Jl. Dr. Setiabudi No.276A, Kota Bandung 40143
UPI-FPIPS-Logo-blok
Ketika Geografi Membentuk Kepedulian: Peran Perkuliahan dalam Menumbuhkan Kesadaran Lingkungan Mahasiswa
Penulis : Frisca Arifin (2502984) Editor: Nendeh Rizka Nurfadilah (2508823)

Abstrak

Krisis lingkungan sering dipahami sebagai persoalan teknis, padahal akarnya terletak pada perilaku manusia. Artikel ini menelaah bagaimana perkuliahan geografi dapat membentuk kepedulian lingkungan mahasiswa. Analisis memadukan data kualitas lingkungan nasional, data perilaku peduli lingkungan rumah tangga, dan temuan penelitian pada mahasiswa pendidikan geografi. Kesimpulannya, geografi memiliki keunggulan karena menghubungkan pengetahuan, pengalaman keruangan, dan tanggung jawab sosial. Keunggulan itu hanya terwujud jika perkuliahan dirancang untuk mengubah cara mahasiswa memandang lingkungan, bukan sekadar menambah hafalan.

Pendahuluan

Kualitas lingkungan hidup Indonesia masih menyisakan ruang perbaikan yang besar. Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS), Indeks Kualitas Lingkungan Hidup (IKLH) nasional tahun 2023 berada pada angka 72,54. Indeks ini disusun dari kualitas air, udara, dan tutupan lahan. Pada skala global, Indeks Kinerja Lingkungan (Environmental Performance Index) 2020 menempatkan Indonesia di peringkat 116 dari 180 negara dengan skor 37,8 dari 100. Angka-angka tersebut tidak dapat dijelaskan oleh faktor fisik semata. Kajian-kajian BPS dan akademisi menunjukkan bahwa perilaku masyarakat menjadi akar banyak masalah lingkungan, mulai dari pemanasan global, penumpukan sampah, hingga pencemaran air. Ketika kualitas lingkungan diperlakukan sebagai barang publik, keputusan setiap individu ikut menentukan hasil agregatnya. Karena itu, pertanyaan pentingnya bukan hanya "apa yang rusak", tetapi juga "bagaimana kepedulian dibentuk". Perguruan tinggi menempati posisi strategis dalam hal ini. Mahasiswa sedang berada pada fase pembentukan identitas profesional dan nilai. Dalam beberapa tahun ke depan mereka akan menjadi guru, perencana, birokrat, atau pelaku usaha yang keputusannya berdampak pada ruang hidup orang lain. Di antara berbagai disiplin, geografi memiliki posisi yang istimewa karena objek kajiannya adalah hubungan manusia dengan lingkungan di ruang tertentu.

Gambaran Perilaku Peduli Lingkungan di Indonesia

Sejak lama BPS memantau perilaku rumah tangga melalui Survei Perilaku Peduli Lingkungan Hidup (SPPLH). Sejak 2017, pemantauan itu dikemas dalam Indeks Perilaku Ketidakpedulian Lingkungan Hidup (IPKLH) yang bersumber dari Susenas Modul Ketahanan Sosial. Indeks ini bernilai 0 sampai 1, dan semakin mendekati 1 berarti semakin tinggi ketidakpedulian. Beberapa temuan layak dicermati.
  1. Kepedulian tidak merata antardimensi. Dalam rujukan yang membahas IPKLH 2023, dimensi penghematan air termasuk yang bernilai tinggi (sekitar 0,67), sedangkan dimensi lain tercatat serendah 0,41. Artinya, perilaku yang berkaitan dengan kebiasaan sehari-hari, seperti air, sampah, energi, dan transportasi, tidak bergerak seragam.
  2. Penelitian Universitas Gadjah Mada atas data nasional menemukan bahwa 47,82 persen rumah tangga masih memiliki perilaku peduli lingkungan yang rendah. Sebanyak 62,60 persen di antara kelompok itu tinggal di daerah perkotaan. Ruang hidup ternyata berkaitan dengan perilaku, dan temuan inilah yang paling dekat dengan wilayah kajian geografi.
  3. Studi yang sama menunjukkan bahwa perilaku peduli lingkungan cenderung membaik seiring meningkatnya pengetahuan kepala rumah tangga tentang lingkungan. Pendidikan tertinggi dan pengetahuan lingkungan berpengaruh signifikan. Pengetahuan memang bukan satu-satunya faktor, tetapi ia terbukti menjadi salah satu pengungkit yang dapat diintervensi melalui pendidikan.

Geografi sebagai Ilmu yang Membentuk Cara Pandang

Geografi tidak mengajarkan lingkungan sebagai daftar fakta. Disiplin ini membiasakan mahasiswa berpikir melalui tiga lensa.
  1. Lensa keruangan. Mahasiswa belajar bahwa suatu peristiwa selalu terjadi di tempat tertentu dan dipengaruhi tempat di sekitarnya. Banjir di hilir, misalnya, tidak dapat dilepaskan dari alih fungsi lahan di hulu.
  2. Lensa keterkaitan. Fenomena fisik dan sosial dibaca bersama, seperti pertumbuhan penduduk, penggunaan lahan, dan kualitas air.
  3. Lensa skala. Persoalan dibaca dari tingkat lokal sampai global, sehingga perilaku harian seseorang dapat dihubungkan dengan perubahan yang jauh lebih besar.
Tiga lensa tersebut menjelaskan mengapa pembelajaran geografi berpotensi menumbuhkan kepedulian yang lebih kuat. Kepedulian muncul ketika seseorang melihat bahwa dirinya bagian dari sistem, bukan penonton. Praktikum lapangan, pemetaan, analisis citra penginderaan jauh, dan kajian kasus wilayah memberi mahasiswa pengalaman langsung atas dampak keputusan manusia terhadap ruang.

Bukti Empiris dari Mahasiswa Pendidikan Geografi

Penelitian pada mahasiswa Program Studi Pendidikan Geografi di Universitas Pendidikan Ganesha (Undiksha) memberikan gambaran yang relevan. Studi ini menguji hubungan antara Indeks Prestasi Kumulatif (IPK), hasil belajar mata kuliah Pendidikan Kependudukan dan Lingkungan Hidup (PKLH), serta sikap peduli lingkungan hidup. Hasilnya disajikan pada tabel berikut.

Hubungan yang diuji

Koefisien
Salah satu variabel akademik dengan sikap peduli lingkungan r = 0,717

IPK dan hasil belajar PKLH secara bersama-sama dengan sikap peduli lingkungan

R = 0,593

Nilai r = 0,717 tergolong hubungan yang kuat, sedangkan R = 0,593 menunjukkan hubungan sedang. Tentu korelasi tidak sama dengan sebab-akibat. Meski demikian, temuan ini konsisten dengan gagasan bahwa capaian belajar yang baik pada materi lingkungan berjalan seiring dengan sikap yang lebih peduli. Studi yang sama juga mencatat peringatan penting. Penulisnya menyinggung masih lemahnya pembentukan karakter peduli lingkungan di perguruan tinggi, sementara indeks perilaku peduli lingkungan masyarakat dinilai masih rendah. Dengan kata lain, pengetahuan dan sikap belum otomatis menjadi kebiasaan.

Kesenjangan antara Pengetahuan, Sikap, dan Perilaku

Bukti di atas membawa kita pada persoalan klasik, yaitu kesenjangan antara tahu dan bertindak. Seorang mahasiswa dapat menjelaskan siklus hidrologi dengan sempurna, tetapi tetap membuang sampah sembarangan. Ada beberapa penjelasan yang masuk akal.
  1. Pembelajaran yang berhenti pada kognisi. Ujian menilai ingatan, sedangkan kebiasaan tidak pernah dinilai.
  2. Lingkungan kampus yang tidak mendukung. Tanpa tempat pemilahan sampah, transportasi publik, dan fasilitas hemat energi, perilaku peduli menjadi mahal secara usaha.
  3. Jarak psikologis. Dampak lingkungan sering terasa jauh di ruang dan waktu, sehingga tidak mendesak untuk bertindak.
  4. Faktor lingkungan perkotaan. Data bahwa mayoritas rumah tangga berperilaku kurang peduli berada di wilayah perkotaan menunjukkan bahwa kehidupan kota, dengan segala kenyamanan dan anonimitasnya, cenderung melemahkan kepedulian.
Pada titik inilah geografi dapat memberikan kontribusi khas, sebab disiplin ini mampu memperpendek jarak psikologis tersebut melalui data dan pengalaman lapangan.

Strategi Perkuliahan yang Menumbuhkan Kepedulian

Berdasarkan analisis di atas, terdapat lima strategi yang dapat diterapkan dosen dan program studi.
  1. Menjadikan lingkungan sekitar sebagai laboratorium. Mahasiswa memetakan titik timbulan sampah, kualitas sungai, atau ruang terbuka hijau di sekitar kampus dan tempat tinggal mereka. Masalah yang dekat lebih mudah dirasakan sebagai tanggung jawab.
  2. Menggunakan data nyata sebagai bahan analisis. Data IKLH, IPKLH, dan citra penginderaan jauh memungkinkan mahasiswa membandingkan wilayah dan menemukan pola, sehingga kepedulian bertumpu pada bukti, bukan sekadar imbauan moral.
  3. Menilai perilaku, bukan hanya pengetahuan. Penugasan berbasis projek, jurnal kebiasaan, dan audit lingkungan kampus dapat melengkapi ujian tertulis.
  4. Menyelaraskan kampus dengan materi kuliah. Konsistensi antara yang diajarkan dan yang dipraktikkan, seperti pengelolaan sampah dan efisiensi energi, memberi teladan yang kuat.
  5. Menghubungkan isu lokal dengan global. Pembelajaran lintas skala membantu mahasiswa melihat bahwa tindakan kecil memiliki makna dalam konteks perubahan iklim dan keberlanjutan.

Keterbatasan

Analisis ini perlu dibaca dengan beberapa catatan. Pertama, data perilaku nasional bersumber dari rumah tangga, bukan mahasiswa, sehingga penerapannya pada mahasiswa bersifat analogi. Kedua, studi di Undiksha menggunakan pendekatan korelasional pada satu lokasi, sehingga generalisasinya terbatas. Ketiga, angka-angka dalam artikel ini dikutip dari publikasi sekunder, dan nilai terbaru sebaiknya dicek langsung pada rilis resmi BPS dan Kementerian Lingkungan Hidup sebelum publikasi.

Penutup

Kepedulian lingkungan tidak lahir dari kesadaran yang tiba-tiba, tetapi dari proses belajar yang menghubungkan pengetahuan dengan pengalaman dan tindakan. Data menunjukkan bahwa pengetahuan lingkungan berkaitan dengan perilaku yang lebih baik, dan bahwa mahasiswa dengan capaian belajar lingkungan yang baik cenderung memiliki sikap yang lebih peduli. Geografi berada pada posisi yang tepat untuk menjembatani keduanya karena mengajak mahasiswa membaca ruang, memahami keterkaitan, dan menyadari bahwa mereka bagian dari lingkungan yang mereka pelajari. Tantangannya adalah memastikan perkuliahan tidak berhenti di ruang kelas. Ketika mahasiswa pulang membawa pertanyaan tentang sungai di dekat rumahnya dan kebiasaannya sendiri, saat itulah geografi benar-benar membentuk kepedulian.

Rujukan

Badan Pusat Statistik. Indeks Kualitas Lingkungan Hidup dan Laporan Indeks Perilaku Ketidakpedulian Lingkungan Hidup Indonesia. Jakarta: BPS. Universitas Airlangga. Kajian "Perilaku Peduli Lingkungan dan Modal Sosial" (memuat data Environmental Performance Index 2020). Nugroho, B. W. Pengaruh Faktor Sosial Demografi terhadap Perilaku Peduli Lingkungan Hidup di Indonesia. Universitas Gadjah Mada. Kajian tentang sikap peduli lingkungan hidup mahasiswa Program Studi Pendidikan Geografi, Jurnal Jurusan Pendidikan Geografi, Universitas Pendidikan Ganesha.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *