Bandung, 6 Desember 2025 — Himpunan Mahasiswa Civics Hukum (HMCH) Universitas Pendidikan Indonesia menyelenggarakan Civic Sphere 2025 di Auditorium Lantai 3 Gedung DPPM UPI dengan mengusung tema “Lensa Berbeda, Dunia yang Sama: Membingkai Ulang Makna Kewargaan.” Kegiatan ini menarik perhatian mahasiswa dan masyarakat umum yang antusias mengikuti seluruh rangkaian acara yang menyoroti pentingnya kewargaan inklusif bagi semua, termasuk penyandang disabilitas.
Acara menghadirkan dua pemateri utama, Dr. Agil Nanggala, M.Pd. dan Drh. Petrus Polus Jadu, yang memberikan ulasan komprehensif mengenai perspektif anak berkebutuhan khusus (ABK) serta urgensi menumbuhkan Civic Responsibility dalam menghormati dan melindungi Hak Asasi Manusia penyandang disabilitas. Pemaparan keduanya membawa peserta pada pemahaman baru bahwa konsep kewargaan perlu dibingkai ulang agar mampu merangkul keberagaman kemampuan setiap individu, sehingga tercipta ruang kehidupan sosial yang setara dan saling menghargai.

Rangkaian acara semakin hidup dengan penampilan seni yang menggugah emosi. Imaji & Imagi Live Drawing menyajikan ilustrasi visual yang menggambarkan perjalanan inklusivitas dalam kehidupan sehari-hari, sementara Sri Sartika membacakan puisi bertema hak disabilitas yang menghadirkan suasana reflektif. Puncak kegiatan ditutup oleh penampilan teater mahasiswa angkatan 2025 PPKn yang menghadirkan kisah menyentuh tentang perjuangan dan penerimaan, diakhiri dengan lantunan Laskar Pelangi yang membuat suasana auditorium hening dalam keharuan.
Kegiatan Civic Sphere berlangsung hangat dan sarat makna, memberikan wawasan baru bagi peserta mengenai pentingnya empati, toleransi, dan penghargaan terhadap keberagaman. Para peserta terlihat larut dalam suasana pembelajaran dan refleksi, menyadari bahwa keberagaman kemampuan merupakan bagian dari realitas sosial yang perlu diperlakukan secara adil dan manusiawi.
Melalui Civic Sphere 2025, mahasiswa diharapkan semakin memahami peran strategis mereka sebagai agen perubahan dalam menghapus stigma negatif terhadap penyandang disabilitas dan mendorong terciptanya lingkungan kampus maupun masyarakat yang ramah inklusi. Kegiatan ini menjadi momentum penting untuk memperkuat nilai kebangsaan dalam bingkai persatuan yang lebih inklusif, menjadikan kewargaan sebagai ruang yang merangkul setiap individu tanpa kecuali.
