Tanggal Kegiatan: 05, Oktober 2026
Penulis : Muhammad Erland Fahrezy (SaIG, 2402330), Hanung Putri Titisari (SaIG, 2406114), dan Siti Jeshita Hardiani (SaIG, 2408732)
Penyunting : Felicia Syifa’ Hermanu Putri (SaIG, 2504208)
ASPRS (American Society of Photogrammetry and Remote Sensing) International Technical Symposium merupakan konferensi ilmiah internasional yang berfokus pada beberapa bidang keilmuan, yaitu fotogrametri, penginderaan jauh, dan geoinformatika. Melalui konferensi ini para peneliti dengan bidang ilmu relevan berkumpul untuk menuangkan ide dan mempresentasikan penelitian mereka pada kategori tematik tertentu. Awalnya, ini terdengar mustahil untuk kami bertiga, tetapi adanya dukungan dan bimbingan dari ibu Dr. Tania Septi Anggraini, bapak Achmad Fadhilah, M.Sc., dan bapak Dr. Lili Somantri memantik kembali semangat untuk meneliti kami. Secara sederhana, kami meringkas bagaimana kami mendapatkan ide, perjalanan untuk mengikuti simposium, hingga presentasi akhir yang diselenggarakan pada 5 Oktober lalu.

Gambar 1. Pengumuman simposium pada website resmi ASPRS
Pada awalnya, banyak ide riset yang muncul di benak kami mulai dari pemodelan habitat, bencana banjir, analisis lokasi, dan sebagainya, hingga ide tentang pemodelan kualitas udara mulai terbesit. Ide ini muncul bukan tanpa alasan, melainkan karena adanya masalah yang hingga saat ini menjadi keluhan masyarakat, dari hal kecil seperti polusi akibat banyaknya kendaraan penyebab kemacetan di Gegerkalong dan meluas dalam kajian administratif di Jawa Timur. Secara keseluruhan, Indonesia hingga saat ini masih kekurangan stasiun pengamatan kualitas udara. Kondisi ini mendorong pemodelan terkait monitoring kualitas udara di Indonesia terutama di Provinsi Jawa Timur sebagai wilayah dengan konsentrasi polutan tinggi menjadi penelitian yang presisi dengan mempertimbangkan banyak aspek. Oleh karena itu, penelitian kami berupaya untuk mengembangkan model spasial berbasis algoritma machine learning melalui algoritma Random Forest Regression dan XGBoost dengan menggunakan berbagai faktor pendorong seperti faktor fisik, meteorologis, dan lingkungan. Hasil kedua model tersebut dibandingkan untuk melihat bagaimana perbedaan keduanya dan apa yang bisa menyebabkan perbedaan tersebut. Penelitian yang dilakukan pun menunjukkan bahwa hasil model yang lebih baik adalah XGBoost.

Gambar 2. Pelaksanaan simposium melalui Zoom Cloud Meeting
Apa yang kami lakukan mungkin bukanlah hal yang besar, tetapi dengan keyakinan bahwa penelitian kami dapat bermanfaat bagi khalayak luas, kami bertekad untuk menyelesaikan dan mengirimnya ke ASPRS melalui Abstract Submission. Ide yang awalnya kami pikir terlalu besar ternyata bisa direalisasikan dalam bentuk yang lebih sederhana. Rasa cemas tidak akan lolos ternyata berbanding balik ketika kami menerima email yang menyatakan bahwa kami diminta mempresentasikan hasil penelitian kami di simposium milik ASPRS.

Gambar 3. Dokumentasi Tim SKS setelah simposium
Dari hal ini, kami belajar bahwa terkadang hal besar terasa besar karena belum dijalani, maka dari itu, kami akan selalu mencoba ide atau tantangan yang terasa sulit untuk membuktikan bahwa hal tersebut tidaklah sesulit yang dibayangkan. Kami berharap untuk bisa terus berkembang dan bertumbuh bersama menjadi tim yang lebih baik dan bersolidaritas.
