News Archive

Ikhtiar Menyempurnakan Etika Mahasiswa

Riki Ridwana,S.Pd.M.Sc

23 Sep 2019

84

A. Hubungan Logika, Etika, dan Estetika

Sebelum berikhtiar untuk menyempurnakan etika pada mahasiswa, mari sekilas kita luruskan pemahaman terkait perbedaan dan hubungan antara logika, etika, dan estetika. Ketiga hal ini penting terlebih dahulu dikaji karena ketiganya hampir tidak pernah lepas dari kehidupan sehari-hari dan satu sama lain akan saling berhubungan dalam mewujudkan tindakan, sikap, dan karakter setiap manusia.

Logika Secara etimologis, logika (mantiq) adalah istilah yang dibentuk dari kata logikos  yang berasal dari kata benda logos. Kata logos berarti sesuatu yang diutarakan, suatu pertimbangan akal (pikiran), kata, percakapan, atau ungkapan lewat bahasa. Kata logikos berarti mengenai sesuatu yang diutarakan, mengenai pertimbangan akal, mengenai kata, mengenai percakapan, atau berkenaan dengan ungkapan lewat  bahasa. Sederhananya logika berbicara pada ranah benar dan salah yang bersifat saintifik, ilmiah, dapat dibuktikan, dan diterima dengan akal sehat [1].

Etika dari segi etimologi berasal dari kata Latin ethicos yang  berarti kebiasaan. Dengan demikian menurut pengertian etika, sesuatu dikatakan baik itu apabila sesuai dengan kebiasaan masyarakat. Kemudian lambat laun pengertian ini berubah, bahwa etika adalah suatu ilmu yang mebicarakan masalah perbuatan atau tingkah laku manusia, mana yang dapat dinilai baik dan mana yang dapat dinilai buruk [1].

Estetika berasal dari kata Yunani aesthesis atau pengamatan yang berbicara tentang keindahan. Estetika merupakan ilmu membahas bagaimana keindahan bisa terbentuk, dan bagaimana supaya dapat merasakannya. Pembahasan lebih lanjut mengenai estetika adalah sebuah filosofi yang mempelajari nilai-nilai sensoris yang kadang dianggap sebagai penilaian terhadap sentimen dan rasa. Estetika merupakan cakupan yang sangat dekat dengan ranah seni karena erat kaitannya dengan indah dan jelek [1].

Jadi kesimpulannya setiap tindakan terlebih dahulu akan melalui tiga pertimbangan ini. Pertimbangan pertama tentu secara logika, apakah yang kita lakukan itu benar atau salah secara saintifik atau ilmiah. Apa yang kita lakukan secara logika belum tentu salah seluruhnya, karena ada pertimbangan kedua yaitu etika. Etika akan melihat apakah yang kita lakukan dalam suatu sistem akan memberikan dampak yang baik atau buruk terhadap lingkungan. Setiap perbuatan yang kita lakukan akan tercermin melalui suatu tampilan visual melalui pandangan estetika apakah nampak indah atau jelek. Hubungan dari ketiga pandangan ini (logika, etika, dan estetika) dalam kehidupan sehari-hari adalah sebagai dasar pemikiran dalam setiap tindakan yang akan diambil [2]. Dengan demikian apa yang menurut logika benar hendaknya diwujudkan dengan etika yang berlaku sehingga akan menimbulkan keindahan.

Prinsipnya fitrah setiap manusia memiliki kecenderungan terhadap kebenaran, kebaikan, dan keindahan. Ketika ketiganya terwujud pada diri seseorang, maka orang-orang yang ada disekitarnya akan menyenangi orang tersebut. Sehingga tindakan logis, etis, dan estetis akan mendatangkan kecintaan, kedamaian, dan kebahagiaan. Sebaliknya orang yang tidak memiliki etika tidak akan disenangi sesama, dijauhi, dan hidupnya tidak tenang.

 

B. Membangun Etika Mahasiswa

Pertanyaan yang muncul kemudian adalah bagaimana kita membangun etika yang baik? Etika dapat dipersamakan dengan akhlak, sebagai seorang muslim kita memiliki suri tauladan Rasulullah shalallahu alaihi wasalam yang dapat dicontoh akhlak mulianya. Orang mu’min meyakini bahwa akhlak merupakan buah dari iman dengan kata lain diragukan keimanan seseorang yang memiliki akhlak buruk. Maka dengan demikian barang tentu etika/akhlak ini perkara besar yang dapat berdampak pada kebahagiaan dunia dan akhirat seorang muslim. Mari kita simak berbagai dalil yang menunjukkan bahwa akhlak erat kaitannya dengan lurusnya aqidah atau keimanan [3].

“Dari Abu Hurairah r.a., Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasalam bersabda, ‘orang mukmin yang sempurna imannya ialah yang paling baik akhlaknya’”. (HR. Tirmidzi no. 1162. Dinilai shahih oleh Al-Albani dalam Ash-Shahihah no. 284.) [4].

Barang siapa yang beriman pada Allah dan hari akhir, maka berkata baik atau diam. Barang siapa yang beriman pada Allah dan hari akhir maka hendaklah dia memuliakan tamunya.” (HR. Bukhari) [3].

“Sesungguhnya aku hanyalah diutus untuk menyempurnakan akhlak yang luhur.” (HR. Ahmad no. 8952 dan Al-Bukhari dalam Adaabul Mufrad no. 273. Dinilai shahih oleh Al-Albani dalam Shahih Adaabul Mufrad.) [4].

“Sesungguhnya seorang mukmin bisa meraih derajat orang yang rajin berpuasa dan shalat dengan sebab akhlaknya yang luhur.” (HR. Ahmad no. 25013 dan Abu Dawud no. 4165. Dinilai shahih oleh Al-Albani dalam Shahih At-Targhib wa At-Tarhiib no. 2643.) [4].

“Sesungguhnya yang paling aku cintai di antara kalian dan paling dekat tempat duduknya denganku pada hari kiamat adalah mereka yang paling bagus akhlaknya di antara kalian.” (HR. Tirmidzi no. 1941. Dinilai hasan oleh Al-Albani dalam Shahih Al-Jaami’ no. 2201.) [4].

Sangat penting diperhatikan bahwa tujuan utama kita berhias dengan akhlak mulia dan menunaikan kewajiban kita terhadap sesama manusia adalah dalam rangka taat kepada Allah Ta’ala dan dalam rangka mengharap pahala dari-Nya. Bukan semata-mata keinginan untuk mendapatkan perlakuan (balasan) yang semisal dari orang lain. Allah Ta’ala berfirman,

“Sesungguhnya kami memberi makanan kepadamu hanyalah untuk mengharapkan keridhaan Allah. Kami tidak menghendaki balasan dari kamu dan tidak pula (ucapan) terima kasih.” (QS. Al-Insaan [76]: 9) [4].

Oleh karena itu, janganlah kita berhias dengan akhlak yang mulia dengan maksud untuk mengharapkan mendapatkan perlakuan yang semisal dan sebanding dari orang lain. Salah seorang sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata kepada beliau,

“Wahai Rasulullah! Sesungguhnya aku memiliki kerabat. Aku berusaha menyambung silaturahmi dengan mereka, namun mereka memutusnya. Aku berbuat baik kepada mereka, namun mereka tidak berbuat baik kepadaku. Aku bersabar dengan gangguan mereka, namun mereka menyakitiku” [4].

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab,

“Jika benar apa yang Engkau katakan, maka seakan-akan Engkau masukkan bara api ke mulut mereka. Dan pertolongan Allah akan terus-menerus bersamamu untuk mengalahkan mereka, selama Engkau bersikap seperti itu” (HR. Muslim no. 6440) [4].

Selain etika erat kaitannya dengan iman, sebagai seorang penuntut ilmu harus menyadari bahwa etika harus dikedepankan daripada menuntut ilmu itu sendiri. Seperti halnya orang-orang berilmu pada zaman keemasan islam, mereka lebih mengutamakan adab (red: etika) saat menuntut ilmu. Sampai-sampai 5000 orang murid Imam Ahmad bin Hambal rahimahhullah pada saat itu, hanya 500 orang saja yang mencatat ilmu yang disampaikan oleh beliau, sedangkan selebihnya mempelajari adab dari sang guru. Sehingga dengan demikian lahir ilmuan-ilmuan islam, yang dengan ilmunya tidak melahirkan kesombongan dan menjadikan islam meraih kejayaan [5].

 

C. Aplikasi Etika di Lingkungan Kampus

Setelah logika kita dapat menerima ilmiahnya argumentasi di atas, mari saatnya mengaplikasikan kedalam kehidupan sehari-hari di lingkungan kampus. Secara umum mahasiswa dikatakan memiliki etika baik ketika mentaati berbagai peraturan yang berlaku baik itu tertulis maupun tidak tertulis, sebaliknya mahasiswa dikatakan melakukan perbuatan yang tidak etis atau tidak baik adalah yang menyimpang dari aturan. Diantara hal-hal penting yang perlu mendapat perhatian dalam beretika di kampus adalah sebagai berikut.

  1. Etika Berbusana

Etika berbusana yang baik adalah yang menutup aurat dengan pakaian yang rapih dan bersih. Umumnya dosen sepakat pakaian mahasiswa harus berkerah dan tidak diperbolehkan memakai kaos oblong ketika kuliah. Intinya berpakaian tidak boleh berlebihan dan disesuaikan dengan kebiasaan yang berlaku di kampus [6].

  1. Etika Pergaulan

Pergaulan etis dalam hal ini sesuai dengan batasan-batasan normatif. Baik itu dengan sesama teman, kaka tingkat, maupun dengan dosen dan tenaga kependidikan. Di dalam pergaulan mengedapankan sopan, santun, saling menghormati, sikap jujur, tanggung jawab, saling menjaga nama baik, dan menjaga perkataan jangan sampai menyinggung perasaan orang yang diajak bicara. Dikatakan tidak etis apabila dalam bergaul berkata-kata kasar, mengeluarkan kata-kata kotor, mengumpat, berbohong, menggunjing, bercampur baur dengan lawan jenis, dan lain sebagainya. Hal yang paling sederhana misalnya dengan tidak bermuka masam, saling senyum dan menebarkan salam ketika bertemu, sehingga dengan demikian akan muncul rasa mencintai satu dengan yang lain [6].

  1. Etika Lingkungan

Etika terhadap lingkungan berarti komitmen untuk menjaga kelestarian dan ketertiban lingkungan. Tidak usah muluk-muluk, cukup dengan menjaga kebersihan baik itu di ruang kelas, toilet, lingkungan kampus secara umum, dan tidak membuang sampah sembarangan. Tidak merokok di kampus bagian dari etika terhadap lingkungan sehingga udara tetap bersih minimalnya tidak terkontaminasi oleh polusi asap rokok. Selain itu tidak kalah pentingnya yang perlu diingatkan adalah dengan membiasakan parkir kendaraan dengan rapih sesuai pada tempatnya dan bagi pejalan kaki membiasakan berjalan di trotoar yang telah disediakan, tidak mengambil hak bagi pengendara bermotor yang dapat membahayakan diri sendiri [6].

  1. Etika Waktu

Modal dasar yang dimiliki oleh setiap orang adalah waktu. Bagaimana dia memanfaatkan waktulah yang dapat membedakan kualitas diri seseorang. Menghormati waktu dengan disiplin terhadapnya menunjukkan orang tersebut memiliki etika yang baik. Menepati setiap janji sesuai dengan waktu yang direncanakan baik itu dalam perkuliahan, mengerjakan tugas, dan tidak menghabiskan waktu dengan sesuatu yang sia-sia termasuk etika terhadap waktu [6].

  1. Etika Interaksi dalam Perkuliahan

Wujud etika interaksi dalam perkuliahan ditunjukkan antara lain ketika mengemukakan pendapat dengan tutur kata yang santun, ilmiah, dan berpendapat jika sudah diijinkan. Diam di dalam kelas dan menyimak apa yang disampaikan oleh dosen, lebih baik daripada berceloteh yang tidak ada manfaatnya sehingga mengganggu kondusivitas perkuliahan, terlebih tidur saat perkuliahan berlangsung dan mengobrol ketika dosen menyampaikan materi [6].

  1. Etika Proses Ilmiah

Etika proses ilmiah yaitu dengan membiasakan diri berlaku jujur, tidak mencontek saat mengerjakan ujian dan tugas, melakukan sitasi sesuai kaidah ilmiah, tidak melakukan plagiarism, terbiasa melakukan paraprase dan tidak mengklaim hak kekayaan intelektual milik orang lain. Termasuk juga etika proses ilmiah yaitu menghormati setiap perbedaan pendapat dengan dilandasi argumen yang kuat [6].

  1. Etika di Media Online

Seiring kemajuan teknologi saat ini, komunikasi antara mahasiswa dengan dosen dapat dilakukan relatif sangat mudah. Saking mudahnya dapat dilakukan kapan pun dibutuhkan. Akan tetapi kemudahan tersebut mesti dibentengi dengan etika yang baik. Jangan sampai berdampak pada buruknya hubungan komunikasi diantara keduanya.  Meskipun kebutuhan bersifat penting dan mendesak baiknya mahasiswa memperhatikan waktu untuk menghubungi dosen yang bersangkutan. Jika komunikasi sulit dilakukan ada baiknya bersabar dan memaklumi bahwa tugas dosen tidak hanya mengurusi mahasiswa. Lebih dari itu dosen memiliki kesibukan penelitian dan melakukan pengabdian kepada masyarakat. Untuk membangun komunikasi yang baik berikut salah satu contoh teks memulai percakapan dari mahasiswa kepada dosen:

“Bismillah,

Perkenalkan Pak, nama saya Ardi mahasiswa Pendidikan Geografi angkatan 2019. Mohon maaf sebelumnya apakah saya bisa menemui Bapak besok? Terkait tugas yang perlu saya konsultasikan. Terima kasih Pak sebelumnya. Wasalamu’alaikum warahmatullah wabarakatuh.”

 

D. Ikhtiar Menyempurnakan Etika Mahasiswa

Akhlak/ etika seseorang dapat dirubah dan diperbaiki, meskipun sudah mendarah daging dengan seijin Allah dapat berubah menjadi lebih baik, karena itulah Rasulullah shalallahu alaihi wasalam diutus yakni untuk menyempurnakan akhlak mulia, dengan demikian mari kita untuk senantiasa memperbaiki akhlak melalui cara-cara berikut ini:

  1. Introspeksi Diri

Lebih baik kita menyadari masih memiliki akhlak buruk daripada merasa diri sudah baik, sehingga dengannya kita sadar bagian akhlak mana yang harus diperbaiki. Introspeksi diri akan lebih baik lagi dilakukan dengan meminta masukan dari orang tua, guru, dan teman dekat tentang apa saja yang kurang etis yang ada pada diri, karena yang menilai baik-buruknya kita adalah mereka yang sering berinteraksi dengan kita [3].

  1. Dilatih

Terkadang memang tidak mudah memulai kebiasaan-kebiasaan baru, namun inilah upaya untuk menjadikan kita lebih baik. Melatih diri untuk berbusana yang menutup aurat dan bersih, dalam bergaul biasakan sopan, santun, berkata yang baik, jujur, tanggungjawab, dilatih menebar salam saat bertemu dan berpisah, dan dilatih untuk menaati setiap aturan yang berlaku di lingkungan kampus [3].

  1. Dibiasakan

Etika yang baik perlu pembiasaan, sehingga dengan seringnya dilatih dan dilakukan seiring berjalannya waktu etika yang baik akan terpatri dalam diri terbentuk menjadi karakter. Kebiasaan bersikap dengan etika terpuji berdampak kepada kebahagiaan, ketentraman, dan kedamaian dalam menjalani kehidupan sehari-hari [3].

  1. Berdoa

Upaya terakhir dan yang paling utama untuk memperbaiki akhlak adalah dengan memperbanyak doa, tidak hanya sesekali namun dirutinkan dalam setiap waktu-waktu mustajab. Antara lain di setiap sujud dalam shalat, di sepertiga malam terakhir, di antara adzan dan iqomah, di saat turun hujan, di saat safar, ketika bada ashar di hari jumat, dan di kesempatan mustajab lainnya. Berdoalah dengan doa yang telah diajarkan oleh Rasulullah shalallahu alaihi wasalam, sebagai berikut [3].

“Allahumma kamaa hassanta khalqi fahassin khuluqi (Ya Allah, sebagaimana Engkau telah membaguskan tubuhku, maka baguskanlah akhlakku)” [7]

 

DAFTAR KAJIAN

[1] Academia. (Online). Pengertian Filsafat, Logika, Etika, Estetika, dan Filsafat Ilmu. www.acedemia.edu/17309908/Pengertian_Filsafat_Logika_Etika_Estetika_dan_Filsafat_Ilmu diakses pada 18 September 2019.

[2] Cecep Hilman Blog. (Online). Perbedaan dan Hubungannya Antara Logika, Etika, dan Estetika. https://cecephilmanstaisukabumi.wordpress.com/2018/12/17/perbedaan-dan-hubungannya-antara-logika-dan-estetika/amp/ diakses pada 18 September 2019.

[3] Surabaya Mengaji. (Online). Akhlakmu Bukti Akidahmu – Ustadz Dr. Syafiq Riza Basalamah, M.A. https://youtu.be/ZmDDNA0mjG4 diakses pada 18 September 2019.

[4] Muslim.or.id. (Online). Keutamaan Berhias dengan Akhlak Mulia. https://muslim.or.id/40677-keutamaan-berhias-dengan-akhlak-mulia.html diakses pada 20 September 2019 .

[5] Ustadz Abu Umar Indra Hafizhahullah. (Catatan pribadi). Kajian Ilmiah 10 amalan Pengundang Kecintaan Allah. Masjid Besar Cipaganti Bandung. Sabtu, 17 Agustus 2019.

[6] Academia. (Online). Etika Mahasiswa di Kampus.docx. www.academia.edu/35995279/ETIKA_MAHASISWA_DI_KAMPUS.docx diakses pada 18 September 2019.

[7] Wikipedia. (Online). Etika Islamhttps://id.m.wikipedia.org/Etika_Islam diakses pada 20 September 2019.


Related News You May like

PERAIHAN GELAR DOKTOR

08 Oct 2010

1

PERAIHAN GELAR DOKTOR

Read More

GALIH UNGGUL KARENA

21 Aug 2011

1

GALIH UNGGUL KARENA

Read More
`