Studi Sosial merupakan salah satu mata kuliah dalam program studi Pendidikan Sejarah yang menjadi komponen penting dalam kegiatan pembelajaran. Mata kuliah ini bertujuan untuk memberikan pemahaman kepada mahasiswa mengenai berbagai fenomena yang terjadi di masyarakat dari berbagai sudut pandang. Menurut ICOM (2022), museum adalah lembaga permanen yang nirlaba dan melayani masyarakat dengan melakukan penelitian, pengumpulan, pelestarian, interpretasi, dan pameran warisan budaya yang bersifat nyata dan non-nyata. Museum terbuka untuk umum, dapat diakses, dan inklusif, serta mendorong keberagaman dan keberlanjutan. Museum beroperasi dan berkomunikasi secara
etis, profesional, dengan partisipasi komunitas, serta menawarkan berbagai pengalaman untuk pendidikan, hiburan, refleksi, dan berbagi pengetahuan.
Kegiatan praktikum di Jakarta dilaksanakan ke berbagai museum seperti museum Kebangkitan Nasional, Bahari, dan Fatahilah. Melalui pengamatan langsung terhadap bangunan bersejarah, koleksi, hingga narasi yang disajikan oleh edukator museum bertujuan untuk mendukung pemahaman mahasiswa mengenai warisan budaya Indonesia dan mengaitkannya dengan konsep atau teori dalam studi
sosial. Museum Kebangkitan Nasional terletak di Jl. Abdurrahman Saleh No. 26, Senen, Jakarta Pusat. Museum ini milik pemerintah, khusus membahas terkait awal pergerakan nasional Indonesia, dan berada di bawah naungan Kementrian Kebudayaan Republik Indonesia ini menempati bangunan heritage dikarenakan gedungnya merupakan bekas sekolah kedokteran bumi putera yakni STOVIA (School tot Opleiding van Inlandsche Artsen). Pembangunannya dilatarbelakangi oleh kian bertambah murid Sekolah Dokter Jawa, juga semakin meningkatnya permintaan tenaga medis yang lebih cakap dengan biaya terjangkau dibandingkan dengan dokter dari Eropa. Pada tahun 1899 mulai didirikan bangunan bergaya
neoklasik seluas 1.000 meter persegi, panjang 40 meter, lebar 25 meter, dan beberapa ruangan seperti asrama, kelas, administrasi, gymnastic, dan masih banyak lagi. Kemudian tahun 1902 secara resmi dibuka sebagai sekolah kedokteran baru bernama STOVIA. Namun dikarenakan bangunan ini sudah tidak memadai maka pada 1920 STOVIA direlokasi ke Salemba dan berganti nama menjadi GHS (Geneeskudige Hoge School) yang lulusannya setara dengan dokter dari Belanda
Museum Bahari terletak Jl. Pasar Ikan, No.1 Penjaringan, Jakarta Utara. Dilengkapi 126 koleksi, membuatnya masuk ke dalam museum khusus dengan mengangkat tema laut dan maritim di Nusantara. Maka museum ini tidak hanya memberikan informasi mengenai sejarah kelautan Indonesia tetapi juga
mengangkat isu pelestarian laut demi keberlangsungan hidup di masa yang akan datang. Museum milik pemerintah DKI Jakarta ini berada di bawah naungan Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi Republik Indonesia dengan bangunannya dikategorikan sebagai cagar budaya atau heritage.
Pembangunannya dilatarbelakangi oleh kebutuhan akan tempat untuk menampung kekayaan alam nusantara yang menjadi andalan VOC seperti rempah-rempah, kopi, dan teh. Tahun 1942-1945 digunakan oleh pasukan Jepang sebagai penampungan barang logistik. Ketika Indonesia merdeka maka bangunan ini menjadi milik negara yang kemudian digunakan untuk gudang PLN dan PTT. Butuh waktu sekitar 32
tahun hingga pada akhirnya tanggal 7 Juli 1977 oleh Gubernur DKI Jakarta saat itu, Ali Sadikin diresmikan menjadi Museum Bahari.
Museum Sejarah Jakarta atau yang lebih populer dengan nama MuseumFatahillah terletak di kawasan Kota Tua, tepatnya di Jalan Taman Fatahilah, No. 1 Jakarta Barat. Museum dengan ciri khas penjara bawah tanah ini berada di bawah naungan pemerintah DKI Jakarta dan termasuk ke dalam kategori museum khusus karena spesifik membahas sejarah kota Jakarta mulai dari era prasejarah hingga perkembangan awal pasca kemerdekaan. Pembangunan gedung ini diawali pada tahun 1620 di masa pemerintahan Gubernur Jendral Jan Pieterszoon Coen sebagai kantor tata kelola sekaligus pengadilan VOC kala itu. Kemudian sempat beberapa kali dilakukan renovasi hingga pada akhirnya tahun 1707 di masa Gubernur
Jenderal Abraham van Riebeeck berubah menjadi bangunan permanen dengan gaya 6 arsitektur neoklasik yang menonjolkan kemegahan dan kebesarannya. Kemudian masa kolonialisme Hindia Belanda gedung ini sempat terbengkalai saat pemerintahan direlokasikan ke Weltevreden, hingga saat pendudukan Jepang digunakan sebagai gudang penyimpanan logistik. Tahun 1974 oleh Gubernur DKI
Jakarta, Ali Sadikin, diresmikan menjadi Museum Sejarah Jakarta setelah sebelumnya dilakukan perbaikan