Jl. Dr. Setiabudi No.276A, Kota Bandung 40143
UPI-FPIPS-Logo-blok
Mahasiswa Baru Pendidikan Sosiologi Memulai Perjalanan KKL Pertama ke Kampung Naga

Mahasiswa prodi pendidikan sosiologi angkatan 2025 Universitas Pendidikan Indonesia telah sukses melaksanakan kegiatan Kuliah Kerja Lapangan (KKL) tahap 1. KKL tahap 1  ini dilaksanakan pada Senin, 01 Desember 2025 yang bertepatan di Kampung Naga, Desa Neglasari, Kecamatan Salawu, Kabupaten Tasikmalaya, Jawa Barat. Kegiatan ini, yang diikuti oleh seluruh mahasiswa angkatan 2025 yang terdiri dari 108 orang beserta dosen pembimbing, Tujuan utama kegiatan ini adalah memberikan pengalaman belajar langsung (experiential learning) kepada mahasiswa dalam memahami struktur sosial, kearifan lokal, dan praktik konservasi budaya yang diterapkan oleh masyarakat adat, menjadikannya suatu pengalaman yang sangat berharga.

Selama di Kampung Naga, para mahasiswa menjalankan serangkaian kegiatan, mereka melakukan observasi partisipatif, wawancara, mengamati secara langsung rutinitas keseharian warga, mulai dari bercocok tanam hingga proses pengolahan makanan tradisional. Selain itu, mereka terlibat dalam diskusi budaya dengan sesepuh adat untuk mendalami filosofi tata ruang dan sistem larangan-pantangan (pamali) yang menjadi pondasi harmoni hidup masyarakat.

Kegiatan ini diawali dengan sambutan dari Ibu Wilodati, M.Si selaku ketua prodi pendidikan sosiologi dan dosen pembimbing. Ibu Wilodati menjelaskan relevansi kegiatan ini. "Kegiatan ini adalah wujud nyata integrasi mata kuliah di pendidikan Sosiologi. Kami ingin mahasiswa tidak hanya terpaku pada teori di kelas, melainkan dapat menganalisis struktur dan perubahan sosial secara langsung di lapangan. Kampung Naga menjadi salah satu contoh  sosial terbaik untuk memahami konservasi budaya," paparnya.

Lalu dilanjutkan dengan sambutan dari Pak kuncen selaku ketua adat, menyambut baik kunjungan ini dan menyampaikan pesan mendalam.

"Adat mah ngeunaan karuhun, Budaya mah boga bangsa. Jadi kudu salawasna dilestarikeun, tuluy ulah hirup gaya tapi kudu gaya hirup.” ucapnya.

Lalu tentu saja terdapat testimoni dari mahasiswa, bahwa “Hal yang membuat saya terkesan adalah perhatian mereka terhadap tata ruang dan nilai sosial. Rumah-rumah di kampung tersebut ditata dengan memperhatikan prinsip silaturahmi, misalnya pintu-pintu rumah yang saling berhadapan untuk memudahkan interaksi antarwarga. Kearifan lokal lain yang menarik ialah keberadaan hutan larangan, letak toilet yang dibuat jauh dari rumah untuk menjaga kebersihan, serta penataan lingkungan yang membuat area pemukiman tetap nyaman”.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *