
PADANG - Profesor dari Universitas Pendidikan Indonesia (UPI), Prof. Elly Malihah, memaparkan pentingnya keterlibatan perempuan dan masyarakat marginal dalam mewujudkan pembangunan berkelanjutan pada International Conference on Education, Sociology, Anthropology, and Communication (ICESAC) di Universitas Negeri Padang (UNP), Selasa (6/10/2026).
Dalam paparannya yang bertajuk "Leaving No One Behind: Gender & Community Participation for Sustainable and Inclusive Development", Prof. Elly menekankan bahwa agenda Sustainable Development Goals (SDGs) 2030, khususnya prinsip leave no one behind, tidak akan tercapai tanpa inklusi.
"Gender dan partisipasi komunitas bukan sekadar pelengkap, melainkan penggerak utama dalam pembangunan berkelanjutan," ujar Prof. Elly.

Beliau menjelaskan konsep GEDSI (Gender Equality, Disability, and Social Inclusion) yang berfokus pada kesetaraan hak, aksesibilitas bagi penyandang disabilitas, dan perlawanan terhadap eksklusi sosial. Menurutnya, partisipasi komunitas adalah mesin yang menggerakkan ketiga pilar tersebut.
Meskipun Indeks Ketimpangan Gender (IKG) Indonesia menunjukkan tren perbaikan pada 2020-2025, Prof. Elly memaparkan bahwa kesenjangan masih terjadi. Ia menyoroti tantangan seperti keterwakilan perempuan di legislatif yang masih di bawah target 30%, ketimpangan Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK), serta kesenjangan akses pendidikan dan ruang digital, terutama di wilayah Indonesia Timur.
Prof. Elly memaparkan berbagai bukti dari riset yang dilakukan timnya di enam arena, yaitu olahraga, politik, demokrasi, ekspresi publik, pendidikan, dan program publik (Makan Bergizi Gratis). Riset-riset tersebut menegaskan bahwa norma gender masih menentukan siapa yang terlibat, dan intervensi berbasis GEDSI dapat memperluas ruang partisipasi.
Sebagai agenda ke depan, Prof. Elly mengusulkan empat prioritas utama:
- Pengarusutamaan GEDSI di sektor pendidikan.
- Mendorong partisipasi politik yang substantif.
- Menciptakan ruang publik dan digital yang aman.
- Menjadikan kearifan lokal, seperti konsep silih asah, silih asih, silih asuh, sebagai modal sosial untuk kolaborasi.
"Sifat manusia tidak ditentukan oleh jenis kelaminnya, melainkan oleh bagaimana budayanya mendidik mereka," tutup Prof. Elly dalam presentasinya.
