Oleh Rachel Vio Pramita – 2026
Bandung, 2026 – Salah satu mahasiswa Survei Pemetaan dan Informasi Geografis bernama Rachel Vio Pramita angkatan 2023, mendapatkan kesempatan untuk berpartisipasi dalam kegiatan pemetaan Map My Day: Open Doors Bandung. Rangkaian kegiatan ini diawali dengan sesi pembekalan teknis (briefing) pada 18 Januari 2026, dan dilanjutkan dengan pelaksanaan lapangan pada Minggu, 25 Januari 2026. Kegiatan ini diinisiasi oleh Tune Map Indonesia, sebuah komunitas yang peduli terhadap hak mobilitas penyandang tuna netra di Indonesia.
Penyelenggaraan kegiatan ini mendapat dukungan penuh dari United States Department of State’s Bureau of Educational and Cultural Affairs (ECA) dan Young Southeast Asian Leaders Initiative (YSEALI). Dukungan dari lembaga internasional ini menegaskan pentingnya isu inklusivitas dalam pembangunan tata kota yang berkelanjutan.
Map My Day bertujuan untuk memetakan jalur dan fasilitas publik guna mendorong terwujudnya kota yang lebih inklusif. Berbeda dengan tahun sebelumnya, tema 'Open Doors' kali ini menyoroti kolaborasi dengan sektor UMKM, seperti restoran dan kafe. Fokus utamanya adalah mengaudit aksesibilitas tempat usaha, meningkatkan kesadaran (awareness) terkait fasilitas ramah disabilitas, serta mengajak pelaku usaha bersama-sama membangun Bandung yang lebih inklusif.

Dalam pelaksanaannya, kegiatan ini melibatkan lebih dari 100 peserta yang dibagi ke dalam lima kelompok besar untuk menelusuri rute berbeda dengan titik akhir di Museum Kota Bandung. Setiap kelompok terdiri dari relawan dan penyandang disabilitas netra yang berjalan bersama menyusuri jalur pedestrian serta mengunjungi lokasi UMKM yang menjadi sasaran audit. Kelompok ini memiliki komposisi peran yang beragam, mulai dari Lead Navigator, Guide Netra, hingga fasilitator. Dalam kesempatan ini, penulis memegang peran sebagai Accessibility Hero yang bertanggung jawab untuk mengisi formulir audit aksesibilitas (accessibility audit form) di lokasi-lokasi yang telah ditentukan.

Didampingi oleh fasilitator, penulis melakukan observasi mendalam terhadap kondisi fisik jalur pedestrian yang dilalui, seperti ketersediaan guiding block, bidang miring (ramp), serta hambatan yang berpotensi mengganggu mobilitas penyandang disabilitas netra. Tak hanya di jalan, audit juga dilakukan terhadap fasilitas gedung dan kafe menggunakan formulir khusus. Penilaian mencakup aspek akses pintu masuk, tata letak ruang dalam, ketersediaan signage, kondisi toilet, hingga keramahan pelayanan staf. Selain mencatat data, penulis juga bertugas mendokumentasikan temuan-temuan tersebut melalui foto dan video untuk memastikan validitas data lapangan. Proses ini dilakukan secara kolaboratif melalui observasi lapangan dan diskusi bersama penyandang disabilitas netra untuk memastikan bahwa data yang dikumpulkan merepresentasikan kondisi aksesibilitas secara nyata.
Kualitas Jalur Ramah Disabilitas Masih Jauh dari Standar Keamanan
Berdasarkan hasil observasi lapangan, penulis menemukan kondisi ubin pemandu (guiding block) yang mengalami kerusakan fisik parah, seperti pecah dan terlepas dari permukaan trotoar. Kerusakan material ini menyebabkan gangguan fatal bagi fungsi navigasi. Bagi penyandang disabilitas netra yang mengandalkan jalur ini sebagai pemandu, kondisi tersebut dapat mengaburkan interpretasi arah, bahkan berpotensi menyebabkan kecelakaan.
Temuan ironis lainnya adalah adanya vegetasi atau pohon yang berada tepat di tengah lintasan guiding block. Hambatan ini memutus kontinuitas jalur, memaksa penyandang disabilitas netra keluar dari zona aman dan mengambil risiko berjalan di area yang tidak terpandu. Selain itu, pada beberapa segmen rute, ditemukan ketiadaan trotoar dan guiding block sama sekali. Kondisi infrastruktur yang tidak memadai ini sangat membahayakan keselamatan penyandang disabilitas netra.
Saran Untuk Pelaku Usaha Demi Membangun Kota yang Inklunsif
Berdasarkan temuan audit aksesibilitas yang telah dilakukan penulis pada sejumlah mitra UMKM, tantangan utama yang masih dihadapi adalah minimnya infrastruktur fisik dan non-fisik yang menunjang kemandirian penyandang disabilitas. Secara spesifik, penulis mencatat masih banyaknya tempat usaha yang belum menyediakan akses bidang miring (ramp), baik permanen maupun portabel. Ketiadaan fasilitas ini secara otomatis menutup akses bagi pengguna kursi roda untuk dapat memasuki tempat usaha.
Selain hambatan fisik, kendala aksesibilitas informasi juga menjadi sorotan utama. Banyak pelaku usaha belum memiliki menu digital yang aksesibel bagi penyandang disabilitas netra. Menu yang tersedia umumnya masih berupa buku fisik atau format gambar digital (JPG/PNG) yang tidak dapat dibaca oleh fitur pembaca layar (screen reader) di ponsel pintar.
Oleh karena itu, penulis sangat menyarankan para pelaku usaha untuk mulai melakukan pembenahan bertahap. Solusi inklusif tidak selalu harus mahal, contohnya penyediaan ramp portabel yang bisa dipasang-lepas serta pembuatan menu digital berbasis teks yang bisa dibaca oleh mesin pembaca layar adalah langkah awal yang sangat krusial. Dengan membuka akses ini, pelaku usaha sejatinya tidak hanya menjalankan tanggung jawab sosial, tetapi juga memperluas jangkauan pasar ke segmen pelanggan yang lebih beragam.
Penerapan Geospasial Dalam Pemetaan Aksesibilitas Disabilitas
Penerapan ilmu geospasial dalam kegiatan ini diwujudkan melalui metode survei lapangan yang sistematis. Penulis menyusuri setiap segmen ruas jalan di sepanjang rute pemetaan untuk melakukan assessment terhadap hambatan (obstacles) yang berpotensi membahayakan keselamatan penyandang disabilitas, serta mendokumentasikan setiap temuan tersebut secara visual. Tidak hanya terbatas pada infrastruktur jalan, proses audit aksesibilitas juga dilakukan secara mendalam pada sejumlah unit usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) seperti kafe dan restoran. Seluruh data yang terkumpul nantinya akan dikelola oleh tim Tune Map sebagai basis data aksesibilitas kota.
Menarik untuk diketahui, komunitas Tune Map sejatinya telah memiliki platform aplikasi seluler partisipatif untuk memetakan aksesibilitas di Kota Bandung. Aplikasi tersebut dirancang inklusif dengan fitur yang memungkinkan para sukarelawan kota bisa memetakan jalur aksesibilitas dan melaporkan setiap kondisi tidak normal pada jalur aksesibilitas yang memungkinkan kecelakaan pada tuna netra yang berjalan di trotoar. Titik-titik yang dilaporkan dan juga jalur trotoar yang sudah dipetakan kemudian menjadi basis data untuk memandu tuna netra yang berjalan di kota. Namun, dikarenakan saat ini aplikasi tersebut masih dalam tahap pengembangan dan pemeliharaan sistem, metode akuisisi data pada kegiatan kali ini dialihkan menggunakan pendekatan konvensional.
Meskipun dilakukan secara manual menggunakan formulir kertas dan dokumentasi foto via smartphone yang kemudian disalin ke formulir digital, esensi dari kegiatan ini tidak berkurang. Justru di sinilah peran mahasiswa SPIG menjadi sangat vital. Sudah sepatutnya kita menggunakan kompetensi survei dan pemetaan yang kita miliki untuk membantu mengakuisisi data ini, memastikan setiap jengkal ruang kota terpetakan demi mewujudkan aksesibilitas yang setara bagi semua.






