Bandung — Di tengah arus modernisasi dan tantangan pendidikan di daerah, Pupu Fakhrurrozi, M.Pd., tampil sebagai sosok pemimpin yang menggabungkan visi kemajuan dengan akar tradisi keislaman. Lulusan Program Studi Ilmu Pendidikan Agama Islam (IPAI) Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) jenjang S1 (2009–2013) dan S2 (2014–2018) ini kini menjabat sebagai Kepala Madrasah Aliyah Al-Fakhriyah, Kecamatan Pacet, Kabupaten Bandung.
Di bawah kepemimpinannya, madrasah yang berada di wilayah pedesaan mengalami re-branding kelembagaan. Pupu menerapkan prinsip-prinsip manajemen modern, penguatan identitas kelembagaan, dan pembinaan karakter siswa berbasis nilai-nilai keagamaan tradisional. Ia percaya bahwa madrasah tidak boleh tertinggal dalam hal mutu dan daya saing, meski berada jauh dari pusat kota.



Selain di madrasah, Pupu juga aktif sebagai pendidik di Pondok Pesantren Sabilul Falah, pengurus DKM Al-Fakhriyah, Ketua Anak Ranting Nahdlatul Ulama Desa Pangauban, dan anggota KKMA 4 Kabupaten Bandung. Kiprahnya menunjukkan bahwa pendidikan Islam bukan hanya soal ruang kelas, tetapi juga soal pengabdian sosial dan penguatan komunitas.
Dalam refleksinya, Pupu menyebut bahwa masa kuliah di IPAI FPIPS UPI adalah fase pembentukan jati diri. “Kehidupan remaja menuju dewasa saya habiskan di IPAI. Tidak hanya ilmu, gelar, dan pengalaman, jodoh pun saya dapatkan di sana,” ujarnya sambil tersenyum. Ia menambahkan bahwa alumni IPAI harus siap menghadapi berbagai kemungkinan di masa depan, karena kebermanfaatan tidak selalu hadir dalam bentuk profesi formal.
Menariknya, di IPAI pula jiwa seni Pupu menemukan ruang. Bersama teman-teman seangkatan, ia membentuk grup nasyid bernama Theos Spathi, yang menjadi wadah ekspresi spiritual dan musikal. “Sampai sekarang kami masih aktif berkomunikasi, meski punya panggung masing-masing di tempat berbeda,” tuturnya.
Pupu Fakhrurrozi menjadi contoh bahwa alumni IPAI tidak hanya berkiprah sebagai pendidik, tetapi juga sebagai pemimpin komunitas, penggerak tradisi, dan penjaga nilai. Ia hadir di tengah masyarakat sebagai figur yang mampu menjembatani antara kemajuan dan kearifan lokal, antara manajemen modern dan spiritualitas pesantren.
