Jl. Dr. Setiabudi No.276A, Kota Bandung 40143
UPI-FPIPS-Logo-blok
BELAJAR MELIHAT SEBELUM MENCARI

Penulis: Gilang Attalla (SaIG, 2203110)  

Penyunting : Farrelius Simeon (SaIG, 2509009)

Dok. Penulis

Selesai?

Satu kata yang muncul di kepala saya ketika menutup pintu ruang sidang yang lima menit sebelumnya saya gunakan untuk memaparkan hasil dari jam-jam malam yang saya tukarkan dengan sebuah penelitian. Rasanya campur aduk. Lega, lelah, senang, tapi entah kenapa juga ada sedikit rasa kosong. Saya kira bagian tersulit dari skripsi adalah menyelesaikannya.

Selama berbulan-bulan, saya membayangkan satu momen: nama saya disebut, saya dinyatakan lulus, lalu semua rasa lelah yang menumpuk hilang begitu saja. Lega. Bangga. Mungkin sedikit haru. Tapi ketika hari itu benar-benar datang, yang saya rasakan justru kosong. Skripsi saya selesai. Sidang selesai. Saya dinyatakan lulus dengan revisi. Seharusnya itu menjadi akhir dari semuanya.

Temu di Sela Pikir

Tujuh bulan sebelumnya, saya sedang duduk melamun di sebuah kedai kopi. Semester akhir, magang, dan topik skripsi. Tiga hal yang waktu itu terasa seperti satu tumpukan masalah yang tidak tahu harus saya mulai dari mana. Sampai akhirnya, riwayat YouTube dan Medium saya penuh dengan satu kata yang sama:

"Skripsi."

Tidak jarang, yang saya lakukan justru mendengarkan pengalaman orang lain tentang skripsi mereka daripada mengerjakan milik sendiri. Mungkin ada sedikit rasa lega ketika mendengar orang lain berhasil keluar dari lubang masalah yang sama, meskipun saat itu saya sendiri masih terjebak di dalamnya. Sampai akhirnya, ide itu muncul ketika saya sedang tidak terlalu memikirkan skripsi. Waktu itu saya sedang makan di pinggir jalan, tepat di seberang halte Metro Jabar Trans. Di tengah kemacetan, saya melihat sebuah bus yang sedang berhenti. Saya sempat mengecek jam di gawai.

17.40

Jam ketika orang-orang mulai pulang kerja, meskipun bagi sebagian orang, perjalanan pulang justru masih panjang. Kursi bus sudah penuh, tapi penumpang masih terus berdatangan. Entah kenapa, saya terus memikirkan pemandangan itu.

Lalu muncul satu pertanyaan kecil di kepala:

“Apakah semua orang punya akses yang sama ke bus ini, ya?”

Awalnya saya cuma penasaran, lalu mulai mencari jurnal dan membaca penelitian yang membahas hal serupa. Dari situ, saya mulai mengenal beberapa metode yang mungkin bisa digunakan. Tapi ternyata, penelitian yang akhirnya saya kerjakan cukup jauh dari bayangan awal. Sebelum seminar proposal, saya sudah enam kali bimbingan dengan dua dosen berbeda. Judulnya juga beberapa kali berubah. Jujur, saya sering minder setiap selesai bimbingan. Selalu ada saja yang rasanya kurang dan perlu diperbaiki. Tapi semakin banyak membaca, saya malah semakin sadar kalau masih banyak yang belum saya ketahui. Pelan-pelan, saya mencoba menjalaninya saja. Sampai akhirnya, saya bisa mengikuti seminar proposal. Revisi yang diberikan ternyata tidak terlalu banyak. Rasanya lega, karena setelah semua kebingungan dan perubahan yang terjadi, akhirnya ada satu proses yang berhasil saya lewati.

Dok. Penulis

Tapi seminar proposal bukan garis akhir. Setelah itu, saya mulai menjalani proses bimbingan yang banyak membuka sudut pandang baru. Saya bersyukur dipertemukan dengan dua dosen pembimbing yang membantu saya mengembangkan rancangan penelitian ini.

Ada Pak Dr. Lili Somantri, S.Pd., M.Si., yang materi perkuliahannya, terutama PJ SIG Kota dan transportasi, menjadi bekal penting selama proses penelitian. Sesekali, Bapak juga mengingatkan saya tentang kultur SaIG dan semangat menulis yang sudah ditanamkan sejak kami pertama kali memakai name tag oranye sebagai mahasiswa baru. Terima kasih, Pak, atas waktu dan kesabarannya selama membimbing saya.

Ada juga Pak Achmad Fadhilah, S.Pd., M.Sc., yang sudah beberapa kali saya temui untuk berdiskusi, bahkan ketika skripsi ini masih berupa ide kecil. Diskusi tentang metode yang kami lakukan hampir setiap minggu perlahan membantu saya mengembangkan pertanyaan sederhana saat melihat bus Metro Jabar Trans menjadi sebuah rancangan penelitian yang lebih jelas. Terima kasih, Pak, sudah bersedia mendengarkan ide-ide saya yang masih mentah dan menemani prosesnya sampai sejauh ini. Tentu, tidak semua keraguan langsung hilang. Namun, bimbingan dan diskusi membantu saya menemukan jalan setiap kali menemui kebuntuan. Setelah proposal selesai, perjalanan yang sebenarnya justru baru dimulai.

Dok. Penulis

Hari-hari saya habiskan di depan layar. Kadang merasa sudah menemukan hasil yang dicari, lalu keesokan harinya sadar masih ada yang harus diperbaiki. Sementara teman-teman mulai sidang dan wisuda, saya masih berkutat dengan data dan tulisan. Perasaan tertinggal itu ada, tapi saya mencoba menjalani semuanya satu per satu. Sampai akhirnya, ide kecil itu berubah menjadi skripsi yang saya bawa ke ruang sidang. Peta-peta yang berkali-kali saya revisi kini tampil di depan para penguji. Angka yang biasanya hanya saya lihat di tabel harus saya jelaskan dengan suara sendiri.

Lalu datanglah pertanyaan. Beberapa hal yang saya kira sudah dipahami ternyata masih bisa dilihat dari sudut pandang lain. Tiga dosen penguji mengingatkan saya bahwa penelitian ini masih punya banyak ruang untuk dipertanyakan dan dikembangkan. Saya mungkin belum bisa menindaklanjuti semua masukan dengan maksimal, tetapi setidaknya saya membawa cara pandang yang lebih luas.

Terima kasih Pak Drs. Asep Mulyadi, M.Pd., atas diskusi mengenai transportasi yang membuka perspektif baru bagi saya, serta kepercayaan Bapak terhadap apa yang saya kerjakan.

Terima kasih Pak Dr. Andika Permadi Putra, S.T., M.T., atas kritik dan pertanyaan yang mendorong saya untuk melihat penelitian ini tidak hanya dari sisi teknis, tetapi juga dari alasan dan persoalan yang mendasarinya.

Terima kasih Ibu Dr. Tania Septi Anggraini, S.T., M.T., Ph.D., atas pertanyaan-pertanyaan yang mengajak saya kembali ke dasar pemahaman, termasuk pada hal-hal teknis yang selama ini saya anggap sudah saya kuasai.

Dan tentu saja, perjalanan ini tidak saya lewati sendirian. Ada keluarga dan teman-teman seperjuangan yang hadir dalam berbagai bentuk. Waktu untuk berdiskusi, mengeluh, sampai tertawa menjadi pelarian kecil dari penatnya skripsi. Mereka mungkin tidak menyelesaikan skripsi saya, tapi kehadiran mereka menjadi seperti air untuk diri saya yang sempat kering di tengah perjalanan. perjalanan memang tidak selalu berjalan lancar. Ada hari ketika semuanya terasa mudah, ada juga hari ketika membuka laptop saja rasanya berat.

Untuk rekan dan adik yang sedang di fase yang sama, mungkin terdengar klise, tapi perjalanan kalian memang akan berbeda dengan orang lain. Tidak perlu memaksakan diri mengikuti kecepatan orang lain. Mulailah melihat, mendengar, dan merasakan apa yang ada di sekitar. Bisa jadi, sesuatu yang selama ini kita lewatkan justru menyimpan jawaban dari pertanyaan yang sedang kita cari.

Saya sendiri menemukan topik skripsi saat makan di sisi jalan. Sebuah bus yang sedang berhenti. Orang-orang yang sedang berdesakan mencari tempat. Dan sebuah pertanyaan kecil yang muncul begitu saja di kepala. Tujuh bulan kemudian, pertanyaan kecil itu membawa saya melewati jurnal, bimbingan, revisi, data, peta, analisis, sampai akhirnya ruang sidang. Jadi sekarang, setelah semuanya dilewati, apakah benar-benar sudah selesai?

Untuk skripsinya, mungkin iya.

Untuk hal yang saya pelajari, sepertinya belum.

Dan mungkin memang begitu seharusnya. Karena setelah satu pertanyaan terjawab, akan selalu ada pertanyaan lain yang menunggu untuk dicari jawabannya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *