Penulis: Basma Ahimsa F (SaIG, 2202392)
Penyunting: Hilmy Nurizky (SaIG, 2400015)

Dok. Penulis
Perjalanan panjang penyusunan skripsi ini sesungguhnya tidak bermula saat saya mengajukan judul di awal semester akhir, melainkan jauh sebelumnya, ketika saya masih duduk di bangku Semester 5 dalam mata kuliah Metodologi Penelitian. Kala itu, ide mengenai pemanfaatan algoritma K-Means Clustering untuk mengidentifikasi permukiman kumuh hanyalah sebuah gagasan sederhana—sebuah tugas akhir mata kuliah yang saya kerjakan dengan pemahaman yang masih sangat terbatas. Saya masih ingat betul bagaimana konsep tersebut terasa abstrak, arah penelitiannya belum memiliki pijakan yang kokoh, dan metodologinya masih meraba-raba. Hasil akhirnya pun mencerminkan kebingungan tersebut; saya hanya mendapatkan nilai B+ untuk mata kuliah itu. Bagi sebagian orang, nilai tersebut mungkin sudah cukup, namun bagi saya, itu adalah sebuah tanda tanya besar. Apakah ide ini memang kurang layak, atau saya yang belum mampu menggali potensinya?
Alih-alih menyerah dan mencari judul baru yang lebih "aman" atau populer, nilai B+ tersebut justru menjadi pecutan tersendiri bagi saya. Ada rasa penasaran yang belum tuntas mengenai bagaimana teknologi informasi geospasial dapat memecahkan masalah sosial yang begitu kompleks seperti permukiman kumuh di Kota Bandung. Saya meyakini bahwa integrasi antara Machine Learning dan Sains Informasi Geografi memiliki kekuatan yang belum sepenuhnya saya eksplorasi di Semester 5. Oleh karena itu, dengan tekad yang bulat namun bercampur rasa was-was, saya memutuskan untuk membawa kembali topik "setengah matang" ini ke panggung yang lebih serius: Seminar Proposal di Semester 6.
Masa-masa transisi dari Semester 6 ke Semester 7 adalah fase di mana idealisme berbenturan dengan realitas teknis. Di sinilah saya mulai menyadari ketika bimbingan bahwa sekadar menggunakan K-Means tidaklah cukup. Saya harus memperkuat fondasi penelitian ini dengan metode yang lebih canggih dan akurat. Keputusan untuk mengintegrasikan Object-Based Image Analysis (OBIA) untuk delineasi fisik dan interpolasi spasial Inverse Distance Weighting (IDW) untuk data sosial adalah titik balik yang mengubah skripsi ini dari sekadar tugas kuliah menjadi sebuah karya ilmiah yang saya banggakan. Proses menambahkan metode OBIA kedalam penelitian saya bukanlah hal yang mudah. Berhari-hari saya habiskan di depan layar laptop, bergelut dengan trial and error, segmentasi citra yang gagal, hingga hasil klasterisasi yang awalnya tidak masuk akal.
Rutinitas yang saya lakukan tiada lain adalah bimbingan dengan dosen serta mengkaji penelitian-penelitian terdahulu. Ketika sedang bimbingan, saya banyak mendapatkan masukan serta jawaban ketika mengalami kendala dalam pengerjaan skripsi. Salah satu momen yang menurut saya berkesan adalah ketika diminta untuk mengumpulkan referensi sebanyak 20 dari artikel luar negeri dan 20 artikel dari Indonesia. Dari situ, saya banyak terinspirasi dan belajar berbagai macam metode dan pendekatan yang dilakukan sebelumnya. Saya juga banyak menemukan potensi-potensi kebaruan dalam penelitian saya yang belum pernah terpikirkan. Masukan dari dosen dan penelitian terdahulu ini menjadi pondasi utama yang terus mendorong saya untuk mengerjakan skripsi dengan lebih semangat.
Memasuki semester 7, proses pengerjaan ternyata menuntut usaha yang jauh lebih besar dari perkiraan, terutama dengan adanya kegiatan magang. Strategi saya dalam memilih tempat magang adalah dengan mempertimbangkan keselarasan topik penelitian agar saya bisa lebih mudah dalam memperoleh data untuk skripsi. Untuk itu saya mengambil kesempatan dengan aktif bertanya kepada pembimbing dan juga kepada pegawai negeri di bidang terkait. Durasi magang yang saya ambil juga mendahului timeline dari prodi agar saya bisa lebih menyesuaikan diri dengan lingkungan tempat magang saya.

Dok. Penulis

Dok. Penulis
Kegiatan magang yang saya lakukan membuat saya harus memanajemen waktu pengerjaan skripsi. Perlu saya akui bahwa kegiatan magang membuat motivasi dalam pengerjaan skripsi saya menurun. Selain itu, usaha untuk mendapatkan data sekunder lain yang mungkin bisa membantu penelitian ternyata diluar ekspektasi saya karena tidak ada balasan dari pihak yang memiliki data. Hal ini menyebabkan target penyelesaian skripsi saya mundur dari rencana awal tanggal 31 Oktober menjadi 1 Desember. Dalam masa keterlambatan tersebut, saya menyadari telah melakukan kesalahan fatal dalam hal komunikasi. Saat menghadapi kendala pengerjaan, saya sempat tidak memberikan kabar kepada dosen pembimbing karena merasa takut dan malu belum bisa memberikan progres yang signifikan.
Masa-masa ini membuat saya khawatir akan kepastian pendaftaran sidang. Tetapi, saya berusaha fokus untuk terus mengejar progres skripsi saya sampai tuntas. Yang saya pikirkan pada saat itu hanyalah hasil akhir untuk segera mendaftar sidang. Dengan membuktikan penelitian yg tuntas, harapannya saya bisa menjelaskan keterlambatan pengerjaan skripsi ini. Padahal ada yang lebih penting dari sekedar hasil yaitu peran komunikasi dan saya tidak mengkomunikasikan apapun kepada pembimbing saya.
Sikap tidak mengomunikasikan kendala tersebut justru menimbulkan konsekuensi yang kurang baik, yaitu terhambatnya proses bimbingan dan hilangnya kepercayaan dari dosen pembimbing. Lalu saya juga menyadari banyaknya kesempatan yang saya lewatkan untuk sekedar memberikan kabar ketika tidak hadir saat jadwal bimbingan. Meskipun momentum saya hilang, dosen pembimbing akan mengerti apabila saya mengabari kendala yang saya alami. Disinilah peran komunikasi menjadi penting dalam pengerjaan skripsi. Maka, saya memutuskan untuk merubah sikap saya dengan memperbaiki cara berkomunikasi yang terbuka dan baik.
Dari pengalaman ini, saya mendapatkan pelajaran berharga bahwa dalam dunia akademis maupun profesional, komunikasi yang jujur dan terbuka adalah kunci utama menjaga kepercayaan. Saya belajar bahwa sikap resilien bukan hanya tentang kemampuan menyelesaikan masalah teknis, tetapi juga keberanian untuk datang menghadap dosen, mengakui keterlambatan, dan mengomunikasikan kendala yang dihadapi alih-alih menghindar. Skripsi saya akhirnya disetujui dan diperbolehkan untuk mendaftar sidang. Betapa leganya hati saya saat itu setelah dosen pembimbing memberikan izin untuk sidang. Bagi saya perjalanan membuat skripsi ini bukan hanya sebagai tugas akhir kuliah, tetapi juga sebagai proses pendewasaan diri saya dalam bersikap dan bertanggung jawab.

Dok. Penulis

Dok. Penulis
Perjalanan skripsi ini mengajarkan sebuah kebenaran yang penting: proses ilmiah tidaklah selalu mulus dan linear. Dimulai dari ide yang 'setengah matang' dengan nilai B+, perjalanan ini menuntut lebih dari sekadar kecerdasan, melainkan juga kesabaran dan ketangguhan mental dalam menghadapi berbagai kendala teknis dan non-teknis. Fase trial and error dalam mengintegrasikan OBIA dan IDW, serta tantangan dalam mengelola waktu di tengah kegiatan magang, adalah buktinya. Namun, titik balik terbesar adalah ketika saya menyadari bahwa fokus tidak boleh hanya pada hasil akhir. Keterlambatan dan kesulitan komunikasi justru mengajarkan bahwa nilai sebuah proses terletak pada progres yang diupayakan setiap hari dan yang paling krusial, komunikasi yang terbuka dan jujur dengan dosen pembimbing. Skripsi ini bukan hanya tentang membuktikan kapasitas ilmiah, tetapi tentang pendewasaan diri untuk bertanggung jawab dan berorientasi pada kemajuan, bukan sekadar garis finish.
Bagi adik-adik yang akan menempuh perjalanan skripsi atau bercita-cita lulus dalam 3,5 tahun, pesan saya adalah: mulailah dengan fondasi yang kokoh dan jadikan komunikasi sebagai kunci utama. Jangan pernah takut untuk membawa kembali ide 'mentah' asalkan kamu memiliki tekad untuk menguatkannya, misalnya dengan segera mengkaji metode -metode lain yang relevan. Keberhasilan tidak hanya diukur dari kecepatan, tetapi dari kualitas yang kamu hasilkan. Jika kamu memilih magang atau aktivitas lain yang padat, pastikan ada keselarasan dengan topik penelitian dan buat timeline yang fleksibel, bahkan mendahului prodi. Terakhir, dan ini terpenting: jangan pernah menghilang dari dosen pembimbing. Update kemajuan sekecil apapun, akui kendala, dan cari solusi bersama. Kepercayaan dosen adalah aset tak ternilai yang akan melancarkan proses bimbingan.
Tiada kata yang cukup untuk mengungkapkan rasa terima kasih kepada bapak dosen Dr. Lili Somantri, S.Pd., M.Si, dan bapak dosen Haikal Muhammad Ihsan, S.Pd., M.Sc. atas kesabaran, waktu, dan ilmu yang telah dicurahkan. Bapak telah menjadi mentor yang bukan hanya mengarahkan metodologi, tetapi juga membentuk karakter saya. Permintaan mulai dari mengumpulkan 40 referensi dari dalam dan luar negeri, hingga mendiskusikan metodologi ternyata menjadi pondasi terkuat yang membuka mata saya pada potensi kebaruan dalam penelitian ini. Terlebih lagi, terima kasih atas pengertian dan kebesaran hati untuk tetap memberikan kesempatan sidang, meskipun saya sempat melakukan kesalahan fatal dalam berkomunikasi. Dukungan dan kepercayaan yang bapak berikan di masa-masa sulit tersebut adalah penutup yang paling melegakan dan menjadi bekal berharga untuk memasuki dunia profesional.
Di balik capaian ini, ada dukungan emosional yang tak terhingga dari keluarga dan teman-teman terdekat. Untuk keluarga, terima kasih telah menjadi support system yang tak pernah lelah memberikan semangat, doa, dan ruang bagi saya untuk berproses, bahkan saat saya harus bergelut dengan trial and error hingga larut malam. Untuk teman-teman seperjuangan, terima kasih atas setiap diskusi, tawa, dan motivasi yang menjaga semangat ini tetap menyala. Skripsi ini adalah penutup bab perkuliahan, tetapi juga awal dari ambisi baru di masa depan. Capaian ini adalah milik kita bersama.
