Penulis: Indah Khairunisa (SaIG, 2410322)
Penyunting: Tio Noviar
Bandung, 14 Oktober 2025, Angin Oktober berhembus membawa hawa yang berbeda di kampus UPI Bumi Siliwangi. Di tengah rona jingga yang mulai menyapa dedaunan, ada sekelompok mahasiswa yang bersiap mengakhiri satu perjalanan penting dalam hidup mereka. Wisuda Oktober sebuah ritmus yang unik dalam simfoni akademik, di mana kelulusan hadir bukan di puncak musim kemarau, namun justru di kala alam perlahan bersiap untuk meranggas.
Bila wisuda biasa sering identik dengan terik matahari dan langit biru yang terang, wisuda Oktober justru datang dengan nuansa yang lebih kontemplatif. Ini adalah kisah mereka yang mungkin menyelesaikan penelitian di akhir semester, mereka yang perjalanan akademisnya berliku, atau mereka yang melewati malam-malam panjang revisi.

Wisuda Oktober tahun ini, kami sepakat memilih tema Gothic. Bukan tanpa alasan kami ingin menyampaikan banyak makna yang bisa terikat, Mereka berjalan melewati pintu gerbang kampus untuk terakhir kali, bukan menuju cahaya matahari yang terik, tetapi menuju senja yang abadi wilayah di mana mereka harus menjadi sumber cahaya mereka sendiri. Koordinat telah ditinggalkan, horizon menanti. Dan dalam jiwa gothic, justru dalam ketidakpastian itulah kebebasan sejati dan penemuan diri yang paling autentik dapat terjadi.
Wisuda Oktober ini sangat gemuruh bahkan dibawah terik matahari yang bersinar itu, semangat menggelora dari para adik-adik mahasiswa yang bangga dan riang gembira untuk menyambut para akang-teteh yang sedang berwisuda. Perasaan sedih, riang gembira disini perasaan terasa tercampur aduk, disisi lain kami bangga dan turut bersuka cita atas kelulusan dari para Mahasiswa Sains Informasi Geografi yang berwisuda saat itu, tapi kami juga cukup sedih terharu bahwasanya kami mungkin akan jarang lagi melihat para pejuang hebat itu di Lorong kampus dan tegur sapa akan berkurang karena mereka akan berlayar pada samudera sesungguhnya.
Sejak pagi bahkan sang surya pun masih gelap, rekan-rekan panitia sudah sibuk menyiapkan arak-arakan dari Gymnasium ke University Cente, ini sudah menjadi tradisi budaya yang melekat di SaIG. Wajah-wajah dihiasi face painting, baju bertema Gothic dengan nuansa gelap seperti, hitam dan merah tua, memegang property dan Giant Flag kebanggaan HIMA SaIG yang begitu besar, semua dilakukan dengan semangat dan bersukacita. Semua saling bekerjasama untuk memeriahkan dan merayakan Wisuda Oktober ini dengan bangga.
Sepanjang perjalanan, kami menyanyikan chants SaIG dengan suara lantang. Itu bukan sekadar lagu, itu adalah teriakan serta gemuruh kebanggaan. Saya melihat beberapa akang dan teteh wisudawan menahan haru dengan mata yang berbinar saat menerima bunga dari adik-adik tingkatnya. Di titik itu, saya sadar kami berhasil menyampaikan rasa hormat dan cinta kami dengan cara kami sendiri.


Ada banyak dinamika menguras tenaga dan waktu dari saya dan rekan- rekan panitia selama persiapan, dari urusan teknis hingga koordinasi tim. Tapi semua itu terbayar lunas ketika saya melihat wajah-wajah bangga dan bahagia dari para akang teteh wisudawan dan melihat wajah bangga juga dan riang gembira angkatan 2025 dimana kali pertamanya menyambut sang penjelajah bumi untuk berlayar ke kapal yang lebih besar lagi. Tidak ada yang lebih memuaskan daripada melihat mereka tersenyum dan berbangga di tengah keramaian yang ada, merasakan bahwa mereka benar-benar dihargai, bukan hanya sebagai lulusan, tapi sebagai bagian dari keluarga besar SaIG dengan berbagai budaya yang ada didalamnya, kebersamaan dijunjung tinggi dan sangat terasa pada saat Wisuda Oktober ini.


Gaun toga yang hitam, bukan hanya seragam, a adalah jubah simbolik. Warna yang menyerap semua cahaya, tanda bahwa mereka telah siap menyerap segala kompleksitas dunia. Tassel yang berayun seperti pendulum, mengingatkan bahwa waktu terus bergerak, dan mereka sekarang harus mengukurnya dengan irama mereka sendiri.
Ingatlah bahwa gelar S.Geo yang anda sandang sama mulianya, perjuangan yang anda lalui sama bermartabatnya. Dunia mungkin bergerak dalam irama yang sudah ditentukan, namun anda telah membuktikan bahwa ada keberanian dalam mengikuti denyut nadi sendiri.
Selamat atas perjalanan yang telah diselesaikan dan petualangan yang akan dimulai. Biarlah angin Oktober yang menemani hari kelulusan Anda menjadi simbol perubahan, lembut namun pasti, membawa serta harapan dan kemungkinan yang tak terbatas.

Saya ingin mengucapkan terima kasih sebesar-besarnya kepada seluruh panitia, semua yang terlibat, disaat keadaan akademis dan himpunan sedang sibuk-sibuknya, tetapi kalian sangat berusaha dan mengusahakan kesuksesan acara ini, untuk memberikan kesan dan makna yang berarti untuk akang teteh wisudawan agar mereka menyadari bahwa kami sebagai adik adiknya sangat bangga dan merayakan keberhasilan mereka menjalani perjalanan berharga ini di SaIG kita selalu bersama dan saling mengandalkan bahwa dunia perkuliahan harus menjadi tempat ternyaman untuk menuntut ilmu, semoga kesan dan makna yang sudah kami usahakan ini tersampaikan dengan baik.

Akhir kata dari saya Indah Khairunisa Mahasiswi Sains Informasi Geograffi angkatan 2024 dengan bangga ingin menyampaikan, Kita berangkat bukan dengan kepastian, tetapi dengan keberanian. Bukan dengan jawaban, tetapi dengan pertanyaan yang lebih dalam. Bukan dengan cahaya terang, tetapi dengan lentera yang kita kawal sendiri dalam gelap. Wisuda ini bukan akhir dari pencarian, melainkan awal dari sebuah pengembaraan yang sebenarnya: ketika peta yang diberikan dunia mulai usang, dan kita harus meraba bintang-bintang di langit yang asing untuk menciptakan navigasi kita sendiri.
Selamat berjalan, para pejalan horizon.
Dari koordinat yang pasti, menuju ketidakterbatasan yang abadi.
Perjalanan sesungguhnya, baru dimulai.
