Bandung — Sabtu, 26 Juli 2025, KANTIN IPAI kembali menyelenggarakan kegiatan Kajian Subuh Tafsir Tarbawi sebagai bagian dari ikhtiar intelektual dan spiritual Prodi Ilmu Pendidikan Agama Islam (IPAI) Universitas Pendidikan Indonesia (UPI). Kajian kali ini mengangkat tema “Fondasi Pendidikan Fleksibel dan Inklusif dalam Islam” dengan merujuk pada Surah Al-Muzzammil ayat 15–19, serta menghadirkan narasumber istimewa Dr. KH. Aam Abdussalam, M.Pd.
Diselenggarakan secara daring melalui Zoom Meeting sejak pukul 05.00 WIB, kajian ini terbuka untuk umum dan diikuti oleh sivitas akademika serta masyarakat yang antusias mendalami nilai-nilai Al-Qur’an dalam konteks pendidikan modern. Narasumber menekankan bahwa fleksibilitas dalam pendekatan mendidik adalah keniscayaan dalam Islam, sebagaimana tercermin dalam gaya komunikasi wahyu dan kepekaan sosial Rasulullah ﷺ dalam mengajar.
“Al-Muzzammil ayat 15–19 mengajarkan bahwa pendidikan tidak dapat bersifat statis dan kaku. Justru, Islam mendorong adaptabilitas, pertimbangan kapasitas individu, dan integrasi nilai dalam membina manusia,” ujar Dr. Aam dalam pemaparannya.
Tema ini dianggap sangat relevan di tengah dinamika pendidikan kontemporer, di mana guru dan institusi dituntut mampu merancang sistem pembelajaran yang inklusif—mencakup peserta didik dengan latar belakang kemampuan dan kondisi yang beragam.
Sebagai sarana pembinaan ruhani dan akademik, Kajian Subuh Tafsir Tarbawi juga diikuti oleh diskusi reflektif dan tanya jawab yang dipandu oleh tim HIMA IPAI. Partisipasi jama’ah difasilitasi melalui grup diskusi WhatsApp Kajian Tafsir Tarbawi dan kontak narahubung resmi yang disediakan panitia.
📎 Informasi lebih lanjut dan dokumentasi kegiatan tersedia melalui tautan Zoom Meeting dan grup kajian berikut:
🔗 Zoom Meeting
🆔 Meeting ID: 970 3021 8775
🔐 Passcode: ipai2025
💬 Grup WhatsApp Kajian: https://chat.whatsapp.com/Hopy7PIh4MaIiE6ZqCmANC
📱 Narahubung: 08973291155 (Fathur) / 0895422992568 (Qodfaaza)
Kajian ini membuktikan bahwa tafsir bukan sekadar telaah teks, melainkan sarana untuk membumikan nilai dan visi pendidikan Islam dalam kehidupan nyata. Ketika fleksibilitas, empati, dan inklusivitas dijadikan fondasi oleh pendidik, maka pendidikan akan tumbuh menjadi alat rahmatan lil ‘alamin—yang mendidik dengan kasih sayang, bukan sekadar instruksi. KANTIN IPAI akan terus menjadi ruang tafsir yang menyegarkan pikiran, menggugah hati, dan menghidupkan nilai keilmuan Al-Qur’an.
(Kontributor: Saepul Anwar)
