Jl. Dr. Setiabudi No.276A, Kota Bandung 40143
UPI-FPIPS-Logo-blok
Analisis Kesiapan Guru PAI terhadap Adopsi Artificial Intelligence dalam Pembelajaran Al-Qur’an: Tinjauan Technology Readiness Index (TRI)

Program Studi Ilmu Pengetahuan Agama Islam (IPAI) Universitas Pendidikan Indonesia kembali menorehkan kontribusi ilmiah melalui riset kolaboratif yang dilakukan oleh Muhammad Zulfikar, Udin Supriadi, dan Cucu Surahman mengenai kesiapan guru PAI dalam mengadopsi Artificial Intelligence (AI) pada pembelajaran Al-Qur'an. Menggunakan pendekatan kualitatif fenomenologis dengan kerangka Technology Readiness Index (TRI), studi ini melibatkan lima guru PAI lintas generasi (Gen-X dan Gen-Z) untuk memetakan dimensi optimisme, inovasi, ketidaknyamanan, dan ketidakamanan dalam penggunaan teknologi cerdas. Penelitian ini menjadi krusial di tengah akselerasi transformasi digital global yang menuntut institusi pendidikan agama untuk menyeimbangkan efisiensi teknologi dengan otoritas teologis.

Profil "Siap secara Teknis, Berhati-hati secara Spiritual"

Temuan utama penelitian ini mengungkap fenomena paradoksal di mana para pendidik agama menunjukkan profil yang "Siap secara Teknis, namun Berhati-hati secara Spiritual". Seluruh partisipan mengakui utilitas praktis AI, terutama dalam mengefisiensikan tugas-tugas administratif dan rekapitulasi data hafalan siswa. Menariknya, riset ini meruntuhkan stereotip "gaptek" (gagap teknologi) yang sering disematkan pada guru agama; guru-guru muda (Gen-Z) menunjukkan efikasi diri yang tinggi dan memandang AI sebagai "senjata mengajar" yang esensial. Namun, efisiensi ini diposisikan secara tegas hanya pada level instrumental, bukan substitusi peran guru.

Tantangan Teologis: Supremasi Sanad vs Algoritma

Hambatan paling signifikan dalam adopsi AI bukanlah ketidakmampuan teknis, melainkan proteksi teologis terhadap integritas ajaran Islam. Terdapat kekhawatiran universal mengenai hilangnya dimensi sanad (rantai transmisi keilmuan) dan metode talaqqi (tatap muka) yang telah terjaga selama empat belas abad. Guru menyatakan ketidakamanan (insecurity) yang tinggi terhadap validitas konten agama yang dihasilkan algoritma "kotak hitam" yang berisiko mengalami halusinasi informasi atau bias. Secara teoretis, sikap ini merupakan manifestasi kontemporer dari prinsip ihtiyat (kehati-hatian) untuk menjaga kemurnian wahyu dari potensi misinformasi digital.

Strategi Adopsi dan Rekomendasi Kebijakan

Sebagai solusi, riset ini menyarankan pergeseran paradigma dalam pelatihan guru, dari sekadar keterampilan operasional menuju penguatan literasi etis dan verifikasi konten. Peneliti merekomendasikan pengembangan panduan etika adopsi AI yang mengintegrasikan kecerdasan buatan sebagai asisten instruksional tanpa mengabaikan otoritas guru sebagai validator keilmuan. Dengan memposisikan AI di bawah supervisi hierarki keilmuan Islam, teknologi ini dapat dimanfaatkan untuk mendukung efisiensi pembelajaran tanpa mengorbankan sakralitas pendidikan agama.

Komitmen Terhadap SDGs 4

Riset ini merupakan wujud nyata komitmen Prodi IPAI UPI terhadap SDG 4 (Pendidikan Berkualitas), dengan memastikan bahwa transformasi digital di lingkungan madrasah dan sekolah formal tetap mengedepankan kualitas metodologis dan autentisitas ajaran. Integrasi etika AI ke dalam pedagogi Islam diharapkan mampu menjembatani kesenjangan antara kemajuan algoritma dan integritas spiritual bagi generasi mendatang.

Kehadiran kecerdasan buatan dalam ruang kelas PAI adalah sebuah keniscayaan yang membawa peluang sekaligus tantangan epistemologis. Pada akhirnya, AI mungkin mampu mengoreksi pelafalan dengan presisi, namun ia tidak akan pernah bisa menggantikan pancaran ruh dan keberkahan yang terpancar dari hubungan spiritual antara seorang guru dan muridnya. Keberhasilan kita dalam mengadopsi teknologi ini bergantung pada sejauh mana kita mampu menjadikannya asisten yang tunduk pada nilai-nilai kebenaran wahyu yang abadi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *