Jl. Dr. Setiabudi No.276A, Kota Bandung 40143
UPI-FPIPS-Logo-blok
ALAM: LABORATORIUM RAYA BAGI MAHASISWA GEOGRAFI

Penulis: Chelomita Trivena Simarmata (2402781) 

Editor: Nendeh Rizka Nurfadilah (2508823)

 

Setiap kali langkahku menginjak tanah basah setelah hujan, atau saat angin savana menerpa wajah, aku merasa sedang membaca lembaran lembaran buku yang tak pernah usai ditulis. Alam, bagiku, bukan sekadar tempat pelarian dari hiruk pikuk perkuliahan. Ia adalah laboratorium yang hidup, ruang kuliah tanpa dinding, dan dosen yang tak pernah lelah mengajar, selama kita mau mendengarkan.

Sebagai mahasiswa geografi, aku sering kali duduk di ruang kelas membahas teori tentang siklus hidrologi, proses sedimentasi, atau dinamika atmosfer. Namun, teori teori itu baru terasa "nyawa" nya ketika aku melihat langsung bagaimana air sungai mengikis tebing, bagaimana butiran pasir berpindah tempat oleh tiupan angin, atau bagaimana awan menggumpal perlahan sebelum akhirnya menurunkan hujan. Di alam, setiap fenomena adalah demonstrasi langsung dari apa yang kita baca di buku teks. Geografi tidak pernah sekadar teori; ia adalah kenyataan yang bernapas.

Ada satu pengalaman yang tak pernah kulupakan. Saat melakukan survei lapangan di kawasan karst, aku melihat sendiri bagaimana air hujan, selama ribuan tahun, mampu "mengukir" batu kapur menjadi gua gua megah dengan stalaktit dan stalagmit yang menjulang. Di kelas, aku mempelajari proses pelarutan batu kapur (CaCO₃) oleh air yang mengandung asam karbonat. Tapi saat berdiri di dalam gua, merasakan dinginnya udara dan mendengar tetesan air yang jatuh perlahan, aku benar benar *merasakan* waktu geologis bergerak. Alam mengajarkanku bahwa perubahan itu nyata, meskipun sering kali tak kasat mata.

Laboratorium alam ini juga mengajariku tentang kesabaran. Proses geografis tidak terjadi dalam hitungan menit atau jam. Butuh ribuan, bahkan jutaan tahun, untuk membentuk lanskap yang kita lihat hari ini. Dalam kesibukan dunia perkuliahan yang serba cepat, dengan target tugas, tenggat waktu, dan ujian yang silih berganti, alam mengingatkanku bahwa ada ritme yang lebih besar, yang tidak bisa dipaksakan. Ada kebijaksanaan dalam ketidakterburuan alam. Dan itu, bagiku, adalah pelajaran yang tak kalah penting dari sekadar teori.

Namun, hubungan antara aku, alam, dan ilmu geografi bukanlah jalan satu arah. Jika alam adalah laboratorium tempat aku menguji dan memahami teori, maka kampus adalah tempat aku menyusun kerangka berpikir untuk memahami alam secara lebih terstruktur. Keduanya saling mengisi, seperti dua sisi mata uang yang tak terpisahkan.

Ketika aku duduk di bangku kuliah mempelajari konsep wilayah, tata ruang, atau analisis vegetasi, aku sebenarnya sedang "mengasah alat" sebelum terjun ke lapangan. Ilmu yang kudapat di kampus memberiku bahasa untuk menggambarkan keindahan alam dengan lebih tajam. Aku tidak lagi sekadar melihat gunung sebagai "gunung," tetapi sebagai bentang alam vulkanik dengan sejarah erupsi, jenis tanah, dan pola vegetasi yang khas. Kampus memberiku kacamata intelektual untuk melihat alam lebih dalam.

Sebaliknya, ketika aku kembali ke kampus setelah perjalanan lapangan, aku datang dengan segudang pertanyaan baru. Mengapa di lereng selatan vegetasinya lebih lebat daripada lereng utara? Mengapa aliran sungai di sini membentuk meander, sementara di tempat lain lurus? Pertanyaan pertanyaan ini muncul karena aku telah melihat secara langsung. Di alam, aku menemukan misteri; di kampus, aku belajar cara memecahkannya. Siklus ini membuatku terus bergerak antara buku dan bumi, antara teori dan praktik.

Aku ingat sebuah momen ketika sedang melakukan pengamatan tanah di daerah perbukitan. Di sana, aku melihat lapisan tanah yang berbeda warna dan tekstur, seperti kue berlapis. Di kampus, aku belajar tentang horizon tanah, yaitu O, A, E, B, C, dan R. Tapi melihatnya secara langsung, menyentuh teksturnya, mencium bau tanah yang lembap, membuat klasifikasi itu hidup. Aku tidak lagi menghafal; aku memahami dan pemahaman itulah yang kemudian kubawa kembali ke ruang kelas untuk didiskusikan dengan teman teman, dibandingkan dengan literatur, dan dikritisi dengan data.

Mungkin inilah yang membuatku jatuh cinta pada geografi. Ilmu ini tidak memenjarakanku di balik meja dan tumpukan buku. Ia justru mendorongku keluar untuk menjelajah, merasakan hujan di kulit, merasakan panas matahari di tengkuk, dan merasakan dinginnya angin malam di puncak bukit. Geografi adalah ilmu yang mengajakku untuk *hidup* di dalam dunianya, bukan hanya memikirkannya dari kejauhan.

Setiap kali aku berdiri di tepi pantai, menyaksikan ombak yang datang dan pergi, aku teringat pada teori arus laut dan pasang surut. Tapi lebih dari itu, aku merasakan sesuatu yang tak tertulis di buku, yaitu kebesaran dan kerendahan hati. Laut mengajarkanku bahwa ada kekuatan yang jauh lebih besar dari diriku, namun ia juga mengajarkanku bahwa setiap partikel pasir di pantai memiliki peran dalam ekosistem yang luas. Seperti itulah aku belajar, bahwa dalam skala besar, aku kecil; tetapi dalam skala kecil, aku adalah bagian dari sesuatu yang besar.

Alam juga mengajariku tentang keterhubungan. Tidak ada yang terisolasi di alam. Pohon, tanah, air, udara, dan makhluk hidup semuanya saling bergantung. Di kampus, aku mempelajarinya sebagai "ekosistem" atau "sistem lingkungan." Di alam, aku mengalaminya sebagai kenyataan yang tak terbantahkan. Ilmu geografi memberiku kerangka untuk memahami keterhubungan itu, dan alam memberiku pengalaman untuk merasakannya. Keduanya membentuk caraku melihat dunia sebagai kesatuan yang utuh, yang rapuh sekaligus tangguh.

Akhirnya, bagi mahasiswa geografi, alam adalah laboratorium yang tak pernah tutup. Ia selalu menerima kita dengan segala fenomenanya, menantang kita untuk terus bertanya, terus mengamati, dan terus belajar. Dan ketika kita kembali ke kampus dengan buku catatan penuh data, sketsa, dan pertanyaan pertanyaan baru, kita membawa serta sepotong pengalaman yang tak tergantikan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *