Jl. Dr. Setiabudi No.276A, Kota Bandung 40143
UPI-FPIPS-Logo-blok
Simulasi Pengambilan Keputusan Situasi Darurat Berbasis Perspektif Sejarah: Studi Pengalaman Mahasiswa SPIG UPI Dalam Kegiatan Ngaleut Persimpangan Bandung 2026 (SDG’s Quality Pendidikan)

Bandung, 2026 – Mahasiswa Survei Pemetaan dan Informasi Geografis angkatan 2023 mendapatkan kesempatan untuk berpartisipasi dalam kegiatan “Ngaleut Persimpangan: Dilema dalam Bencana”. Yang dilaksanakan pada Minggu, 8 Februari 2026. Kegiatan ini diadakan oleh Komunitas Aleut, suatu komunitas apresiasi sejarah di Kota Bandung dengan program utama mereka adalah melakukan walking tour ke beberapa tempat berbeda di Kota Bandung, tergantung dari tema yang diangkat.

Komunitas Aleut pun berkolaborasi dengan ibu Risye Dwiyani yang berasal Disaster Prevention Research Institute, Kyoto University yang sedang melakukan riset mengenai “dinamika perjumpaan budaya dalam masyarakat beragam untuk pengelolaan risiko bencana”, sembari menyusun dan mengembangkan alat edukasi bencana dengan peserta riset di Jepang dan Indonesia dalam bentuk games yang bernama Crossroad : Cultural diversity.

Penyelenggaraan kegiatan ini bertujuan untuk mendukung pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) poin ke-11 mengenai Kota dan Komunitas Berkelanjutan. Melalui integrasi penelusuran sejarah kota dan simulasi pengambilan keputusan dalam situasi bencana, kegiatan ini berupaya memperkuat resiliensi kota serta meningkatkan literasi mitigasi dan kesiapsiagaan masyarakat di tengah keberagaman budaya. Perspektif ini sekaligus menegaskan bahwa ketangguhan kota tidak hanya bergantung pada kekuatan infrastruktur fisik, tetapi juga pada perumusan kebijakan dan kesiapan sosial yang inklusif serta berbasis pemahaman historis dan dinamika sosial masyarakat.

Menyusuri Sejarah Braga dan Cikapundung dalam Perspektif Kebencanaan

Rangkaian kegiatan diawali dengan walking tour atau ngaleut, yang berasal dari kata aleut dalam bahasa Sunda yang berarti berjalan bersama. Istilah ini menjadi inspirasi nama Komunitas Aleut sekaligus mencerminkan metode kegiatan yang mengajak peserta belajar sejarah dan ruang kota melalui pengalaman langsung. Dalam kegiatan ini, peserta diajak menyusuri kawasan Jalan Braga sebagai salah satu ruang historis penting dalam perkembangan Kota Bandung.

Sumber: Dokumentasi Kegiatan


          Penelusuran dimulai dari kawasan Braga yang secara toponimi, nama "Braga" sendiri kerap dikaitkan dengan kata dalam bahasa Sunda, "ngabraga" yang berarti bergaya atau pamer, sangat selaras dengan citranya sebagai sebagai pusat berkembangnya mode dan aktivitas sosial perkotaan pada masa Hindia Belanda. Padahal, pada abad ke-19, Jalan Braga merupakan jalan setapak berlumpur yang bernama Pedatiweg atau Karrenweg, nama ini diambil dari kondisi jalan saat itu yang hanyalah jalan setapak yang dilalui pendati sebagai jalur logistik pengangkutan hasil perkebunan kopi dari gudang milik Andreas De Wilde yang kini menjadi Balai Kota Bandung menuju Jalan Raya Pos yang saat ini dikenal sebagai Jalan Asia Afrika.

Perjalanan dilanjutkan ke Gang Apandi, sebuah permukiman warga di bantaran Sungai Cikapundung, Nama "Cikapundung" itu sendiri memuat informasi geografis; awalan "Ci" (air/sungai) dan "Kapundung" (Baccaurea racemosa) menunjukkan bahwa secara historis kawasan ini adalah daerah aliran sungai yang rimbun dengan vegetasi tertentu yang menjadi salah satu kawasan terdampak banjir. Di lokasi ini, peserta diajak menelusuri narasi sejarah banjir melalui pengamatan langsung terhadap kondisi lingkungan sekitar, selanjutnya peserta diajak mengunjungi masjid Al-Imtizaj yang merupakan upaya menambah seni masjid dengan budaya tiongkok dan meningkatkan khazanah pembauran etnis Tionghoa Islam dengan umat Islam lainnya, sebelum melanjutkan perjalanan menyusuri aliran Sungai Cikapundung hingga berakhir di Pendopo Kota Bandung.

   Sumber: Dokumentasi Kegiatan

Dari sudut pandang geografis, rute perjalanan ini memperlihatkan keterkaitan antara perubahan bentang alam, perkembangan tata ruang kota, dan munculnya kerentanan bencana. Sungai Cikapundung sebagai elemen fisik utama dipahami memiliki peran sentral dalam membentuk pola permukiman dan aktivitas kota sejak masa kolonial. Kegiatan ini menjadi latihan awal dalam membaca ruang secara spasial, yakni memahami bagaimana lokasi, kondisi lingkungan, serta perubahan penggunaan lahan berkontribusi terhadap dinamika kebencanaan di kawasan Braga.

Permainan Simulasi Pengambilan Keputusan dalam Situasi bencana

Sumber: Dokumentasi Kegiatan

Setelah kegiatan tersebut, rangkaian acara selanjutnya diisi dengan sesi permainan simulasi Crossroad: Cultural Diversity versi Prototipe 02.2026. Permainan ini menggunakan 3 lembar skenario, masing-masing lembaran ini  dirancang untuk menggambarkan situasi krisis dan dilema yang kerap muncul dalam penanganan bencana. Peserta dibagi ke dalam kelompok diskusi dan diminta untuk mengambil keputusan dengan mengeluarkan salah satu kartu bertuliskan yes or no berdasarkan skenario yang disajikan, dengan mempertimbangkan berbagai aspek sosial, budaya, dan kemanusiaan.

Beberapa dilema yang dibahas dalam permainan ini antara lain konflik antara keselamatan hewan peliharaan dengan kenyamanan dan keyakinan pengungsi di lokasi evakuasi, tantangan inklusivitas rumah ibadah saat digunakan sebagai tempat pengungsian, serta penentuan prioritas evakuasi massa pada acara keagamaan berskala besar yang berlangsung di titik-titik strategis kota. Setiap skenario mendorong peserta untuk berdiskusi secara kritis dan menyadari bahwa tidak semua keputusan dalam situasi bencana memiliki solusi yang ideal.

Melalui simulasi ini, peserta dilatih untuk mengembangkan kemampuan manajemen krisis yang tidak hanya berfokus pada aspek teknis, tetapi juga mempertimbangkan nilai kemanusiaan, keberagaman budaya, dan keadilan sosial. Diskusi yang berlangsung menunjukkan bahwa penanganan bencana merupakan proses kompleks yang membutuhkan empati, komunikasi, dan pemahaman konteks sosial yang kuat. Pembelajaran ini menjadi bekal penting bagi masyarakat dalam memahami peran manusia dalam sistem kebencanaan.

Peran Geospasial Dalam Merekonstruksi Narasi Sejarah Bencana di Kota Bandung

Sejatinya, sejarah dan geografi merupakan dua disiplin yang tidak dapat dipisahkan. Jika sejarah dipahami sebagai rangkaian peristiwa dalam dimensi waktu, maka geografi menghadirkan dimensi ruang sebagai konteks tempat peristiwa tersebut terjadi. Tanpa pemahaman terhadap ruang dan lingkungan geografisnya, suatu peristiwa sejarah akan kehilangan konteks spasial serta latar belakang logis yang membentuknya. Dalam hal ini, perspektif geospasial berperan penting untuk menjembatani pemahaman antara waktu, ruang, dan dinamika manusia di dalamnya.

Kegiatan Ngaleut Persimpangan secara tidak langsung menerapkan pendekatan geospasial dalam membaca sejarah kawasan Braga dan Sungai Cikapundung. Pendekatan ini menegaskan bahwa sejarah banjir di kawasan Braga tidak dapat dilepaskan dari perubahan penggunaan lahan, perkembangan infrastruktur, serta relasi spasial antara sungai, jalan, dan bangunan di sekitarnya. Melalui sudut pandang geospasial, peserta mampu melihat keterkaitan antar unsur ruang tersebut secara utuh, sehingga bencana tidak dipahami sebagai kejadian tunggal, melainkan sebagai hasil dari proses spasial yang berlangsung dalam kurun waktu panjang..

Dengan demikian, perspektif geospasial menjadi alat penting dalam memahami sejarah kota secara lebih komprehensif. Tidak hanya merekam peristiwa masa lalu, tetapi juga membantu menginterpretasikan bagaimana dinamika ruang membentuk risiko bencana di masa kini. Pemahaman ini menjadi dasar penting bagi masyarakat untuk melihat kota sebagai sistem yang hidup, di mana sejarah, lingkungan, dan manusia saling terjalin erat dalam satu kesatuan ruang.

          Penulis          : Handaru Akmal Panandjoeng & Listi Siti Saadah

          Penyunting    : Rachel Vio Pramita

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *