Apa itu Geography Discussion Forum (GDF)?
Geography Discussion Forum (GDF) merupakan rangkaian kegiatan yang dirancang untuk memperkuat kemampuan analitis, retorika akademik, serta kepekaan sosial mahasiswa Pendidikan Geografi FPIPS UPI. Forum ini hadir sebagai ruang dialog yang sistematis untuk membahas isu-isu strategis yang berkaitan dengan pendidikan, organisasi, kebijakan publik, dan realitas sosial. Selama tahun 2025, tiga forum diselenggarakan dengan karakter dan metode diskusi yang berbeda sehingga memperkaya pengalaman intelektual mahasiswa. GDF tidak sekadar berfungsi sebagai agenda seremonial, tetapi sebagai wadah pembelajaran yang membangun kultur akademik kritis dan reflektif. Kehadiran GDF menjadi penting karena ia menegaskan peran mahasiswa sebagai agen perubahan yang harus memahami masalah bangsa secara berlapis dan terstruktur.
GDF I yang dilaksanakan pada 30 Juli 2025 dibuka secara resmi dengan sambutan oleh Ketua Program Studi Pendidikan Geografi, Dr. Iwan Setiawan, M.Si. Pada kesempatan tersebut, beliau menekankan pentingnya menghidupkan kembali tradisi berdiskusi di lingkungan kampus sebagai bagian dari proses pendidikan yang holistik. Menurutnya, diskusi bukan hanya sarana bertukar pendapat, tetapi merupakan fondasi terbentuknya pemikiran kritis dan karakter akademik mahasiswa. Beliau menegaskan bahwa keberhasilan organisasi dan kegiatan ilmiah sangat bergantung pada keterlibatan mahasiswa dalam dialog yang jujur dan terbuka.

Sambutan tersebut juga menyoroti bahwa diskusi yang ideal tidak boleh berhenti sebagai acara simbolik yang berlangsung sesekali, tetapi harus menjadi budaya intelektual yang hidup dan berkelanjutan. Dr. Iwan menyampaikan bahwa mahasiswa perlu memiliki ruang yang aman dan luas untuk bertukar pikiran secara utuh agar mampu merumuskan langkah-langkah terbaik dalam kegiatan organisasi dan perkuliahan. Beliau mendorong peserta agar menjadikan forum seperti GDF sebagai wadah mengembangkan gagasan yang relevan bagi kemajuan program studi. Bagian ini dapat dipisahkan secara visual untuk penyisipan foto dokumentasi sambutan.

Dalam pemaparannya, Ihsan menjelaskan bahwa politik adalah bagian alami dari setiap organisasi karena di dalamnya terdapat proses negosiasi, pengambilan keputusan, dan pengelolaan kepentingan. Namun ia menekankan bahwa politik kehilangan makna ketika dijadikan alat dominasi untuk kepentingan segelintir orang. Materi yang ditampilkan menunjukkan fenomena nyata seperti keputusan sepihak, konflik internal, hingga intervensi pihak luar yang kerap terjadi di organisasi mahasiswa. Situasi tersebut memperlihatkan lemahnya etika organisasi apabila nilai-nilai moral tidak dipegang teguh. Ihsan mengajak mahasiswa meninjau kembali bagaimana organisasi seharusnya dikelola dengan integritas.

Pembahasan kemudian mengarah pada urgensi etika politik sebagai pilar utama dalam kepemimpinan mahasiswa. Etika disebut sebagai fondasi untuk menjaga agar organisasi tidak berubah menjadi ruang kompetisi kekuasaan. Tanpa etika, struktur organisasi hanya menjadi wadah formalitas yang kehilangan arah kolektif. Ihsan menegaskan bahwa keputusan penting dalam organisasi harus diambil melalui dialog, bukan berdasarkan ego jabatan. Hal ini penting untuk memastikan organisasi tetap demokratis dan memberi ruang bagi seluruh anggota.
Dalam konteks kepemimpinan, Ihsan menunjukkan bahwa pemimpin bukan sekadar pemegang jabatan, tetapi penjaga moral kolektif. Seorang pemimpin harus mampu menjadi pengarah, pendengar, dan fasilitator, bukan sekadar pemberi instruksi. Pola kepemimpinan yang berorientasi pada kekuasaan akan menimbulkan ketakutan dan menumpulkan kreativitas anggota organisasi. Oleh karena itu, kepemimpinan yang sehat harus mengutamakan transparansi, dialog, serta komitmen melayani. Mahasiswa diajak memahami bahwa kepemimpinan adalah amanah yang mengandung tanggung jawab, bukan kehormatan yang perlu dipertahankan.
GDF I ditutup dengan refleksi mengenai organisasi sebagai ruang pendidikan demokrasi. Mahasiswa diajak melihat bahwa organisasi adalah tempat belajar menyampaikan pendapat, menerima kritik, dan berdialog secara sehat. Tanpa ruang diskusi yang terbuka, demokrasi internal organisasi akan stagnan dan kehilangan makna. Forum ini mengajak peserta menilai apakah organisasi mereka masih berdiri di atas nilai kebenaran atau sudah bergeser menjadi arena perebutan pengaruh. Dengan penyadaran ini, mahasiswa diharapkan mampu membangun organisasi yang lebih berintegritas.



GDF II yang berlangsung pada 4 September 2025 menghadirkan pendekatan berbeda dengan menjadikan forum debat sebagai metode penguatan logika dan retorika. Mahasiswa baru Pendidikan Geografi 2025 menjadi peserta utama dan diperkenalkan pada modifikasi sistem debat Parliamentary Asia yang disesuaikan dengan kebutuhan pembelajaran awal. Sistem debat ini dipilih karena mampu melatih argumentasi cepat, kerja sama tim, dan penalaran yang terstruktur. Debat dipimpin oleh Rizqi Kajayaan Tri Putra, Ketua MPM REMA UPI, yang memberikan penilaian sekaligus penguatan bagi peserta. Forum ini menjadi langkah awal untuk memperkenalkan kultur akademik kritis kepada mahasiswa baru.

menghasilkan bagan kompetisi yang objektif. Mosi mencakup isu-isu seperti energi nuklir, pariwisata Bali, zonasi sekolah, perubahan kurikulum, ekspor biomassa, hingga wacana penghapusan ujian nasional. Mosi tersebut dipilih agar mahasiswa memahami isu pendidikan dan geografi dari berbagai sisi, baik sosial, ekologis, maupun kebijakan. Mahasiswa dituntut menyusun argumentasi berbasis data dan disampaikan secara logis. Forum ini sekaligus membentuk keberanian tampil dan kemampuan komunikasi yang efektif.
Pelaksanaan GDF II berlangsung dinamis dan kompetitif. Setiap kelompok menunjukkan usaha maksimal dalam mengolah isu menjadi argumentasi yang dapat dipertanggungjawabkan. Moderator memberikan evaluasi langsung terkait logika, struktur argumen, dan performa retorika masing-masing tim sehingga proses pembelajaran berlangsung secara komprehensif. Mahasiswa belajar tidak hanya bagaimana menyampaikan argumen, tetapi juga bagaimana mendengarkan dan menanggapi argumen lawan secara etis. Hal ini membuat forum debat bukan hanya kompetisi, tetapi ruang latihan intelektual yang menyenangkan.
Hasil GDF II menunjukkan kualitas argumentasi yang matang dari mahasiswa baru. Bingkel 3 muncul sebagai juara pertama dengan nilai 90 berkat konsistensi dalam menyampaikan argumen yang sistematis. Bingkel 6 menyusul sebagai juara kedua dengan nilai 89 melalui kekuatan retorika dan kerja sama yang baik. Bingkel 2 meraih posisi ketiga dengan nilai 85 pada babak semifinal, dan Bingkel 4 menempati posisi keempat dengan nilai 83. Hasil ini menandakan tingginya potensi akademik mahasiswa baru dalam menguasai isu publik melalui debat.

GDF III menghadirkan pembahasan yang lebih humanis dan mendalam terkait kesenjangan pendidikan di Indonesia. Forum ini dipantik oleh Alwi Johan Yogatama atau Alwijo, kreator konten literasi dan sejarah yang dikenal luas melalui media sosial. Dengan latar pendidikan Ilmu Komunikasi Unpad dan pengalaman sosial yang kuat, ia menyampaikan perspektif reflektif mengenai ketimpangan akses pendidikan. Salah satu kisah yang dibawanya adalah perjalanan menuju Alor, NTT, untuk membangun Rumah Belajar Melang melalui metode nebeng. Kisah ini menunjukkan bahwa literasi tidak hanya berbentuk konten digital, tetapi aksi nyata yang menyentuh masyarakat.

Alwi memaparkan bahwa kesenjangan pendidikan tidak dapat dipahami hanya sebagai statistik, tetapi sebagai realitas hidup yang dialami jutaan anak Indonesia. Ia menyoroti ketimpangan antara daerah Jawa yang memiliki fasilitas lengkap dan daerah timur yang masih kekurangan sekolah layak, guru berkualitas, serta buku bacaan. Meskipun fasilitas terbatas, semangat belajar anak-anak di daerah terpencil justru sangat tinggi. Ketimpangan distribusi guru berkualitas semakin memperlebar jurang tersebut. Pandangan ini mempertegas bahwa pemerataan pendidikan belum menjadi kenyataan.
Alwi juga menantang mitos mengenai rendahnya minat baca masyarakat Indonesia. Ia menyampaikan bahwa yang rendah bukan minat baca, tetapi ketersediaan akses terhadap buku itu sendiri. Di banyak daerah, perpustakaan tidak tersedia, toko buku tidak ada, dan akses internet sangat terbatas. Kondisi tersebut membuat literasi sulit berkembang meskipun masyarakat memiliki kemauan untuk belajar. Ia menegaskan bahwa membangun literasi harus diawali dengan membangun infrastruktur penunjang. Dengan demikian, kesalahan tidak boleh dibebankan kepada masyarakat semata.
Mahasiswa diajak melihat bahwa perubahan sosial tidak lahir dari keluhan, tetapi dari tindakan, meskipun kecil. Alwi menekankan bahwa mahasiswa tidak boleh hanya bergantung pada pemerintah untuk melakukan perubahan. Ia mengatakan bahwa identitas seperti mahasiswa kupu-kupu, mahasiswa ambis, atau mahasiswa organisasi tidak menentukan kualitas seseorang. Yang terpenting adalah menjadi mahasiswa yang berdampak bagi masyarakat melalui tindakan nyata. Pesan ini menjadi dorongan moral yang kuat bagi mahasiswa untuk bergerak.

Keseluruhan rangkaian GDF I, II, dan III memperlihatkan bahwa forum diskusi mampu membangun kemampuan kritis mahasiswa secara signifikan. Mahasiswa dilatih memahami isu politik kampus, debat publik, hingga kesenjangan pendidikan melalui pendekatan yang berbeda. Setiap forum memiliki nilai pembelajaran tersendiri yang saling menguatkan. Proses ini membantu mahasiswa membaca realitas sosial secara lebih mendalam dan terstruktur. Dengan demikian, GDF menjadi wadah yang efektif untuk mematangkan kompetensi akademik dan kepemimpinan.
Forum ini juga menjadi ruang refleksi mengenai budaya diskusi dalam kehidupan kampus dan masyarakat Indonesia. Pertanyaan penting muncul: apakah organisasi kampus sudah mempraktikkan nilai-nilai Pancasila melalui dialog yang setara dan jujur. Apakah mahasiswa masih memiliki keberanian untuk mempertahankan tradisi diskusi sebagai ruang mencari kebenaran. Dalam konteks ini, kutipan klasik kembali relevan: “Orang yang paling buta adalah orang yang buta politik. Ia tidak mendengar, tidak berbicara, dan tidak ikut serta dalam peristiwa-peristiwa politik. Ia tidak tahu bahwa biaya hidup, harga kacang, harga ikan, harga tepung, harga sewa, sepatu, dan obat-obatan semuanya tergantung pada keputusan politik.” Refleksi ini mengajak mahasiswa untuk menumbuhkan kesadaran kritis dan memelihara budaya diskusi yang sehat.
Ditulis oleh:
Fazrul Ramadhanni (2406956)
Syalwa Ramadianti (2407430)