Jl. Dr. Setiabudi No.276A, Kota Bandung 40143
UPI-FPIPS-Logo-blok
Gempa Bumi Sesar Naik Busur Belakang Flores: Tinjauan Deformasi InSAR dan Upaya Mitigasi

Penulis: Giyas Akhmad Fauzy (25

Editor: Nendeh Rizka Nurfadilah (2508823)

 

Abstrak

Pulau Flores dan perairan di sekitarnya, Nusa Tenggara Timur (NTT), merupakan salah satu wilayah paling aktif secara kegempaan di Indonesia. Aktivitas ini banyak dikendalikan oleh Flores Back Arc Thrust (FBT) atau Sesar Naik Busur Belakang Flores, sebuah sistem sesar naik sepanjang lebih dari 800 km yang membentang dari utara Bali hingga Laut Banda bagian barat. Artikel ini membahas karakteristik tektonik FBT, rekam jejak gempa besar yang dikaitkan dengannya sejak 1978 hingga gempa magnitudo 7,7 di Nagekeo pada 15 Agustus 2026, bukti deformasi permukaan hasil analisis Interferometric Synthetic Aperture Radar (InSAR) menggunakan citra Sentinel-1 dan data GNSS pascagempa, dampak yang ditimbulkan terhadap masyarakat dan infrastruktur, serta upaya mitigasi dan kesiapsiagaan yang telah dan perlu dilakukan. Ulasan disusun dari data BMKG, kajian ilmiah kegempaan regional, laporan awal analisis InSAR BMKG, serta pemberitaan resmi pascabencana. Hasil kajian menunjukkan bahwa FBT memiliki potensi magnitudo maksimum hingga sekitar 7,8–7,9 dan berpotensi menghasilkan gempa dangkal yang memicu tsunami, sementara analisis InSAR awal mengonfirmasi adanya pola deformasi permukaan yang secara spasial berkaitan dengan episenter dan sistem sesar naik yang dipetakan, meskipun masih bersifat preliminary. Penguatan sistem peringatan dini, edukasi masyarakat pesisir, standar bangunan tahan gempa, serta metode mitigasi struktural dan non-struktural yang terintegrasi menjadi kunci pengurangan risiko di masa depan.

Kata kunci: deformasi InSAR, Flores Back Arc Thrust, gempa bumi, mitigasi bencana, tsunami

Abstract

Flores Island and its surrounding waters in East Nusa Tenggara (NTT) form one of the most seismically active regions in Indonesia. Much of this activity is controlled by the Flores Back Arc Thrust (FBT), an active thrust-fault system extending more than 800 km from north of Bali to the western Banda Sea. This article reviews the tectonic characteristics of the FBT, its record of major associated earthquakes from 1978 to the magnitude 7.7 Nagekeo earthquake of 15 August 2026, surface deformation evidence derived from Interferometric Synthetic Aperture Radar (InSAR) analysis using Sentinel-1 imagery and post-earthquake GNSS data, the resulting impacts on communities and infrastructure, and the mitigation and preparedness efforts undertaken and still required. The review draws on data from Indonesia's Meteorology, Climatology, and Geophysics Agency (BMKG), regional seismological research, BMKG's preliminary InSAR analysis report, and official post-disaster reporting. Findings indicate that the FBT has a maximum potential magnitude of approximately 7.8–7.9 and is capable of generating shallow, tsunami-triggering earthquakes, while preliminary InSAR analysis confirms a surface deformation pattern spatially associated with the mapped epicenter and thrust-fault system, although results remain

preliminary. Strengthening early-warning systems, coastal community education, earthquake-resistant building standards, and integrated structural and non-structural mitigation methods are essential for future risk reduction.

Keywords: disaster mitigation, earthquake, Flores Back Arc Thrust, InSAR deformation, tsunami

 

1.  PENDAHULUAN

Indonesia terletak pada pertemuan tiga lempeng tektonik utama Lempeng Indo-Australia, Lempeng Eurasia, dan Lempeng Pasifik yang menjadikan wilayahnya salah satu kawasan paling rawan gempa bumi di dunia. Di antara berbagai zona sumber gempa yang ada, kawasan Flores dan Nusa Tenggara menempati posisi yang khas karena diapit oleh dua sistem sumber gempa sekaligus: zona subduksi di selatan dan sistem sesar naik busur belakang di utara (CNBC Indonesia, 2026). Kondisi tektonik yang kompleks ini menjadikan Flores sebagai salah satu laboratorium alam penting untuk mempelajari interaksi antara subduksi lempeng dan sesar naik busur belakang di Indonesia bagian timur.

Sistem sesar naik busur belakang tersebut dikenal sebagai Flores Back Arc Thrust (FBT), yang belakangan kembali menjadi sorotan publik setelah memicu gempa bumi bermagnitudo 7,7 di perairan utara Nagekeo, NTT, pada 15 Agustus 2026 (CNBC Indonesia, 2026; Setiawan dkk., 2026). Peristiwa ini mengingatkan kembali pada tragedi gempa dan tsunami Flores 1992 yang menewaskan ribuan jiwa, sekaligus menegaskan bahwa ancaman dari struktur sesar ini masih sangat nyata hingga kini.

Perhatian ilmiah terhadap FBT sebenarnya telah berlangsung cukup lama. Bukti seismologis pertama mengenai aktifnya struktur sesar naik busur belakang di kawasan ini tercatat sejak gempa Flores 1978 (Silver et al., 1986), yang kemudian memicu berbagai kajian lanjutan mengenai geometri dan mekanisme sesar tersebut. Minat penelitian terhadap FBT meningkat tajam setelah rangkaian gempa Lombok 2018, yang mendorong sejumlah kajian relokasi hiposenter dan tomografi seismik untuk memastikan apakah sesar naik busur belakang tersebut benar-benar tersingkap hingga ke dasar laut (Yang et al., 2020; Supendi et al., 2020; Afif et al., 2021).

Dalam kurun sepuluh tahun terakhir, penelitian mengenai FBT dan struktur sesar terkait di sekitarnya berkembang dari berbagai sudut pandang. Pranantyo dan Cummins (2019) melakukan inversi multi-data terhadap gempa dan tsunami Flores 1992 untuk mengonfirmasi segmentasi sumber gempa; Felix dkk. (2022) mengkaji bahaya tsunami di Lombok dan Bali akibat aktivitas FBT yang selama ini kurang mendapat perhatian dibandingkan zona megathrust Sunda; sementara Supendi dkk. (2022) menemukan dan menamai struktur sesar baru, yaitu Sesar Kalaotoa, sebagai sumber gempa Laut Flores M7,3 tahun 2021 sebuah temuan penting yang menunjukkan bahwa peristiwa tersebut ternyata bersumber dari sesar mendatar (strike-slip) yang berbeda dari FBT, meskipun berada dalam satu sistem tektonik regional yang sama. Kajian lanjutan oleh Khusnani dkk. (2022) dan Jufriansah dkk. (2023) turut memanfaatkan data seismik untuk menilai kerentanan tsunami dan membandingkan pola gempa susulan antara peristiwa 1992 dan 2021.

Meskipun literatur seismologi, geodesi GPS, dan paleoseismologi mengenai FBT terus berkembang, sebagian besar kajian tersebut masih mengandalkan inversi bentuk gelombang seismik, relokasi hiposenter, atau medan kecepatan GPS jangka panjang. Kajian yang secara khusus memadukan pemetaan deformasi permukaan berbasis citra radar satelit (InSAR) dengan validasi data GNSS kontinu untuk peristiwa gempa yang secara eksplisit dikaitkan dengan segmentasi FBT masih sangat terbatas, terutama untuk segmen Flores dibandingkan segmen Lombok yang telah lebih banyak diteliti (Yang et al., 2020; Felix et al., 2022). Kesenjangan penelitian (research gap) inilah yang berupaya diisi oleh laporan awal analisis InSAR pascagempa Nagekeo M7,7 2026 yang disusun oleh Tim Kerja Geofisika Potensial BMKG (Setiawan dkk., 2026), sekaligus menjadi kebaruan (novelty) utama yang disintesis dalam artikel ini: mengombinasikan bukti deformasi permukaan berbasis InSAR-GNSS terkini dengan rekam jejak sejarah kegempaan dan kajian struktur FBT selama hampir lima dekade terakhir ke dalam satu narasi risiko dan mitigasi yang utuh.

Tidak lama setelah gempa Nagekeo 2026 terjadi, Tim Kerja Geofisika Potensial BMKG melakukan analisis deformasi permukaan menggunakan metode Interferometric Synthetic Aperture Radar (InSAR) berbasis citra satelit Sentinel-1, yang dikombinasikan dengan data Global Navigation Satellite System (GNSS) untuk memperoleh gambaran awal mengenai pola pergeseran kerak bumi akibat gempa tersebut (Setiawan dkk., 2026). Hasil analisis ini menjadi salah satu data utama yang diulas dalam artikel ini sebagai bukti kuantitatif atas aktivitas FBT pada peristiwa 2026.

Berdasarkan uraian di atas, artikel ini bertujuan untuk mengulas karakteristik tektonik FBT secara lebih mendalam, menelusuri sejarah gempa besar yang berkaitan dengannya, menyajikan hasil analisis deformasi permukaan berbasis InSAR pascagempa Nagekeo 2026 sebagai bukti kuantitatif tambahan atas aktivitas sesar tersebut, mengidentifikasi dampak yang ditimbulkan terhadap masyarakat dan infrastruktur, serta merangkum metode dan upaya mitigasi maupun tantangan kesiapsiagaan bencana di wilayah Flores dan sekitarnya. Dengan memadukan data historis kegempaan, kajian tektonik regional, serta bukti geodetik terkini, artikel ini diharapkan dapat memberikan gambaran yang lebih utuh mengenai ancaman gempa di Flores sekaligus mendukung perumusan langkah mitigasi yang lebih terarah.

 

2.  METODE PENELITIAN

Artikel ini disusun menggunakan pendekatan kajian pustaka (studi literatur) yang dipadukan dengan analisis sekunder terhadap citra penginderaan jauh, untuk mengkaji karakteristik tektonik dan deformasi permukaan akibat aktivitas Flores Back Arc Thrust (FBT). Objek kajian adalah sistem sesar FBT beserta rekam jejak kegempaannya, dengan gempa Nagekeo M7,7 15 Agustus 2026 sebagai studi kasus utama untuk menyajikan bukti deformasi permukaan terkini.

Teknik pengumpulan data dilakukan melalui dua jalur yang saling melengkapi. Pertama, studi literatur atas jurnal ilmiah terindeks mengenai tektonik dan seismotektonik kawasan Flores dan Laut Banda dalam rentang waktu sejak 1986 hingga 2026 (Silver et al., 1986; Pranantyo & Cummins, 2019; Yang et al., 2020; Supendi et al., 2020, 2022; Afif et al., 2021; Felix et al., 2022; Khusnani et al., 2022; Jufriansah et al., 2023), dilengkapi laporan resmi instansi pemerintah dan pemberitaan media massa nasional yang memuat keterangan resmi BMKG pascagempa. Kedua, data sekunder berupa produk InSAR yang diolah oleh Tim Kerja Geofisika Potensial BMKG dari pasangan citra Sentinel-1 mode Interferometric Wide Swath berpolarisasi VV (dua orbit ascending dan satu orbit descending, dengan citra pre-event 6 dan 9 Agustus serta post-event 18 dan 21 Agustus 2026), yang diproses melalui platform ASF DAAC HyP3 (coregistration, pembentukan interferogram, estimasi coherence, phase unwrapping, dan geocoding) serta dikoreksi menggunakan data GNSS dari stasiun CORS BIG di CFLT, Wulanggitang, Flores Timur, yang diolah dengan layanan Precise Point Positioning CSRS-PPP (Setiawan dkk., 2026).

Tahapan analisis data dilakukan secara deskriptif-interpretatif dengan menelaah secara kritis dan membandingkan temuan antar-sumber literatur, kemudian mentriangulasikannya dengan pola deformasi yang tergambar pada produk InSAR meliputi peta coherence, wrapped phase, unwrapped phase, serta mosaik LOS displacement pada geometri ascending dan descending untuk mengidentifikasi lokasi, luasan, dan pola umum deformasi permukaan yang berasosiasi dengan gempa Nagekeo 2026. Hasil triangulasi tersebut selanjutnya disintesis bersama data historis kegempaan dan kajian struktur FBT untuk menyusun narasi risiko serta merumuskan metode dan rekomendasi mitigasi bencana yang disajikan pada bagian selanjutnya.

 

3.  LATAR BELAKANG GEOLOGI FLORES

Secara tektonik, wilayah Flores berada pada busur Sunda-Banda bagian timur, tempat Lempeng Indo-Australia menunjam ke bawah Lempeng Eurasia melalui zona subduksi di selatan Pulau Flores. Selain zona subduksi tersebut, NTT juga memiliki sumber gempa dari sesar-sesar aktif di daratan serta zona outer-rise di selatan (CNBC Indonesia, 2026). Kombinasi berbagai sumber gempa inilah yang membuat NTT, termasuk Flores, tergolong salah satu wilayah paling rawan gempa besar di Indonesia, dengan potensi kejadian gempa dangkal maupun dalam yang dapat terjadi hampir di seluruh sisi pulau.

Di bagian utara Flores, terdapat satu struktur tektonik yang secara khusus berperan besar dalam menghasilkan gempa dangkal dan merusak, yaitu sistem sesar naik busur belakang (back-arc thrust). Berbeda dari kebanyakan sesar naik busur belakang di dunia yang umumnya berkembang di zona forearc, sesar naik di Flores justru berkembang di zona backarc sebuah fenomena yang hingga kini masih menjadi bahan diskusi ilmiah (Silver et al., 1986). Posisi FBT yang relatif dekat dengan garis pantai utara Flores membuat episentrum gempa yang dihasilkannya cenderung berada tidak jauh dari permukiman pesisir, sehingga tingkat kerentanan masyarakat terhadap guncangan maupun potensi tsunami menjadi lebih tinggi dibandingkan apabila sumber gempa berada jauh di lepas pantai.

 

4.  MENGENAL FLORES BACK ARC THRUST (FBT)

3.1  Definisi dan Sebaran

Flores Back Arc Thrust adalah sistem sesar naik berarah barat menuju timur yang membentang sedikitnya 800 km, mulai dari sebelah barat Lombok, melintasi Sumbawa, Flores, hingga Alor, kemudian menerus ke Cekungan Weber dan Aru di tepi Paparan Sahul milik Lempeng Australia (Yang et al., 2020). Secara garis besar, sistem ini terbagi menjadi dua segmen utama: segmen Flores Thrust sepanjang sekitar 450 km di sebelah barat, dan segmen Wetar Thrust sepanjang sekitar 350 km di sebelah timur, yang membentang dari utara Pulau Alor hingga Pulau Romang (Yang et al., 2020).

Struktur ini terletak di dasar Laut Flores, di sebelah utara Pulau Flores, dan memanjang sejajar dengan gugusan kepulauan Bali–Nusa Tenggara. Aktivitasnya menjadi salah satu sumber utama gempa yang dirasakan hingga wilayah Bali, Nusa Tenggara Barat (NTB), dan NTT (Yang et al., 2020). Karena membentang di sepanjang perairan yang cukup dangkal di beberapa segmen, pergerakan sesar ini juga berpotensi mengubah morfologi dasar laut secara lokal, sebuah aspek yang relevan untuk kajian potensi tsunami di wilayah pesisir utara Flores.

3.2  Mekanisme dan Karakteristik Seismotektonik

FBT terbentuk melalui proses tektonik kompleks akibat interaksi lempeng di kawasan Sunda–Banda, yang salah satu teorinya menyebutkan keterkaitan dengan transfer tegangan lewat blok busur yang relatif kaku akibat perubahan sudut penunjaman (Silver et al., 1986). Bukti seismologis pertama mengenai aktifnya sesar naik busur belakang ini tercatat pada gempa Flores 23 Desember 1978 (Silver et al., 1986), yang menjadi titik awal perhatian komunitas ilmiah terhadap keberadaan struktur sesar naik di zona backarc timur Sunda Arc.

Kajian deformasi terkini berbasis data GPS periode 2019–2023 di sepanjang Flores Back-Arc menunjukkan pergeseran horizontal dominan ke arah timur laut sebesar 20–57 mm per tahun, disertai penurunan (subsidence) vertikal hingga -62 mm per tahun. Pola regangan pada kajian tersebut memperlihatkan kompresi yang dominan, dengan akumulasi energi tinggi di wilayah tenggara dan barat laut zona kajian termasuk pengaruh dominan aktivitas sesar naik busur belakang Flores di sisi utara (Institut Teknologi Sepuluh Nopember, 2025). Data ini menegaskan bahwa FBT merupakan struktur yang terus aktif mengakumulasi energi tektonik dari tahun ke tahun, bukan sekadar fitur geologi purba yang telah tidak aktif.

Pada peristiwa gempa M7,7 Nagekeo 2026, BMKG mengidentifikasi mekanisme sesar naik dominan dengan orientasi timur laut–barat daya dan sudut kemiringan (dip) landai sekitar 22 derajat, pada kedalaman dangkal sekitar 15 km (Setiawan dkk., 2026; Tirto.id, 2026). Karakteristik gempa dangkal dengan sesar naik landai semacam ini menjadikan FBT berpotensi besar memicu tsunami, karena mekanisme sesar naik cenderung mengangkat dasar laut secara vertikal dalam waktu yang sangat singkat, sehingga volume air laut di atasnya turut terdorong dan berpotensi membentuk gelombang tsunami.

3.3  Potensi Magnitudo Maksimum

Menurut Direktur Gempa Bumi dan Tsunami BMKG, zona FBT memiliki potensi magnitudo maksimum hingga sekitar 7,8, sementara sumber lain menyebut kisaran 7,8–7,9 (CNBC Indonesia, 2026; Felix et al., 2022).

Gambar 1: Peta Sebaran Gempa NTT

Perlu digarisbawahi bahwa aktivitas sesar ini tidak terpusat pada satu titik saja, melainkan tersebar pada berbagai segmen yang dapat aktif secara bergantian pada waktu berbeda, sehingga gempa susulan dapat berlangsung berulang kali dalam rentang waktu yang cukup panjang (Supendi et al., 2022). Karakteristik tersegmentasi inilah yang menjadikan penilaian potensi gempa di kawasan FBT perlu dilakukan per segmen, bukan sebagai satu kesatuan sumber gempa tunggal, agar estimasi bahaya kegempaan menjadi lebih akurat.

4.4 Bukti Deformasi Permukaan Berbasis Analisis InSAR

Untuk memperkuat pemahaman mengenai deformasi permukaan yang menyertai gempa Nagekeo 2026, Tim Kerja Geofisika Potensial Deputi Bidang Geofisika BMKG melakukan analisis awal menggunakan metode Interferometric Synthetic Aperture Radar (InSAR). InSAR merupakan teknik penginderaan jauh berbasis radar yang memanfaatkan perbedaan fase antara dua citra Synthetic Aperture Radar (SAR) yang direkam pada waktu berbeda untuk mendeteksi perubahan jarak antara permukaan bumi dan sensor satelit, dengan ketelitian yang dapat mencapai skala sentimeter hingga milimeter tergantung kualitas data dan kondisi permukaan (Setiawan dkk., 2026). Metode ini banyak digunakan untuk memantau deformasi akibat gempa bumi, aktivitas vulkanik, subsidensi, maupun pergerakan tanah, karena mampu memberikan cakupan spasial yang luas tanpa memerlukan pengukuran langsung di lapangan.

Data utama yang digunakan dalam analisis tersebut adalah citra satelit Sentinel-1 milik European Space Agency (ESA) mode Interferometric Wide Swath (IW) berpolarisasi VV, yang diakses melalui Alaska Satellite Facility. BMKG menggunakan tiga pasang citra, terdiri dari dua pasang orbit ascending dan satu pasang orbit descending, dengan citra pre-event direkam pada 6 dan 9 Agustus 2026 serta citra post-event pada 18 dan 21 Agustus 2026, sehingga jendela pengamatan mencakup periode sebelum dan sesudah gempa utama pada 14–15 Agustus 2026 (Setiawan dkk., 2026). Sebagai referensi awal Line-of-Sight (LOS), digunakan pula data GNSS dari stasiun Continuously Operating Reference Station (CORS) milik Badan Informasi Geospasial (BIG) di stasiun CFLT, Wulanggitang, Flores Timur, yang diproses menggunakan layanan Precise Point Positioning CSRS-PPP dari Natural Resources Canada. Pengolahan InSAR dilakukan melalui platform ASF DAAC HyP3 dengan tahapan coregistration, pembentukan interferogram, estimasi coherence, phase unwrapping, dan geocoding hingga menghasilkan produk displacement pada arah line-of-sight.

Secara spasial, nilai coherence yang lebih baik ditemukan pada permukaan yang relatif stabil dan kawasan urban, sementara nilai coherence rendah dominan dijumpai pada area bervegetasi lebat, wilayah dengan relief kompleks, tepi cakupan citra, dan sejumlah zona pesisir. Pola wrapped phase memperlihatkan perubahan fase yang bersifat siklik (cyclic), sedangkan unwrapped phase menghasilkan bidang fase yang lebih kontinu, meski hanya pada piksel yang lolos proses masking dengan ambang coherence minimal 0,4 (Setiawan dkk., 2026). Karakteristik ini menunjukkan bahwa kualitas hasil InSAR sangat dipengaruhi oleh tutupan lahan dan topografi setempat, sehingga interpretasi deformasi perlu dilakukan secara hati-hati, terutama pada wilayah bervegetasi lebat di pedalaman Flores.

Pada mosaik dua frame ascending yang mencakup periode 6–18 Agustus 2026, terdeteksi pola perubahan LOS yang meliputi bagian tengah hingga timur Flores, berdekatan secara regional dengan lokasi episenter dan sistem sesar naik yang telah dipetakan. Lobe negatif yang menunjukkan pergerakan menjauhi sensor tampak menonjol di sekitar wilayah Mbay, sementara nilai positif atau pergerakan menuju sensor muncul secara lokal di bagian timur dan sebagian pesisir utara Flores bagian barat, dengan nilai LOS displacement terbesar dijumpai di pesisir utara dekat Reok dan nilai paling negatif di sekitar Mbay, pada rentang keseluruhan sekitar -15 hingga lebih dari +31 cm (Setiawan dkk., 2026). Pada frame descending yang mencakup periode 9–21 Agustus 2026, pola yang terekam justru didominasi oleh nilai negatif di bagian tengah Flores, yang berarti pergerakan menjauhi sensor dalam geometri descending, dengan rentang nilai dari sekitar -26 cm hingga mendekati +4 cm.

Sebagai pembanding dan koreksi referensi, data GNSS dari stasiun CFLT turut diolah untuk memperoleh nilai displacement pada komponen East-North-Up (ENU), yang kemudian diproyeksikan ke arah LOS untuk masing-masing geometri satelit. Hasil proyeksi menunjukkan nilai LOS GNSS yang negatif pada kedua geometri, dengan ketidakpastian sekitar 1 cm pada tingkat kepercayaan 95 persen; karena ketidakpastian tersebut masih relatif besar, nilai GNSS ini diperlakukan sebagai referensi awal untuk mengoreksi offset InSAR, bukan sebagai validasi geodetik yang definitif (Setiawan dkk., 2026). Koreksi referensi pada frame Ascending 2 yang area cakupannya tidak beririsan langsung dengan stasiun CFLT ditransfer melalui area tumpang tindih (overlap) dengan Ascending 1, meskipun proses ini turut meningkatkan ketidakpastian pada frame tersebut.

Secara umum, pola displacement yang menuju maupun menjauhi sensor pada kedua geometri satelit mendukung keberadaan deformasi permukaan yang berkaitan dengan gempa Nagekeo 2026, meskipun belum cukup untuk menetapkan besaran deformasi komponen vertikal secara pasti. Hal ini terjadi karena InSAR paling sensitif terhadap perubahan sepanjang arah LOS dan kurang sensitif terhadap gerak yang sejajar arah terbang satelit (azimuth); pada lintasan Sentinel-1, kontribusi vertikal dan timur–barat umumnya lebih dominan dibandingkan komponen utara–selatan. Karena mekanisme sesar naik pada gempa Flores ini diperkirakan memiliki komponen pergerakan utara–selatan yang cukup besar, sebagian displacement kemungkinan tidak terekam penuh oleh LOS, sehingga produk vertical displacement yang dihasilkan lebih tepat disebut sebagai estimasi turunan LOS, bukan deformasi vertikal absolut (Setiawan dkk., 2026).

Laporan BMKG turut menggarisbawahi sejumlah keterbatasan analisis, di antaranya potensi kandungan delay atmosfer dan unwrapping error pada interferogram tunggal, residual antar-frame dengan robust scale sekitar 3,43 cm yang mengindikasikan adanya variasi spasial antar-citra yang tidak sepenuhnya dapat dikoreksi hanya dengan offset konstan, serta status data GNSS yang pada saat laporan disusun masih bercampur antara produk orbit FINAL, RAPID, dan ULTRA-RAPID (Setiawan dkk., 2026). Dengan demikian, hasil analisis InSAR ini bersifat preliminary dan akan diperbarui setelah seluruh data pendukung tersedia dalam status final, namun tetap memberikan bukti kuantitatif awal yang berharga mengenai lokasi dan pola deformasi permukaan yang berasosiasi dengan aktivitas FBT pada gempa Nagekeo 2026, sekaligus melengkapi bukti seismologis dan historis yang telah diuraikan pada Subbagian 4.2 dan Bagian 5.

Gambar 2: LOS Ascending periode 6-18 Agustus 2026. Positif menuju sensor; negatif Menjauhi sensor

Gambar 3: LOS Descending periode 9-21 Agustus 2026. Positif menuju sensor; negatif Menjauhi sensor

 

5. SEJARAH GEMPA BESAR AKIBAT AKTIVITAS FBT

Data historis mencatat sedikitnya 79 kejadian gempa bermagnitudo lebih dari 6,0 sepanjang periode 1900–2022 di kawasan FBT, dan 11 di antaranya memicu tsunami (CNBC Indonesia, 2026). Rentang waktu yang panjang ini menunjukkan bahwa FBT bukan sumber gempa yang baru muncul, melainkan struktur aktif yang telah berulang kali melepaskan energi tektonik dalam skala besar selama lebih dari satu abad terakhir. Beberapa peristiwa besar yang tercatat antara lain sebagai berikut.

4.1  Gempa dan Tsunami Flores 1992

Gempa magnitudo 7,5 yang mengguncang Flores pada 12 Desember 1992 merupakan salah satu bencana gempa paling mematikan dalam sejarah NTT, dengan sekitar 2.500 orang meninggal atau hilang, lebih dari 500 orang luka-luka, dan sekitar 90 persen bangunan di Maumere hancur. Tsunami yang ditimbulkan menjangkau hingga 300 meter ke daratan dan mencapai ketinggian 26 meter di Pulau Kalaotoa (CNBC Indonesia, 2026). Kajian inversi multi-data terhadap peristiwa ini mengonfirmasi bahwa geometri sumber gempa mengindikasikan adanya segmentasi pada sistem sesar naik busur belakang di Sunda Arc bagian timur (Pranantyo & Cummins, 2019), sebuah temuan yang kemudian relevan untuk memahami mengapa gempa-gempa besar berikutnya di kawasan ini cenderung terjadi pada segmen-segmen yang berbeda.

4.2  Gempa Alor 2004

Gempa magnitudo 7,5 pada tahun 2004 memicu tsunami setinggi sekitar 2 meter di Dili dan Alor, mengakibatkan 31 orang meninggal dan sekitar 400 orang luka-luka, disertai kerusakan pada ratusan rumah dan bangunan (CNBC Indonesia, 2026). Peristiwa ini menegaskan bahwa segmen timur sistem FBT, yakni Wetar Thrust, juga memiliki kapasitas menghasilkan gempa besar yang merusak dan berpotensi tsunami, tidak hanya segmen Flores Thrust di bagian barat.

4.3  Gempa Laut Flores 2021

Pada 14 Desember 2021, gempa magnitudo 7,3–7,5 mengguncang Laut Flores dengan pusat gempa sekitar 100–112 km barat laut Larantuka pada kedalaman dangkal. Tercatat 736 unit rumah rusak (266 rusak ringan dan 470 rusak berat) serta 5.064 warga mengungsi; tsunami yang terpantau hanya setinggi 0,07 meter, jauh berbeda dari 26 meter pada peristiwa 1992 (Tirto.id, 2026). Tim peneliti gabungan yang melibatkan University of Cambridge, BMKG, Institut Teknologi Bandung, dan Universitas Gadjah Mada, melalui metode relokasi hiposenter double-difference dan inversi bentuk gelombang, menemukan bahwa gempa ini justru bersumber dari sesar mendatar (strike-slip) yang sebelumnya belum teridentifikasi, yang kemudian dinamakan Sesar Kalaotoa, dan bukan secara langsung dari bidang sesar naik FBT itu sendiri (Supendi et al., 2022). Temuan ini penting karena menunjukkan bahwa sistem tektonik di sekitar FBT bersifat kompleks dan melibatkan lebih dari satu jenis struktur sesar, sehingga pemetaan sumber gempa di kawasan ini masih terus berkembang seiring kemajuan metode geofisika.

4.4  Gempa Nagekeo 2026

Gempa magnitudo 7,7 mengguncang NTT pada Jumat, 14 Agustus 2026 pukul 21:58:23 UTC (Sabtu, 15 Agustus 2026 pukul 05:58:23 WITA), dengan episenter di laut pada koordinat 8,41° LS dan 121,39° BT, sekitar 30 km timur laut Nagekeo, pada kedalaman 15 km (Setiawan dkk., 2026). Informasi mekanisme sumber menunjukkan dominasi sesar naik, konsisten dengan karakteristik umum aktivitas FBT (Setiawan dkk., 2026). BMKG sempat mengeluarkan peringatan dini tsunami yang kemudian dicabut pada pukul 07.30 WIB setelah tidak terpantau kenaikan muka air laut yang membahayakan (Setiawan dkk., 2026). BMKG turut mencatat nilai Percepatan Tanah Puncak (Peak Ground Acceleration/PGA) horizontal maksimum sebesar 622,80 gal di Stasiun KMBFM Kuwus, Manggarai Barat, 549,66 gal di Stasiun Meteorologi Ruteng, dan 486,23 gal di Stasiun Langke Rembong (Tirto.id, 2026). Sebagaimana diuraikan pada Subbagian 4.4, analisis InSAR pascagempa turut mengonfirmasi adanya pola deformasi permukaan di sekitar episenter, menambah bukti geodetik atas aktivitas sesar naik pada peristiwa ini.

Tabel 4. Rangkuman Gempa Besar Terkait Aktivitas FBT

 

Tahun

Magnitudo

Catatan Utama

1978

Bukti seismologis pertama aktifnya sesar naik busur belakang Flores (Silver et al., 1986).

 

1992

 

M 7,5

~2.500 orang meninggal/hilang; ~90% bangunan Maumere hancur; tsunami hingga 26 m di Kalaotoa (CNBC Indonesia, 2026; Pranantyo & Cummins, 2019).

2004 (Alor)

M 7,5

Tsunami ~2 m di Dili dan Alor; 31 orang meninggal, ~400 luka-luka (CNBC Indonesia, 2026).

 

2021

 

M 7,3–7,5

Pusat gempa ~100–112 km barat laut Larantuka; 736 rumah rusak, 5.064 mengungsi; tsunami 0,07 m; teridentifikasi sebagai Sesar Kalaotoa, sesar mendatar baru di luar bidang utama FBT (Supendi et al., 2022; Tirto.id, 2026).

 

2026 (Nagekeo)

 

M 7,7

Episenter 30 km timur laut Nagekeo; kedalaman 15 km; sempat keluar peringatan dini tsunami; >8.300 gempa susulan hingga akhir Agustus 2026 (CNBC Indonesia, 2026; MerahPutih.com, 2026).

 

6. DAMPAK GEMPA BUMI DI FLORES

5.1  Dampak Fisik dan Infrastruktur

Guncangan kuat akibat aktivitas FBT secara berulang menimbulkan kerusakan bangunan dalam skala luas, mulai dari retak ringan pada dinding hingga keruntuhan struktural total, sebagaimana terlihat pada peristiwa 1992 maupun 2026. BMKG mencatat wilayah dengan Percepatan Tanah Puncak tertinggi pada gempa 2026 berada di Manggarai Barat dan sekitarnya (Tirto.id, 2026). Kerusakan fisik semacam ini tidak hanya berdampak pada bangunan tempat tinggal, tetapi juga fasilitas publik seperti pelabuhan, sebagaimana terlihat pada kerusakan Terminal Pelabuhan Laurentius Say di Maumere pascagempa (Tirto.id, 2026), yang berpotensi mengganggu jalur distribusi bantuan dan logistik pascabencana.

5.2  Dampak Sosial-Ekonomi dan Kesehatan

Dampak sosial pascagempa besar biasanya meliputi pengungsian massal dalam jangka waktu panjang. Kabupaten Manggarai Timur, misalnya, tercatat sebagai wilayah dengan jumlah korban luka terbanyak pasca gempa Nagekeo 2026, dengan 239 orang mengalami luka berat dan 404 orang luka ringan (MerahPutih.com, 2026). Selain korban langsung, kondisi pengungsian dalam jangka panjang turut memunculkan persoalan kesehatan lanjutan bagi warga terdampak, sehingga penanganan pascabencana perlu memperhatikan aspek kesehatan masyarakat pengungsi secara berkelanjutan, termasuk penyediaan bantuan pangan dan kebutuhan dasar dalam masa tanggap darurat.

5.3  Risiko Gempa Susulan yang Berkepanjangan

Salah satu ciri khas dampak aktivitas FBT adalah tingginya frekuensi gempa susulan. Pascagempa Nagekeo M7,7, BMKG mencatat 8.330 kali gempa susulan hingga 27 Agustus 2026, meski intensitasnya mulai menunjukkan tren penurunan dalam dua hingga tiga pekan berikutnya, dengan sisa aktivitas umumnya berskala kecil (2–3 MMI) yang tidak lagi merusak bangunan (MerahPutih.com, 2026). Tingginya jumlah gempa susulan ini turut berkontribusi pada kondisi psikologis masyarakat terdampak yang harus terus waspada dalam jangka waktu yang cukup lama, sekaligus menuntut kesiapan aparat setempat dalam memberikan informasi yang akurat dan menenangkan secara berkelanjutan.

 

7. UPAYA DAN METODE MITIGASI BENCANA

6.1  Pemantauan dan Diseminasi Informasi oleh BMKG

BMKG berperan sentral dalam memantau aktivitas sesar, menganalisis parameter gempa, serta mengeluarkan dan mencabut peringatan dini tsunami berdasarkan data pemantauan muka air laut secara real time (Setiawan dkk., 2026). Selain pemantauan seismik konvensional, BMKG kini juga mengembangkan analisis deformasi permukaan berbasis InSAR dan GNSS sebagai metode pelengkap untuk memahami pola pergerakan kerak bumi pascagempa secara lebih menyeluruh (Setiawan dkk., 2026), yang ke depan berpotensi memperkaya basis data untuk pemodelan bahaya gempa dan tsunami di kawasan FBT. BMKG juga secara aktif melakukan klarifikasi terhadap informasi yang tidak benar, seperti isu gempa susulan bermagnitudo 8,1 yang berpotensi memicu tsunami besar di Flores, yang secara tegas dibantah sebagai hoaks oleh Direktur Gempa Bumi dan Tsunami BMKG (MerahPutih.com, 2026).

6.2  Imbauan Kesiapsiagaan pada Warga Terdampak

Sebagai langkah mitigasi lanjutan pascagempa, warga dengan kerusakan rumah bersifat struktural diimbau untuk tetap tinggal di lokasi pengungsian sampai kondisi dinyatakan aman, sementara warga dengan kerusakan ringan seperti retak rambut pada dinding dipersilakan kembali ke rumah dengan tetap meningkatkan kewaspadaan terhadap gempa susulan (MerahPutih.com, 2026). Imbauan semacam ini penting untuk mencegah jatuhnya korban tambahan akibat bangunan yang secara struktural sudah tidak layak huni namun masih ditempati karena keterbatasan informasi maupun tempat tinggal alternatif.

6.3  Riset dan Pemetaan Berkelanjutan

Pemantauan deformasi berbasis GPS kontinu (seperti jaringan CORS milik Badan Informasi Geospasial) memberikan data pergeseran dan regangan kerak bumi di sepanjang FBT yang penting untuk mendukung upaya mitigasi jangka panjang (Institut Teknologi Sepuluh Nopember, 2025). Studi lanjutan mengenai segmentasi sesar, sebagaimana dilakukan pada kasus gempa 1992 dan 2021, juga penting untuk mengidentifikasi segmen-segmen yang berpotensi melepaskan energi gempa besar di masa depan (Pranantyo & Cummins, 2019; Tirto.id, 2026). Analisis InSAR pascagempa 2026 menambah satu metode penting lain dalam riset ini, karena mampu memetakan pola deformasi permukaan secara spasial luas dalam waktu relatif singkat pascakejadian, meskipun hasilnya perlu terus diperbarui seiring tersedianya data GNSS dengan status final (Setiawan dkk., 2026).

6.4  Metode Mitigasi Bencana: Pendekatan Terintegrasi

Mengingat karakteristik FBT sebagai sumber gempa dangkal yang tersegmentasi dan berpotensi tsunami, upaya mitigasi bencana di kawasan Flores dan sekitarnya perlu disusun secara terintegrasi, mencakup pendekatan struktural, non-struktural, berbasis masyarakat, serta pemanfaatan teknologi pemantauan mutakhir. Beberapa metode yang relevan diuraikan sebagai berikut.

a.  Mitigasi struktural

Mitigasi struktural mencakup penerapan standar bangunan tahan gempa sesuai Standar Nasional Indonesia (SNI) kegempaan, retrofitting atau perkuatan bangunan lama yang belum memenuhi standar, serta pembangunan infrastruktur vital (rumah sakit, sekolah, kantor pemerintahan) dengan mempertimbangkan potensi percepatan tanah puncak setempat sebagaimana tercermin dari data PGA gempa Nagekeo 2026 di wilayah Manggarai Barat dan sekitarnya (Tirto.id, 2026). Pembangunan jalur evakuasi dan bangunan tempat evakuasi sementara (shelter) tsunami di wilayah pesisir utara Flores juga termasuk dalam kategori ini.

b.  Mitigasi non-struktural

Mitigasi non-struktural meliputi penyusunan dan penegakan tata ruang berbasis peta bahaya gempa dan tsunami, edukasi kebencanaan berkelanjutan di sekolah dan masyarakat, simulasi evakuasi tsunami secara berkala di wilayah pesisir, serta penguatan sistem peringatan dini yang mudah diakses dan dipahami masyarakat, termasuk sirine tsunami dan diseminasi informasi melalui kanal digital maupun radio komunitas.

c.  Mitigasi berbasis masyarakat

Pendekatan ini menekankan pelibatan aktif masyarakat lokal melalui pembentukan kelompok siaga bencana di tingkat desa/kelurahan, pelatihan pertolongan pertama dan evakuasi mandiri, serta pemanfaatan kearifan lokal dalam mengenali tanda-tanda alam yang berkaitan dengan gempa dan tsunami. Pengalaman gempa 1992 dan 2021 menunjukkan bahwa kecepatan respons masyarakat pada menit-menit awal pascagempa sangat menentukan jumlah korban jiwa, terutama di wilayah pesisir yang rawan tsunami.

d.  Mitigasi berbasis teknologi pemantauan

Metode ini mencakup pemanfaatan jaringan seismometer dan tide gauge BMKG, jaringan GNSS CORS BIG, serta analisis deformasi permukaan berbasis InSAR menggunakan citra satelit seperti Sentinel-1, sebagaimana diterapkan pada gempa Nagekeo 2026 (Setiawan dkk., 2026). Integrasi data seismik, geodetik, dan penginderaan jauh semacam ini memungkinkan pemodelan sumber gempa yang lebih akurat, termasuk estimasi segmentasi sesar yang aktif, sehingga dapat mendukung pemutakhiran peta bahaya gempa dan tsunami secara berkala.

e.  Mitigasi kelembagaan dan tata kelola informasi

Mitigasi kelembagaan mencakup koordinasi lintas lembaga antara BMKG, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), serta pemerintah daerah dalam penyusunan rencana kontingensi bencana gempa dan tsunami. Termasuk di dalamnya adalah tata kelola komunikasi publik yang cepat, akurat, dan kredibel untuk mengantisipasi penyebaran informasi keliru atau hoaks pascabencana, sebagaimana ditunjukkan oleh langkah BMKG membantah isu gempa susulan M8,1 pascagempa Nagekeo 2026 (MerahPutih.com, 2026).

 

8. TANTANGAN DALAM PENANGGULANGAN BENCANA

Beberapa tantangan utama dalam penanggulangan bencana gempa di kawasan FBT antara lain: keterbatasan data pemetaan rinci pada beberapa segmen sesar yang belum terpetakan secara menyeluruh; keterbatasan infrastruktur dan aksesibilitas di wilayah kepulauan dan pedesaan yang terpencil; kesenjangan literasi kebencanaan di masyarakat pesisir; maraknya informasi tidak terverifikasi (hoaks) pascabencana yang berpotensi menimbulkan kepanikan tambahan (MerahPutih.com, 2026); serta kebutuhan koordinasi lintas lembaga dan pendanaan berkelanjutan untuk pemulihan jangka panjang.

Dari sisi teknis-ilmiah, analisis deformasi berbasis InSAR pascagempa Nagekeo 2026 juga masih menghadapi sejumlah keterbatasan yang perlu menjadi perhatian dalam pengembangan metode mitigasi ke depan. Di antaranya adalah potensi gangguan delay atmosfer dan unwrapping error pada interferogram tunggal, terbatasnya jumlah dan sebaran stasiun GNSS acuan seperti CFLT yang tidak mencakup seluruh frame citra satelit, residual antar-frame yang masih relatif tinggi (sekitar 3,43 cm), serta status data GNSS yang pada saat analisis awal masih bercampur antara produk orbit FINAL, RAPID, dan ULTRA-RAPID (Setiawan dkk., 2026). Keterbatasan ini menunjukkan bahwa meskipun teknologi penginderaan jauh dan geodesi satelit sangat membantu mempercepat pemahaman awal pascagempa, validasi lapangan dan pembaruan data tetap diperlukan agar hasil analisis dapat digunakan sebagai dasar pengambilan keputusan yang lebih definitif.

 

9.  REKOMENDASI

Berdasarkan uraian mengenai karakteristik tektonik FBT, sejarah gempa besar, bukti deformasi InSAR, dampak bencana, serta metode mitigasi yang telah diulas, beberapa rekomendasi berikut diajukan untuk memperkuat ketahanan wilayah Flores terhadap ancaman gempa bumi dan tsunami di masa mendatang.

  1. Penguatan riset dan pemetaan segmentasi Flores Back Arc Thrust secara berkelanjutan, termasuk pemantauan deformasi berbasis GPS/GNSS kontinu dan citra inderaan jauh seperti InSAR, agar segmen-segmen sesar yang berpotensi aktif dapat diidentifikasi lebih dini;
  2. Perluasan jaringan stasiun GNSS CORS di wilayah Flores dan sekitarnya, khususnya pada area yang belum tercakup oleh stasiun acuan seperti CFLT, untuk meningkatkan akurasi koreksi referensi pada analisis InSAR di masa depan;
  3. Penguatan sistem peringatan dini tsunami dengan mempertimbangkan karakteristik sesar naik dangkal yang khas di kawasan ini, termasuk integrasi data seismik, geodetik, dan pasang surut secara real time;
  4. Peningkatan kualitas dan pengawasan konstruksi bangunan tahan gempa, khususnya di permukiman padat seperti Maumere dan sekitarnya, serta pada wilayah dengan nilai Percepatan Tanah Puncak tinggi seperti Manggarai Barat;
  5. Penerapan metode mitigasi terintegrasi yang mencakup pendekatan struktural, non-struktural, berbasis masyarakat, berbasis teknologi pemantauan, dan kelembagaan sebagaimana diuraikan pada Bagian 7, agar upaya pengurangan risiko tidak hanya bertumpu pada satu pendekatan saja;
  6. Edukasi kebencanaan berkelanjutan bagi masyarakat pesisir utara Flores, termasuk simulasi evakuasi tsunami secara berkala dan pelatihan kesiapsiagaan tingkat desa/kelurahan;
  7. Penguatan komunikasi publik yang cepat dan kredibel dari BMKG dan BPBD untuk melawan penyebaran informasi keliru pascagempa, sekaligus menjaga kepercayaan masyarakat terhadap informasi resmi.

 

10. PENUTUP

Flores Back Arc Thrust merupakan sumber ancaman gempa bumi utama di kawasan Flores dan Nusa Tenggara, dengan rekam jejak panjang sejak gempa 1978 hingga peristiwa magnitudo 7,7 di Nagekeo pada Agustus 2026. Karakteristik sesar naik dangkal yang tersegmentasi membuat wilayah ini rawan mengalami gempa besar berulang, termasuk potensi tsunami, sebagaimana ditegaskan kembali oleh bukti deformasi permukaan hasil analisis InSAR pascagempa 2026 yang menunjukkan pola pergeseran signifikan di sekitar episenter, meskipun hasil tersebut masih bersifat preliminary dan memerlukan pembaruan lebih lanjut.

Kesiapsiagaan yang berkelanjutan mulai dari riset kegempaan dan deformasi permukaan, sistem peringatan dini, standar bangunan, hingga edukasi masyarakat dan penguatan kelembagaan menjadi kunci untuk mengurangi risiko dan dampak bencana di masa mendatang. Kombinasi antara kajian tektonik jangka panjang dan teknologi pemantauan mutakhir seperti InSAR diharapkan dapat memperkuat basis ilmiah bagi kebijakan mitigasi bencana yang lebih responsif dan berbasis data di wilayah rawan gempa seperti Flores.

 

DAFTAR PUSTAKA

Afif, H., Nugraha, A. D., Muzli, M., Widiyantoro, S., Zulfakriza, Z., Wei, S., et al. (2021). Local earthquake tomography of the source region of the 2018 Lombok earthquake sequence, Indonesia. Geophysical Journal International, 226(3), 1814–1823. https://doi.org/10.1093/gji/ggab189

CNBC Indonesia. (2026, 15 Agustus). Mengapa NTT rawan gempa besar? Ini penyebab & sejarah gempa dahsyatnya. https://www.cnbcindonesia.com/research/20260815091227-128-759597/mengapa-ntt-rawan-gempa-besar-ini-penyebab-sejarah-gempa-dahsyatnya

Felix, R. P., Hubbard, J. A., Bradley, K. E., Lythgoe, K. H., Li, L., & Switzer, A. D. (2022). Tsunami hazard in Lombok and Bali, Indonesia, due to the Flores back-arc thrust. Natural Hazards and Earth System Sciences, 22(5), 1665–1682. https://doi.org/10.5194/nhess-22-1665-2022

Institut Teknologi Sepuluh Nopember. (2025). Analysis of deformation along the Flores Back-Arc Thrust            using            GPS            observation            data.            ITS Scholar. https://scholar.its.ac.id/en/publications/analysis-of-deformation-along-the-flores-back-arc-thrust-using-gp/

Jufriansah, A., Khusnani, A., Pramudya, Y., & Afriyanto, M. (2023). Comparison of aftershock behavior of the Flores Sea 12 December 1992 and 14 December 2021. Journal of Physics: Theoretical and Applied, 7(1), 65–74. https://doi.org/10.20961/jphystheor-appl.v7i1.71609

Khusnani, A., Jufriansah, A., & Afriyanto, M. (2022). Utilization of seismic data as a tsunami vulnerability review. Indonesian Review of Physics, 5(2), 66–72. https://doi.org/10.12928/irip.v5i2.6706

Prasetya, A. D. (2026, 27 Agustus). BMKG catat 8.330 gempa susulan di Flores NTT, bantah hoaks gempa M8,1 picu tsunami. MerahPutih.com. https://www.merahputih.com/post/read/bmkg-8330-gempa-susulan-flores-ntt

Pranantyo, I. R., & Cummins, P. R. (2019). Multi-data-type source estimation for the 1992 Flores earthquake and tsunami. Pure and Applied Geophysics, 176(7), 2969–2983. https://doi.org/10.1007/s00024-018-2078-4

Setiawan, Y., Syirojudin, M., Rahayu, T., Riama, N. F., & Tim Kerja Geofisika Potensial DST-BMKG. (2026). Laporan awal analisis InSAR gempa Flores 2026 M7.7. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG).

Silver, E. A., Breen, N. A., Prasetyo, H., & Hussong, D. M. (1986). Multibeam study of the Flores backarc thrust belt, Indonesia. Journal of Geophysical Research: Solid Earth, 91(B3), 3489–3500. https://doi.org/10.1029/JB091iB03p03489

Supendi, P., Nugraha, A. D., Widiyantoro, S., Pesicek, J. D., Thurber, C. H., Abdullah, C. I., et al. (2020). Relocated aftershocks and background seismicity in eastern Indonesia shed light on the 2018 Lombok and Palu earthquake sequences. Geophysical Journal International, 221(3), 1845–1855. https://doi.org/10.1093/gji/ggaa118

Supendi, P., Rawlinson, N., Prayitno, B. S., Widiyantoro, S., Simanjuntak, A., Palgunadi, K. H., et al. (2022). The Kalaotoa Fault: A newly identified fault that generated the Mw 7.3 Flores Sea earthquake. The Seismic Record, 2(3), 176–185. https://doi.org/10.1785/0320220015

Tirto.id. (2026, Agustus). Riwayat gempa besar & tsunami di NTT dalam catatan sejarah. https://tirto.id/riwayat-gempa-besar-tsunami-di-ntt-dalam-catatan-sejarah-hByd

Yang, X., Singh, S. C., & Tripathi, A. (2020). Did the Flores backarc thrust rupture offshore during the 2018 Lombok earthquake sequence in Indonesia? Geophysical Journal International, 221(2), 758–768. https://doi.org/10.1093/gji/ggaa018

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *