Jl. Dr. Setiabudi No.276A, Kota Bandung 40143
UPI-FPIPS-Logo-blok
Membaca Pasang Surut Laut, Memahami Pasang Surut Diri Dalam Perjalanan Menyelesaikan Skripsi

Penulis : Letya Truli (SaIG, 2201248)

Penyunting: Felicia Syifa’ Hermanu Putri (SaIG, 2504208)

Dok. Penulis

Perjalanan skripsi sering kali diceritakan sebagai fase yang melelahkan, penuh revisi, dan menguji kesabaran. Saya baru benar-benar memahami makna dari kalimat tersebut ketika menjalaninya sendiri. Jika harus menggambarkan skripsi dalam satu kata, mungkin saya akan memilih kata “perjalanan”. Bukan sekadar perjalanan akademik untuk memperoleh gelar sarjana, tetapi juga perjalanan untuk mengenal diri sendiri, memahami arti proses, dan belajar menerima bahwa tidak semua hal akan berjalan sesuai rencana.

Perjalanan skripsi saya dimulai dari sebuah ketertarikan terhadap dinamika perairan laut. Sebagai mahasiswa Sains Informasi Geografi, saya selalu penasaran bagaimana teknologi spasial dapat membantu memahami fenomena alam, terutama di wilayah perairan yang memiliki peran strategis seperti Selat Lombok. Selat ini merupakan salah satu Alur Laut Kepulauan Indonesia (ALKI) II yang menjadi jalur pelayaran internasional, namun ketersediaan data pasang surut di wilayah ini masih terbatas. Dari sinilah saya mulai bertanya-tanya: bagaimana cara memetakan sebaran amplitudo pasang surut di perairan yang luas ketika stasiun pengamatan hanya tersedia di titik-titik tertentu di pesisir? Pertanyaan sederhana tersebut kemudian berkembang menjadi topik penelitian yang menemani saya selama berbulan-bulan.

Namun, topik yang akhirnya saya kerjakan bukanlah topik pertama yang saya pilih. Sebelum sampai pada penelitian mengenai pemodelan pasang surut, saya sempat melalui beberapa perubahan arah. Ada ide yang akhirnya tidak dapat dilanjutkan karena telah lebih dahulu diteliti, ada pula konsep yang setelah didiskusikan ternyata kurang sesuai untuk dikembangkan lebih lanjut. Pada saat itu saya sempat merasa harus memulai kembali dari awal. Meski demikian, saya belajar bahwa mengganti arah bukan berarti gagal. Justru melalui proses tersebut saya semakin memahami apa yang ingin saya teliti dan mengapa penelitian tersebut penting untuk dilakukan.

Setelah topik penelitian ditetapkan, saya mulai menyusun proposal dan mempelajari berbagai konsep yang sebelumnya terasa sulit. Saya harus memahami karakteristik pasang surut, analisis harmonik, pemodelan co-tidal, metode interpolasi spasial, hingga pemanfaatan data altimetri satelit Sentinel-6A. Banyak istilah yang pada awalnya hanya saya pahami secara teoritis, kemudian perlahan menjadi sesuatu yang akrab karena harus digunakan setiap hari. Saya menyadari bahwa penelitian bukan sekadar mengumpulkan data dan menghasilkan peta, melainkan proses memahami suatu fenomena secara mendalam melalui berbagai pendekatan ilmiah.

Salah satu tantangan terbesar dalam penelitian ini adalah penggunaan data altimetri Sentinel-6A yang diolah menggunakan Python. Sebagai seseorang yang tidak memiliki latar belakang pemrograman yang kuat, saya harus memulai hampir dari nol. Data altimetri yang saya unduh hadir dalam format dan struktur yang terasa sangat asing. Variabel-variabel ilmiah, proses koreksi, hingga perhitungan Sea Surface Height menjadi istilah baru yang harus saya pelajari satu per satu. Pada awalnya, sekadar memahami struktur data dan alur pengolahan saja sudah membutuhkan waktu yang tidak sedikit. Banyak baris kode yang saya salin, pelajari, ubah, lalu gagal dijalankan. Tidak jarang saya menghabiskan waktu berjam-jam hanya untuk mencari penyebab satu kesalahan sederhana. Namun, dari situlah saya belajar bahwa kemampuan teknis tidak selalu harus dimulai dari keahlian yang sempurna. Terkadang yang dibutuhkan hanyalah kemauan untuk terus mencoba hingga akhirnya memahami sedikit demi sedikit.

Seiring berjalannya waktu, tantangan penelitian mulai bergeser dari memahami teori menjadi menghadapi realitas pengolahan data. Ada hari-hari ketika seluruh proses berjalan lancar dan menghasilkan output sesuai harapan. Namun, ada juga hari ketika perangkat lunak berhenti bekerja tanpa alasan yang jelas, proses pengolahan harus diulang, atau hasil yang diperoleh ternyata tidak sesuai dengan ekspektasi awal. Saya mulai memahami bahwa penelitian bukanlah proses linear yang selalu bergerak maju. Ada saatnya harus mundur beberapa langkah untuk memperbaiki sesuatu yang terlewat, mengulang analisis yang kurang tepat, atau bahkan menyusun ulang cara berpikir yang telah dibangun sebelumnya. Proses itu mungkin memakan waktu berbulan-bulan, tetapi menjadi salah satu kemampuan paling berharga yang saya peroleh selama menyelesaikan skripsi.

Di tengah proses tersebut, saya juga belajar menerima bahwa hasil penelitian tidak selalu harus membuktikan apa yang kita harapkan sejak awal. Ketika mulai melakukan validasi dan membandingkan metode yang digunakan, saya menemukan berbagai hasil yang memerlukan interpretasi lebih mendalam. Ada temuan yang sesuai dengan dugaan awal, ada pula yang justru menunjukkan hal berbeda. Dari pengalaman ini saya memahami bahwa tugas seorang peneliti bukanlah memaksakan hasil agar sesuai harapan, melainkan menjelaskan apa yang benar-benar ditemukan berdasarkan data yang tersedia.

Selain aspek akademik, skripsi juga mengajarkan banyak hal yang tidak pernah tertulis dalam buku metodologi penelitian. Saya belajar mengatur waktu di tengah berbagai aktivitas lain, belajar membangun disiplin ketika motivasi sedang tidak berada pada titik terbaik, dan belajar untuk tetap melanjutkan pekerjaan meskipun progres yang diperoleh pada hari itu terasa kecil. Saya mulai menyadari bahwa menyelesaikan skripsi bukan tentang seberapa cepat seseorang bergerak, melainkan tentang kemampuan untuk tetap berjalan meskipun langkahnya perlahan.

Perjalanan ini juga dipenuhi oleh berbagai diskusi yang sangat berharga. Banyak ide penelitian yang lahir dari percakapan sederhana bersama dosen maupun teman-teman seperjuangan. Terkadang solusi dari sebuah masalah tidak muncul ketika sedang duduk di depan laptop, melainkan ketika berbicara dengan orang lain yang memberikan sudut pandang berbeda. Dari situ saya memahami bahwa penelitian tidak pernah benar-benar dilakukan sendirian. Di balik setiap skripsi yang selesai, selalu ada banyak orang yang turut memberikan dukungan, masukan, dan semangat.

Ketika akhirnya seluruh pengolahan data, analisis, penulisan, dan revisi mulai mendekati akhir, saya menyadari bahwa skripsi telah mengubah cara saya memandang proses belajar. Dahulu saya mengira keberhasilan ditentukan oleh hasil akhir. Namun sekarang saya memahami bahwa nilai terbesar justru terletak pada perjalanan yang dilalui. Skripsi mengajarkan saya untuk lebih sabar ketika menghadapi ketidakpastian, lebih teliti dalam mengambil keputusan, dan lebih percaya diri terhadap kemampuan diri sendiri.

Dok. Penulis

Saya juga ingin menyampaikan rasa terima kasih yang sebesar-besarnya kepada Bapak Dr. Lili Somantri, S.Pd., M.Si., selaku Ketua Program Studi Sains Informasi Geografi. Selama saya menjadi mahasiswa SaIG, beliau tidak hanya menjalankan peran sebagai pimpinan program studi, tetapi juga menjadi salah satu sosok yang senantiasa mengingatkan mahasiswa untuk terus berkembang dan menyelesaikan apa yang telah dimulai. Berbagai arahan dan motivasi yang beliau sampaikan, khususnya kepada mahasiswa yang sedang berada dalam proses penyelesaian skripsi, menjadi pengingat bagi saya bahwa perjalanan menuju kelulusan memang membutuhkan ketekunan dan konsistensi. 

Saya masih mengingat bagaimana beliau mendorong kami untuk terus memantau progres, menetapkan target, dan tidak membiarkan pekerjaan skripsi berhenti terlalu lama hanya karena menemukan kesulitan dalam prosesnya. Bagi saya, dorongan tersebut bukan sekadar tuntutan untuk segera menyelesaikan skripsi, tetapi juga menjadi pengingat bahwa setiap langkah kecil tetap memiliki arti selama kita terus bergerak menuju tujuan. Pertemuan dan arahan yang beliau berikan juga membuat saya kembali melihat skripsi sebagai sebuah proses yang harus dijalani secara bertahap, bukan sesuatu yang harus diselesaikan sekaligus. 

Di saat perjalanan mulai terasa panjang dan arah pengerjaan terkadang tidak lagi terlihat jelas, perhatian serta dorongan beliau menjadi salah satu hal yang membantu saya kembali menata langkah dan melanjutkan apa yang telah saya mulai. Saya sangat bersyukur dapat berkembang dalam lingkungan akademik SaIG yang tidak hanya memberikan ruang untuk belajar secara keilmuan, tetapi juga mendorong mahasiswanya untuk memiliki ketekunan, tanggung jawab, dan keberanian dalam menyelesaikan setiap proses yang telah dipilih.

Dok. Penulis

Ucapan terima kasih yang sangat mendalam juga saya sampaikan kepada Bapak Dr. Ir. Muhammad Ihsan, S.T., M.T. selaku dosen pembimbing. Beliau selalu memberikan arahan yang jelas dan membantu saya melihat penelitian secara lebih sistematis. Di berbagai fase penelitian, ketika saya merasa terlalu fokus pada detail-detail teknis dan kehilangan gambaran besarnya, beliau membantu saya kembali memahami tujuan utama penelitian yang sedang saya kerjakan. Diskusi bersama beliau tidak hanya membantu penyelesaian skripsi, tetapi juga memperkaya cara saya berpikir sebagai seorang calon sarjana yang dituntut untuk mampu melihat suatu persoalan secara ilmiah dan terstruktur.

Dok. Penulis

Terima kasih yang sama besarnya saya sampaikan kepada Bapak Dr. Andika Permadi Putra, S.T., M.T. selaku dosen pembimbing kedua yang memiliki peran sangat besar dalam perjalanan penelitian ini, terutama pada aspek pengolahan data altimetri dan pemrograman. Saya masih mengingat bagaimana pada awal penelitian saya hampir tidak memiliki dasar pemrograman yang memadai untuk menyusun alur pengolahan data Sentinel-6A menggunakan Python. Ketika saya kebingungan menentukan langkah, menghadapi error yang tidak saya pahami, atau merasa kehilangan arah dalam menyusun script dari awal, beliau selalu meluangkan waktu untuk membimbing dengan sabar. Beliau tidak hanya membantu menyelesaikan masalah teknis, tetapi juga mengajarkan cara berpikir logis dalam membangun sebuah alur pengolahan data. Berkat bimbingan beliau, saya mampu melewati salah satu bagian penelitian yang pada awalnya terasa paling menakutkan bagi saya.

Saya juga berterima kasih kepada seluruh dosen SaIG yang telah memberikan ilmu selama perkuliahan. Banyak mata kuliah yang pada awalnya terasa berdiri sendiri ternyata saling terhubung ketika diterapkan dalam penelitian. Mulai dari dasar-dasar kartografi, sistem informasi geografis, penginderaan jauh, pemodelan spasial, hingga survei hidrografi, semuanya menjadi bekal yang sangat berharga dalam menyelesaikan penelitian ini.

Tidak lupa saya mengucapkan terima kasih kepada teman-teman seperjuangan yang sama-sama sedang menempuh perjalanan menuju garis akhir. Kehadiran mereka menjadi pengingat bahwa setiap mahasiswa memiliki tantangannya masing-masing. Berbagi cerita, berdiskusi mengenai penelitian, saling mengingatkan tenggat waktu, hingga sekedar bertanya "sudah sampai mana?" sering kali menjadi penyemangat sederhana yang sangat berarti. Saya belajar bahwa dukungan tidak selalu harus hadir dalam bentuk solusi besar, terkadang kehadiran orang-orang yang memahami situasi kita sudah lebih dari cukup.

Ketika akhirnya sidang skripsi selesai dan revisi mulai diselesaikan satu per satu, perasaan yang muncul bukan hanya lega, tetapi juga reflektif. Saya teringat pada berbagai momen yang pernah saya anggap sebagai hambatan besar, namun ternyata mampu saya lewati. Saya teringat pada halaman-halaman yang ditulis dan dihapus berkali-kali, peta yang direvisi, script yang diperbaiki, serta berbagai diskusi yang membantu penelitian ini berkembang. Semua itu menjadi bagian dari cerita yang tidak akan terlihat pada halaman judul skripsi, tetapi justru menjadi bagian yang paling berharga dari perjalanan ini.

Untuk adik-adik tingkat yang suatu saat akan memasuki fase skripsi, saya ingin menyampaikan satu hal: jangan menunggu merasa siap untuk memulai. Sebagian besar dari kita tidak pernah benar-benar siap ketika pertama kali menjalani penelitian. Kita belajar sambil berjalan, memahami sambil mencoba, dan berkembang melalui berbagai kesalahan yang dilakukan sepanjang proses. Jangan takut jika topik penelitian terasa sulit, jangan minder jika kemampuan yang dibutuhkan belum sepenuhnya dikuasai, dan jangan membandingkan perjalananmu dengan orang lain. Fokuslah pada langkah yang bisa dilakukan hari ini. Satu halaman yang selesai ditulis, satu revisi yang berhasil diperbaiki, atau satu konsep yang akhirnya dipahami adalah kemajuan yang layak diapresiasi. Percayalah, jika kamu terus bergerak maju meskipun perlahan, suatu hari kamu akan menoleh ke belakang dan menyadari bahwa perjalanan yang panjang itu telah berhasil kamu lewati.

Pada akhirnya, skripsi bukan hanya tentang memperoleh gelar sarjana. Skripsi adalah proses yang mengajarkan saya tentang ketekunan, kesabaran, kerendahan hati untuk terus belajar, dan keberanian untuk menghadapi hal-hal yang sebelumnya terasa mustahil. Dan ketika saya sampai di titik ini, saya menyadari bahwa pencapaian terbesar bukanlah saat skripsi dinyatakan selesai, melainkan ketika saya berhasil menjadi pribadi yang lebih kuat dibandingkan saat pertama kali memulainya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *