Penulis: Keisha Sophia Zahra (2501833), Nailah Ramadhani (2502838), dan Yani Audistia (2503285)
Editor: Nendeh Rizka Nurfadilah (2508823)
PENDAHULUAN
Situs Megalitikum Gunung Padang yang terletak di Kabupaten Cianjur, Jawa Barat, merupakan warisan cagar budaya nasional yang memiliki nilai sejarah luar biasa bagi peradaban manusia (Fireza et al., 2021). Secara arkeologis, situs ini diakui sebagai peninggalan megalitik terbesar di Asia Tenggara dengan areal punden berundak mencapai luas sekitar tiga hektar (Nafila, 2013). Keberadaan batuan andesit basal berstruktur kekar kolom (columnar joint) yang tersusun rapi membuktikan adanya interaksi harmonis antara bentang alam vulkanik dan aktivitas manusia masa lampau. Fenomena kebudayaan yang berpadu dengan keunikan lanskap alam ini memicu peningkatan kunjungan masyarakat serta menjadi objek kajian geografis yang sangat menarik. Oleh karena itu, pemahaman mendalam mengenai karakteristik fisik dan nilai sejarahnya menjadi aspek mendasar dalam menjaga kelestarian warisan tersebut.

Sumber : Radarcirebon
Menurut Icomos, pariwisata budaya mencakup seluruh pengalaman pengunjung yang diperoleh dari interaksi dengan identitas lokal, nilai sejarah, serta pemandangan di suatu lokasi khusus. Pada Situs Gunung Padang, punden berundak lima teras dirancang dengan orientasi pemujaan ke arah Gunung Gede-Pangrango sebagai wujud penghormatan kepada roh leluhur (Fireza et al., 2021). Secara geologis, situs ini sejatinya terbentuk dari leher atau sumbat lava gunung api purba Karyamukti yang runtuh dan kemudian ditata oleh masyarakat purba untuk kegiatan ritual. Integrasi antara keaslian elemen material ruang serta nilai spiritual yang terkandung di dalamnya menciptakan narasi keruangan yang sangat kuat bagi para wisatawan. Pemaknaan terhadap simbol-simbol megalitikum ini memperkuat kedudukan Gunung Padang sebagai pusat edukasi budaya yang bernilai tinggi.
Dalam konteks pengembangan destinasi, keberadaan komunitas kreatif seperti Komunitas Aleut, Geotrek Indonesia, dan Mahanagari terbukti efektif dalam mempromosikan pariwisata edukatif di kawasan ini (Nafila, 2013). Pengemasan produk wisata berbasis storytelling seperti narasi “Sunda Wiwitan” maupun “Mystery Megapyramid” mampu memberikan pengalaman perjalanan yang bermakna dan memikat bagi pengunjung (Adriati et al., 2020). Pengembangan daya tarik ini juga didukung oleh keberadaan objek wisata di sekitarnya seperti Stasiun Terowongan Lampegan dan Perkebunan Teh Rosa. Pemanfaatan potensi wisata secara berkelanjutan dipandang sanggup menggerakkan roda perekonomian lokal sekaligus memperkuat identitas kebudayaan daerah Jawa Barat. Oleh sebab itu, sinergi antar pemangku kepentingan menjadi kunci utama dalam mengoptimalkan promosi destinasi berbasis sejarah dan lingkungan ini.
Peningkatan arus wisatawan yang pesat tanpa didukung perencanaan matang berpotensi memicu kerentanan erosi serta risiko kerusakan pada pusaka budaya ini (Adriati et al., 2020). Penataan zonasi yang ketat serta penerapan model museum in-situ menjadi solusi strategis untuk menyelaraskan antara aktivitas penelitian, perlindungan lingkungan, dan kegiatan rekreasi (Fireza et al., 2021). Pemilihan upaya penanganan berbasis rekayasa vegetatif juga diperlukan guna menjaga stabilitas lereng di zona penyangga dari ancaman tanah longsor. Berdasarkan permasalahan tersebut, artikel ini bertujuan untuk mengkaji keberadaan Situs Gunung Padang sebagai warisan megalitikum yang bernilai sejarah tinggi sekaligus mengidentifikasi potensinya sebagai destinasi wisata budaya di Jawa Barat. Kajian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi pemikiran akademik dalam perspektif pendidikan geografi guna mendukung pengelolaan pariwisata yang berkelanjutan dan berwawasan lingkungan.
PEMBAHASAN
Hasil kajian geologi dan tata ruang keruangan menunjukkan bahwa Situs Gunung Padang berdiri di atas perbukitan yang merupakan sisa leher atau sumbat lava (lava plug/neck) berstruktur andesit basal dari kawah gunung api purba Karyamukti berumur Tersier. Pembekuan magma pada leher gunung api purba tersebut secara alami membentuk batuan kekar kolom (columnar joint) yang seiring berjalannya waktu geologis mengalami pelapukan, keruntuhan, dan berserakan di puncak bukit (Bronto & Herman, 2012). Oleh masyarakat megalitikum masa lalu, balok-balok batuan tersebut disusun kembali secara terencana membentuk struktur punden berundak lima teras seluas 3.132,15 m² pada elevasi sekitar 989 meter di atas permukaan laut dengan orientasi pemujaan yang mengarah ke puncak Gunung Gede-Pangrango. Setiap teras memiliki keunikan batuan penanda (signifier stones) seperti Batu Kujang, Batu Tapak Maung, Batu Telapak Kaki Manusia, Batu Gamelan, Batu Gendong, dan Batu Singgasana yang mempresentasikan pembagian ruang arkeologi serta sarana ritual kebudayaan masa lalu (Wardani et al., 2019).
Integrasi analisis petrologi, mineralogi, dan pengujian geofisika memberikan bukti ilmiah mengenai keterlibatan rekayasa manusia prasejarah (artificial origin) dalam pengerjaan struktur situs ini. Karakterisasi mineralogi menggunakan metode petrografi dan X-ray diffraction (XRD) menunjukkan bahwa batuan utama kekar kolom dominan tersusun atas Plagioklas dan Feldspar hasil aktivitas vulkanik, sedangkan material pengisi (filler) mengandung Kuarsa dan Kaolinit yang berasal dari proses hidrotermal. Perbedaan komposisi ini membuktikan bahwa masyarakat purba secara sengaja memanfaatkan material filler dari lokasi terpisah untuk memperkuat struktur batuan (Nurhandoko et al., 2025). Pembuktian tersebut diperkuat oleh prospeksi geofisika multitrapis seperti Ground Penetrating Radar (GPR), Electrical Resistivity Tomography (ERT), dan tomografi seismik yang mengidentifikasi adanya struktur konstruksi bertingkat hingga kedalaman 20–30 meter serta anomali resistivitas dan kecepatan gelombang yang mengindikasikan keberadaan ruang tersembunyi (buried chambers) di bawah permukaan (Natawidjaja et al., 2024).
Di luar keunikan arkeologis dan geologisnya, Situs Gunung Padang menyimpan potensi besar untuk dikembangkan sebagai destinasi geowisata dan pariwisata warisan budaya (heritage tourism) berkelanjutan di Jawa Barat. Keberadaan lanskap megalitikum ini menawarkan daya tarik edukasi sejarah dan geologi yang memadukan keindahan alam perbukitan dengan nilai spiritual masyarakat lokal (Subakti et al., 2018). Pengemasan potensi pariwisata diperkuat melalui strategi destination branding berbasis storytelling, yakni narasi "Sunda Wiwitan" (Permulaan Orang Sunda) untuk membangun identitas budaya lokal, serta narasi "Mystery Megapyramid" untuk menarik minat wisatawan internasional. Pengalaman berwisata ini dipadukan dengan konektivitas keruangan terhadap objek wisata sekitar, seperti Stasiun Terowongan Lampegan dan Perkebunan Teh Rosa (Adriati et al., 2020).
Meskipun memiliki potensi pariwisata yang tinggi, pengembangan kawasan ini diperhadapkan pada tantangan kerentanan geoteknik dan keterbatasan infrastruktur lingkungan. Wilayah lereng zona penyangga situs didominasi oleh tekstur tanah pasir berlempung (clayey sand) yang lunak dan rentan terhadap infiltrasi air hujan serta ancaman longsor. Hasil analisis stabilitas lereng menggunakan metode elemen hingga (Finite Element Method) menunjukkan nilai angka keamanan (Safety Factor) sebesar 2,61 pada zona penyangga bagian timur, yang mengindikasikan kondisi lereng secara umum stabil (SF > 1,5), namun tetap memerlukan tindakan perlindungan erosi berbasis rekayasa vegetatif menggunakan tanaman berakar dalam seperti Cempedak dan Kemiri. Di samping itu, perbaikan Sistem Penyediaan Air Minum (SPAM) berbasis Saringan Pasir Lambat dan Sistem Pengelolaan Air Limbah Domestik (SPALD) menggunakan Anaerobic Filter sangat diperlukan untuk menjamin kenyamanan pengunjung sekaligus memitigasi pencemaran lingkungan kawasan (Adriati et al., 2020).
Dinamika tata kelola dan persepsi publik terhadap Situs Gunung Padang turut dipengaruhi oleh kompleksitas perdebatan multidisiplin serta tantangan edukasi kebudayaan. Perbedaan sudut pandang antara kajian arkeologi konvensional yang mengklasifikasikan situs sebagai punden berundak dan perspektif riset mandiri yang memaknainya sebagai struktur piramida purba sempat memicu dinamika wacana publik. Di samping perdebatan akademis tersebut, pemahaman masyarakat terhadap potensi nilai sejarah dan estetika dari ragam batu penanda (signifier stones) masih terbatas, di mana publik umumnya lebih mengapresiasi keindahan panorama alam ketimbang nilai historis objek arkeologi (Wardani et al., 2019). Oleh karena itu, penguatan edukasi pelestarian budaya menjadi faktor yang sangat krusial, salah satunya melalui integrasi konsep geopark ke dalam kurikulum pendidikan lokal guna menumbuhkan kesadaran kolektif dalam menjaga keberlanjutan cagar budaya ini (Muslim et al., 2024).
Secara holistik dalam perspektif geografi, keberlanjutan Situs Gunung Padang sebagai warisan megalitikum dan destinasi wisata budaya memerlukan pendekatan tata ruang yang terintegrasi antara konservasi, mitigasi bencana, dan pengembangan pariwisata. Penataan zonasi yang tegas—dengan memisahkan zona inti (core zone) dari zona penyangga (buffer zone)—menjadi langkah vital untuk mencegah degradasi fisik situs akibat tekanan arus wisatawan. Penerapan perkuatan lereng berbasis rekayasa vegetatif (green engineering) serta penyediaan fasilitas sanitasi yang terukur juga terbukti efektif menjaga kelestarian lingkungan sekitar tanpa merusak keaslian struktur megalitik (Adriati et al., 2020). Dengan memadukan prinsip kelestarian lingkungan, pemahaman sejarah keruangan, dan pemberdayaan ekonomi masyarakat lokal, Situs Gunung Padang berpotensi menjadi model percontohan pengelolaan geowisata berkelanjutan yang memperkuat identitas kebudayaan Jawa Barat di tingkat nasional maupun internasional.
KESIMPULAN
Berdasarkan hasil analisis geografi, geologi, dan arkeologi, Situs Gunung Padang terbukti merupakan warisan megalitikum yang bernilai sejarah luar biasa, berdiri di atas bentang alam vulkanik berupa sisa leher lava (lava plug) gunung api purba Karyamukti. Struktur punden berundak lima teras seluas 3.132,15 m² dibangun secara terencana oleh masyarakat megalitikum dengan memanfaatkan batuan columnar joint andesit basal. Bukti ilmiah petrologi, mineralogi (perbedaan komposisi mineral batuan utama dan material filler), serta prospeksi geofisika (GPR, ERT, dan tomografi seismik) mengonfirmasi adanya keterlibatan rekayasa manusia prasejarah (artificial origin) dalam penyusunan struktur bertingkat dan ruang tersembunyi di bawah permukaan.
Dalam konteks pariwisata, Situs Gunung Padang memiliki potensi besar sebagai destinasi geowisata dan wisata budaya berkelanjutan di Jawa Barat. Pengemasan potensi ini sangat efektif apabila didukung strategi destination branding berbasis storytelling melalui narasi "Sunda Wiwitan" untuk memperkuat identitas budaya lokal dan "Mystery Megapyramid" untuk menarik minat internasional, yang terintegrasi dengan jaringan atraksi wisata di sekitarnya. Namun, pengembangan pariwisata ini harus diimbangi dengan mitigasi risiko geoteknik dan peningkatan infrastruktur lingkungan; meskipun lereng zona penyangga berada dalam kondisi stabil (SF = 2,61), penerapan perkuatan vegetatif (tanaman Cempedak dan Kemiri) serta penyediaan fasilitas SPAM (Saringan Pasir Lambat) dan SPALD (Anaerobic Filter) sangat vital untuk mencegah erosi dan menjamin sanitasi kawasan.
Secara keseluruhan, keberlanjutan Situs Gunung Padang memerlukan pendekatan tata ruang terpadu yang memadukan penataan zonasi ketat (zona inti dan penyangga), pemberdayaan ekonomi masyarakat lokal, serta integrasi konsep geopark dalam pendidikan geografi. Sinergi antara konservasi cagar budaya, mitigasi bencana berbasis ekologi (green engineering), dan pengembangan pariwisata edukatif akan menjadikan Gunung Padang sebagai model pengelolaan geowisata berkelanjutan yang memperkuat warisan kebudayaan Jawa Barat di tingkat internasional.
SARAN
Pemerintah dan pengelola disarankan untuk mengintegrasikan teknologi Virtual Reality (VR) dan Augmented Reality (AR) sebagai fasilitas wisata edukasi alternatif di kawasan Situs Gunung Padang. Kehadiran inovasi digital ini akan memungkinkan wisatawan untuk mengeksplorasi zona inti punden berundak secara virtual tanpa harus menginjak langsung batuan yang rentan mengalami keausan. Selain itu, pemasangan sistem peringatan dini bencana berbasis Internet of Things (IoT) dengan menggunakan sensor pergerakan tanah perlu segera direalisasikan pada lereng-lereng curam di sekitar situs. Pembuatan jalur pedestrian khusus berupa panggung kayu (elevated boardwalk) juga sangat direkomendasikan agar langkah kaki pengunjung tidak merusak struktur asli tanah dan batuan. Langkah-langkah modernisasi infrastruktur ini akan menciptakan keseimbangan yang harmonis antara upaya pelestarian warisan peradaban masa lalu dengan kemajuan pariwisata masa kini.
Dari perspektif pendidikan, kawasan Situs Gunung Padang sangat potensial untuk ditetapkan sebagai laboratorium alam terbuka bagi para mahasiswa geografi dan pelajar di seluruh Indonesia. Program kemitraan antara pengelola situs dan institusi pendidikan perlu digagas secara terstruktur agar lokasi ini dapat rutin digunakan untuk praktik lapangan terkait kajian geomorfologi dan geografi sejarah. Untuk mengurai kepadatan wisatawan di lokasi utama, masyarakat sekitar juga dapat diberdayakan melalui pengembangan konsep desa wisata terpadu yang menawarkan penginapan berbasis homestay dan wisata kuliner tradisional. Wisatawan nantinya tidak hanya datang untuk mengamati peninggalan batu megalitikum, tetapi juga dapat merasakan pengalaman autentik mengenai kebudayaan dan kehidupan agraris warga setempat. Pendekatan pariwisata holistik ini diyakini mampu meningkatkan kesejahteraan ekonomi masyarakat lokal sekaligus melindungi situs dari ancaman destruktif akibat komersialisasi pariwisata massal.
DAFTAR PUSTAKA
Adriati, F., Mihardja, E. J., & Irawan, D. S. (2020). Pengembangan geowisata di Cianjur: Tinjauan stabilitas lereng, air bersih dan sanitasi Situs Gunung Padang untuk branding destinasi. Universitas Bakrie Press. https://ubakriepress.bakrie.ac.id/
Bronto, S., & Herman, D. Z. (2012). Geologi Gunung Padang dan sekitarnya, Kabupaten Cianjur - Jawa Barat. Proceedings PIT IAGI Yogyakarta 2012: The 41st IAGI Annual Convention and Exhibition, 1–4.
Fireza, D., Nadia, A., & Yondri, L. (2021). Museum in-situ sebagai media konservasi situs arkeologi (Studi kasus: Situs Arkeologi Gunung Padang Cianjur). Jurnal Arsitektur ARCADE, 5(1), 30–38. https://doi.org/10.31884/arcade.v5i1.581
Irawan, D. S., Adriati, F., & Mihardja, E. J. (2021). An attempt for ensuring sustainable tourism by examining the landscape and water supply: A case in Gunung Padang. IOP Conference Series: Earth and Environmental Science, 716(1), 012118. https://doi.org/10.1088/1755-1315/716/1/012118
Muslim, G. O., Herdiansyah, A. R., Alfiyalin, Y. Y., Fahira, G. H., Muslim, F. N., William, G., & Muslim, D. (2024). Exploring academic perspectives for enhancing geopark potentials in Cianjur: A viewpoint study. IOP Conference Series: Earth and Environmental Science, 1424(1), 012036. https://doi.org/10.1088/1755-1315/1424/1/012036
Nafila, O. (2013). Peran komunitas kreatif dalam pengembangan pariwisata budaya di Situs Megalitikum Gunung Padang. Jurnal Perencanaan Wilayah dan Kota, 24(1), 65–80. https://doi.org/10.5614/jpwk.v24i1.65
Natawidjaja, D. H., Bachtiar, A., Nurhandoko, B. E. B., Akbar, A., Purajatnika, P., Daryono, M. R., Wardhana, D. D., Subandriyo, A. S., Krisyunianto, A., Ontowiryo, B., & Maulana, Y. (2024). Geo-archaeological prospecting of Gunung Padang buried prehistoric pyramid in West Java, Indonesia. Archaeological Prospection, 31(2), O1–O25. https://doi.org/10.1002/arp.1912
Nurhandoko, B. E. B., Subandrio, A. S., Natawidjaja, D. H., Bachtiar, A., Akbar, A., Daryono, M., Maulana, Y., Ontowirjo, B., Purajatnika, P., Krisyunianto, A., Pratiwi, R., & Cindrawati, M. (2025). Characterization of filler cement and columnar joint rocks of prehistoric megalithic site Gunung Padang West Java: Unveiling the mineralogical evidence of natural vs artificial origins. IOP Conference Series: Earth and Environmental Science, 1472(1), 012040. https://doi.org/10.1088/1755-1315/1472/1/012040
Subakti, A. G., Pratomo, A., Triana, I., & Khrisnanto, I. (2018). Site attraction as a representation of heritage tourism: Case study of Gunung Padang Site, Cianjur, West - Java. IOP Conference Series: Earth and Environmental Science, 126(1), 012084. https://doi.org/10.1088/1755-1315/126/1/012084
Wardani, W. G. W., Wulandari, & Syahid. (2019). Presentasi ruang arkeologi Situs Gunung Padang melalui visualisasi batu penanda untuk buku foto. MUDRA Jurnal Seni Budaya, 34(3), 394–401. https://doi.org/10.31091/mudra.v34i3.818