Penulis : Delya Sari (2408181), Destri Meliany (2502098), Faisal Sihabudin (2402452), Fida Udwina (2508465)
Editor : Syalwa Ramadianti Nugraha (2407430)
Kabar terbaru dari perairan Selat Sunda kembali memicu perhatian publik dan komunitas sains global: Gunung Anak Krakatau terpantau kembali mengalami perubahan bentuk tubuh secara signifikan. Sejak pertama kali menembus permukaan laut pada tahun 1927 lahir dari kaldera letusan dahsyat ibunya, Krakatau, pada 1883 gunung ini memang dikenal memiliki fase pertumbuhan yang sangat agresif. Namun, perubahan bentuk ini bukanlah sekadar penambahan tinggi secara konstan. Gunung Anak Krakatau beroperasi dalam siklus konstruksi dan destruksi yang ekstrem.
Perubahan bentuk yang terjadi saat ini adalah bagian dari fase konstruksi baru setelah gunung tersebut mengalami trauma geologis berskala masif pada akhir tahun 2018. Saat itu, aktivitas magmatik yang intens memicu ketidakstabilan lereng, berujung pada longsoran sektor di mana sebagian besar tubuh kerucutnya ambles ke dalam laut (Walter et al., 2019). Runtuhan ini memangkas tinggi gunung secara drastis dan mengubah profil puncaknya menjadi kawah yang terbuka lebar. Kini, melalui serangkaian letusan terbarunya, aliran lava dan tumpukan material tefra (abu dan batuan vulkanik) kembali membangun kerucut baru di atas sisa-sisa kawah lama. Proses "bongkar-pasang" morfologi yang begitu cepat ini menjadikan Anak Krakatau sebagai laboratorium alam paling nyata untuk mempelajari evolusi bentuk gunung api di dunia.
Namun, jika kita menarik lensa lebih jauh dari Selat Sunda, dinamika Anak Krakatau nyatanya hanyalah satu babak dari panggung geologi nusantara yang tengah bergejolak. Dalam jendela waktu yang hampir bersamaan, Indonesia menyaksikan serangkaian aktivitas vulkanik yang seolah terjadi serentak di berbagai penjuru. Laporan pemantauan mencatat rentetan eskalasi status, pertumbuhan kubah lava, hingga erupsi eksplosif di beberapa gunung api utama penyangga pulau-pulau besar, seperti Gunung Semeru dan Merapi di Jawa, Gunung Marapi di Sumatera, hingga gunung api di bentangan kepulauan Nusa Tenggara (PVMBG, 2023).
Letusan yang tampak beruntun ini bukanlah kebetulan mistis, melainkan konsekuensi logis dari anatomi tektonik Indonesia. Menurut Hamilton (1979), kepulauan Indonesia adalah wilayah dengan tatanan tektonik paling rumit dan aktif di muka bumi, di mana Lempeng Indo-Australia terus-menerus menunjam ke bawah Lempeng Eurasia dengan kecepatan beberapa sentimeter per tahun. Gesekan raksasa ini meleburkan batuan di kedalaman mantel bumi, menyuplai magma ke 127 gunung api aktif yang berjajar membentuk Cincin Api nusantara (Pratomo, 2006). Ketika suplai magma di bawah zona subduksi ini bergejolak, dampaknya tidak selalu terisolasi pada satu gunung saja.
Kombinasi antara deformasi bentuk Anak Krakatau dan letusan beruntun di berbagai daerah ini memicu sorotan yang luar biasa, baik dari kacamata masyarakat umum maupun komunitas ahli geologi. Bagi masyarakat luas, rentetan kejadian ini membangkitkan kewaspadaan dan urgensi mitigasi bencana yang jauh lebih tinggi. Publik memiliki memori kolektif yang lekat bahwa erupsi gunung api terutama yang merubah morfologi gunung di lautan seperti Anak Krakatau dapat memicu bencana sekunde yang sangat mematikan, seperti tsunami vulkanogenik tahun 2018 (Walter et al., 2019). Masyarakat mulai menyadari bahwa gunung api bukan sekadar memuntahkan abu ke udara, tetapi perubahan struktur fisiknya bisa mengancam pesisir. Hal ini menuntut adanya pemetaan kerentanan dan sistem peringatan dini spasial yang lebih tangguh dan mudah dipahami warga.
Sementara itu, di ranah akademik, fenomena ini membuka kotak pandora bagi para ahli geologi fisik dan vulkanologi. Rentetan erupsi ini memunculkan pertanyaan penelitian yang sangat krusial: Apakah aktivitas serentak ini murni siklus letusan yang secara statistik kebetulan bersamaan, atau ada mekanisme transfer tekanan tektonik di sepanjang sesar dan zona subduksi yang memicu efek domino pada kantong-kantong magma? Para ahli kini berlomba menganalisis apakah pergerakan struktur geologi regional seperti pergeseran sesar aktif di Sumatera atau Jawa berperan sebagai "pemantik" yang memeras dapur magma gunung api secara bersamaan. Fenomena Anak Krakatau dan erupsi beruntun ini memaksa sains untuk melihat jajaran gunung api Indonesia bukan lagi sebagai pipa-pipa magma yang berdiri sendiri, melainkan sebuah sistem fluida raksasa yang saling beresonansi di bawah kaki kita.
Anak Krakatau Kembali Berubah
Anak Krakatau adalah gunung api aktif yang secara alami mengalami perubahan bentuk akibat aktivitas vulkanik. Perubahan bentuk Gunung api Anak Krakatau menjadi salah satu hal yang banyak menarik perhatian masyarakat dalam aktivitas vulkanik tahun ini. Perubahan tersebut berkaitan dengan aktivitas erupsi dan proses pembentukan kembali tubuh gunung api setelah terjadinya longsor. Dalam pemberitaan tim redaksi Kompas.com yang dilakukan oleh Novianto & Rahmawati pada 11 September 2026, petugas menyebut bahwa Anak Krakatau sedang membangun tubuh baru setelah longsor. Kondisi ini menunjukkan bahwa morfologi Anak Krakatau dapat terus mengalami perubahan seiring dengan berlangsungnya aktivitas vulkanik.
Perubahan tersebut tidak hanya dapat dilihat dari munculnya material erupsi di permukaan, tetapi juga dapat diketahui melalui deformasi tubuh gunung api, yaitu perubahan posisi, bentuk, dan ukuran permukaan gunung. Berdasarkan hasil penelitian (Septiani et al., 2025) yang dilakukan pada Januari sampai Maret 2023 pada pengamatan yang dilakukan ditiga stasiun GPS, yaitu PNJG, SRTG, dan TNJG, tercatat pergeseran horizontal sekitar 3,32 - 40,86 mm. PNJG dan TNJG cenderung bergerak ke arah tenggara, sedangkan SRTG bergerak ke arah barat laut. Temuan tersebut memperlihatkan bahwa perubahan pada Anak Krakatau tidak selalu menunggu terjadinya erupsi besar untuk dapat terdeteksi. Pergerakan permukaan dapat menjadi salah satu petunjuk bahwa terjadi perubahan pada sistem vulkanik di bawah permukaan. Penelitian tersebut juga menunjukkan adanya perubahan vertikal berupa inflasi dan deflasi pada bagian tubuh gunung.
Aktivitas vulkanik dapat mengubah bentuk gunungapi melalui beberapa proses, seperti keluarnya material erupsi, penumpukan material baru, perubahan kawah, pergerakan material pada lereng, serta longsoran. Setelah terjadi longsor, aktivitas vulkanik yang terus berlangsung dapat menyebabkan material baru kembali terakumulasi sehingga tubuh gunungapi mengalami proses pembentukan kembali. Kondisi tersebut sesuai dengan pemberitaan Kompas.com tanggal 11 September 2026 yang menyebut bahwa Anak Krakatau sedang membangun tubuh baru setelah mengalami longsor. Hal ini menunjukkan bahwa perubahan morfologi gunungapi merupakan proses yang dinamis dan dapat terus berlangsung selama aktivitas vulkanik masih terjadi. Erupsi dan longsor dapat menyebabkan perubahan morfologi Anak Krakatau secara langsung. Material yang dikeluarkan selama erupsi dapat membentuk atau menambah bagian tubuh gunungapi, sementara longsor dapat mengurangi bagian lereng atau tubuh gunungapi. Setelah material mengalami longsor, aktivitas erupsi berikutnya dapat menyebabkan material baru kembali menumpuk.
Fenomena tersebut menjadi semakin penting dalam konteks 2026 karena Badan Geologi pada 5 September 2026 melaporkan fenomena erupsi menerus Gunungapi Anak Krakatau. Beberapa hari kemudian, pada 11 September 2026, pemberitaan mengenai Anak Krakatau kembali menyoroti proses pembentukan tubuh baru setelah longsor. Namun, proses tersebut tidak berarti bahwa seluruh perubahan bentuk hanya disebabkan oleh satu faktor. Perubahan morfologi gunungapi dapat dipengaruhi oleh aktivitas erupsi, akumulasi material vulkanik, longsoran, erosi, serta perubahan kondisi internal gunungapi.
Mengapa Banyak Gunung Api Indonesia Aktif?
Aktivitas banyak gunung api di Indonesia berkaitan erat dengan posisi Indonesia yang berada pada kawasan tektonik aktif. Indonesia terletak di wilayah pertemuan beberapa lempeng tektonik, terutama Lempeng Indo-Australia, Lempeng Eurasia/Sunda, dan Lempeng Pasifik, serta dipengaruhi oleh interaksi lempeng lainnya di kawasan timur Indonesia. Kondisi tektonik tersebut menyebabkan terbentuknya berbagai zona subduksi, sesar, palung laut, dan jalur gunung api.
Badan Geologi menjelaskan bahwa Indonesia memiliki sekitar 127 gunung api aktif yang membentuk rangkaian busur gunung api dari Sumatra, Jawa, Bali, Nusa Tenggara hingga Maluku, Maluku Utara, Sulawesi bagian utara, dan Kepulauan Sangihe-Talaud. Keberadaan gunung api tersebut berkaitan dengan posisi Indonesia pada zona pertemuan lempeng dan proses penunjaman yang berlangsung di wilayah tersebut. Secara geologi, kondisi ini telah berlangsung dalam waktu yang sangat panjang. Kajian mengenai tektonik Indonesia menunjukkan bahwa kepulauan Indonesia memiliki hubungan erat antara struktur tektonik aktif, zona palung laut, aktivitas magmatik, dan pembentukan busur kepulauan.
Salah satu proses utama yang menjelaskan banyaknya gunung api di Indonesia adalah subduksi, yaitu proses ketika satu lempeng bergerak menunjam ke bawah lempeng lainnya. Pada zona subduksi, proses geologi di dalam bumi dapat menghasilkan magma yang kemudian bergerak menuju permukaan dan membentuk rangkaian gunung api. Hubungan antara subduksi dan vulkanisme terlihat jelas pada Busur Sunda yang membentang dari wilayah Sumatra, Jawa hingga Kepulauan Sunda Kecil. Penelitian Schlüter dkk. menunjukkan bahwa di sepanjang Busur Sunda, Lempeng Indo-Australia menunjam ke bawah Lempeng Eurasia, membentuk sistem subduksi yang berkaitan dengan keberadaan busur vulkanik.
Hal yang sama juga dijelaskan dalam penelitian (Xia et al.,2023), yang menyebut bahwa perkembangan tektonik Busur Sunda didorong oleh subduksi Lempeng Indo-Australia di bawah Eurasia. Zona ini membentang sekitar 5.000 km dari Flores, Jawa, Sumatra hingga Myanmar dan menjadi salah satu sistem tektonik penting di kawasan Indonesia. Khusus untuk Anak Krakatau, penelitian (Stoepke et al.,2025) menjelaskan bahwa gunungapi tersebut berada pada zona subduksi Sumatra-Andaman, tempat Lempeng Indo-Australia menunjam di bawah Lempeng Eurasia dengan kecepatan sekitar 7,2–8,8 cm per tahun. Posisi Anak Krakatau di Selat Sunda juga berada pada zona transisi antara sistem subduksi yang relatif tegak lurus di Jawa dan lebih miring di Sumatra. Aktivitas beberapa gunung api dalam waktu yang berdekatan sering menarik perhatian karena Indonesia memiliki banyak gunung api aktif. Namun, kemunculan aktivitas pada beberapa gunung api dalam periode yang sama tidak secara otomatis menunjukkan bahwa gunung-gunung tersebut saling memicu. Setiap gunung api memiliki sistem magma, struktur geologi, dan kondisi internal yang dapat berbeda.
Badan Geologi sendiri melakukan pemantauan gunung api secara terus-menerus karena aktivitas setiap gunung perlu dinilai berdasarkan data masing-masing. Parameter yang dapat digunakan antara lain kegempaan, perubahan bentuk tubuh gunungapi, pengamatan visual, dan parameter vulkanik lainnya. Badan Geologi mencatat bahwa hingga September 2025 terdapat 127 gunung api aktif di Indonesia dan pemantauan dilakukan secara kontinu melalui pos pengamatan serta sistem MAGMA Indonesia.
Apakah Erupsi Gunung Api Saling Berkaitan?
Aktivitas Anak Krakatau pada September 2026 kembali menjadi perhatian karena terjadi di tengah aktivitas vulkanik sejumlah gunung api di Indonesia. Badan Geologi mencatat Anak Krakatau masih mengalami aktivitas erupsi pada 10–11 September 2026, dengan sejumlah gempa vulkanik dan gempa erupsi yang terekam selama periode pengamatan tersebut.
Kondisi ini dapat dilihat dalam konteks geologi Indonesia yang memang memiliki banyak gunung api aktif. Peta persebaran gunung api Indonesia menunjukkan bahwa gunung-gunung api banyak berada pada jalur tektonik aktif. Aktivitas vulkanik Indonesia pada dasarnya dikontrol oleh pergerakan lempeng tektonik, sehingga wilayah ini memiliki aktivitas gempa dan vulkanisme yang tinggi.
Namun, munculnya erupsi beberapa gunung api dalam waktu yang berdekatan tidak otomatis berarti bahwa erupsi tersebut saling memicu. Setiap gunung api memiliki sistem magma dan kondisi bawah permukaan yang berbeda. Karena itu, hubungan antara satu erupsi dengan erupsi lainnya perlu dibuktikan melalui data kegempaan, deformasi, geokimia, serta kondisi geologi masing-masing gunung.
Fenomena pada September 2026 memperlihatkan hal tersebut. Selain Anak Krakatau, Gunung Semeru juga mengalami erupsi pada 6 September 2026. Reuters melaporkan bahwa kedua gunung tersebut sama-sama berada pada status Level III (Siaga), tetapi keduanya merupakan sistem gunung api yang berbeda dan berjarak sekitar 850 kilometer.
Dengan demikian, kesamaan waktu aktivitas lebih tepat dipahami sebagai bagian dari dinamika vulkanik Indonesia yang berada di lingkungan tektonik aktif. Peta persebaran gunung api membantu memperlihatkan konteks regional tersebut, sedangkan data pemantauan masing-masing gunung diperlukan untuk mengetahui apakah terdapat hubungan geologi secara langsung.
Dampak dan Risiko bagi Masyarakat
Aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau dapat menimbulkan berbagai dampak bagi masyarakat di sekitar kawasan Selat Sunda. Salah satu dampak yang paling umum adalah abu vulkanik, yang dapat terbawa angin dan menyebar ke wilayah yang lebih luas. Abu vulkanik dapat mengganggu jarak pandang, aktivitas masyarakat, serta transportasi udara apabila konsentrasinya cukup tinggi. Pada September 2026, BMKG melaporkan bahwa pemantauan satelit mendeteksi sebaran abu vulkanik dari Anak Krakatau ke sejumlah wilayah di sekitar Selat Sunda dan bagian barat Pulau Jawa. Kondisi tersebut juga menjadi perhatian dalam pemantauan keselamatan penerbangan (BMKG, 2026).
Selain abu, erupsi Anak Krakatau juga dapat menghasilkan lontaran batu pijar, material vulkanik, dan lava. Berdasarkan pemantauan Badan Geologi, aktivitas Anak Krakatau pada September 2026 masih menunjukkan potensi bahaya berupa lontaran material pijar dan hujan abu lebat. Oleh karena itu, masyarakat, wisatawan, dan pengunjung diminta untuk tidak melakukan aktivitas dalam radius 3 kilometer dari pusat aktivitas Gunung Anak Krakatau (Badan Geologi, 2026; BNPB, 2026).
Dampak abu vulkanik tidak hanya dirasakan oleh masyarakat yang berada dekat dengan gunung api. Penyebaran abu sangat dipengaruhi oleh arah dan kecepatan angin sehingga dapat mencapai wilayah yang lebih jauh. Selain mengganggu aktivitas sehari-hari, abu vulkanik juga dapat berdampak terhadap transportasi udara dan lingkungan apabila jumlahnya cukup banyak. Oleh karena itu, pemantauan atmosfer dan arah penyebaran abu menjadi bagian penting dalam mengantisipasi dampak erupsi (BMKG, 2026).
Risiko lainnya berkaitan dengan wilayah pesisir dan perairan di sekitar Selat Sunda. Pengalaman erupsi Anak Krakatau pada Desember 2018 menunjukkan bahwa keruntuhan sebagian tubuh gunung api dapat memicu tsunami. Peristiwa tersebut menyebabkan korban jiwa dan kerusakan di sejumlah wilayah pesisir Banten dan Lampung. Penelitian mengenai kejadian tersebut menunjukkan bahwa keruntuhan sektor Anak Krakatau merupakan bagian dari rangkaian proses yang terjadi selama aktivitas vulkanik pada 2018 (Grilli et al., 2019; Walter et al., 2019).
Namun, kondisi Anak Krakatau pada 2026 tidak dapat secara otomatis disamakan dengan kondisi menjelang peristiwa 2018. Badan Geologi menyatakan bahwa tubuh Anak Krakatau yang terbentuk kembali setelah keruntuhan pada 2018 masih berukuran relatif kecil dan berdasarkan evaluasi saat itu tidak berpotensi mengalami keruntuhan dalam skala yang dapat memicu tsunami. Meskipun demikian, morfologi gunung tetap dipantau secara intensif karena aktivitas vulkanik dapat menyebabkan perubahan pada tubuh gunung api (Badan Geologi, 2026).
Dalam kondisi aktivitas vulkanik yang masih berlangsung, masyarakat perlu mengikuti informasi resmi dari Badan Geologi/PVMBG, BNPB, BMKG, dan pemerintah daerah. Masyarakat juga sebaiknya tidak mendekati kawasan yang telah ditetapkan sebagai zona berbahaya hanya untuk melihat atau merekam aktivitas erupsi karena terdapat risiko lontaran material vulkanik (BNPB, 2026).
Dengan demikian, dampak erupsi Anak Krakatau tidak hanya berkaitan dengan letusan yang terlihat dari gunung, tetapi juga mencakup penyebaran abu vulkanik, gangguan terhadap transportasi, bahaya lontaran material dan lava, serta risiko terhadap wilayah pesisir. Pemantauan secara terus-menerus dan kepatuhan terhadap rekomendasi resmi menjadi langkah penting untuk mengurangi risiko terhadap masyarakat.
Aktivitas Gunung Anak Krakatau menunjukkan bahwa gunung api merupakan sistem geologi yang dinamis dan dapat mengalami perubahan bentuk akibat erupsi, akumulasi material vulkanik, deformasi, maupun longsoran. Setelah mengalami keruntuhan sebagian tubuh gunung pada tahun 2018, Anak Krakatau kembali mengalami proses pembentukan tubuh gunung melalui akumulasi material hasil aktivitas vulkanik. Aktivitas erupsi yang kembali terjadi pada tahun 2026 menunjukkan bahwa perubahan morfologi Anak Krakatau masih terus berlangsung dan perlu dipantau secara berkelanjutan.
Aktivitas beberapa gunung api di Indonesia dalam waktu yang berdekatan juga tidak dapat langsung diartikan sebagai adanya hubungan sebab-akibat antarerupsi. Kondisi tersebut lebih tepat dipahami dalam konteks Indonesia sebagai wilayah tektonik aktif yang berada pada pertemuan dan zona subduksi beberapa lempeng. Meskipun memiliki latar belakang tektonik yang sama, setiap gunung api tetap memiliki sistem magma dan kondisi bawah permukaan yang berbeda sehingga diperlukan data kegempaan, deformasi, pengamatan visual, dan parameter vulkanik lainnya untuk menentukan perkembangan aktivitasnya.
Dari sisi kebencanaan, aktivitas Anak Krakatau dapat menimbulkan bahaya berupa abu vulkanik, lontaran material, lava, serta risiko terhadap wilayah pesisir. Peristiwa keruntuhan Anak Krakatau pada 2018 menjadi pengingat bahwa aktivitas vulkanik dapat menimbulkan bahaya sekunder. Oleh karena itu, pemantauan aktivitas gunung api, penyampaian informasi yang akurat, serta kepatuhan masyarakat terhadap rekomendasi dan zona bahaya menjadi bagian penting dalam mengurangi risiko bencana.
Dengan demikian, perubahan Anak Krakatau dan aktivitas gunung api di Indonesia perlu dipahami berdasarkan data ilmiah dan pemantauan resmi, bukan hanya berdasarkan kemunculan erupsi yang terjadi secara bersamaan. Pemahaman mengenai dinamika gunung api diharapkan dapat meningkatkan kewaspadaan masyarakat sekaligus mendukung upaya mitigasi bencana secara lebih tepat.