Jl. Dr. Setiabudi No.276A, Kota Bandung 40143
UPI-FPIPS-Logo-blok
SOSIALISASI PEMBENTUKAN PROGRAM STUDI MAGISTER SAINS INFORMASI GEOGRAFI

Penulis: Dr. Andika Permadi Putra, S.T., M.T. 

Penyunting: Hilmy Nurizky 

Pada tanggal 12 september 2025 telah diadakan sosialisasi pengusulan pembentukan program Magister Sains Informasi Geografi (SaIG) yang dihadiri oleh Dekanat dan ketua senat Fakultas Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial (FPIPS) beserta beberapa dosen undangan. 

Sambutan pertama disampaikan oleh Prof Cecep Darmawan, selaku Dekan FPIPS yang mengapresiasi pengusulan program Magister sebagai bagian dari pengembangan keilmuan di FPIPS. Beliau menyampaikan bahwa program magister harus fokus pada pengembangan keilmuan, sehingga harus memiliki ciri khas yang akan membuat program tersebut unik, jika dibandingkan dengan program magister sejenis. 

Agenda kemudian dilanjutkan dengan pemaparan program magister yang diusulkan oleh Dr. Lili Somantri, M.Si. selaku Ketua Program Studi (Kaprodi) sarjana SaIG yang menyampaikan latar belakang pembentukan prodi magister dan prospek peluang yang bisa didapatkan dengan adanya program ini. Sebagai kelanjutan dari program sarjana SaIG yang sudah ada, potensi dari internal dan pelungkan yang menunggu dari eksternal menjadi pendorong utama untuk mewujudkan pengembangan keilmuan geografi yang lebih luas. 

Setelah pemaparan, sesi berikutnya dilakukan diskusi dari peserta yang sudah hadir. Prof Cecep Darmawan kembali memberi masukkan terkait dengan perlunya analisis Strength, Weakness, Opportunity, dan Threat (SWOT) untuk meninjau kesiapan pendirian program studi baru. Selain itu, aspek legal yang tercantum dalam proposal perlu dimutakhirkan sehingga relevan dengan regulasi yang terbaru. 

Masukkan selanjutnya disampaikan oleh Prof Yadi Ruyadi selaku ketua Senat Akademik Universitas Pendidikan Indonesia (UPI). Sebagai anggota senat, tugas beliau Adalah menyampaikan aspirasi dari warga FPIPS. Beliau menyampaikan kecenderungan mahasiswa pasca sarjana yang menurun. Hal ini bisa disebabkan oleh banyak faktor, salah satunya ada faktor pembiayaan yang relatif tidak terjangkau dan persyaratan untuk program doktor yang tidak tidak konsisten. Dengan adanya program magister baru, terlebih jika memang jurusannya sangat relevan dengan kondisi hari ini diharapkan bisa menjadi penarik minat yang cukup kuat dan bisa bersaing dengan program sejenis di universitas lain sehingga bisa memutus kecenderungan negatif mahasiswa pasca sarjana di UPI. Selain itu, berpesan agak memperhatikan juga kondisi di UPI, terutama terkait dengan sarana dan prasarana pendukung. Jangan sampai dengan adanya program studi baru, mengganggu kestabilan program yang sudah ada. Dalam kondisi UPI yang sedang menghadapi masa akreditasi, untuk pengusulan program studi baru sedang mengalami moratorium, sehingga pengusulan ini baru bisa dilakukan pada akhir tahun 2026. 

Masukkan selanjutnya disampaikan oleh Prof Mamat Ruhimat yang menyampaikan kritik terkait dengan pembiayaan program pasca sarjana yang tidak sesuai dengan kondisi. Saat kecenderungan peminat program pascasarjana turun, kenapa justru biaya dinaikan. Kebijakan ini kontraproduktif dengan Upaya untuk memutus kecenderungan negatif ini. Beliau juga melihat terlalu banyak variabel yang dilibatkan dalam penentuan biaya kuliah. Politik anggaran yang sekarang ini ada juga perlu dipertimbangkan. Beliau melihat politik anggaran kedepan akan condong ke penelitian dan publikasi, bukan ke sarana dan prasarana sehingga dikhawatirkan dukungan terhadap program studi baru akan terhambat.

Pendapat Prof Mamat Ruhimat dilanjutkan oleh Dr Wawan Darmawan, selaku wakil dekan 2 yang menekankan fasilitas pendukung seperti ruang kelas dan Sumber Daya Manusia (SDM) Dosen yang cukup perlu jadi bahan pemikiran mengingat FPIPS adalah fakultas dengan jumlah program studi dan mahasiswa paling banyak, sementara fasilitas pendukung hanya terdapat dua gedung. Apakah memungkinkan kedepannya ada ekspansi ruang, baik di UPI Bumi Siliwangi atau membuka di luar kampus. Sebagai masukkan, pada saat melakukan kerjasama dengan lembaga, bisa menyertakan ketentuan UPI bisa memfasilitasi bagi karyawan lembaga tersebut untuk bisa melanjutkan studi dengan skema riset. Selain itu perlu juga mengoptimalkan program fastrack untuk menjamin keberlanjutan mahasiswa pascasarjana.

Ditambahkan oleh Dr Fitri Rahmafitria, selaku wakil dekan 1 yang mengulas terkait dengan SDM yang ada di Geografi. Beliau menekankan adanya informasi yang jelas, tidak harus bersifat naratif terkait dengan data eksisting SDM dosen dan sarana yang tersedia. Untuk menguatkan potensi diterimanya usulan ini, perlu mencantumkan potensi Income Generate Unit (IGU) yang bisa didapatkan dnegan adanya program studi yang baru. Informasi mengenai permintaan dan penawaran perlu dijelaskan lebih detil, sehingga bisa mengidentifikasi potensi keunikan yang bisa ditawarkan. 

Prof Elly Malihah menambahkan peluang keberterimaan UPI terhadap usulan ini terkait juga dengan Rencana Strategis (Resntra) UPI. Jika memang ada peluang, sebaiknya sekaligus mengajukan pembuatan Fakultas Geografi dengan catatan program studi Pendidikan Geografi tertap berada di FPIPS sebagai bagian dari keilmuan inti FPIPS. Ditambahkan oleh Prof Enok Maryani, perlu adanya agresifitas dari Dekanat FPIPS untuk mengakuisisi ruangan baru atau bahkan gedung baru yang bisa digunakan oleh program studi baru yang diusulkan supaya pembelajaran bisa dilakukan dengan baik, nyaman dan bisa menciptakan suasana yang kondusif. 

Berbagai masukkan yang disampaikan sangat konstruktif, Dr Lili Somantri selaku penggagas pengusulan ini sangat bersyukur telah mendapat masukkan dan dukungan yang sangat berharga. Kedepannya tim pengusul akan mematangkan kembali proposal yang dibuat sambil menunggu proses akreditasi UPI selesai. Doa dan dukungan dari semua pihak sangat berarti dalam perjuangan ini. 

Sumber: Dok. Penulis

Sumber: Dok. Penulis

Sumber: Dok. Penulis

Sumber: Dok. Penulis

Sumber: Dok. Penulis

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *