BANDUNG, 10 Februari 2026 – Program Studi Ilmu Pengetahuan Agama Islam (IPAI) Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) terus memperkuat posisinya sebagai pionir inovasi pendidikan keagamaan. Baru-baru ini, sebuah riset kolaboratif yang disusun oleh Najla Kamilia Marwa, Saepul Anwar, dan Mokh. Iman Firmansyah dari UPI mengeksplorasi praktik implementasi Artificial Intelligence (AI) dalam pembelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI) di SDN 032 Tilil. Penelitian kualitatif deskriptif ini mengungkap bagaimana integrasi teknologi cerdas seperti Gemini AI dan Gamma AI telah mentransformasi proses perencanaan, pelaksanaan, hingga evaluasi pembelajaran PAI sesuai dengan semangat Kurikulum Merdeka.
Integrasi AI dalam Siklus Pembelajaran PAI
Di SDN 032 Tilil, guru PAI telah mengadopsi berbagai perangkat AI untuk menciptakan ekosistem belajar yang lebih efisien dan menyenangkan. Pada tahap perencanaan, alat seperti Gamma AI digunakan untuk menyusun modul dan media presentasi secara otomatis. Selama proses pembelajaran, Gemini AI membantu guru menemukan materi yang relevan dan selaras dengan buku paket Pendidikan Agama Islam. Sementara itu, tahap evaluasi dipermudah melalui Quizizz AI yang mampu menghasilkan butir soal ujian secara cepat, dengan seluruh data tersimpan secara fleksibel dalam sistem berbasis OneDrive AI.
Perspektif Teoretis: Adaptivitas dan Literasi Digital
Secara teoretis, penggunaan AI dalam pendidikan (AIEd) memungkinkan terciptanya kurikulum yang lebih adaptif dan responsif terhadap kebutuhan individual siswa. Merujuk pada literatur ilmiah, teknologi ini tidak hanya memfasilitasi pengenalan bahasa alami dan analisis data siswa, tetapi juga secara signifikan meningkatkan literasi digital pada lembaga pendidikan Islam. Transformasi ini menggeser peran guru dari sekadar sumber informasi menjadi fasilitator yang mampu mengelola data akademik secara presisi untuk menentukan metode pembelajaran yang paling efektif bagi peserta didik.
Dampak dan Komitmen terhadap SDGs
Implementasi teknologi ini memberikan dampak positif langsung berupa peningkatan antusiasme dan pemahaman siswa, terutama pada materi keagamaan yang bersifat teoretis. Upaya inovatif ini merupakan kontribusi nyata terhadap SDG 4: Pendidikan Berkualitas, yang menekankan pada penggunaan teknologi untuk meningkatkan akses dan mutu pembelajaran. Selain itu, integrasi nilai-nilai Islam dengan kemajuan sains ini memperkuat posisi UPI yang baru saja meraih APPKI Award 2025 sebagai pionir pengembangan kurikulum PAI inovatif berbasis Outcome-Based Education (OBE).
Tantangan Etis dan Pengawasan Spiritual
Meskipun menawarkan efisiensi tinggi, penggunaan AI dalam pendidikan agama tetap menghadapi tantangan etis, seperti risiko ketergantungan siswa dan potensi penurunan daya berpikir kritis jika tidak diawasi dengan ketat. Oleh karena itu, para peneliti menekankan pentingnya pengawasan guru untuk memastikan bahwa nilai-nilai spiritual dalam pembelajaran PAI tidak terabaikan. Guru diharapkan tetap bijaksana dalam memfilter informasi yang dihasilkan AI guna menjaga integritas nilai-nilai keislaman di era digital.
Integrasi teknologi AI dalam pendidikan agama adalah keniscayaan yang harus dihadapi dengan kesiapan intelektual dan keteguhan spiritual. Prestasi dan riset yang dihasilkan oleh civitas akademika IPAI UPI membuktikan bahwa kita mampu menjadi pemimpin dalam perubahan ini tanpa kehilangan jati diri sebagai pendidik muslim yang berakhlak mulia. Kami mengajak seluruh pendidik dan mahasiswa untuk terus mengeksplorasi potensi teknologi demi kemajuan dakwah dan pendidikan. Mari bergabung dengan Prodi IPAI UPI untuk menjadi bagian dari generasi pelopor yang unggul, inovatif, dan religius dalam menyongsong masa depan pendidikan Islam dunia.
