Penulis : Ardhi Rahman Maulana (SaIG, 2308717)
Penyunting : Muhammad Naufal Rifasyah (SaIG, 2500436)
Tanggal 1 September 2026 jadi awal cerita kami di Pusat Survei Geologi (PSG). Kami berdelapan yang terdiri dari Ardhi Rahman Maulana, Alvin Anugrah Putra, Muhammad Zaki Rabbani, Aulia Dwi Rahma, Artanty Basilia Ambarwati, Muhammad Surya Fadilah, Salsa Hasna Nabila, dan Sheren Siti Salamah, dan bimbing oleh pembimbing mentor kami tercinta, yaitu Ibu Inge Triguri, S.Si., serta dosen pembimbing kami, Ibu Tiara Handayani, S.Si., M.Sc. Pada hari pertama kami belum pergi di kantor dikarenakan Bu Inge dan tim masih bertugas di lapangan sampai 20 September, jadi kami harus magang secara WFH terlebih dahulu dulu. Walaupun dari rumah, kami tetap dapat tugas. Bu Inge membagi wilayah kajian untuk kami olah masing-masing, lalu meminta kami mendaftar akun di Tanahair Indonesia dan geoportal ESDM, serta mengunduh citra DEMNAS untuk wilayah kajian yang sudah dibagi.

Dok. Penulis
Pada hari selanjutnya. Kami pergi ke kantor yang disambut langsung oleh Bapak Akbar Cita, S.T., M.Sc., Ketua Tim Kerja Pemetaan Geologi, pukul 09.00 WIB di Gedung AF Lasut VIII (Gedung A) lantai 4. Di sesi itu kami diperkenalkan sebagai anggota magang, diberi tahu jam kerja operasional, dan dikenalkan dengan fasilitas kerja yang bisa kami gunakan. Pak Akbar juga memberi gambaran singkat tentang kebencanaan tektonik aktif, lengkap dengan contoh dari buku Atlas Geologi. Dari situ, tugas teknis pertama pun datang. Kami diminta menyesuaikan unit batuan hingga 60% supaya efek 3D dari DEMNAS terlihat lebih jelas, lalu memberi label pada nama kecamatan, sungai, dan simbol batuan dengan format SIMOBJ di pengaturan atribut. Setelah itu kami melanjutkan peta patahan aktif yang sudah mulai diolah, dan akhirnya masuk ke tahap layout untuk dua wilayah kajian sesuai ketentuan ESDM.
Di tengah kesibukan itu, tanggal 9 September 2026 kami datang ke kantor untuk mendapat materi dari Pak Akbar tentang sejarah kelembagaan geologi di Indonesia. Dari materi tersebut kami baru tahu bahwa lembaga ini sudah beberapa kali berganti nama. Pada 1850 sampai 1921 namanya Van Het Mijnwezen, lalu pada 1945 sampai 1950 menjadi Pusat Jawatan Tambang dan Geologi, dan sejak 2005 hingga sekarang bernama Badan Geologi, Pusat Survei Geologi. Dari sejarah itu, materi mengalir ke struktur organisasi Kementerian ESDM, yang dipimpin oleh Menteri dengan staf ahli, Inspektorat Jenderal, dan Sekretariat Jenderal di bawahnya. Di jajaran berikutnya ada Direktorat Jenderal Minyak dan Gas Bumi, Ketenagalistrikan, Mineral dan Batubara, serta Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi, ditambah Badan Geologi, Pusat Data dan Teknologi Informasi ESDM, Pusat Pengelolaan Barang Milik Negara, dan Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia ESDM. Lalu kami diajak menyelam lebih dalam ke Badan Geologi, yang terdiri dari Kepala Badan dan Sekretariat, dengan beberapa unit dibawahnya: Pusat Survei Geologi yang sejak 2024 dipimpin Bapak Edy Slameto, S.T., M.T., M.Sc., Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi, Pusat Sumber Daya Mineral Batubara dan Panas Bumi, Pusat Air Tanah dan Geologi Tata Lingkungan, serta Balai Besar Survei dan Pemetaan Geologi Kelautan.

Dok. Penulis
Dari struktur besar itu, pembahasan mengerucut ke tempat kami magang sendiri. Tugas dan fungsi Pusat Survei Geologi ternyata sangat luas. Ada pemetaan geologi, seperti peta patahan aktif, peta anomali Bouguer, dan peta geologi tematik lainnya. Ada juga sumber daya migas, mulai dari pemutakhiran peta cekungan sedimen Indonesia beserta seismiknya hingga rekomendasi wilayah keprospekan migas. Selain itu ada geosains, yang mencakup survei potensi hidrogen alami, metalogeni Indonesia, serta survei geologi dan paleontologi, dan terakhir warisan geologi dan geopark, yaitu rekomendasi penetapan warisan geologi dan geopark nasional, pusat informasi geologi di kawasan geopark, serta UGGp. Sebagai penutup, Pak Akbar juga menjelaskan soal Aparatur Sipil Negara (ASN), terutama perbedaan PPPK dan PNS. PPPK memakai sistem kontrak minimal 1 tahun yang bisa diperpanjang hingga 30 tahun, sedangkan PNS mendapat tunjangan di masa pensiun.
Setelah kurang lebih tiga minggu WFH, akhirnya tiba hari yang kami tunggu-tunggu. Tanggal 20 September 2026, kami masuk kantor untuk pertama kalinya. Kami berangkat pukul 08.00, pulang pukul 16.00, dan absen layaknya orang kantoran pada umumnya. Perasaan kami campur aduk, senang karena akhirnya bisa bekerja langsung di kantor, tapi jujur ada tegangnya juga namanya hari pertama. Di hari itu Bu Inge meminta kami mendaftar akun ASF Alaska dan mengunduh software SNAP. Dari situ saya mulai mengikuti pelatihan pengolahan InSAR menggunakan SNAP dengan citra Sentinel-1A, dan sampai sekarang progres saya sudah mencapai poin 13 dari total materi. Prosesnya dimulai dengan memuat dua citra Sentinel-1A ke SNAP dan mengecek lokasinya lewat tab Worldview. Setelah itu saya memotong citra dengan fitur S-1 TOPS Split, memilih subswath dan polarisasi VV, sambil memastikan area yang diambil mencakup zona yang terdeformasi maupun yang tidak sebagai acuan georeferencing, dan langkah ini saya lakukan untuk kedua citra. Berikutnya saya menerapkan Apply Orbit File dengan Sentinel Precise Orbit supaya orbitnya lebih akurat, mengisi polynomial degree dengan angka 3, dan mencentang opsi "do not fail if new orbit not found", lagi-lagi untuk kedua citra. Tahap terakhir yang sudah rampung adalah coregistration memakai S1 Back Geocoding, di mana citra dengan tanggal akuisisi lebih awal menjadi master dan yang lebih baru menjadi slave, dengan DEM SRTM 3 detik, lalu hasilnya saya simpan dengan format nama tanggal master_tanggal slave_split_Orb_Stack. Artinya, dua citra tersebut sudah berhasil digabung, dan langkah selanjutnya adalah Enhanced Spectral Diversity, deburst, hingga pembentukan interferogram. Selain InSAR, kami juga sempat mengolah orthophoto dari citra drone menggunakan Agisoft.
Tidak lama setelah itu, kami berkesempatan menghadiri presentasi akhir teman-teman SaIG 2023 yang sebelumnya sudah magang mandiri di PSG selama kurang lebih satu setengah bulan. Acara ini dihadiri oleh Bu Inge sebagai mentor mereka, Magang Hub, Pak Akbar, dan para staf ASN lainnya. Dari presentasi tersebut, saya belajar langsung cara menggunakan InSAR lewat SNAP, dan itu sangat membantu karena saya sendiri sedang mengerjakannya.

Dok. Penulis
Setelah itu datanglah bagian yang paling berkesan buat saya. Bu Inge dan tim PSG yang selama kami WFH bertugas di lapangan akhirnya kembali membawa data, dan kami ditugaskan membantu mengolah hasilnya. Kami dibagi ke beberapa tim sesuai wilayah kajian masing-masing, dan saya kebagian Kota Malang. Tugas kami adalah melayout dan mengolah data lapangan patahan aktif di daerah yang sudah dibagi. Di sinilah ilmu SIG yang selama ini kami pelajari di kampus benar-benar terpakai, karena data mentah dari lapangan kami olah menjadi peta patahan aktif yang dipakai langsung oleh tim. Rasanya jauh berbeda dengan tugas kuliah yang berhenti di nilai.
Inilah cerita singkat perjalanan kami di PSG selama lebih dari satu bulan ini. Tapi perjalanan ini belum selesai, karena masih ada beberapa bulan lagi sampai Desember untuk menuntaskan magang, dan masih banyak hal yang belum kami tempuh. Banyak sekali pelajaran yang sudah kami bawa pulang, mulai dari kebersamaan dengan teman-teman satu tim, ilmu-ilmu yang belum pernah kami dapat di bangku kuliah, sampai pengalaman bekerja layaknya pekerja pada umumnya. Kalau dulu tugas datang dari dosen, sekarang kami mengerjakan sesuatu yang hasilnya benar-benar dipakai. Bagi saya, ini pengalaman yang sangat berharga. Terima kasih untuk Bu Inge, Pak Akbar, Bu Tiara, seluruh staf PSG, dan teman-teman seperjuangan yang sudah membuat awal magang ini begitu berkesan. And Every great journey has chapters yet to be written, and ours is still unfolding. Until then, keep growing, keep learning, and see you in December!
