Penulis : Achmad Faqikh (2311656), Muhammad Dwi Apriansyah AS (2309795), Hilya Talitha Aqilah (2311098)

Dok. Penulis
Memasuki dunia kerja melalui kegiatan magang menjadi pengalaman baru yang memberikan kesempatan bagi mahasiswa untuk melihat secara langsung bagaimana pengetahuan yang diperoleh selama perkuliahan diterapkan dalam lingkungan profesional. Bagi kami, pengalaman tersebut menjadi semakin menarik karena kegiatan magang dilaksanakan di PT Teknika Spasial Persada, sebuah perusahaan yang bergerak di bidang survei dan pemetaan serta memanfaatkan berbagai teknologi geospasial dalam pelaksanaan pekerjaannya.
Bulan pertama magang menjadi tahap awal untuk mengenal lingkungan kerja, memahami pola pekerjaan, sekaligus beradaptasi dengan tuntutan yang berbeda dari kegiatan perkuliahan. Tidak hanya memperoleh pengalaman teknis, kami juga mulai belajar mengenai kedisiplinan, komunikasi, tanggung jawab, serta bagaimana mengatur waktu di tengah berbagai aktivitas yang harus dijalankan.
Mengenal Lingkungan dan Kultur Kerja
Pada awal kegiatan magang, kami terlebih dahulu diperkenalkan dengan lingkungan kerja dan orang-orang yang akan berinteraksi selama menjalani kegiatan magang. Proses tersebut menjadi bagian penting karena suasana dan kultur lingkungan kerja menjadi sesuatu yang berbeda dibandingkan dengan lingkungan perkuliahan.
Salah satu hal yang berkesan adalah suasana kerja yang terasa nyaman dan mendukung proses belajar. Interaksi dengan rekan kerja dan pembimbing membuat kami lebih mudah beradaptasi dengan lingkungan baru. Selain menjalankan pekerjaan, terdapat pula kebiasaan untuk tetap memperhatikan waktu ibadah di tengah aktivitas pekerjaan. Hal sederhana tersebut memberikan pengalaman bahwa lingkungan profesional tidak hanya berkaitan dengan target pekerjaan, tetapi juga bagaimana membangun kebiasaan dan suasana kerja yang baik.
Pada tahap awal ini, kami juga mulai memahami bahwa bekerja dalam sebuah perusahaan membutuhkan kemampuan untuk beradaptasi. Cara berkomunikasi, mengikuti arahan, memahami pembagian pekerjaan, hingga menyelesaikan tugas sesuai kebutuhan menjadi pengalaman baru yang tidak selalu dapat diperoleh melalui kegiatan perkuliahan.
Mengulas Kembali GNSS sebelum Terjun ke Praktik

Dok. Penulis
Setelah mulai beradaptasi dengan lingkungan kerja, kami kemudian mendapatkan tugas yang berkaitan dengan Global Navigation Satellite System (GNSS). Menariknya, kegiatan tersebut tidak langsung dimulai dengan pengolahan data, tetapi diawali dengan mengulas kembali materi GNSS yang sebelumnya telah dipelajari selama perkuliahan.
Bagi mahasiswa Sains Informasi Geografi (SaIG), GNSS tentu bukan sesuatu yang sepenuhnya baru. Berbagai konsep mengenai pengukuran, posisi, koordinat, serta pengolahan data telah diperoleh melalui kegiatan perkuliahan maupun praktikum. Namun, pembelajaran kembali dalam lingkungan kerja memberikan sudut pandang yang berbeda. Materi yang sebelumnya dipahami dalam konteks pembelajaran mulai dikaitkan dengan kebutuhan pekerjaan dan data yang digunakan dalam kegiatan profesional.
Setelah memahami kembali konsep dasarnya, kami mulai mencoba melakukan pengolahan data GNSS. Pada tahap ini, pengalaman yang diperoleh tidak hanya berkaitan dengan langkah-langkah teknis pengolahan data, tetapi juga bagaimana melakukan pengecekan dan memperhatikan detail yang dapat memengaruhi hasil akhir.
Hal menarik lainnya adalah adanya berbagai tips dan trik yang diberikan oleh pembimbing maupun rekan kerja selama proses belajar. Beberapa hal yang terlihat sederhana ternyata dapat memberikan pengaruh terhadap efisiensi dan ketelitian pekerjaan. Pengalaman tersebut menjadi salah satu perbedaan yang kami rasakan antara pembelajaran di kelas dan pengalaman langsung di dunia kerja.
Pengalaman tidak berhenti pada pengolahan data. Kami juga memperoleh kesempatan untuk terlibat dalam kegiatan pengukuran GNSS. Dengan terjun langsung ke lapangan, konsep yang sebelumnya dipelajari secara teoritis menjadi lebih mudah dipahami karena dapat dilihat dan dirasakan secara langsung dalam proses pekerjaan.
Dari kegiatan tersebut, kami mulai memahami bahwa pekerjaan survei GNSS tidak hanya membutuhkan kemampuan mengoperasikan alat, tetapi juga membutuhkan ketelitian, pemahaman terhadap kondisi lapangan, serta kemampuan untuk mengambil keputusan teknis sesuai dengan situasi yang dihadapi.
Mengenal SLAM LiDAR, 3DGS, dan Fotogrametri

Dok. Penulis
Setelah mendapatkan pengalaman pada pekerjaan GNSS, kegiatan belajar kemudian berkembang ke teknologi pemodelan tiga dimensi. Pada tahap ini, kami diperkenalkan dengan beberapa teknologi dan metode yang semakin banyak digunakan dalam pekerjaan geospasial, di antaranya SLAM LiDAR, 3D Gaussian Splatting (3DGS), dan fotogrametri.
Pengalaman tersebut menjadi hal yang menarik karena memberikan kesempatan untuk mengenal pendekatan pemodelan yang berbeda dari pekerjaan pemetaan yang selama ini lebih sering dijumpai dalam perkuliahan. SLAM LiDAR memberikan pengalaman mengenai akuisisi data tiga dimensi secara mobile, sedangkan fotogrametri memberikan pemahaman mengenai pemanfaatan citra untuk menghasilkan informasi dan model tiga dimensi.
Kami juga diperkenalkan dengan 3DGS sebagai salah satu pendekatan dalam menghasilkan representasi tiga dimensi. Berbagai teknologi tersebut kemudian dikaitkan dengan pekerjaan dalam proyek pemodelan SUCOR.
Kegiatan tersebut memberikan gambaran bahwa perkembangan teknologi geospasial saat ini tidak hanya berfokus pada pemetaan dalam bentuk dua dimensi. Data dan informasi geospasial dapat dikembangkan menjadi representasi tiga dimensi yang lebih detail dan dapat digunakan untuk berbagai kebutuhan. Bagi kami sebagai mahasiswa SaIG, pengalaman ini menjadi kesempatan untuk memperluas pemahaman mengenai penerapan teknologi geospasial di luar materi yang selama ini diperoleh di kelas.
Lebih dari sekadar mengenal perangkat dan perangkat lunak, pengalaman tersebut juga mengajarkan bahwa setiap teknologi memiliki proses dan tantangan tersendiri. Data yang dihasilkan tetap perlu diperiksa, diolah, dan disesuaikan dengan kebutuhan pekerjaan agar dapat menghasilkan informasi yang dapat digunakan.
Dari Pembelajaran di Kelas ke Pekerjaan Profesional
Berbagai kegiatan pada bulan pertama membuat kami semakin menyadari bahwa materi yang dipelajari selama perkuliahan menjadi dasar yang penting ketika memasuki dunia kerja. Konsep mengenai survei, GNSS, pemetaan, pengolahan data, hingga pemodelan tiga dimensi ternyata memiliki keterkaitan yang erat dengan pekerjaan yang dilakukan di perusahaan.
Namun, pengalaman di dunia kerja juga menunjukkan bahwa kemampuan teknis bukan satu-satunya hal yang dibutuhkan. Pekerjaan profesional menuntut ketelitian, tanggung jawab, komunikasi, kemampuan memahami instruksi, serta kemampuan beradaptasi terhadap kebutuhan pekerjaan.
Hal tersebut menjadi salah satu pembelajaran penting selama bulan pertama. Jika kegiatan perkuliahan memberikan ruang yang luas untuk belajar dari kesalahan, lingkungan kerja mengajarkan pentingnya meminimalkan kesalahan karena pekerjaan yang dilakukan merupakan bagian dari suatu proses dan memiliki tujuan yang nyata.
Pengalaman mendapatkan arahan langsung dari praktisi juga memberikan pengetahuan yang berbeda. Berbagai tips, pertimbangan teknis, dan kebiasaan dalam menyelesaikan pekerjaan menjadi pengetahuan tambahan yang melengkapi materi yang telah diperoleh selama perkuliahan.
Suka dan Duka di Bulan Pertama
Satu bulan pertama tentu tidak hanya berisi pengalaman menyenangkan. Lingkungan kerja yang nyaman dan kesempatan untuk mempelajari berbagai teknologi menjadi salah satu hal yang membuat kegiatan magang terasa menarik. Kesempatan untuk belajar langsung dari orang-orang yang telah memiliki pengalaman di bidang survei dan pemetaan juga menjadi pengalaman yang sangat berharga.
Di sisi lain, terdapat tantangan yang harus dihadapi selama menjalani kegiatan magang. Salah satunya adalah jarak perjalanan menuju tempat magang yang cukup jauh. Waktu perjalanan yang harus ditempuh membuat pengelolaan waktu menjadi tantangan tersendiri, terutama ketika harus membagi waktu antara pekerjaan, istirahat, dan berbagai tugas lain yang masih harus diselesaikan.
Menjalani aktivitas dari pagi hingga sore kemudian melanjutkan perjalanan pulang membutuhkan pengaturan waktu dan energi yang baik. Pada beberapa kondisi, kami harus menentukan prioritas agar pekerjaan magang tetap dapat dijalankan dengan baik tanpa mengabaikan kewajiban lainnya.
Tantangan tersebut secara perlahan mengajarkan pentingnya manajemen waktu. Magang tidak hanya menjadi latihan untuk bekerja secara profesional, tetapi juga menjadi latihan untuk mengatur diri sendiri, mengenali batas kemampuan, menentukan prioritas, dan menjaga keseimbangan antara pekerjaan dan waktu istirahat.
Bagi kami, satu bulan pertama bukanlah akhir dari proses belajar, melainkan langkah awal untuk memahami lebih jauh bagaimana ilmu Sains Informasi Geografi diterapkan dalam dunia kerja. Masih banyak hal yang perlu dipelajari, pengalaman yang perlu diperoleh, serta tantangan yang akan dihadapi selama kegiatan magang berlangsung. Dengan pengalaman awal ini, perjalanan magang di PT Teknika Spasial Persada menjadi ruang belajar untuk terus berkembang, baik dalam kemampuan teknis maupun dalam mempersiapkan diri menghadapi dunia profesional.