Jl. Dr. Setiabudi No.276A, Kota Bandung 40143
UPI-FPIPS-Logo-blok
STADION DI ATAS DASAR DANAU PURBA: KAJIAN GEOGRAFIS PERMEABILITAS TANAH CEKUNGAN BANDUNG DAN IMPLIKASINYA BAGI PEMBANGUNAN LAPANGAN SEPAK BOLA
Penulis : R. Galih Sukma Wisesa Wiranannggapathi (2500609) dan Rizky Maulana Akbar Eka Rachman (2409454) Editor: Nendeh Rizka Nurfadilah (2508823) Abstrak Cekungan Bandung merupakan bekas dasar Danau Bandung Purba yang mengering ribuan tahun silam. Proses geologis tersebut meninggalkan lapisan endapan lakustrin berupa lempung dan lanau yang memiliki daya resap (permeabilitas) sangat rendah. Artikel ini mengkaji keterkaitan antara kondisi geografis-geologis Cekungan Bandung dengan praktik pembangunan dan pengelolaan lapangan sepak bola, dengan menyoroti Stadion Gelora Bandung Lautan Api (GBLA), Stadion Si Jalak Harupat, dan Stadion Siliwangi. Kajian dilakukan melalui metode studi kepustakaan terhadap literatur geologi, hidrogeologi, dan geografi olahraga. Hasil kajian menunjukkan bahwa tanah bekas dasar danau purba memiliki laju infiltrasi jauh di bawah standar lapangan sepak bola modern, sehingga menimbulkan permasalahan genangan, kerusakan rumput, serta kebutuhan rekayasa drainase dan pondasi yang lebih mahal. Oleh karena itu, pemahaman geografis atas sejarah bentang lahan menjadi prasyarat penting dalam perencanaan sarana olahraga yang berkelanjutan. Kata kunci: Cekungan Bandung, danau purba, permeabilitas tanah, lapangan sepak bola, stadion, drainase

 I. Pendahuluan

Legenda Sangkuriang yang mengisahkan pembentukan Gunung Tangkuban Perahu sesungguhnya menyimpan kebenaran ilmiah yang luar biasa: Bandung yang sekarang menjadi kota metropolitan jutaan penduduk itu dulunya adalah dasar sebuah danau besar. Riset geologi menunjukkan bahwa Cekungan Bandung terbentuk akibat pengendapan vulkanik yang membendung aliran Sungai Citarum, sehingga tercipta Danau Bandung Purba yang bertahan hingga sekitar 16.000–25.000 tahun yang lalu (Dam, 1994; Dam dkk., 1996). Ketika danau itu akhirnya terkuras melalui erosi di bagian barat cekungan, yang tertinggal adalah dataran luas berlapis endapan lempung dan lanau halus, yaitu tanah yang sangat khas dari lingkungan danau. Di atas lanskap warisan geologis itulah, hari ini, berdiri lapangan-lapangan sepak bola dan stadion-stadion modern. Persoalannya, lapangan sepak bola berstandar internasional menuntut tanah yang mampu meloloskan air hujan dengan cepat agar permukaan tetap layak dimainkan. Sementara itu, tanah bekas dasar danau justru dikenal hampir tidak dapat menyerap air. Ketimpangan antara kebutuhan teknis lapangan olahraga dan keterbatasan lingkungan fisik inilah yang menjadi isu utama dalam artikel ini. Kajian ini berangkat dari perspektif geografi, ilmu yang mempelajari interaksi antara manusia dan lingkungan fisiknya dalam keruangan. Geografer Bale (2003) menegaskan bahwa olahraga tidak pernah lepas dari "tempat": lokasi pembangunan stadion, karakter lahan, iklim, hingga persepsi masyarakat terhadap arena olahraga semuanya merupakan objek kajian geografi olahraga (sports geography). Dengan demikian, pembangunan stadion di Cekungan Bandung bukan sekadar persoalan arsitektur dan teknik sipil, melainkan persoalan geografis yang berakar pada sejarah pembentukan bentang lahan. Artikel ini bertujuan untuk: (1) menjelaskan sejarah geologis Danau Bandung Purba dan karakter permeabilitas tanahnya; (2) menganalisis implikasi kondisi tanah tersebut terhadap pembangunan dan pengelolaan lapangan sepak bola, dengan studi kasus GBLA, Si Jalak Harupat, dan Siliwangi; serta (3) merumuskan rekomendasi perencanaan sarana olahraga yang adaptif terhadap kondisi geografis setempat. Metode yang digunakan adalah studi kepustakaan (library research) terhadap literatur geologi, hidrogeologi, geoteknik, regulasi, serta pemberitaan media yang relevan.

Sumber: Wikipedia Commons

II. Landasan Teori

2.1 Geografi dan Olahraga Geografi olahraga merupakan cabang kajian yang menghubungkan ilmu geografi dengan fenomena olahraga. Bale (2003) mengidentifikasi beberapa tema utamanya, antara lain distribusi spasial fasilitas olahraga, karakteristik lingkungan tempat olahraga dilakukan, serta relasi antara bentang alam dan pengalaman berolahraga. Dalam konteks pembangunan infrastruktur, geografi menyediakan kerangka analisis situs (kondisi fisik lokasi: tanah, topografi, hidrologi) dan situasi (posisi relatif terhadap pusat permukiman dan aksesibilitas). Kedua konsep tersebut krusial: sebuah stadion dapat memiliki situasi yang strategis, tetapi situs yang bermasalah atau sebaliknya. Kasus Cekungan Bandung menunjukkan bahwa permasalahan situs (tanah tidak permeabel) justru sering diremehkan dalam perencanaan, meskipun dampaknya jangka panjang dan mahal untuk diatasi. 2.2 Permeabilitas dan Infiltrasi Tanah Permeabilitas adalah kemampuan tanah atau batuan untuk meloloskan air melalui pori-porinya, sedangkan infiltrasi adalah proses masuknya air dari permukaan ke dalam tanah. Hukum Darcy (1856) menyatakan bahwa kecepatan aliran air pada media berpori sebanding dengan gradien hidraulik, dengan koefisien permeabilitas (k) sebagai faktor pengendali utama. Horton (1940) selanjutnya menunjukkan bahwa laju infiltrasi menurun seiring waktu ketika tanah menjadi jenuh, kondisi yang khas pada tanah lempung dengan struktur padat. Nilai koefisien permeabilitas sangat ditentukan oleh ukuran butir dan tekstur tanah, sebagaimana dirangkum pada Tabel 1.

Tabel 1. Kisaran koefisien permeabilitas berbagai jenis tanah

Jenis tanah

Kisaran k (cm/detik) Kemampuan resap

Kerikil

10⁻¹ – 10²

Sangat tinggi

Pasir

10⁻³ – 10⁻¹

Tinggi

Lanau (silt) 10⁻⁵ – 10⁻³

Rendah

Lempung (clay) < 10⁻⁶

Sangat rendah

Sumber: diolah dari Das (2010) dan Fetter (2001)

Endapan danau (lakustrin) didominasi lempung dan lanau yang mengendap secara perlahan di dasar air tenang, sehingga butirnya sangat halus dan tersusun rapat. Inilah sebabnya tanah bekas dasar danau hampir selalu bermasalah dari sisi drainase: air hujan sulit meresap, muka air tanah cenderung dangkal, dan tanah memerlukan waktu lama untuk mengering (Hillel, 1998). 2.3 Persyaratan Tanah dan Drainase Lapangan Sepak Bola Lapangan sepak bola modern memiliki persyaratan hidrologis yang ketat. Dokumen Quality Programme for Football Turf FIFA (2015) menetapkan standar kualitas permukaan bermain yang secara umum menuntut laju resapan permukaan pada kisaran ±150 mm/jam, agar genangan tidak terbentuk saat hujan sedang hingga lebat dan pertandingan tetap dapat berlangsung. Untuk mencapainya, lapangan kelas dunia dibangun dengan campuran media tanam berbasis pasir, kemiringan permukaan sekitar 0,5–1%, serta jaringan pipa drainase bawah permukaan yang mengalirkan air ke saluran pembuangan (Chow dkk., 1988). Di sisi regulasi nasional, Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor 09/PRT/M/2015 tentang Pedoman Penyediaan Sarana dan Prasarana Olahraga mensyaratkan kajian kelayakan Lokasi, termasuk kondisi tanah dan drainase sebelum sarana olahraga dibangun. Ketentuan ini sejalan dengan prinsip geografi bahwa kesesuaian lahan (land suitability) harus menjadi dasar alokasi ruang.

III. Konteks Geografis dan Geologis Cekungan Bandung

3.1 Sejarah Danau Bandung Purba Cekungan Bandung adalah cekungan berbentuk lingkaran seluas ±2.300 km² dengan dasar cekungan pada elevasi 650–712 meter di atas permukaan laut, dikelilingi sabuk pegunungan vulkanik: Tangkuban Perahu di utara, Bukit Tunggul di timur, kawasan Malabar di selatan, dan perbukitan Padalarang di barat (van Bemmelen, 1949; Silitonga, 1973). Pembentukan cekungan ini berkaitan erat dengan aktivitas vulkanik Kuarter. Erupsi dan aliran produk vulkanik dari gunung-gunung di sekelilingnya membendung aliran Sungai Citarum yang semula mengalir bebas, sehingga air tergenang membentuk danau luas yang kini dikenal sebagai Danau Bandung Purba. Dam (1994) dan Dam dkk. (1996) merekonstruksi kronologi perkembangan cekungan melalui analisis sedimen dan penanggalan radiokarbon. Hasilnya menunjukkan bahwa danau bertahan selama puluhan ribu tahun dan mengalami pengeringan bertahap, dengan fase akhirnya berlangsung sekitar 16.000 tahun yang lalu ketika erosi menembus penghalang vulkanik di bagian barat cekungan. Kronologi ini sejalan dengan legenda Sangkuriang yang menceritakan sebuah danau besar di Bandung. Ketika danau surut, yang ditinggalkan adalah dataran endapan lakustrin berupa lempung, lanau, dan lapisan abu vulkanik dengan ketebalan mencapai puluhan meter, dilapisi endapan aluvial dari sungai-sungai yang turun dari perbukitan sekitarnya. 3.2 Karakter Tanah dan Permeabilitasnya Warisan geologis tersebut menjelaskan mengapa tanah di sebagian besar Kota Bandung, Cimahi, dan bagian timur cekungan (Gedebage–Cibiru) didominasi tanah aluvial dan tanah glei yang bertekstur lempung. Peta geologi Lembar Bandung (Silitonga, 1973) memperlihatkan luasnya satuan endapan danau dan endapan aluvial di dasar cekungan. Konsekuensinya nyata: Pertama, laju infiltrasi sangat rendah. Pada tanah lempung lakustrin, laju resap umumnya di bawah 5 mm/jam, bahkan bisa kurang dari 1 mm/jam, puluhan kali lebih lambat dari standar lapangan sepak bola modern. Hujan yang jatuh hampir seluruhnya menjadi aliran permukaan (runoff), sehingga genangan mudah terbentuk pada bidang yang datar. Kedua, muka air tanah dangkal. Karena lapisan lempung berperan sebagai akuiklud (lapisan kedap air), air tanah pada akuifer atas sering berada dekat permukaan, terutama pada musim hujan. Tanah jenuh air membuat zona perakaran rumput terus-menerus basah dan mudah rusak ketika diinjak. Ketiga, daya dukung tanah rendah. Lempung lunak jenuh air bersifat kompresibel; bangunan berat seperti tribun stadion menimbulkan konsolidasi (penurunan tanah) yang berpotensi tidak seragam (Das, 2010). Studi geodesi ITB menggunakan data GPS dan InSAR bahkan mendokumentasikan penurunan muka tanah di beberapa bagian cekungan, termasuk kawasan timur seperti Gedebage, dengan laju hingga belasan sentimeter per tahun sebagian akibat penarikan air tanah berlebihan di atas tanah lunak (Abidin dkk., 2008). 3.3 Iklim dan Hidrologi Curah hujan tahunan di Bandung berkisar 1.700–2.500 mm dengan puncak musim hujan pada November–April, dan kejadian hujan harian intensitas tinggi (di atas 100 mm/hari) tidak jarang terjadi. Kombinasi curah hujan tinggi, infiltrasi rendah, topografi cekungan yang datar, dan tingginya urbanisasi (yang mengurangi ruang terbuka hijau) menjadikan bagian timur dan selatan cekungan termasuk Gedebage, Cibiru, dan Soreang, dikenal sebagai kawasan yang rawan genangan. Sungai-sungai seperti Citarum, Cikapundung, dan Cisangkuy menjadi jalur pembuangan utama, namun kapasitasnya kerap terlampaui saat hujan ekstrem (Kodoatie & Sjarief, 2005).

IV. Analisis: Lapangan Sepak Bola di Bekas Dasar Danau

4.1 Stadion Gelora Bandung Lautan Api (GBLA) Stadion GBLA di kawasan Cibiru Wetan–Gedebage, sisi timur cekungan, merupakan contoh paling menarik dari persinggungan geografi dan olahraga. Stadion berkapasitas ±38.000 kursi yang dibangun dengan biaya sekitar Rp1,1 triliun dan diresmikan pada tahun 2019 ini berdiri di atas bekas dasar danau purba yang hingga kini dikenal sebagai salah satu kawasan paling rawan genangan di wilayah metropolitan Bandung. Nama "Bandung Lautan Api" sendiri diambil dari peristiwa perjuangan 1946, namun ironisnya, "lautan" yang relevan secara geologis di lokasi ini adalah laut genangan air hujan pada musim penghujan. Pada akhirnya, pendekatan adaptif terhadap kondisi geografis justru tampak pada desain kompleks GBLA: kawasan stadion dilengkapi danau buatan yang menurut sejumlah pemberitaan difungsikan pula sebagai kolam retensi untuk menampung limpahan air hujan kawasan timur Bandung. Strategi ini merupakan pengakuan eksplisit bahwa lokasi tersebut memang tidak mampu mengalirkan air secara alami, sehingga air harus "diparkirkan" sementara pada waduk buatan. GBLA kemudian terbukti layak menjadi salah satu venue Piala Dunia U-17 FIFA 2023, yang menunjukkan bahwa dengan rekayasa yang tepat, kendala geografis dapat dikelola, meskipun dengan biaya dan pemeliharaan yang tidak sedikit. 4.2 Stadion Si Jalak Harupat Stadion Si Jalak Harupat di Soreang, Kabupaten Bandung, dengan kapasitas ±27.000 penonton, menjadi markas utama Persib Bandung dalam satu dekade terakhir. Soreang terletak di bagian selatan cekungan, pada dataran aluvial-lempung yang secara geologis merupakan bagian dari sistem bekas danau dan dataran banjir sungai Ciwidey–Citarum. Karakter tanahnya serupa: halus, jenuh, dan lambat mengering. Kondisi ini nyaris merusak panggung liga teratas nasional: pada awal 2024, sejumlah media nasional memberitakan laga Liga 1 antara Persib Bandung dan PSS Sleman di Stadion Si Jalak Harupat yang sempat tertunda dan menuai kegemparan publik karena permukaan lapangan tergenang air pasca hujan deras. Peristiwa tersebut menjadi peringatan keras bahwa tanpa sistem drainase berkapasitas memadai dan pemeliharaan rutin, lapangan di tanah bekas danau purba dapat gagal berfungsi pada momen paling penting, yaitu saat pertandingan. 4.3 Stadion Siliwangi Stadion Siliwangi di pusat Kota Bandung, berusia lebih dari setengah abad, menambah dimensi lain dalam kajian ini: penuaan infrastruktur di atas tanah lempung. Berdiri di inti kota yang juga merupakan bekas dasar danau, stadion legendaris ini secara historis kerap menghadapi keluhan kualitas lapangan yang licin dan berlumpur pada musim hujan, sehingga Persib beberapa kali memindahkan laga-laga pentingnya ke stadion lain. Sistem drainase era 1950-an yang telah menua tidak lagi mampu memenuhi standar modern, dan renovasi yang dilakukan pada berbagai periode harus selalu berhadapan dengan karakter tanah yang sama sejak ribuan tahun silam. 4.4 Sintesis: Rantai Sebab-Akibat Geografis

Tabel 2. Ringkasan kondisi situs tiga stadion di Cekungan Bandung

Stadion

Lokasi dalam cekungan Kondisi tanah

Permasalahan utama

GBLA

Timur (Gedebage–Cibiru), bekas dasar danau Lempung lakustrin–aluvial lunak, rawan genangan

Rawan banjir kawasan; memerlukan danau buatan/retensi

Si Jalak Harupat

Selatan (Soreang) Alluvial-lempung dataran banjir

Genangan lapangan; insiden pertandingan tertunda (2024)

Siliwangi Inti kota, bekas dasar danau Lempung padat kota tua

Drainase menua; lapangan sering lembap

Dari ketiga kasus tersebut dapat ditarik rantai sebab-akibat yang konsisten:
  1. Sebab geologis: pengendapan lempung lakustrin Danau Bandung Purba menciptakan tanah dengan permeabilitas sangat rendah (k < 10⁻⁶ cm/detik) dan muka air tanah dangkal.
  2. Sebab hidrologis: curah hujan tinggi menghasilkan runoff besar; air tidak dapat meresap dan tergenang pada bidang datar.
  3. Dampak teknis: laju infiltrasi aktual jauh di bawah kebutuhan lapangan modern (±150 mm/jam menurut FIFA, 2015), sehingga genangan merusak rumput, memperlambat permainan, bahkan menunda pertandingan.
  4. Dampak ekonomi: pembangunan di tanah lunak menuntut perbaikan tanah (soil improvement), pondasi dalam, dan sistem drainase intensif, sementara pemeliharaan rumput menjadi lebih mahal.
  5. Dampak tata ruang: kawasan rawan genangan tetap mengalami konversi lahan pesat karena tekanan urbanisasi, memperparah keadaan bagi infrastruktur olahraga yang sudah ada.
Kasus Cekungan Bandung menegaskan tesis Bale (2003): tempat membentuk olahraga, sebagaimana olahraga mengubah tempat. Stadion tidak berdiri di atas ruang kosong; ia berdiri di atas sejarah geologi yang panjang.

V. Implikasi Perencanaan dan Rekomendasi

Berdasarkan analisis di atas, beberapa rekomendasi dapat dirumuskan:
  1. Kajian geoteknik–hidrogeologi wajib sebelum pembangunan. Sesuai Permen PU No. 09/PRT/M/2015, pemilihan lokasi sarana olahraga harus diawali kajian kesesuaian lahan, termasuk uji permeabilitas (misalnya dengan double ring infiltrometer) dan pemetaan zona rawan genangan. Prinsipnya sederhana: lebih murah menghindari lokasi bermasalah daripada memperbaikinya setelah terlanjur dibangun.
  2. Desain drainase standar internasional. Lapangan perlu dibangun dengan media tanam berpasir, kemiringan permukaan 0,5–1%, jaringan pipa drainase bawah permukaan berpola tulang herringbone, serta saluran pembuangan berversi cukup (Chow dkk., 1988). Pemeliharaan rutin seperti sand slitting dan aerasi diperlukan agar lapisan drainase tidak mengeras seiring waktu.
  3. Stadion sebagai infrastruktur pengendali banjir (dual function). Pendekatan GBLA dengan danau buatan/kolam retensi layak dijadikan model: arena olahraga di kawasan cekungan sebaiknya dirancang sekaligus sebagai komponen sistem pengendalian banjir kota, sehingga investasi publik memberi manfaat ganda.
  4. Pengendalian penarikan air tanah. Mengingat penurunan muka tanah di sebagian cekungan berkaitan dengan eksploitasi air tanah (Abidin dkk., 2008), fasilitas olahraga publik sebaiknya memenuhi kebutuhan airnya dari sumber permukaan atau air hujan, bukan dari sumur bor dalam.
  5. Integrasi ke dalam pendidikan geografi. Kasus ini sangat cocok dijadikan studi kasus pembelajaran geografi dari legenda Sangkuriang hingga genangan di stadion, karena menunjukkan bagaimana konsep bentang lahan, proses geologi, siklus hidrologi, dan tata ruang berpadu dalam satu persoalan nyata yang dilihat masyarakat setiap akhir pekan di lapangan sepak bola.

Kesimpulan

Cekungan Bandung adalah bekas dasar Danau Bandung Purba yang meninggalkan endapan lempung lakustrin dengan permeabilitas sangat rendah, muka air tanah dangkal, dan daya dukung tanah lemah. Kondisi geografis ini berhadapan langsung dengan tuntutan teknis lapangan sepak bola modern yang memerlukan laju resapan tinggi agar permukaan tetap layak dimainkan. Studi kasus GBLA, Si Jalak Harupat, dan Siliwangi memperlihatkan tiga wajah permasalahan yang sama: kawasan rawan genangan yang menuntut solusi retensi buatan, pertandingan yang terancam hujan dan genangan, serta infrastruktur menua yang berjuang melawan karakter tanahnya. Pembelajaran utamanya adalah bahwa pembangunan sarana olahraga di Cekungan Bandung harus selalu berangkat dari pemahaman geografis atas sejarah bentang lahan karena di bawah setiap garis putih lapangan sepak bola Bandung, tersembunyi dasar sebuah danau kuno.

DAFTAR PUSTAKA

Abidin, H. Z., Andreas, H., Gumilar, I., Sidiq, T. P., & Fukuda, Y. (2008). Land subsidence of Bandung (Indonesia) and its geodetic monitoring system. Prosiding The 29th Asian Conference on Remote Sensing (ACRS 2008), Colombo, Sri Lanka. Bale, J. (2003). Sports Geography (2nd ed.). London: Routledge. Chow, V. T., Maidment, D. R., & Mays, L. W. (1988). Applied Hydrology. New York: McGraw-Hill. Dam, M. A. C. (1994). The Late Quaternary Evolution of the Bandung Basin, West-Java, Indonesia. Disertasi doktoral, Vrije Universiteit Amsterdam. Dam, M. A. C., Suparan, P., Nossin, J. J., & Voskuil, R. P. G. A. (1996). A chronology for geomorphological developments in the greater Bandung area, West-Java, Indonesia. Journal of Southeast Asian Earth Sciences, 14(1–2), 101–115. Darcy, H. (1856). Les Fontaines Publiques de la Ville de Dijon. Paris: Victor Dalmont. Das, B. M. (2010). Principles of Geotechnical Engineering (7th ed.). Stamford: Cengage Learning. Fetter, C. W. (2001). Applied Hydrogeology (4th ed.). Upper Saddle River: Prentice Hall. FIFA. (2015). FIFA Quality Programme for Football Turf: Handbook of Requirements. Zurich: Fédération Internationale de Football Association. Hillel, D. (1998). Environmental Soil Physics. San Diego: Academic Press. Horton, R. E. (1940). An approach toward a physical interpretation of infiltration-capacity. Soil Science Society of America Proceedings, 5, 399–417. Kodoatie, R. J., & Sjarief, R. (2005). Pengelolaan Sumber Daya Air Terpadu. Yogyakarta: Andi. Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor 09/PRT/M/2015 tentang Pedoman Penyediaan Sarana dan Prasarana Olahraga. Jakarta: Kementerian Pekerjaan Umum. Silitonga, P. H. (1973). Peta Geologi Lembar Bandung, Jawa, Skala 1:100.000. Bandung: Geological Survey of Indonesia. Todd, D. K., & Mays, L. W. (2005). Groundwater Hydrology (3rd ed.). Hoboken: John Wiley & Sons. Van Bemmelen, R. W. (1949). The Geology of Indonesia, Vol. 1A. The Hague: Martinus Nijhoff.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *