Oleh Fauzi Rohadiansyah
Natsir masuk dan berkiprah dalam panggung politik Indonesia. Hal tersebut didorong karena memang selain tokoh muda yang gemar mengkaji syari’at Islam, Natsir pun merupakan orang yang
gemar berdiskusi mengenai cita-cita perjuangan bersama para tokoh bangsa lainnya. Oleh karena seringnya waktu yang digunakan untuk aktif berhubungan dengan para tokoh Islam lain dalam menghadapi situasi politik yang tidak stabil menjelang dan setelah proklamasi kemerdekaan pada 17 Agustus 1945. Dari sini, Natsir pun terlibat dalam pelbagai proses usaha perjuangan mendukung dan mempertahankan kemerdekaan. Pokok perhatian Mohammad Natsir pada awal-awal perjuangan adalah pertumbuhan partai politik serta arah ideologi politik di awal pertumbuhan negara Indonesia. Menghadapi gejolak politik yang semakin memanas di kalangan para tokoh bangsa mendorong Natsir untuk berpikir mendalami permasalahan utama guna melerai perbedaan serta mencari solusi yang terbaik sebagai pemecahan masalah. Pertumbuhan ideologi Islam dalam dirinya membuat Natsir tidak pernah
sekalipun meninggalkan agama dalam pemikiran dan tindakannya. Terbukti dengan organisasi pergerakan yang diikutinya seperti Jong Islamic Bond atau kemudian partai politik yang
diusungnya seperti Masyumi. Keduanya menjadi wadah bagi Natsir untuk berekspresi dan bergerak mewujudkan cita-cita dan harapan bangsa yang sesuai dengan tuntunan syari’at.