendidikan nasional, yang meningkatkan keîmanan dan ketakwaan serta akhlak mulia dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, yang diatur dengan undang-undang.” Pada UUD 1945 yang belum diamendemen, ungkapan demikian (iman, takwa, akhlak mulia) tidak ada. Kata-kata îman dan takwa (tanpa akhlak mulia) hanya tertuang dalam GBHN sejak Repelita pertama. Hal ini menunjukkan bahwa kalangan elit – dalam hal ini MPR – sebenarnya merasa resah dengan kondisi keberagamaan dan pendidikan bangsanya sendiri, yang sekaligus menghendaki jati diri bangsa dengan ciri-ciri berîman, bertakwa, dan berakhlak mulia. Tapi di tataran operasional praktek pendidikan masih jauh dari apa yang diharapkan oleh perundang-undangan itu.

 

A.    PEMBAHASAN

Hadirin yang saya muliakan,

 Mari kita ikuti pembahan berikut ini,

 

1.      Makna Iman

Mari kita bertanya kepada masing-masing diri kita, kepada hati nurani kita, apa makna iman itu? Biasanya orang sudah puas, sudah merasa beriman, jika orang itu sudah “percaya” akan AdaNya Allah.

Kalaulah ukuran beriman itu adalah “percaya” akan AdaNya Tuhan, maka seluruh manusia di dunia dapat dikatakan beriman, karena tidak ada seorang manusia pun yang tinggal di kolong langit ini yang tidak mempercayai AdaNya Tuhan. Semua manusia – tanpa kecuali – semuanya “percaya” akan AdaNya Tuhan.

Orang ateis itu sebenarnya “percaya” akan AdaNya Tuhan. Kalau pun mereka mengatakan “Tuhan itu tidak ada”, itu hanyalah ungkapan gaya-gayaan. Memang ada kecenderungan di kalangan orang-orang yang tidak taat beragama, mereka merasa bangga jika dapat menunjukkan dirinya melakukan perbuatan yang bertentangan dengan agama. Puncak-puncaknya adalah merasa bangga dengan mengatakan “Tuhan itu tidak ada”. Tapi sebenarnya hati kecil mereka mempercayai akan AdaNya Tuhan.

Yuki Nakata, seorang peneliti dari Jepang pernah ditanya oleh dosen MKDU UPI, bagaimanakah keberagamaan orang-orang Jepang? Ia menjawab bahwa pasca kekalahan Jepang dalam Perang Dunia II, separoh orang Jepang tidak beragama dan tidak percaya lagi dengan Tuhan. Separoh bangsa Jepang ateis. Tapi realitasnya, kata Yuki, ketika menghadapi masalah kehidupan yang pelik, mereka berdoa merintih memanggil-manggil Tuhan. Ungkapan Yuki Nakata ini sama dengan fakta para pemimpin ateis Rusia di tahun 1940-an. Ketika menaiki pesawat terbang dan pesawatnya oleng seperti mau terjatuh, para pemimpin ateis itu semuanya menundukkan kepala memohon kepada Tuhan agar mereka dihindarkan dari musibah jatuhnya pesawat. Hal ini ditegaskan dalam Al-Quran:

 

Katakanlah: "Siapakah Tuhan langit dan bumi?" Jawabnya: "Allah". (Qs. 13/Ar-Ro`du ayat 16)

 

Ungkapan panjang-lebar tentang kepercayaan masyarakat manusia akan AdaNya Tuhan bukan menegaskan tentang keimanan seluruh manusia, melainkan untuk menegaskan bahwa beriman itu bukanlah sekedar “percaya” akan AdaNya Tuhan. Untuk lebih menegaskan lagi tentang salahnya keimanan model ini adalah bahwa Iblis pun “percaya” akan AdaNya Tuhan. Malah Iblis mengetahui Tuhan, pernah berjumpa dengan Tuhan, dan pernah berdialog pula dengan Tuhan. Malah Iblis pun memohon kepada Tuhan agar Tuhan memanjangkan umurnya dengan maksud untuk menyesatkan seluruh manusia. Tapi Iblis divonis oleh Allah sebagai kafir dan sesat. Iblis divonis oleh Allah sebagai tidak beriman. Oleh karena itulah makna “iman” perlu dipahami dengan benar. Jangan sampai kita merasa beriman, padahal sebenarnya kafir dan musyrik, karena keimanan kita tidak sesuai dengan Kehendak Allah.

Mari kita baca secara perlahan penegasan Allah dalam Qs. Saba` 51-54:

 

 Dan (alangkah ngerinya) jika kamu (dibisakan) melihat ketika mereka (orang yang merasa beriman) terperanjat ketakutan (pada saat kematiannya), maka mereka tidak dapat melepaskan diri dan mereka ditangkap dari tempat yang dekat (untuk disiksa) (Qs. 34/Saba`: 51)

 Dan (ketika merasakan sakitnya siksaan) mereka berkata (memohon pertolongan kepada Allâh): "Kami beriman kepadaNya!" (Kami beriman kepada Allâh, tapi mengapa kami disiksa? Kemudian Tuhan menyanggahNya: “Tidak! Mereka sama sekali tidak beriman)”Bagaimanakah mereka dapat mencapai (keimanan kepada Allah) dari tempat yang jauh itu?” Dan sesungguhnya mereka telah mengingkari (Diri)-Nya (Yang Al-Ghaib =mengingkari Tuhan) sebelum itu (ketika di dunia); dan mereka (ketika di dunia hanya) menduga-duga tentang (Tuhan) Yang Al-Ghaib dari tempat yang jauh. (Qs. 34/Saba`: 52-53)

 

Dan dihalangi antara mereka dengan apa yang mereka ingini (ingin diterima keimanannya saat itu, atau dikembalikan ke dunia untuk taubat, atau dijadikan tanah) sebagaimana yang dilakukan terhadap orang-orang yang serupa dengan mereka pada masa dahulu. Sesungguhnya mereka dahulu (ketika di dunia) dalam keraguan yang mendalam (terhadap Tuhan Yang Al-Ghaib). (Qs. 34/Saba`: 54)

Qs. 34/Saba` ayat 51-54 ini memberikan peringatan betapa persoalan keimanan tidak boleh asal-asalan, tidak boleh berdasarkan informasi sepintas, tidak boleh berdasarkan kepercayaan turun-temurun, karena akibatnya sangat fatal. Pada saat kematian yang hanya satu kali terjadi, mati dalam keadaan su`ul khotimah (mati sesat), karena keimanannya keliru.

Qs. 34/Saba` ayat 51-54 ini menggambarkan, betapa manusia itu baru sadar dirinya kafir setelah mereka disiksa. Sebelum mendapat siksaan, mereka merasa beriman. Malah ketika merasakan betapa beratnya merasakan siksaan, mereka masih memanggil-manggil Tuhan: “Ya Allah, mengapa saya disiksa? Bukankah saya ini orang yang beriman?

Tapi Allah segera menyanggah: “Tidak! Kamu sama sekali tidak beriman. Kamu adalah kafir, karena ketika kamu hidup di dunia, kamu tidak pernah mengenal Diri-Ku Yang Al-Ghaib! Kamu hanyalah mengira-ngira tentang Aku Yang Al-Ghaib dari tempat yang jauh!

Karena itulah iman haruslah jelas dan benar. Iman haruslah ma`rifatun wa tashdiqun. Harus ma`rifatun, yakni mengenal Tuhan Yang AsmaNya Allah. Kemudian harus tashdiqun, yakni membenarkan Rasul yang mengenalkan Tuhan itu kepada kita. Artinya, sumber informasi tentang iman harus diperoleh dari Rasul. Tidak boleh berdasarkan informasi dari selain Rasul, karena hanya Rasul-lah yang mengenal Tuhan dan berwewenang mengenalkan Tuhan kepada orang-orang yang beriman kepada RasulNya. Perhatikan firman Allah berikut:

 

Dan Allâh sekali-kali tidak akan memperlihatkan kepada kamu semua perihal (Diri-Nya Zat Tuhan) Yang Al-Ghaib, akan tetapi Allâh memilih siapa yang dikehendaki-Nya di antara Rasûl-Rasûl-Nya. Karena itu berimanlah kepada Allâh dan Rasûl-Rasûl-Nya; dan jika kamu beriman dan bertaqwa, maka bagimu pahala yang besar. (Qs. 3/Ali Imran: 179)

 

Dia (Tuhan) Mengetahui (DiriNya) Yang Al-Ghaib, maka Dia tidak memperlihatkan kepada seorangpun tentang ke-Ghaiban-Nya, kecuali kepada Rasûl yang diridhoiNya. Maka sesungguhnya Dia mengadakan penjaga-penjaga (malaikat) di muka dan di belakangnya. (Qs. 72/Al-Jin ayat 26-27)

 

Maksud kedua ayat di atas (Qs. 3/Ali Imran ayat 179 & Qs. 72/Al-Jin ayat 26-27), bahwa Allâh sekali-kali tidak mengajar kepada manusia semua  perihal Wujud Diri-Nya Yang Maha Ghaib, akan tetapi Allâh memilih dari para Rasûl-Nya orang yang Dikehendaki oleh-Nya. Perlu diketahui bahwa hal ini dilakukan Allâh karena Dia sama sekali tidak akan pernah menampakkan DiriNya di muka bumi milikNya. Jadi, Rasul itulah penyambung lidah Tuhan. (Rahmat, 2010a)

Kemudian, setelah mengenal Allah (ma`rifat bi Dzatillah), maka orang yang beriman haruslah “membenarkan” Tuhan yang dikenalkan oleh Rasul itu dalam hatinya (harus tashdiqu bil-qolbi), antara lain dengan selalu mengingat-ingat Tuhan (selalu men-dzikiri-Nya); kemudian harus meng-iqrar-kanNya secara lisan (harus taqriru bil-lisan), antara lain dan terutama dengan meng-iqrar-kan dua kalimat syahadat: Asyhadu anla ilaha illallah (Aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah) wa asyhadu anna muhammadan rasulullah (dan aku bersaksi bahwa Nabi Muhammad itu adalah Rasulullah); dan terakhir, segala perbuatannya harus mencerminkan keimanan (harus wal `amalu bil-arkan). (Rahmat, 2009). Artinya, segala perbuatannya harus didasarkan atas perintah Allah sebagaimana disampaikan oleh RasulNya.

 

Hai orang-orang yang beriman, taatilâh Allâh dan taatilâh Rasûl-(Nya) dan Ûlîl Amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allâh dan Rasûl, jika kamu benar-benar beriman kepada Allâh dan Hari Âkhir. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya. (Qs. 4/An-Nisa ayat 59)

 

Hai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kepada Allâh dan berimanlah kepada Rasûl-Nya, niscaya Allâh memberikan rahmat-Nya kepadamu dua bagian, dan menjadikan untukmu cahaya yang dengan cahaya itu kamu dapat berjalan dan Dia mengampuni kamu. Dan Allâh Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (Qs. 57/Al-Hâdid: 28).

 

Beriman kepada Rasulullah itulah yang ditolak oleh iblis sejak awal mula Allah mengangkat khalifahNya di muka bumi. Iblis tidak menolak keimanan kepada Allah. Tapi iblis menolak sujud kepada Khalifah-Nya, menolak sujud (dalam arti: pasrah bongkokan) kepada Wakil-Nya Tuhan di muka bumi, yakni menolak taat kepada Rasulullah.

Tentu saja gaya keimanan model iblis demikian disalahkan oleh Allah. Kata Allah: “Iblis, jika keimanan kamu seperti itu berarti kamu sesat!” Iblis menerima vonis sesat dari Allah. Ia kemudian memohon kepada Allah agar dirinya dipanjangkan umurnya untuk menyesatkan seluruh manusia, sebagaimana firmanNya:

 

Iblis berkata: "Ya Tuhanku, oleh sebab Engkau telah memutuskan bahwa aku sesat, pasti aku akan menjadikan mereka memandang baik (perbuatan yang tidak sejalan dengan Kehendak-Mu) di muka bumi, dan pasti aku akan menyesatkan mereka semuanya; kecuali hamba-hamba Engkau yang mukhlis di antara mereka". (Qs. 15/Al-Hijr: 39-40)

Sumpah serapah iblis itu ternyata dibenarkan oleh Allah, karena memang terbukti bahwa meyoritas manusia menjadi pengikut iblis, sebagaimana firmanNya:

 

Dan sesungguhnya iblis telah dapat membuktikan kebenaran sangkaannya terhadap mereka lalu mereka mengikutinya, kecuali sebahagian orang-orang yang beriman. (Qs. 34/Saba`: 20). 

 

Karena itulah gerakan beragama untuk kembali kepada Allah dan RasulNya perlu disambut dengan pengkajian kembali dan perenungan mendalam tentang keimanan kita masing-masing. Apakah keimanan kita sudah sesuai dengan Kehendak Allah sebagaimana diajarkan oleh RasulNya, ataukah jangan-jangan keimanan kita malah keliru?! Na`udzu billahi min dzalik!

Hal ini dipertanyakan, karena menurut Al-Quran hanya sedikit manusia yang beriman. Kebanyakan manusia malah kafir dan musyrik. Dalam Qs. 2/Al-Baqarah ayat 87-88 ditegaskan tentang sedikitnya orang-orang yang beriman:

 

Dan sesungguhnya Kami telah mendatangkan Al-Kitab kepada Musa, dan Kami telah menyusulinya (berturut-turut) sesudah itu dengan Rasûl-Rasûl, dan telah Kami berikan bukti-bukti kebenaran kepada Isa putera Maryam dan Kami memperkuatnya dengan Ruhul Qudus. Apakah setiap datang kepadamu seorang Rasûl membawa sesuatu (ajaran) yang tidak sesuai dengan keinginanmu lalu kamu menyombongkan diri? (=menolak Rasûl?); Maka beberapa orang (di antara Rasûl-Rasûl) kamu dustakan dan beberapa orang (Rasûl-Rasûl yang lainnya) kamu bunuh? Dan mereka (orang-orang yang menolak Rasul) berkata: "Hati kami tertutup". Tetapi sebenarnya Allâh telah mengutuk mereka karena keingkaran mereka; maka sedikit sekali mereka yang beriman.

 

Syirik (orangnya disebut musyrik) merupakan dosa yang paling besar dan tidak ada ampunanNya dari Allah, sebagaimana firmanNya:

Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya: "Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allâh, Sesungguhnya mempersekutukan (Allâh) merupakan kezaliman yang besar (=dosa yang paling besar, yang tidak ada ampunannya). (Qs. 31/Luqman: 13)

 

Sesungguhnya Allâh tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang mempersekutukan Allâh, maka sungguh ia telah berbuat dosa yang besar. (Qs. 4/An-Nisa: 48)

 

Sesungguhnya Allâh tidak mengampuni dosa mempersekutukan (sesuatu) dengan Dia, dan Dia mengampuni dosa yang selain syirik bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang mempersekutukan (sesuatu) dengan Allâh, maka sesungguhnya ia telah tersesat sejauh-jauhnya. (Qs. 4/An-Nisa: 116)

 

Tetapi celakanya, mayoritas manusia justru musyrik:

 

Dan sebahagian besar dari mereka tidak beriman kepada Allâh, melainkan dalam keadaan mempersekutukan Allâh (musyrik). (Qs. 12/Yusuf: 106)

 

Katakanlah: "Adakanlah perjalanan di muka bumi dan perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang terdahulu. kebanyakan dari mereka itu adalah orang-orang musyrik." (Qs. 30/Ar-Rum: 42)

 

 

2.    Makna Ibadah

Beribadah menyembah Tuhan Yang Punya Nama Allah merupakan keharusan bagi orang-orang yang sudah menyatakan dirinya beriman. Beribadah tidak bisa dilakukan dengan sesuka-hati, hanya dengan mengikuti suasana hati dan selera pribadi. Beribadah haruslah mengikuti Kehendak Allah sebagaimana diajarkan oleh RasulNya. Perintah beribadah diungkap dalam puluhan ayat Al-Quran. Tapi ada beberapa ayat Al-Quran yang perlu mendapat perhatian khusus karena merupakan ayat-ayat ‘inti’ tentang ibadah.

Pertama, dalam beribadah harus kenal dengan Tuhan yang disembahnya, sebagaimana firmanNya dalam Qs. 20/Thô-Hâ: 14:

 

Sesungguhnya AKU ini (bernama) Allâh. Tidak ada Tuhan selain AKU. Maka sembahlah AKU dan dirikanlah shalat untuk mengingat AKU.

 

Dalam ayat ini perintah beribadah ditekankan setelah hamba Allâh ma`rifat bi Dzâtillâh (Innanî ANA Allâh =Sesungguhnya AKU ini bernama Allâh). Lalu me-nafi-kan daya, kekuatan, dan wujud diri sendiri dan segala sesuatu di luar Tuhan (Lâ ilâha) dan hanya menetapkan, meng-itsbat-kan, bahwa Yang benar-benar Ada, Yang Wujud, Yang Punya Daya, dan Yang Punya Kekuatan, hanyalah Tuhan (illa ANA), yakni DiriNya Ilâhi Zat Yang Al-Ghaib Yang AsmaNya Allâh.  Hal ini menunjukkan, bahwa untuk melakukan berbagai peribadatan haruslah benar-benar dalam rangka menyembah AKU (=menyembah Tuhan). Karena itulah dalam melakukan ibadah pun harus mengikuti Kehendak-Nya sebagaimana yang diajarkan oleh RasulNya.

 

Kedua, dalam beribadah haruslah ikhlas, tanpa pamrih dunia ataupun pamrih akhirat. Pamrih dunia adalah ingin dipenuhinya kebutuhan duniawi, sedangkan pamrih akhirat adalah ingin mendapatkan pahala, dimasukkan ke surga, dan dihindarkan dari api neraka; padahal seharusnya ingin kembali kepada Tuhan Yang AsmaNya Allah hingga sampai dengan selamat.

 

Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allâh dengan ikhlas dalam (menjalankan) agama yang lurus; (Qs. 98/Al-Bayyinah: 5)

 

Ketiga, ketika beribadah harus yakin bahwa Tuhan yang disembahnya itu hadir, sebagaimana firmanNya dalam Qs. 15/Al-Hijr ayat 99:

 

Sembahlah Tuhanmu sampai kamu yakin Dia (Tuhan yang kamu sembah itu) hadir.

Sejalan dengan Qs. 15/Al-Hijr ayat 99 tersebut ada  hadits Nabi SAW tentang ihsan. Nabi Muhammad SAW menjelaskan, bahwa ihsan adalah kamu menyembah Allâh seakan-akan kamu melihatNya walaupun kamu (dengan mata kepalamu) tidak melihatNya karena Allâh melihat kamu. Bagaimanakah kita dapat yakin bahwa Tuhan yang kita sembah itu hadir ketika kita menyembahNya.

 

Keempat, dalam beribadah tidak boleh mengikuti selera nafsu dan syahwat. Oleh karena itulah syirik yang paling besar justru menuhankan hawa nafsunya:

 

Terangkanlah kepadaku tentang orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai Tuhannya. Maka apakah kamu dapat menjadi pemelihara atasnya? (Qs. 25/Al-Furqan: 43)

 

Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai Tuhannya, dan Allâh membiarkannya berdasarkan ilmu-Nya dan mengunci mati pendengaran dan hatinya dan meletakkan tutupan atas penglihatannya? Maka siapakah yang akan memberinya petunjuk sesudah Allâh (membiarkannya sesat). Maka mengapa kamu tidak mengambil pelajaran? (Qs. 45/Al-Jasiyah: 23)

 

Kedua ayat di atas menekankan bahwa dalam menyembah Tuhan jangan sampai atas dasar dorongan nafsu dan syahwat, karena kalau dasarnya nafsu dan syahwat pasti akan memilih ibadah-ibadah yang disenangi oleh dirinya (yang tidak lain adalah ibadah-ibadah yang disenangi oleh nafsu dan syahwatnya). Ibadah haruslah bi shidqin, harus benar sesuai Kehendak Tuhan yang diajarkan dan diteladankan oleh RasûlNya.

 

Kelima, dalam menyembah Allâh itu jangan sekali-kali syirik (menduakan Tuhan, antara lain memandang ada daya dan kekuatan selain Daya dan Kekuatan Tuhan, memiliki tempat bersandar selain Tuhan). Syirik merupakan dosa yang paling besar dan tidak ada ampunanNya dari Allah:

 

Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya: "Hai anakku, janganlah kamu menyekutukan Allâh, Sesungguhnya menyekutukan (Allâh) adalah kezaliman yang besar (yang tidak ada ampunanNya sama sekali). (Qs. 31/Luqman: 13). 

 

Sembahlah Allâh dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatupun; dan berbuat baiklah kepada dua orang ibu-bapak, karib-kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang dekat dan tetangga yang jauh, dan teman sejawat, ibnu sabil dan hamba sahayamu. Sesungguhnya Allâh tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membangga-banggakan diri. (Qs. 4/An-Nisa: 36)

 

Keenam, dalam beribadah tidak boleh tercemari oleh perbuatan meminta perlindungan kepada bangsa jin, karena sama saja dengan telah menyembahnya, sebagaimana firmanNya:

 

Dan (hati-hatilah suatu) hari (di akhirat nanti) Allâh mengumpulkan mereka semuanya (malaikat, jin, manusia). Lalu Allâh berfirman kepada malaikat: "Apakah mereka ini (manusia) dahulu menyembah kamu?" Para malaikat menjawab: "Maha Suci Engkau. Engkaulah pelindung kami. Bukan (menyembah kami), bahkan mereka telah menyembah jin. Kebanyakan manusia justru beriman (menyembah) kepada jin-jin itu!" (Qs. 34/Saba`: 40-41)

 

Maksud ‘menyembah’ jin adalah beribadah mengikuti tata-cara yang diajarkan oleh bangsa jin, bisa berupa ilham-ilham yang kita terima (karena syetan selalu aktif berbisik-bisik dalam dada manusia, yuwaswisu fî shudûrin nâs), bisa juga melalui perantaraan orang yang disebut-sebut sebagai ‘orang pintar’ (pintar berhubungan dengan bangsa jin). (Rahmat, 2010). Mempercayai ilham-ilham merupakan bentuk penyembahan terhadap jin, karena ilham itu sebagai difirmankan dalam Qs. 91/Asy-Syams ayat 8 ada yang fujûr (fasik) dan yang taqwa: Fa`alhamahâ fujûrohâ wa taqwâhâ.

Sebagai penjelasan tambahan, bahwa BERHALA bukanlah sekedar patung-patung, sebagaimana patung-patung (berhala) yang disembah oleh kafir Quraisy di zaman Nabi Muhammad Saw ataupun patung-patung (berhala) yang banyak disebut-sebut dalam Al-Quran dan sejarah. Perhatikan ayat berikut:

 

Sesungguhnya apa yang kamu sembah selain Allah itu adalah berhala, dan kamu membuat dusta. Sesungguhnya yang kamu sembah selain Allah itu tidak mampu memberikan rezki kepadamu; Maka mintalah rezki itu di sisi Allah, dan sembahlah Dia dan bersyukurlah kepada-Nya. hanya kepada- Nyalah kamu akan dikembalikan. (Qs. 29/al-Ankabut: 17)

 

Jadi, hakekat “berhala” adalah sesembahan selain Tuhan Yang AsmaNya Allah. Apa yang biasa disembah manusia selain Allah, terutama adalah NAFSU-nya sendiri dan JIN, sebagaimana telah dijelaskan tadi.

Oleh karena itu manusia tanpa merujuk pada Allah dan RasulNya, maka manusia tidak mungkin mampu membedakan manakah ilham yang fujûr dan mana pula ilham yang taqwa, tidak mungkin bisa membedakan mana yang baik dan mana yang buruk, mana yang benar dan mana yang salah. Sebabnya, karena adanya tiga faktor berikut: (a) manusia cenderung menuhankan nafsunya, beribadah menurut selera akal pikiran dan nafsunya (Qs. 45/Al-Jatsiyah: 23), (b) syetan sangat aktif membisiki ilham-ilham yang fujûr ke dalam dada manusia (Qs. 114/An-nâs: 4-6), tapi manusia merasakannya sebagai ilham yang bagus, dan (c) iblis sangat digdaya menjerat manusia dengan cara menciptakan pandangan yang disangkanya ‘baik’ oleh manusia, padahal tidak sejalan dengan kehendak Tuhan (Qs. 15/Al-Hijr: 39).

 

Ada baiknya juga sekarang kita kutip pandangan Hujjatul Islam Imam Ghazali (al-Ghazali, 1989; juga al-Ghazali dalam al-Qasimi, 1986)) yang mengingatkan secara khusus tentang ibadah-ibadah keliru, tapi disangka benar oleh orang yang menjalankannya. Beliau membahas dalam bab khusus tentang "Penggolongan Ahli Ibadat yang Tertipu". Golongan VI adalah orang-orang yang tertipu melakukan ibadah haji. Sayang sekali, mereka tidak membersihkan harta dari keharaman. Harta malah didapat dari penipuan, pengelabuan, penganiayaan, pencolengan, dan lain-lain. Sementara hutang-hutangnya tidak dibayar terlebih dahulu. Bekalnya tidak dipilih dari yang halal. Malah, yang dilakukannya pun bukan haji wajib, melainkan yang sunat-sunat, karena sudah pergi untuk kedua kalinya atau ketiga kalinya. (Al-Qosimi, 1986: 832).

Kemudian, Imam Ghazali pun membahas "para pemilik harta yang tertipu". Golongan I adalah orang-orang yang besar semangatnya untuk membangun masjid atau bangunan keagamaan yang tampak jelas di mata khalayak ramai. Tujuannya tidak lain: namanya ingin dikenang, kedermawanannya disebut-sebut, dan kemasyhurannya dalam bersedekah tersiar ke mana-mana, dan seterusnya. Padahal, kadang-kadang menurut pandangan agama, lanjut Imam Ghazali, lebih utama bersedekah dan membagi-bagikan hartanya itu kepada kaum fakir-miskin. Tapi orang-orang yang tertipu tadi enggan melakukan yang demikian, sebab takut kalau amalannya itu tidak tampak di muka khalayak ramai.

Golongan II  - dari para pemilik harta yang tertipu – adalah menunaikan ibadah haji tanpa sebab. Imam Ghazali mengutip sahabat Nabi, Ibnu Mas`ud R.a. yang berkata:

Pada akhir zaman nanti akan banyak sekali haji tanpa sebab. Mereka melakukan itu dengan perasaan ringan dan tidak dirasakan kesukarannya sama sekali, dan keadaan mereka itu sangat luas rizkinya dan berlimpah-ruah hartanya. Tetapi mereka kembali tanpa ada pahala yang dibawa, tertutup dari rahmat Allah dan terampas semua ganjarannya. Untanya menurun antara padang pasir, sedang tetangganya memijit perutnya karena sangat kelaparan, namun dihiraukan, apalagi ditolongnya. (Muhammad Al-Qosimi, 1986: 843)

Selanjutnya Imam Ghazali menyebutkan Abu Nashr Tammar yang berkata: "Ada seorang lelaki datang ke tempat Bisyr bin Harits untuk pamitan hendak bepergian."

Lelaki itu berkata: "Saya hendak pergi haji. Apakah ada sesuatu yang akan kau perintahkan padaku?"

Bisyr menjawab: "Berapa banyak nafkah yang kau sediakan?" Lelaki itu menjawab: "Dua ribu dirham." Bisyr (kemudian) bertanya: "Apakah yang sebenarnya kau cari dengan hajimu itu, apakah untuk berbuat kezuhudan, atau karena rindumu kepada Baitullah, ataukah untuk mencari keridhaan Allah Ta`ala?" "Untuk mengharapkan keridhaan Allah Ta`ala," jawabnya. Kalau demikian, ujar Bisyr, "Ya kalau yang kau maksudkan untuk mencari keridhaan Allah Ta`ala, maka bagaimanakah pendapatmu sekiranya itu dapat dicapai dan engkau tetap ada di rumah saja?"

Lelaki itu bertanya lagi, "Bagaimana caranya?" Bisyr menjawab: "Caranya ialah, uang yang dua ribu dirham itu kau belanjakan semua dan engkau dapat meyakinkan pula bahwa keridhaan Allah pasti engkau peroleh dengan keyakinan. Sukakah engkau mengerjakan jikalau saya tunjukkan?"

"Coba uraikan dulu !" (kata orang itu)

Nah (kata Bisyr), caranya ialah supaya uangmu yang semestinya engkau gunakan sebagai nafkah ibadah haji itu, yakni dua ribu dirham, semuanya kau bagikan kepada sepuluh orang fakir-miskin di negerimu sendiri. Pilihlah di antara mereka itu: (a) orang yang berhutang agar dapat melunasi utangnya, (b) seorang fakir yang sudah amat kekurangan sekali, (c) orang yang banyak keluarga perlu menghidupi anak istrinya, dan (d) orang yang memelihara anak yatim yang dicintainya tetapi dalam kekurangan untuk membuat kesenangan anak itu. Di antara empat macam orang ini, sekiranya engkau lebih mantap untuk diberikan salah satu saja, bolehlah pula itu dilakukan.

(Kata Bisyr lagi selanjutnya): "Engkau harus memaklumi bahwa memberikan kegembiraan hati seorang muslim, memberikan pertolongan kepada orang yang sedang dalam kesengsaraan, menyirnakan bahaya, dan membantu orang yang lemah, itu (semua) adalah lebih utama daripada seratus kali naik haji, setelah menunaikan rukun Islam yang wajib, yakni haji yang pertama. (Muhammad Al-Qosimi, 1986: 843-844).

 

3.    Misi Kenabian

Pembahasan tentang keimanan tidak bisa dilepaskan dari pembahasan tentang misi agama Islam. Misi ini dapat kita lihat dari misi kenabian. Syekh Murtadha Muthahhari (2000) mengajukan sejumlah pertanyaan berikut: (1) ke arah manakah tujuan jalan yang benar menurut perspektif para nabi? (2) di manakah letak kebahagiaan manusia dan masyarakat dalam perspektif para nabi? (3) perbudakan macam apakah dalam perspektif para nabi yang ingin dibebaskan? (4) berdasarkan aliran pemikiran ini pula, di manakah letak kebahagiaan dan keselamatan akhir manusia? Dan (5) apa tujuan utama dari misi kenabian itu?

Semua permasalahan ini – menurut Muthahhari – telah disitir dalam Al-Quran, baik secara langsung maupun tidak langsung. Tetapi dua konsep telah secara khusus ditunjuk sebagai yang sebenarnya dari misi para nabi. Kedua konsep tersebut adalah: Pertama, ber-tauhid, yakni mengimani Allah Yang Maha Esa serta mendekatkan diri kepada-Nya; dan kedua, menegakkan keadilan dan kesederajatan dalam masyarakat manusia. Semua ajaran para nabi merupakan semacam perkenalan kepada kedua misi utama ini. Dalam Qs. 33/Al-Ahzab ayat 45-46 Allah SWT berfirman:


Wahai Nabi, sesungguhnya Kami mengutus kamu untuk menjadi saksi, pembawa kabar gembira, dan pemberi peringatan; dan untuk menjadi penyeru kepada agama Allah dengan izin-Nya, dan untuk menjadi cahaya yang menerangi.

 

Kedua ayat di atas merujuk kepada misi pertama kenabian (misi tauhid). Di antara semua aspek yang disebutkan dalam kedua ayat ini nyatalah bahwa "mengajak kepada  Allah" merupakan tujuan utama dari misi kenabian.

Di lain pihak, berkaitan dengan semua Nabi dan Rasul, Qs. 57/Al-Hadid ayat 25 mengungkapkan:


 Sesungguhnya Kami telah mengutus Rasul-rasul Kami dengan membawa bukti-bukti yang nyata dan telah Kami turunkan bersama mereka Al-Kitab dan neraca (keadilan) supaya manusia dapat melaksanakan keadilan; dan Kami ciptakan besi yang padanya terdapat kekuatan yang hebat dan berbagai manfaat bagi manusia, dan supaya Allah mengetahui siapa yang menolongNya dan (menolong) Rasul-rasul-Nya, padahal Dia Al-Ghaib. Sesungguhnya Allah Maha Kuat lagi Maha Perkasa.

 

Ayat ini dengan jelas menyatakan bahwa menegakkan keadilan adalah tujuan utama kenabian dan misi kenabian. Dengan demikian terdapat dua tujuan utama dari misi kenabian, yaitu: (1) mengajak manusia untuk menyembah Allah Yang Esa, serta sekaligus menghindari kemusyrik­an, dan (2) menegakkan keadilan dan kesederajatan umat manusia, sekaligus memberantas kelaliman dan tindakan diskriminatif.

 

Aksi Para Nabi dalam Menjalankan Misi Islam

Contoh paling menarik dalam misi kenabian ini (karena dapat dipahami dengan jelas) – yang diungkapkan Syekh Muthahhari (2000) – dibawakan oleh Nabi Ibrahim As., Nabi Musa As., dan Nabi Mu­hammad Saw. Abdurrahman an-Nahlawi (1989) menegaskan tentang perlunya pembelajaran agama dengan metode Qurani, antara lain metode Kisah Qurani.

 

Pertama, Aksi Nabi Ibrahim As

Nabi Ibrahim mengajak kaumnya untuk menyembah Allah Yang Esa, seraya menjelaskan Keagungan Allah. Pemimpin kaum yang kafir (Raja Namrud) malah menentangnya dengan minta ditunjukkan apa saja kebesaran Allah itu. Ibrahim menyebutkan bahwa Tuhannya bisa meng­hidupkan dan mematikan. Pemuka kaum yang durhaka lalu menjawab dengan sombongnya, bahwa ia pun mampu menghidupkan dan memati­kan. Ia lalu mengambil dua orang hamba sahaya, kemudian membunuh salah seorang di antara keduanya dan membiarkan hidup yang lainnya. Sampai di sini seolah-olah Ibrahim kalah debat. Sang Nabi kemudian menggunakan logika yang tidak mungkin bisa dilakukan oleh siapa pun selain Allah (dan orang yang dikehendaki oleh Allah). Ibrahim menyebutkan, bahwa Tuhannya menjalankan matahari (yang terlihat di bumi) dari arah timur ke arah barat; lalu menantang pemuka kafir itu agar memindahkan arah peredaran matahari dari arah barat ke arah timur. Tentu saja Raja Namrud tidak bisa melaksanakannya. Ia benar-benar tidak berdaya di hadapan Ibrahim dan kaumnya.

Tatkala kaumnya tidak mengindahkan seruannya, sekalipun argu­mentasi yang jitu telah dilontarkan dan telah mengalahkan mereka, Ibrahim lalu menggunakan argumentasi lain. Sejalan dengan tradisi bahwa pada saat itu orang-orang menyembah patung-patung. Tatkala hari raya tiba keluarlah semua orang dari kota, sementara Ibrahim tinggal sendirian. Kesempatan ini digunakan Ibrahim untuk meng­hancurkan patung-patung  - sebagai simbol kemusyrikan saat itu – dengan kapak­nya.  Sebuah patung paling besar dibiarkannya. Di leher patung itu dikalungkan kapak. Maksudnya agar semua orang yang meninggalkan kota mengambil kesimpulan, bahwa telah terjadi pertengkaran hebat di antara patung-patung, lantas masing-masing mereka berkata dalam dirinya bahwa patung yang ter­besar itulah yang paling kuat. Tetapi yakin akan naluri manusia yang condong kepada yang benar, masing-masing mereka akan berkata pula bahwa tidak mungkin patung yang tidak bisa bergerak itu yang melaku­kannya. Hal ini akan membuat mereka tidak menerima persoalan ini lalu bergerak untuk berpikir ke arah yang benar.

Ketika orang-orang kembali ke kota dan menyaksikan apa yang terjadi dengan patung-patung (yang telah dihancurkan Ibrahim), mereka pun marah dan dengan penuh kebencian segera mencari orang yang diduga melakukan penghancuran itu. Tapi siapakah pelakunya? Tiba-tiba saja mereka teringat bahwa ada seorang pemuda yang selalu menantang tradisi mereka. Maka segeralah mereka mencari Ibrahim. Dengan logika yang sudah dipersiapkannya, Ibrahim lalu (seolah-olah) mengelak: mengapa aku yang kalian tuduh? Mengapa tidak patung yang besar itulah yang kalian salahkan?

Orang banyak pun menjawab dengan penuh sinis: Mana mungkin patung yang tidak bisa berpindah itu dapat melakukannya? Jawaban inilah yang justru ditunggu­-tunggu Ibrahim untuk meluruskan logika mereka. Mendengar pernyataan kaumnya itu Nabi Ibrahim segera berkata: "Masa patung besar saja tidak bisa melakukan seperti itu, padahal kalian menganggap bahwa ia bisa memenuhi kebutuhan kalian!" Nabi Ibrahim AS berhasil meluruskan logika kaum kafir. Sebagian kecil mereka beriman tapi sebagian besar lainnya tetap saja kafir.

 

Kedua, aksi Nabi Musa As

Nabi Musa pun melakukan hal yang sama seperti yang dilakukan Nabi Ibrahim As. Sumber kekafiran, kemusyrikan dan kedzaliman saat itu adalah Fir`aun dan kroni-kroninya. Nabi Musa dalam melaksanakan misi kenabiannya harus berurusan dengan kekuatan kafir dan penindas. Ia bertugas mengajak Bani Israil untuk menyembah Allah Yang Esa, juga membebaskan manusia dari perbudakan. Fir`aun adalah pemimpin kafir dan tiran yang ditopang oleh kekuatan besar: Qarun sang konglomerat korup, Haman sang  ilmuwan/teknokrat konseptor pemerintahan tiran dan ekonomi korup, dan Bal`am sang Ulama pembelai rakyat yang pro penguasa tiran.

Dalam menjalankan misinya, Musa harus berhadapan dengan kekuatan-kekuatan itu. Karena beratnya tugas yang harus diembannya, maka ia meminta kepada Tuhannya untuk menjadikan Harun, saudaranya, sebagai Nabi yang dapat meringankan tugasnya. Dengan berbekal keimanan, kesabaran, dan perjuangan hebat, akhimya Nabi Musa dapat mengalahkan kekuatan kafir dan lalim itu.

 

Ketiga, aksi Nabi Muhammad Saw

Peristiwa serupa terjadi pula di zaman Nabi terakhir Muhammad Saw. Ka`bah saat itu menjadi sumber kemusyrikan bangsa Arab. Tidak kurang dari 360 buah patung berdiri kokoh di atas Ka`bah. Tatkala menguasai Makkah, Rasulullah Saw segera memerintahkan pengikutnya untuk menghancurkan seluruh patung yang ada di Ka`bah. Dan orang yang mendapat kehormatan untuk menghancurkan 360 buah patung-patung itu adalah saudara sepupu sekaligus mantunya sendiri, Imam Ali bin Abu Thalib k.w.

Nabi terakhir, Muhammad, dalam menjalankan kedua misi kenabiannya berhadapan pula dengan kekuatan-kekuatan kafir dan lalim. Haikal (2002) dan al-Husaini (2000) mengungkapkan, selama periode Makkah, Nabi dan umat Islam mendapat perlakuan kejam dari kafir Quraisy. Nabi dilempari dengan kotoran dan dalaman perut binatang, dijebak terperosok ke dalam lubang yang sudah dipersiapkan, diteror, diusir, dan berbagai upaya pembunuhan. Embargo ekonomi pun diberlakukan bukan hanya kepada Nabi dan kaum muslimin, bahkan juga kepada Bani Hasyim dan Bani Muthallib (kerabat dekat Nabi). Selama 3 tahun Nabi dan kaum muslimin diembargo di lembah Abu Thalib sehingga banyak di antara pengikut awal Islam yang syahid. Siti Khadijah, istri Nabi yang sangat kaya, ikut menderita juga. Istri yang agung ini pun kemudian syahid beberapa saat setelah berhentinya embargo. Sebagian kaum muslimin awal ini pun terpaksa mengungsi – berhijrah – di Habasah (Ethiopia) menyeberangi Laut Merah, sebuah negeri Kristen di Aprika yang Rajanya dikenal adil. Walau mendapat hasutan dari kafir Quraisy, tapi Raja Habasah tidak terpropokasi oleh mereka.

Kepada Abu Thalib – yang memelihara dan melindungi Nabi, kafir Quraisy meminta bantuannya agar paman Nabi itu merayu menghentikan da`wah Nabi dengan imbalan Nabi diberikan kekayaan yang melimpah, seluruh wanita cantik dan pilihan akan dihadiahkan kepada Nabi, bahkan ditawari menjadi Raja Arab. Abu Thalib menyampaikan pesan kafir Quraisy kepada Nabi. Tapi Nabi malah menjawabnya: Jangankan itu semua, paman! Sekiranya matahari di tangan kananku dan bulan di tangan kiriku, aku tidak akan menghentikan da`wah dan berjuang hingga tegaknya agama Allah atau aku mati karenanya. Saking frustasinya, akhirnya kafir Quraisy meminta Abu Thalib menyerahkan Nabi. Sebagai gantinya paman Nabi itu diberi seorang pemuda ganteng dan berpenampilan menarik. Dengan cara ini mereka mengira Abu Thalib akan menerimanya, karena akan tertarik dengan penampilan pemuda itu. Tapi tindakan kafir Quraisy itu malah membuat berang Abu Thalib. “Jadi, kata paman Nabi itu, kau minta aku menyerahkan anakku untuk kau bunuh dan kau serahkan anakmu untuk aku beri makan? Enyahlah kalian dari sisiku,” bentak Abu Thalib! (Padahal Abu Thalib hingga akhir hayatnya tidak pernah beriman).

Sepeninggal Abu Thalib, kafir Quraisy semakin giat menteror dan berusaha membunuh Nabi, sehingga Nabi pernah mengungsi ke Thaif (sekitar 40 km dari Makkah), yang malah mendapat perlakuan kasar juga (karena dipropokasi kafir Quraisy). Nabi pun akhirnya mengajak kaum muslimin meninggalkan Makkah dan berhijrah ke Madinah.

Setelah Nabi – yang menurut ukuran manusia – berhasil membina keimanan, kesabaran, dan jiwa juang pengikutnya, dan berhasil pula menjadikan Madinah sebagai Islamic Centre, gempuran dari pihak kafir dan lalim berlangsung tiada henti-hentinya. Puluhan kali Nabi dan umat Islam harus berjuang menghadapi perang yang dipaksakan oleh musuh-musuh Islam. Perang Badar dan Perang Uhud (dengan kafir Quraisy), Perang Khandaq (dengan sekutu kafir Quraisy-Yahudi), Perang Khaibar (dengan Yahudi Khaibar), dan Perang Mu`tah (dengan kekaisaran Rumawi) merupakan contoh dari peperangan yang dipaksanakan terhadap Nabi dan kaum muslimin. Tidak berhenti di situ, setelah Nabi menampakkan keberhasilannya memegang kendali umat, muncullah barisan kaum munafik sebagai musuh yang lebih berat – karena mereka berada di dalam barisan Islam dan menampakkan diri sebagai pejuang-pejuang Islam, tapi di belakang justru menikam Nabi dan merusak ajaran Islam. Lebih berbahaya lagi jika orang-orang munafiq yang tidak diketahui kemunafikannya oleh kebanyakan manusia adalah tokoh popular sehingga dipandang oleh kebanyakan kaum muslimin sebagai pejuang sejati Islam.

 

4.    Jihad Akbar

Iman bukanlah sekedar sebuah keyakinan hampa, melainkan sebuah keyakinan yang harus diwujudkan secara nyata melalui jihad akbar, yakni jihad atau berjuang untuk menundukkan nafsunya sendiri hingga patuh dan tunduk dikendalikan oleh fithrah-nya yang murni (Affandi, 2002).

Jihad akbar sangatlah berat, tapi harus dilakukan. Oleh karena itu mengapa ketika manusia menerima “amanat” yang Allah tawarkan kepada langit, bumi, dan gunung-gunung (tidak Allah tawarkan kepada manusia), Allah sama sekali tidak memujinya, malah memvonisNya dengan dzaluuman jahuula (=zalim dan bodoh), sebagaimana firmanNya dalam Qs. 33/Al-Ahzab ayat 72:

?

Sesungguhnya Kami telah mengemukakan amanah kepada langit, bumi dan gunung-gunung, maka semuanya enggan untuk memikul amanah itu dan mereka khawatir akan mengkhianatinya, dan dipikullah amanah itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu amat dzalim dan amat bodoh,

 

Kapan manusia menerima amanat itu? Menurut Guru Mursyid sufisme Syaththariah, adalah ketika manusia masih di alam Dzar (jauh sebelum manusia ditempatkan di muka bumi). Pada saat itu memang manusia masih berupa fithrah, masih suci-murni, belum terkotori oleh nafsu dan syahwat, dan belum memperoleh pengaruh iblis dan syetan yang sesat dan menyesatkan. Saat itu fithrah manusia “menyaksikan” Tuhan dan dan selalu mengingat-ingatNya. Hal ini diungkapkan dalam Qs. 7/Al-A`raf: 172:

 

Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): "Bukankah Aku ini Tuhanmu?" Mereka menjawab: "Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi". (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: "Sesungguhnya kami (bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap (kesaksian) ini"

 

Rupanya pada waktu itu (di alam Dzar) manusia tidak tahu kalau untuk kembali kepada TUHAN hingga sampai dengan selamat terlebih dahulu harus menjalani “ujian dan cobaan” berupa SUSAH dan SENANG. Manusia saat itu tidak tahu kalau fithrah-nya (jatidirinya) akan dibungkus nafsu (jiwa-raga) yang berwatak seperti hewan dan iblis dengan tentaranya nafsu lawwamah dan nafsu amarah. Karena itulah mereka semua (manusia ketika di alam Dzar) serempak menjawab: "Balaa, syahidnaa” =”Betul, kami bersaksi (Engkau adalah Tuhan kami)". (Affandi, 2002). Seharusnya ketika hidup di dunia pun manusia harus “menyaksi-kan” Allah (harus ber-syahadat) dan harus selalu mengingat-ingat Allah (Qs. 7/ Al-A`raf ayat 285 dan Qs. 3/Ali Imran ayat 190-191). Tapi karena terhalang oleh nafsunya (terhalang oleh jiwa-raganya), manusia yang telah dibungkus dengan nafsu itu menjadi lupa dengan Tuhannya. Padahal manusia hidup berdunia ini agar LULUS dari ujian yang Allah berikan berupa SUSAH atau SENANG:

 

Tiap-tiap (manusia) yang berjiwa-raga (pasti) akan merasakan mati (apa matinya selamat atau sesat). Kami akan menguji kamu dengan “keburukan” dan “kebaikan” sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya). Dan hanya kepada Kami-lah kamu dikembalikan (karena itulah seharusnya kamu bisa lulus dari ujian itu). (Qs. 21/Al-Anbiya ayat 35)

 

Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar, (Qs. 2/Al-Baqarah: 155)

 

(Orang-orang yang sabar yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan, "Innaa lillaahi wa innaa ilaihi raaji`uun" (musibah ini – apa yang susah atau senang – adalah ujian dari Allah. Karena saya ingin kembali dengan selamat kepada Allah, maka saya dapat menerima musibah ini). Mereka itulah orang-orang yang mendapat keberkatan yang sempurna dan rahmat dari Tuhan mereka, dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk. (Qs. 2/Al-Baqarah: 156-157)

 

Apa saja yang disenangi oleh manusia, adalah segala hal yang disenangi oleh nafsu dan syahwat, sebagaimana firmanNya dalam Qs. 3/Ali Imran ayat 14:

 

Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga). 

 

Setelah lahir ke dunia rupanya manusia melupakan “janji”nya dengan Tuhannya, melupakan ke-“saksi”-annya” terhadap keberadaan Tuhan. Manusia malah lebih memperturutkan hawa nafsu dan syahwat. Ketika diuji dengan SUSAH, manusia malah berkeluh kesah, putus asa, dan banyak berdo`a (agar segera dihilangkan kesusahannya); tetapi ketika diuji dengan SENANG, manusia malah sombong, berpaling, dan kikir, sebagaimana firmanNya:

 

Dan apabila Kami berikan kesenangan kepada manusia niscaya berpalinglah dia: dan membelakangi dengan sikap yang sombong; dan apabila dia ditimpa kesusahan niscaya dia berputus asa. (Qs. 17/Al-Isra ayat 83).

 

Dan apabila Kami memberikan nikmat kepada manusia, ia berpaling dan menjauhkan diri; tetapi apabila ia ditimpa malapetaka maka ia banyak berdoa. (Qs. 41/Fushshilat: 51)

 

Apabila ia ditimpa kesusahan ia berkeluh kesah, dan apabila ia mendapat kebaikan ia amat kikir, (Qs. 70/Al-Ma`arij: 20-21)

 

Jihad Akbar mutlak harus dilakukan jika kita ingin kembali kepada Allah dengan selamat (mati secara khusnul khotimah). Mengapa harus dilakukan, karena hanya orang yang sudah mencapai tangga-nafsu muthmainnah yang dipanggil oleh Allah ke surga-Nya, sebagaimana firmanNya:

 

Wahai nafsu muthmainnah (jiwa yang tenang). Kembalilah kepada Tuhanmu dengan nafsu rodhiyah (hati yang puas) lagi nafsu mardhiyah (hati yang diridhoi-Nya). Maka masuklah ke dalam Jama'ah Hamba-hamba-Ku (nafsu kâmilah), dan masuklah ke dalam surga-Ku.

 

Dalam Ilmu Tasawuf, nafsu muthmainnah merupakan tangga nafsu ke-4. Al-Ghazali (1333 H) mengemukakan adanya 7-tangga nafsu untuk kembali kepada Allah, yakni: amarah, lawwamah, mulhimah, muthmainnah, rodhiyah, mardhiyah, dan pundaknya nafsu kamilah ( 



Berita Terkait

0 Komentar : Closed

Kembali