Jl. Dr. Setiabudi No.276A, Kota Bandung 40143
UPI-FPIPS-Logo-blok
Dari Hujan hingga Sungai: Mengapa Kita Perlu Menjaga Siklus Air?
Penulis: Nenden Sarah Nurpadilah (2401786) Editor: Nendeh Rizka Nurfadilah (2508823)

Sumber : Bola.com 1

Sumber: Kumparan.com 1

Air merupakan bagian yang tidak dapat dipisahkan dari kehidupan manusia. Setiap hari kita menggunakan air untuk minum, memasak, mandi, mencuci, bertani, hingga menjalankan berbagai aktivitas ekonomi. Namun, sering kali kita hanya melihat air sebagai sesuatu yang tersedia ketika keran dibuka atau ketika hujan turun. Padahal, di balik keberadaan air yang kita gunakan terdapat sebuah sistem alam yang kompleks dan terus bergerak, yaitu siklus air. Air mengalami perjalanan panjang dari atmosfer menuju permukaan bumi, masuk ke dalam tanah, mengalir melalui sungai, tersimpan di danau maupun laut, kemudian kembali ke atmosfer melalui proses penguapan dan transpirasi. Siklus tersebut membuat air terus berputar dan memungkinkan kehidupan tetap berlangsung. Karena itu, ketika kita berbicara tentang menjaga air, sebenarnya kita tidak hanya berbicara tentang menghemat penggunaan air, tetapi juga tentang menjaga seluruh ruang dan proses alam yang membuat air tetap tersedia. Siklus air dimulai ketika air di permukaan bumi mengalami penguapan akibat energi matahari. Air tersebut kemudian naik ke atmosfer dan mengalami kondensasi hingga membentuk awan. Ketika kondisi atmosfer mendukung, air kembali ke permukaan bumi dalam bentuk hujan. Namun, perjalanan air tidak berhenti setelah hujan mencapai tanah. Sebagian air akan meresap melalui pori-pori tanah melalui proses infiltrasi, sebagian tersimpan sebagai air tanah, sebagian lainnya mengalir di permukaan sebagai limpasan, dan sebagian kembali ke atmosfer melalui penguapan maupun transpirasi tumbuhan. Air yang mengalir di permukaan kemudian dapat berkumpul menjadi aliran sungai yang bergerak dari wilayah yang lebih tinggi menuju wilayah yang lebih rendah hingga akhirnya bermuara ke laut. Setiap tahapan tersebut saling berhubungan. Apabila salah satu bagian mengalami gangguan, keseimbangan bagian lainnya juga dapat ikut berubah. Pegunungan dan kawasan hutan memiliki peran yang sangat penting dalam perjalanan air tersebut. Kawasan pegunungan umumnya memiliki wilayah tangkapan air yang berfungsi menerima air hujan dan mengatur bagaimana air bergerak menuju wilayah yang lebih rendah. Vegetasi yang tumbuh di kawasan tersebut membantu memperlambat jatuhnya air hujan dan mengurangi kecepatan limpasan di permukaan tanah. Akar tanaman juga membantu menjaga struktur tanah dan menyediakan ruang bagi air untuk meresap. Air yang berhasil masuk ke dalam tanah dapat tersimpan dan kemudian keluar secara perlahan melalui mata air atau menjadi bagian dari aliran sungai. Karena itu, keberadaan hutan di daerah hulu sangat berkaitan dengan keberlangsungan sumber air di wilayah hilir. Ketika kawasan hulu mengalami kerusakan, kemampuan lingkungan dalam menyimpan dan mengatur air dapat menurun. Dampaknya dapat muncul dalam berbagai bentuk, mulai dari meningkatnya limpasan, erosi, sedimentasi, banjir, hingga berkurangnya ketersediaan air ketika musim kemarau. Permasalahan menjadi semakin kompleks ketika perubahan penggunaan lahan berlangsung secara cepat. Perkembangan permukiman, pembangunan jalan, pertumbuhan kawasan industri, serta berbagai bentuk pembangunan lainnya menyebabkan semakin banyak permukaan tanah berubah menjadi permukaan kedap air. Tanah yang sebelumnya dapat menyerap air perlahan berubah menjadi beton, aspal, atau bangunan. Akibatnya, air hujan lebih sulit masuk ke dalam tanah dan lebih banyak bergerak sebagai limpasan permukaan. Ketika curah hujan tinggi terjadi, air dapat terkumpul dalam jumlah besar dalam waktu singkat dan membebani sistem drainase maupun sungai. Sementara itu, berkurangnya infiltrasi menyebabkan cadangan air tanah tidak mendapatkan pengisian yang optimal. Kondisi tersebut menunjukkan adanya hubungan antara banjir pada musim hujan dan berkurangnya ketersediaan air pada musim kemarau. Persoalan air tidak selalu disebabkan oleh jumlah hujan yang sedikit atau terlalu banyak, tetapi juga oleh bagaimana manusia mengubah dan mengelola ruang. Sungai kemudian menjadi bagian penting yang menghubungkan berbagai proses tersebut. Sungai membawa air dari wilayah hulu menuju wilayah hilir dan menjadi salah satu bagian utama dalam sistem daerah aliran sungai. Sungai juga menjadi habitat bagi berbagai organisme dan mendukung kehidupan masyarakat di sekitarnya. Namun, keberadaan sungai sering kali menghadapi berbagai tekanan akibat aktivitas manusia. Pembuangan limbah, perubahan fungsi bantaran, pengurangan vegetasi, sedimentasi, pembangunan yang terlalu dekat dengan sungai, hingga perubahan penggunaan lahan di daerah tangkapan air dapat memengaruhi kondisi sungai. Ketika sungai tercemar atau mengalami perubahan fisik, dampaknya tidak hanya dirasakan oleh organisme yang hidup di dalamnya, tetapi juga oleh masyarakat yang bergantung pada sumber daya air tersebut. Oleh sebab itu, menjaga sungai tidak cukup dilakukan hanya dengan membersihkan alirannya. Kita juga perlu menjaga kawasan yang menjadi sumber dan pengatur aliran airnya. Mahasiswa Geografi: Dari Membaca Peta hingga Membaca Lingkungan Di tengah berbagai persoalan tersebut, mahasiswa Geografi memiliki posisi yang cukup strategis. Geografi tidak hanya mengajarkan tentang lokasi suatu tempat, tetapi juga bagaimana berbagai fenomena saling berhubungan dalam ruang. Mahasiswa Geografi mempelajari bentang alam, hidrologi, tanah, penggunaan lahan, kependudukan, pemetaan, hingga hubungan manusia dengan lingkungan. Pengetahuan tersebut dapat menjadi modal untuk memahami persoalan air secara lebih menyeluruh. Ketika terjadi banjir di suatu wilayah, misalnya, mahasiswa Geografi dapat melihatnya tidak hanya sebagai peristiwa tergenangnya suatu tempat, tetapi juga sebagai fenomena yang berkaitan dengan curah hujan, kemiringan lereng, jenis tanah, tutupan lahan, jaringan sungai, drainase, serta aktivitas manusia. Cara pandang seperti inilah yang dapat membuat aksi lingkungan menjadi lebih tepat sasaran. Salah satu aksi nyata yang dapat dilakukan adalah pemetaan kondisi air dan lingkungan di sekitar kampus maupun masyarakat. Kegiatan tersebut dapat dimulai dengan mengidentifikasi lokasi sungai, saluran drainase, mata air, ruang terbuka hijau, kawasan terbangun, daerah yang sering mengalami genangan, serta lokasi yang masih memiliki potensi sebagai daerah resapan. Mahasiswa dapat melakukan observasi lapangan menggunakan perangkat sederhana seperti GPS, aplikasi pemetaan digital, kamera, maupun pencatatan manual. Data yang diperoleh kemudian dapat diolah menjadi peta tematik yang menunjukkan kondisi lingkungan suatu wilayah. Peta tersebut bukan hanya menjadi produk akademik, tetapi dapat digunakan sebagai media edukasi kepada masyarakat mengenai bagaimana air bergerak dan bagaimana kondisi ruang memengaruhi perjalanan air. Dengan demikian, keterampilan pemetaan yang biasanya dipelajari di kelas dapat digunakan untuk menjawab persoalan lingkungan yang benar-benar ada di sekitar kita. Selain pemetaan, susur sungai dapat menjadi salah satu kegiatan yang menarik untuk dilakukan mahasiswa. Susur sungai tidak harus dipahami sebagai kegiatan berjalan mengikuti aliran sungai semata, tetapi dapat menjadi kegiatan observasi lingkungan secara sistematis. Mahasiswa dapat mencatat kondisi air, vegetasi di bantaran sungai, penggunaan lahan di sekitar sungai, keberadaan sedimentasi, kondisi tebing, aktivitas masyarakat, serta titik-titik yang berpotensi menjadi sumber pencemaran. Dokumentasi berupa foto dan koordinat lokasi dapat digunakan untuk membuat inventarisasi sederhana kondisi sungai. Apabila dilakukan secara berkala, data tersebut juga dapat menjadi dokumentasi perubahan kondisi sungai dari waktu ke waktu. Hasilnya dapat disampaikan melalui infografis, artikel, media sosial, atau diskusi publik agar masyarakat semakin memahami kondisi sungai di wilayah mereka. Aksi lainnya adalah pemetaan partisipatif bersama masyarakat. Dalam kegiatan ini, mahasiswa tidak hanya datang membawa data dan memberikan penilaian terhadap kondisi lingkungan, tetapi mengajak masyarakat untuk ikut memetakan wilayah yang mereka kenal. Masyarakat dapat menunjukkan lokasi mata air, sungai kecil, daerah yang sering banjir, lahan yang mengalami perubahan, atau kawasan yang menurut pengalaman mereka mengalami perubahan kondisi air. Pengetahuan masyarakat tersebut kemudian dapat dipadukan dengan hasil observasi dan analisis geografis mahasiswa. Pendekatan ini penting karena masyarakat merupakan pihak yang berinteraksi langsung dengan lingkungan setiap hari. Mereka memiliki pengalaman dan pengetahuan lokal yang tidak selalu dapat ditemukan dalam peta atau data statistik. Dengan menggabungkan pengetahuan lokal dan pendekatan ilmiah, mahasiswa dapat membantu menghasilkan gambaran kondisi wilayah yang lebih lengkap. Mahasiswa Geografi juga dapat mengambil peran melalui aksi konservasi berbasis karakteristik wilayah. Penanaman pohon, misalnya, memang merupakan kegiatan yang baik, tetapi kegiatan tersebut seharusnya tidak dilakukan secara asal. Mahasiswa dapat terlebih dahulu mengidentifikasi lokasi yang membutuhkan vegetasi, kondisi tanah, kemiringan lereng, ketersediaan air, serta jenis tanaman yang sesuai. Kawasan dengan tingkat erosi yang tinggi dapat membutuhkan pendekatan vegetasi yang berbeda dengan kawasan permukiman atau daerah sempadan sungai. Begitu pula dengan daerah resapan air yang membutuhkan perlindungan agar tidak seluruhnya berubah menjadi permukaan kedap air. Dengan pendekatan geografis, kegiatan penghijauan dapat dilakukan berdasarkan kebutuhan ruang, bukan sekadar mengejar jumlah pohon yang ditanam. Aksi tersebut juga dapat dikembangkan menjadi program adopsi daerah aliran sungai atau kawasan resapan. Mahasiswa bersama organisasi kampus, masyarakat, dan pihak terkait dapat memilih satu lokasi yang kemudian dipantau secara berkala. Kegiatan tidak berhenti setelah penanaman atau pembersihan dilakukan, tetapi dilanjutkan dengan pemantauan kondisi vegetasi, perubahan tutupan lahan, kondisi sungai, dan permasalahan lingkungan yang muncul. Mahasiswa dapat membuat catatan perkembangan wilayah secara berkala dan membandingkannya dengan kondisi sebelumnya. Dari sini, kegiatan lingkungan dapat berubah dari aksi satu hari menjadi gerakan yang memiliki keberlanjutan dan hasil yang dapat diamati. Kemampuan penginderaan jauh dan Sistem Informasi Geografis (SIG) juga dapat dimanfaatkan untuk melihat perubahan lingkungan dalam skala yang lebih luas. Mahasiswa dapat membandingkan citra atau peta dari waktu yang berbeda untuk melihat perubahan tutupan lahan, perkembangan kawasan terbangun, berkurangnya vegetasi, maupun perubahan ruang terbuka. Data tersebut kemudian dapat dikaitkan dengan kondisi hidrologis suatu wilayah. Misalnya, peningkatan kawasan terbangun dapat dianalisis hubungannya dengan bertambahnya potensi limpasan permukaan. Hasil analisis tersebut dapat divisualisasikan dalam bentuk peta yang sederhana dan komunikatif sehingga masyarakat tidak hanya mendapatkan informasi dalam bentuk angka, tetapi juga dapat melihat perubahan ruang secara langsung. Namun, tidak semua aksi harus selalu menggunakan teknologi yang kompleks. Edukasi lingkungan berbasis Geografi juga merupakan bentuk kontribusi yang penting. Mahasiswa dapat membuat kelas kecil mengenai siklus air untuk siswa sekolah, mengadakan sekolah sungai, membuat papan informasi di kawasan wisata pegunungan, atau membuat konten edukasi mengenai hubungan antara hutan, hujan, tanah, dan sungai. Materi yang biasanya dianggap sulit seperti infiltrasi, limpasan, daerah aliran sungai, dan perubahan penggunaan lahan dapat disampaikan melalui ilustrasi sederhana, permainan, peta, atau eksperimen. Dengan cara tersebut, ilmu Geografi dapat keluar dari ruang kelas dan menjadi pengetahuan yang lebih dekat dengan masyarakat. Di lingkungan kampus sendiri, mahasiswa dapat mendorong kampus yang lebih ramah terhadap air. Salah satunya dengan melakukan audit sederhana terhadap penggunaan air dan kondisi ruang terbuka. Mahasiswa dapat mengidentifikasi titik-titik yang mengalami genangan, area yang masih memiliki tanah terbuka, lokasi yang dapat dikembangkan menjadi taman resapan, serta kondisi saluran drainase. Hasilnya dapat menjadi rekomendasi bagi pengelola kampus untuk memperkuat ruang terbuka hijau dan sistem pengelolaan air. Bahkan kegiatan sederhana seperti membuat biopori, menjaga pohon yang sudah ada, atau mengembangkan taman hujan dapat menjadi bagian dari gerakan tersebut apabila dilakukan berdasarkan kebutuhan dan kondisi lingkungan kampus. Lebih jauh lagi, mahasiswa dapat menggunakan media sosial sebagai ruang kampanye berbasis data. Isu lingkungan sering kali hanya menjadi perhatian ketika bencana sudah terjadi. Padahal, edukasi dapat dilakukan sebelum masalah tersebut muncul. Konten seperti “Ke mana air hujan pergi?”, “Mengapa daerah yang banyak beton lebih mudah tergenang?”, “Apa hubungan gunung dengan sungai di kota kita?”, atau “Mengapa pohon penting bagi cadangan air tanah?” dapat dikemas dalam bentuk infografis, video pendek, peta interaktif, maupun cerita visual. Konten tersebut dapat menggunakan hasil observasi mahasiswa sendiri sehingga informasi yang disampaikan tidak hanya bersifat umum, tetapi memiliki keterkaitan dengan kondisi lingkungan sekitar. Yang tidak kalah penting adalah kolaborasi lintas pihak. Persoalan air tidak dapat diselesaikan hanya oleh mahasiswa. Dibutuhkan kerja sama antara mahasiswa, masyarakat, sekolah, pemerintah daerah, komunitas lingkungan, pengelola kawasan, hingga berbagai pihak lainnya. Mahasiswa dapat menjadi penghubung antara pengetahuan akademik dan kebutuhan masyarakat. Kegiatan seperti diskusi lingkungan, sekolah sungai, pemetaan wilayah, penanaman vegetasi, monitoring sungai, dan kampanye konservasi dapat dilakukan secara bersama-sama. Kolaborasi tersebut juga dapat membuka ruang bagi mahasiswa untuk belajar bahwa pengelolaan lingkungan tidak hanya membutuhkan pengetahuan tentang alam, tetapi juga kemampuan berkomunikasi, bekerja sama, dan memahami kondisi sosial masyarakat. Pada akhirnya, menjadi mahasiswa Geografi seharusnya tidak hanya berarti mampu membaca peta atau memahami teori tentang ruang. Menjadi mahasiswa Geografi juga berarti mampu membaca perubahan yang terjadi di ruang tersebut. Ketika melihat sungai yang semakin keruh, kita dapat bertanya apa yang terjadi di wilayah hulunya. Ketika melihat banjir, kita dapat melihat hubungan antara curah hujan, topografi, tutupan lahan, drainase, dan aktivitas manusia. Ketika melihat mata air yang mulai berkurang, kita dapat melihat kondisi kawasan resapan dan vegetasi di sekitarnya. Cara pandang inilah yang membuat ilmu Geografi memiliki peran penting dalam menjaga lingkungan. Air mengajarkan bahwa tidak ada wilayah yang benar-benar berdiri sendiri. Hujan yang jatuh di gunung dapat menjadi air yang mengalir di sungai, digunakan masyarakat di hilir, dan pada akhirnya kembali ke atmosfer. Setiap bagian memiliki hubungan dengan bagian lainnya. Karena itu, menjaga siklus air membutuhkan kesadaran bahwa tindakan di satu tempat dapat memberikan dampak di tempat lain. Menjaga hutan di hulu berarti menjaga air di hilir. Menjaga daerah resapan berarti membantu menjaga cadangan air. Menjaga sungai berarti menjaga ekosistem dan kehidupan masyarakat yang bergantung padanya. Dari peta menuju aksi, dari data menuju kepedulian, dan dari ruang kelas menuju ruang kehidupan. Inilah salah satu bentuk kontribusi yang dapat dilakukan mahasiswa Geografi. Ilmu yang dipelajari tidak seharusnya berhenti sebagai teori, peta, laporan praktikum, atau tugas perkuliahan. Ilmu tersebut dapat menjadi dasar untuk memahami lingkungan, mengidentifikasi permasalahan, mengajak masyarakat bergerak, dan menciptakan perubahan yang nyata. Sebab, memahami bumi bukan hanya tentang mengetahui bagaimana bumi bekerja, tetapi juga tentang memiliki keberanian untuk ikut menjaganya. Pada akhirnya, pertanyaan tentang air bukan hanya “berapa banyak air yang kita miliki?”, tetapi juga “apakah kita sudah menjaga tempat air itu berasal, bagaimana air bergerak, dan ke mana air tersebut mengalir?” Dari hujan hingga sungai, perjalanan air menunjukkan bahwa kehidupan manusia sangat bergantung pada keseimbangan alam. Selama kita masih membutuhkan air untuk hidup, selama itu pula kita memiliki alasan untuk menjaga siklusnya. Karena menjaga siklus air berarti menjaga hutan, menjaga tanah, menjaga sungai, menjaga ruang hidup, dan pada akhirnya menjaga kehidupan itu sendiri.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *