
Bandung – Fakultas Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial (FPIPS), Universitas Pendidikan Indonesia (UPI), menyelenggarakan Workshop Penulisan Artikel Ilmiah Bereputasi Scopus dengan tema “Strategi Publikasi dan Peningkatan Impact Factor untuk Dosen FPIPS UPI” pada Kamis, 7 Agustus 2025. Kegiatan ini berlangsung di Ruang 103 Gedung FPIPS UPI mulai pukul 13.00 WIB hingga selesai yang diikuti oleh dosen-dosen dari berbagai program studi di FPIPS dan mahasiswa aktif di lingkungan FPIPS.
Pada kegiatan ini, diadakan dua sesi pematerian. Pematerian pertama berjudul “Budaya Publikasi dan Rangking Global UPI” yang dinarasumberi oleh Dr. Fitri Rahmafitira, M.Si. menyampaikan pentingnya membangun kepakaran dosen melalui studi lanjut, kolaborasi riset, serta keterlibatan aktif dalam publikasi ilmiah bereputasi. Kepakaran yang dibangun secara berkelanjutan ini diyakini tidak hanya berdampak pada pengakuan komunitas akademik, masyarakat, dan industri, tetapi juga menjadi faktor penting dalam mendorong peningkatan peringkat UPI dalam pemeringkatan dunia seperti World University Ranking (WUR).
Dalam pemaparannya, Dr. Fitri juga menekankan bahwa salah satu indikator penting dalam WUR adalah jumlah dan dampak sitasi. Oleh karena itu, UPI mendorong para dosen untuk terus menghasilkan karya ilmiah yang dipublikasikan di jurnal bereputasi tinggi, bersifat open access, dan memiliki nilai inovasi serta relevansi yang kuat. Program pendampingan penulisan artikel ilmiah akan terus diperkuat guna membangun budaya riset yang transformatif, sekaligus menciptakan warisan akademik yang diakui secara global.

Sesi kedua diisi oleh Vidi Sukmayadi, M.Si., Ph.D. dengan materi “Literasi, AI, dan Peneliti” yang menyoroti pentingnya literasi digital dan etika penggunaan kecerdasan buatan (AI) di kalangan akademisi. Di era digital, literasi tidak lagi terbatas pada usia, melainkan menjadi kebutuhan semua kalangan, terutama bagi peneliti. Sayangnya, masih banyak publikasi ilmiah di Indonesia yang belum memenuhi standar kualitas global, salah satunya akibat minimnya literasi fungsional dalam riset. Vidi menegaskan bahwa penggunaan AI dalam kegiatan akademik harus menjunjung tinggi prinsip transparansi, integritas, dan tetap melibatkan sentuhan manusia dalam proses berpikir ilmiah.
Penggunaan AI secara tidak etis seperti meminta sistem menuliskan langsung karya ilmiah, melakukan analisis kritis, atau validasi data tanpa keterlibatan peneliti—perlu dihindari. Oleh karena itu, penting bagi civitas akademika untuk mendokumentasikan jejak penggunaan AI serta terus mengembangkan keterampilan prompting dan daya kritis. Dengan pendekatan yang bijak dan bertanggung jawab, AI dapat menjadi alat pendukung yang memperkuat kualitas riset dan meningkatkan literasi ilmiah secara berkelanjutan di lingkungan UPI.
