oleh: Afifi Syakir
Dalam praktik politik sehari-hari K.H. Ahmad Dahlan, selalu menjalin hubungan bahkan menjadi bagian dari pihak-pihak yang memiliki pilihan beda tersebut. K.H Ahmad Dahlan menjalin kedekatan dengan tokoh-tokoh Budi Utomo seperti dr. Wahidin Soediro Hoesodo. Bahkan K.H. Ahmad Dahlan pernah menjadi Penasehat Boedi Oetomo. Begitu juga dengan tokoh-tokoh Sarekat Islam (SI) seperti, H.O.S Tjokro Aminoto. K.H Ahmad Dahlan juga pernah menjadi anggota dan Penasehat organisasi ini. Pada waktu Sarekat Islam (SI) mengadakan kongres di Cirebon tahun 1921, apabila di telusuri lebih lanjut, ternyata alasan berdirinya Muhammadiyah yang didirikan oleh K.H Ahmad Dahlan bukan sebagai wadah dakwah semata, melainkan juga sebagai perwujudan semangat juang seorang Ahmad Dahlan dalam memerangi kebodohan yang merajalela akibat datangnya pemerintah kolonial. Secara tersirat ini mengisyaratkan bahwa K.H Ahmad Dahlan membantu masyarakat Indonesia untuk sadar terhadap adanya penjajahan dan membentuk semangat juang menjemput kemerdekaan. Tentunya argumen diatas diperkuat oleh sebuah literatur yang berjudul Muhammadiyah dalam Dinamika Politik Indonesia 1966-2006 menyatakan bahwa adanya sebuah pertemuan antara Ahmad Dahlan dengan organisasi Boedi Oetomo yang kemudian Ahmad Dahlan diminta sebagai penasehat dalam masalah-masalah agama di Indonesia pada masa sebelum kemerdekaan. Contoh lebih jelas dari gerakan politik yang dilakukan oleh K.H Ahmad Dahlan dapat diliat pada upaya legalisasi Muhammadiyah atas pengakuan badan hukum oleh pemerintahan Hindia Belanda yang pada akhirnya Muhammadiyah mendapat pengesahan dari permohanannya, tepatnya tanggal 22 Agustus 1914 dan ditetapkan melalui peraturan Besluit No.81. Meski statusnya sebagai ormas keagamaan, Muhammadiyah justru lebih banyak bersinggungan dengan politik praktis.