Jl. Dr. Setiabudi No.276A, Kota Bandung 40143
UPI-FPIPS-Logo-blok
DARI KESALAHAN KE KEAHLIAN: MENGATASI RINTANGAN BERSAMA KELOMPOK 5B DALAM PENGUKURAN TANAH YANG AKURAT 

Penulis: Barcelo Dioba Gegale (SaIG, 2408596) dan Muhammad Labiq Amanullah (SaIG, 2405792)

Penyunting: Reva Laelatul Zahra

Dok. Penulis

Alhamdulillah mata kuliah Ilmu Ukur Tanah telah selesai dilaksanakan oleh kami kelompok 5B. Mata kuliah ini merupakan mata kuliah dasar yang didalamnya mempelajari tentang basic pengukuran, seperti yang sudah kami pelajari adalah tentang KDH dan KDV. KDH sendiri adalah Kerangka Dasar Horizontal yang berarti fungsi utamanya adalah menjadi penentu posisi mendatar yang presisi. Sedangkan Kerangka Dasar Verikal berfungsi untuk penentuan ketinggian atau beda tinggi.

Pada Mata Kuliah Ilmu Ukur Tanah terdapat 7 modul, yang dimana terdapat 2 modul yang sangat membuat kami tertantang, yaitu pada modul 6 dan juga 7. Dimana pada modul 6 kami melakukan sebuah projek KDH dengan AOI 8 dengan acuan BM 13, pengukuran yang kami lakukan ini berbasis metode poligon tertutup. Hal yang menantangnya adalah dimana pada saat pengukuran berlangsung kami mendapati kendala yaitu pengukuran tidak terselesaikan hal tersebut disebabkan karena turunnya hujan secara mendadak, dan pada saat itu kami sedang melakukan pengukuran pada titik terakhir dari poligon tertutup tersebut. Hal ini menjadi kendala yang sering terjadi namun sangat berdampak pada hasil pengukuran. 

Hal yang menantang bagi kami selanjutnya adalah pada modul 7, sama halnya dengan modul 6, pada modul 7 kami juga melakukan sebuah projek KDH namun basis metode yang kami gunakan dalam pengukuran ini berbeda, yakni dengan metode poligon terbuka, perbedaan pada metode ini, di poligon tertutup jalur pengukuran yang dilakukan kembali ke titik awalnya, membentuk sebuah loop. Ini seperti mengelilingi suatu area dan berakhir di tempat kita memulai, memungkinkan kita mengoreksi kesalahan secara internal untuk akurasi tinggi. Sebaliknya, poligon terbuka adalah jalur yang berawal dan berakhir di titik yang berbeda, membentuk garis lurus yang memanjang. Metode ini cocok untuk pekerjaan linier seperti jalan, namun kontrol kesalahannya terbatas karena tidak ada penutup lingkaran untuk verifikasi.

Adapun hal yang menantang bagi kami pada modul 7 ini, dimana diantara mahasiswa di kelompok kami ini terjadi banyak kendala seperti pada perbedaan pemahaman tentang poligon terbuka, dimulai dari pengertian poligon terbuka itu sendiri, lalu cara menghitung koreksi, dan penentuan arah utara sebagai set null yang dilakukan di awal pengukuran. Hal ini dapat terjadi karena pada awal pengukuran untuk projek ini yang hadir dan melakukan pengukuran sangatlah sedikit, dimana yang seharusnya jumlah kelompok 6 orang dan yang hadir hanya 4 orang. Maka dari itu ada perbedaan pendapat ketika melakukan pengukuran kedua. 

Praktikum pengukuran ini penuh dengan tantangan, dari menghadapi cuaca tak terduga hingga menyatukan perbedaan pemahaman awal dalam tim. Namun, justru rintangan-rintangan inilah yang paling berkesan, karena berhasil mengasah kemampuan adaptasi dan kerja sama tim kami. Setiap kesulitan adalah pelajaran berharga yang secara signifikan memperkaya pemahaman kami tentang praktikum ini, karena pada dasarnya “guru terbaik adalah pengalaman”. Untuk ke depannya, kami menyarankan persiapan pra-lapangan yang lebih mendalam, termasuk diskusi detail metode dan antisipasi skenario lapangan, agar pelaksanaan praktikum bisa lebih efisien dan optimal.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *