Penulis: Dr. Lili Somantri, S.Pd., M.Si.
Penyunting: Muhammad Naufal Rifasyah (SaIG, 2500436)
Dalam dunia akademik, sebuah program studi tentunya tidak hanya sekadar menjadi tempat transfer ilmu saja. Lebih dari itu, harus memiliki ruh, sebuah budaya yang mengakar, dan identitas yang membedakannya dari yang lain. Program Studi Sains Informasi Geografi SaIG) Universitas Pendidikan Indonesia memahami betul hal ini. Melalui pemikiran Dr. Lili Somantri, S.Pd., M.Si. SaIG merumuskan lima pilar kultur utama yang menjadi motor penggerak menuju keunggulan. Kultur ini bukan hanya sekadar slogan, melainkan sebuah komitmen untuk menjadikan SaIG sebagai pusat gravitasi bagi para ahli geospasial di Indonesia.

Dok Penulis: Lima Pilar Kultur Utama Prodi SaIG UPI
1. SaIG Besar Karena Tulisan
Ada sebuah pilar penting yang dipegang oleh prodi SaIG hingga saat ini, yaitu SaIG besar karena tulisan. Budaya ini lahir dari kesadaran bahwa melalui tulisan, sebuah institusi akan tetap abadi. Di SaIG, setiap kegiatan sekecil apa pun itu,baik di ranah akademik maupun kemahasiswaan, wajib direfleksikan dan dipublikasikan dalam bentuk artikel tulisan.
Mengapa tulisan ini begitu krusial? Karena website dan media sosial adalah etalase sekaligus instrumen branding utama bagi dunia luar. Tanpa tulisan, prestasi dan inovasi hanya akan menjadi memori yang tersimpan. Dengan menulis, SaIG sedang membangun sejarahnya sendiri, membagikan pengetahuan, dan memastikan jejak langkahnya dapat diikuti oleh generasi mendatang.
2. SaIG Maju Karena Kolaborasi
Kesuksesan prodi SaIG tentu tidak dibangun oleh satu orang, melainkan hasil dari kerja sama berbagai pihak. SaiG maju karena kolaborasi. Kultur ini melibatkan sinergi antara dosen, mahasiswa, tenaga kependidikan (tendik), alumni, universitas, masyarakat, hingga dunia kerja.
Secara filosofis, SaIG memandang dirinya seperti Sistem Informasi Geografis (SIG) itu sendiri. Jika salah satu komponen tidak berfungsi, maka visi, misi, dan mimpi besar SaIG tidak akan pernah tercapai. Kolaborasi ini memungkinkan setiap individu untuk saling melengkapi dan menguatkan sesuai potensi masing-masing. Dengan memaksimalkan sumber daya yang dimiliki, SaIG terus membuka diri untuk bekerja sama dengan berbagai pihak demi kemajuan bersama.
3. SaIG Keren Karena Menjadi Trendsetter, Bukan Follower
Untuk memperkuat identitas prodi, SaIG memiliki integritas diri yang kuat. SaIG keren karena menjadi trendsetter, bukan follower. Kultur ini menuntut keberanian untuk melahirkan kebaruan, inovasi, dan inspirasi, baik dalam kurikulum akademik maupun organisasi kemahasiswaan.
Menjadi seorang pelopor berarti tidak sekadar mengikuti arus yang tidak memberikan manfaat nyata. Namun, menjadi trendsetter bukan berarti menutup mata terhadap dunia luar. SaIG justru terus belajar dari berbagai sumber, lembaga, dan situasi apa pun untuk memperkaya inovasi yang akan dilahirkan. Inilah yang membuat SaIG selalu selangkah lebih maju.
4. SaIG Unggul Karena Berlari dan “The Heart of Geospatial.”
Ada dua identitas utama yang menjadi napas perjuangan di SaIG, yaitu SaIG Berlari dan The Heart of Geospastial. SaIG Berlari adalah sebuah inner spirit. Tagline ini adalah sebuah motivasi internal yang mendorong seluruh komponen SaIG untuk terus bersemangat, mengejar prestasi, dan menjadi lebih baik setiap harinya.
Adapun The Heart of Geospatial merupakan sebuah outer spirit SaIG. Hal ini merupakan sebuah pesan kepada dunia bahwa SaIG adalah jantung para ahli geospasial, yang mencakup proses dari akuisisi hingga visualisasi. Lebih dalam lagi, istilah "Heart" atau "Jantung" mencerminkan filosofi bahwa mengurus dan mengelola SaIG harus dilakukan dengan hati. Ketika pekerjaan dilakukan dengan hati, keunggulan bukan lagi sekadar target, melainkan sebuah konsekuensi alami.
5. SaIG Penting Karena Cinta Terhadap Geografi dan Indonesia
Pada akhirnya, seluruh kerja keras ini bermuara pada satu alasan fundamental: SaIG penting karena Cinta Geografi dan Indonesia. SaIG lahir bukan tanpa tujuan. Ada misi besar untuk mengembangkan keilmuan geografi, khususnya pada bidang geografi teknik.
Kehadiran SaIG dirancang untuk memberikan manfaat langsung bagi pembangunan nasional. SaIG selalu berkomitmen untuk menjadi bagian dari solusi atas berbagai permasalahan di wilayah Indonesia melalui pendekatan geospasial yang presisi. Rasa cinta pada tanah air inilah yang menjadi bahan bakar bagi setiap dosen dan mahasiswa untuk terus berkarya.
Dengan demikian, kultur SaIG adalah sebuah ekosistem, mulai dari menulis, semangat kolaborasi, mentalitas pelopor, kecepatan dalam bertindak, hingga kecintaan pada bangsa, semuanya membentuk satu kesatuan yang kokoh. Dengan memegang teguh kultur ini, SaIG UPI akan semakin siap dalam mencetak lulusan yang mahir secara teknis serta membentuk lulusan-lulusan unggul yang memiliki visi dan hati untuk membangun Indonesia.
SaIG Berlari! SaIG The Heart of Geospatial
