Penulis: Kelompok 3 SaIG Angakatan 2024
Penyunting: Hilmy Nurizy (SaIG, 2400015)
Berdiri di sela-sela kota industri karawang tanpa gerbang megah, tanpa spot foto yang ramai. Yang ada hanyalah hamparan lahan yang bercerita lewat teksturnya sendiri. Di sinilah kami tiba, dengan tas penuh peralatan survei dan kepala penuh dengan pertanyaan tentang tempat yang siap menguji seberapa jauh ilmu bisa berpijak di tanah nyata.
Wilayah ini adalah perpaduan antara desa yang sedang merangkak menuju modernitas dan lahan produktif yang masih bertahan keras di tengah arus industrialisasi. Jalan-jalannya sempit tapi ramai. Warganya ramah tapi sibuk. Dan tugas kami disini adalah membaca semua itu, bukan hanya dengan mata, tapi dengan GPS, kuesioner, dan sesekali, obrolan santai di teras rumah warga.
Pagi di hari Minggu terasa seperti membuka buku yang sudah kita kira tahu isinya, lalu menemukan bahwa tidak banyak namun ada yang berbeda dari perkiraan. Tim kami pecah jadi beberapa kelompok: ada yang duduk manis di depan laptop mengerjakan revisi peta dasar dan ICP di studio, ada yang turun ke lapangan mendata UMKM, wisata lokal, dan lokasi perbankan. Sementara itu, tim fisik melakukan groundcheck penggunaan lahan, menguji elevasi, kemiringan lereng, dan wawancara langsung dengan petani, peternak ayam, dan pengelola perkebunan.

Dok. Penulis
Validasi penggunaan lahan bukan sekadar mencocokkan warna di peta namun ini soal mendengar apakah lahan itu sungguh hidup sesuai fungsinya.
Pokok utama survei hari pertama adalah memvalidasi penggunaan lahan yang ada di Cikampek Barat. Apa yang di peta tampak seperti zona hijau, belum tentu di lapangan masih benar-benar hijau. Dan itulah justru yang membuat proses ini penting memastikan data berbicara jujur tentang keadaan sebenarnya.
Berbeda dengan hari kemarin, dengan tidak kalah hidupnya. Pagi dimulai dengan pengukuran GNSS metode statik. Sambil menunggu hasil tangkapan koordinat, ada tim yang berjalan ke kantor kecamatan untuk pembukaan resmi kegiatan KKL ini. Momen itu terasa seperti jabat tangan pertama yang resmi antara kami dan wilayah ini.
Di sela-sela itu, perjanjian dengan pihak desa juga disepakati yang fondasi penting agar kerja survei kami bisa berjalan lancar tanpa hambatan birokrasi di kemudian hari. Sore harinya, kami menyempatkan survei TPS, mengamati bagaimana persampahan dikelola atau lebih tepatnya, bagaimana persoalan ini tidak terkelola dengan baik di sudut-sudut yang luput dari perhatian.

Dok. Penulis
Kalau dua hari pertama terasa seperti berlari, hari ketiga sedikit lebih membumi. Pagi kami diisi dengan sosialisasi kepada RW setempat kegiatan yang terlihat sederhana tapi sesungguhnya adalah jembatan paling penting antara data dan kepercayaan. Warga perlu tahu siapa kami dan untuk apa kami datang. Bukan hanya sopan santun, ini syarat dasar agar survei kami bisa menembus lebih dalam.
Setelahnya, tim bergerak untuk memvalidasi RTH dan LST dengan mencocokkan apakah ruang terbuka hijau yang tercatat di peta masih berdiri tegak atau sudah berganti wajah. Selain itu, kami mengecek kondisi sekolah, sumur warga, dan melakukan penegasan batas administrasi yang kerap menjadi sumber perdebatan lama di tingkat kelurahan.
Hari terakhir terasa seperti menyatukan kepingan puzzle yang sudah dikumpulkan selama tiga hari. Di TBC, data GNSS diolah dan diuji akurasinya menggunakan metode RMSE CE90 standar yang dipakai untuk memastikan bahwa titik-titik koordinat kita tidak asal tancap. Hasilnya menjadi bukti antara posisi ortophoto dengan pengukuran di lapangan.
Sementara pengolahan data teknis berjalan, tim sosial melanjutkan penginputan data lapangan yang belum selesai, termasuk survei toponimi pendataan nama-nama tempat yang sering sepele di mata orang luar, tapi sangat bermakna bagi identitas suatu wilayah. Hari ini juga mencakup pendataan pendapatan dan mata pencaharian warga, melengkapi gambaran sosial-ekonomi Cikampek Barat yang perlahan-lahan mulai utuh terbentuk di kepala kami.

Dok. Penulis
Menuju hari penutupan ada banyak hal yang membuat mengerti bahwa Cikampek Barat mengajarkan kami bahwa di balik setiap poligon penggunaan lahan, ada keringat, ada cerita, dan ada orang-orang yang hidupnya bergantung pada bagaimana wilayah itu direncanakan. Kami pulang dengan data yang penuh, dan kepala yang sedikit lebih rendah dari sebelumnya.