Jl. Dr. Setiabudi No.276A, Kota Bandung 40143
UPI-FPIPS-Logo-blok
Mahasiswa SPIG Angkatan 2023 Mengikuti Training of Trainer Pengelolaan Data Geospasial Dalam Program Magang Pemerintahan Provinsi Jawa Barat 2026 (SDGs 4 Quality Education)

Oleh Rachel Vio Pramita – 2026

Bandung – 2026, Mahasiswa Program Studi D4 Survei Pemetaan dan Informasi Geografis (SPIG) Angkatan 2023, mengikuti kegiatan Training of Trainer (ToT) Pengelolaan Data Geospasial pada Jumat tanggal 6 Februari 2026. Kegiatan yang diselenggarakan oleh Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo) Provinsi Jawa Barat ini berlangsung secara daring melalui platform zoom meeting. Kegiatan ini dihadiri oleh beberapa mahasiswa dari 2 program studi yaitu SPIG dan Pendidikan Geografi.

Pelatihan ini merupakan bagian dari pengembangan akademik bagi mahasiswa yang dipersiapkan untuk melaksanakan magang di berbagai perangkat daerah di Provinsi Jawa Barat. Selain itu, kegiatan ini merupakan upaya peningkatan kompetensi dalam bidang geospasial yang sejalan dengan pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs) 4, yaitu Pendidikan Berkualitas. Acara ini menghadirkan dua narasumber ahli dari Diskominfo Jabar, yaitu Arif Nurrohman, S.T. dan Achmad Fernas, S.Kom. Keduanya memberikan pemaparan materi serta berbagi pengalaman praktis terkait pengelolaan data geospasial di lingkungan pemerintah daerah.

Sumber: Dokumentasi Kegiatan

Program Magang UPI Untuk Mendukung Pengelolaan Data Geospasial di Pemerintahan Provinsi Jawa Barat

Pada sesi pertama, Bapak Arif Nurrohman, S.T. dari Dinas Komunikasi dan Informatika Provinsi Jawa Barat menyampaikan materi berjudul Program Magang UPI untuk Mendukung Pengelolaan Data Geospasial di Pemerintahan Provinsi Jawa Barat. Pemaparan diawali dengan penjelasan mengenai sejarah awal terjalinnya kerja sama program magang antara Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) dengan Pemerintah Provinsi Jawa Barat yang dimulai sejak tahun 2022 dan terus berlanjut hingga saat ini. Dalam pemaparannya, dijelaskan bahwa program magang ini hadir sebagai bentuk kolaborasi strategis untuk menjawab kebutuhan pengelolaan data geospasial di lingkungan perangkat daerah.

Lebih lanjut, pemateri menjelaskan peran penting mahasiswa UPI, khususnya dari bidang survei, pemetaan, dan informasi geografis, dalam membantu peningkatan kualitas dan kuantitas produk data geospasial di perangkat daerah. Hal ini dilatarbelakangi oleh kondisi bahwa jumlah aparatur sipil negara (ASN) yang memiliki latar belakang pendidikan di bidang Perencanaan Wilayah dan Kota, Teknik Geodesi, Geografi, serta bidang sejenis masih tergolong sangat terbatas. Oleh karena itu, keberadaan mahasiswa magang UPI dinilai sangat membantu dalam proses pembaruan data geospasial, pengolahan data, serta penyajian informasi spasial yang dibutuhkan untuk mendukung pengambilan kebijakan, termasuk implementasi Kebijakan Satu Peta di Provinsi Jawa Barat.

Dalam pematerian tersebut juga dipaparkan ruang lingkup pekerjaan pengelolaan data geospasial di perangkat daerah, mulai dari tahap identifikasi dan pengumpulan data, pengolahan dan analisis data geospasial, standardisasi data spasial dan atribut, hingga penyimpanan, publikasi, dan pemanfaatan data melalui portal Satu Peta Jawa Barat. Bapak Arif turut menjelaskan standar data spasial dan atribut yang harus dipenuhi, contoh data geospasial yang bersumber dari data agregat maupun data berbasis alamat, serta pentingnya metadata dan kesesuaian sistem koordinat dalam menghasilkan data yang valid dan berkualitas. Seluruh pemaparan tersebut memberikan gambaran komprehensif mengenai peran strategis mahasiswa magang UPI dalam mendukung pengelolaan data geospasial yang terintegrasi dan berkelanjutan di lingkungan Pemerintah Provinsi Jawa Barat.

Sumber: Dokumentasi Kegiatan

Pelaksanaan Praktik Cleansing Data dan Geocoding Alamat

Sesi selanjutnya dilanjutkan dengan praktik pembersihan data (data cleansing) dan geocoding alamat yang dipandu oleh Bapak Achmad Fernas, S.Kom. Pada sesi ini, pemateri menjelaskan tahapan awal yang perlu dilakukan setelah mahasiswa memperoleh data mentah, yaitu melakukan proses pembersihan data menggunakan Microsoft Excel. Sebagai contoh kasus, pemateri memberikan sampel data berupa sebaran alamat puskesmas di Provinsi Jawa Barat yang memuat lebih dari 600 alamat. Contoh data ini digunakan untuk memberikan gambaran nyata bahwa meskipun perangkat daerah tidak menyediakan data dalam bentuk geospasial, data berbasis alamat tetap dapat diolah menjadi data geospasial.

Dalam proses pembersihan data di Microsoft Excel, pemateri menjelaskan beberapa langkah penting yang harus dilakukan, di antaranya menghapus judul besar yang dapat menghambat perangkat lunak SIG dalam membaca data, menghilangkan spasi pada penamaan setiap kolom tabel, serta melakukan penomoran data. Selain itu, pemateri juga membagikan teknik pengolahan Microsoft Excel untuk mempercepat proses penyalinan data antar kolom. Tahap selanjutnya adalah menggabungkan informasi nama puskesmas, alamat, kecamatan, serta kota atau kabupaten menggunakan rumus pada Microsoft Excel agar data alamat tersusun secara utuh dan mudah dibaca oleh perangkat lunak SIG. Setelah proses perapihan tabel selesai, data kemudian diekspor ke dalam format CSV (Comma Delimited) sebelum diproses lebih lanjut di Google Earth Pro.

Sumber: Dokumentasi Kegiatan

Tahapan berikutnya dilakukan menggunakan Google Earth Pro, di mana pemateri menjelaskan langkah-langkah impor file CSV serta pengaturan agar perangkat lunak dapat membaca informasi alamat dengan benar. Setelah proses impor berhasil, Google Earth Pro akan menampilkan titik-titik sebaran lokasi pada wilayah Provinsi Jawa Barat, yang menandakan bahwa proses geocoding telah berjalan dengan baik. Namun demikian, pemateri juga menekankan bahwa tidak seluruh proses geocoding selalu berjalan mulus, karena terdapat kemungkinan munculnya data anomali seperti titik lokasi yang saling tumpang tindih, titik lokasi yang terpental jauh dari wilayah seharusnya atau alamat yang tidak terdeteksi. Untuk mengatasi hal tersebut, mahasiswa perlu melakukan proses geocoding ulang guna memperbaiki titik lokasi yang bermasalah.

Titik-titik hasil geocoding yang telah diperbaiki dan divalidasi kemudian disimpan dalam format KML, yang selanjutnya dapat diolah menggunakan berbagai perangkat lunak Sistem Informasi Geografis (SIG), seperti ArcGIS maupun QGIS. Kegiatan praktik ini ditutup dengan sesi tanya jawab antara peserta dan pemateri untuk membahas kendala serta hambatan yang ditemui selama proses pembersihan data dan geocoding alamat berlangsung.

Sumber: Dokumentasi Kegiatan

Manfaat Kegiatan bagi Pengembangan Kompetensi Mahasiswa SPIG

Melalui pelaksanaan kegiatan Training of Trainer Pengelolaan Data Geospasial, mahasiswa Program Studi Survei Pemetaan dan Informasi Geografis (SPIG) angkatan 2023 memperoleh pemahaman komprehensif mengenai pengelolaan data geospasial di lingkungan pemerintahan daerah, mulai dari tahap identifikasi potensi data, pengumpulan, pembersihan dan pengolahan data, hingga proses geocoding dan visualisasinya dalam perangkat lunak SIG. Kegiatan ini diharapkan mampu meningkatkan kompetensi mahasiswa dalam mendukung pengelolaan data geospasial yang terintegrasi, sekaligus memperkuat peran mahasiswa dalam program magang UPI sebagai bentuk kontribusi nyata terhadap peningkatan kualitas data geospasial di Provinsi Jawa Barat.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *