Penulis: Keisha Faza Arinda (SaIG, 2204135), Faraj Rizqi Adhytia (SaIG, 2204388)
Penyunting: Tio Noviar
Pelaksanaan program magang di Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) secara resmi berakhir pada 5 Desember 2025. Sepanjang kegiatan tersebut, mahasiswa memperoleh penugasan yang beragam dan kontekstual, disesuaikan dengan fungsi serta tugas masing-masing tim kerja. Dalam Tim Kerja Gunung Api, mahasiswa berperan aktif dalam proses digitalisasi peta geologi gunung api. Kegiatan ini diarahkan untuk mentransformasikan peta analog ke dalam format digital berbasis Sistem Informasi Geografis (SIG), sehingga menghasilkan data spasial yang memiliki tingkat ketelitian lebih tinggi, mudah diperbarui secara berkelanjutan, serta siap diintegrasikan dengan berbagai basis data tematik lain dalam kerangka Kebijakan Satu Peta.
Dalam proses pengerjaan digitalisasi, kami menemukan hal yang menarik: ada banyak peta geologi yang belum memiliki informasi yang lengkap. Di sejumlah peta geologi wilayah kajian gunung api, data seperti umur batuan, sejarah letusan, atau proses pembentukan endapan ternyata tidak tercantum. Berbagai faktor seperti keterbatasan data dasar dan medan yang sulit, kesalahan teknis dalam input data, hingga kurangnya tenaga kerja saling mempengaruhi dan menyebabkan ketidaklengkapan pada hasil peta geologi. Terutama pada peta-peta yang belum diterbitkan, seringkali tidak tertera data apapun yang dapat memberikan informasi lebih lengkap. Belum lagi tahun pembuatan peta-peta tersebut yang cenderung dilakukan pada tahun 1990 an hingga 2000 awal, sehingga peta geologi yang ada masih berupa peta analog.

Untuk mengatasi masalah tersebut, kami melakukan kunjungan ke perpustakaan Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi dengan harapan dapat ditemukan informasi yang dapat melengkapi data yang telah ada. Laporan geologi terarsip dengan baik di perpustakaan, sehingga memudahkan proses pengerjaan kami. Data-data yang awalnya tersebar dan berantakan akhirnya dapat dikombinasikan menjadi peta geologi dalam bentuk digital sesuai dengan format Kebijakan Satu Peta.
Arahan serta saran dari pembimbing kegiatan magang sangat membantu dalam kegiatan ini. Akibat instruksi yang sangat memadai dari pembimbing, kami belajar mengenai banyak hal terkait proses digitalisasi dan pemilahan informasi geospasial, terutama informasi berupa data yang perlu interpretasi detail. Pengalaman yang kami dapatkan selama kegiatan magang berlangsung sangat bermanfaat untuk meningkatkan kinerja kami sebagai mahasiswa.

Melalui program magang ini, kami sebagai mahasiswa tidak hanya mempelajari konsep digitalisasi peta, tetapi langsung berhadapan dengan data asli berupa laporan geologi hasil survei yang telah dilakukan. Melalui program ini kami semakin memahami bahwa data geologi tidak selalu ideal: data yang ada sering kali tidak lengkap, memiliki standar yang berbeda, bahkan ambigu. Hal ini mendorong kami untuk selalu menganalisis data yang ada secara objektif dan kritis.
