Himpunan Mahasiswa Civics Hukum (HMCH) Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) melalui Bidang Sosial dan Kemasyarakatan menyelenggarakan kegiatan Diksi Talk X Diskursus pada Senin, 28 September 2026, pukul 15.30–18.00 WIB di Taman Bareti UPI. Mengusung tema “Apatis Itu Mahal: Harga yang Harus Dibayar Akibat Buta Politik”, kegiatan ini menjadi ruang diskusi bagi mahasiswa untuk meningkatkan kesadaran politik, memahami dampak sikap apatis, serta menumbuhkan kepedulian terhadap berbagai persoalan publik yang berkaitan dengan kehidupan sehari-hari.
Kegiatan ini dilatarbelakangi oleh masih adanya kecenderungan generasi muda yang menganggap politik sebagai sesuatu yang jauh dari kehidupan mereka. Padahal, berbagai keputusan dan kebijakan publik memiliki pengaruh langsung terhadap kehidupan masyarakat, mulai dari harga kebutuhan pokok, akses pendidikan dan kesehatan, hingga kebebasan dalam menyampaikan pendapat. Kurangnya perhatian terhadap perkembangan politik dapat membuat masyarakat kehilangan kesempatan untuk memahami, mengawasi, dan memberikan masukan terhadap kebijakan yang memengaruhi kehidupan mereka.
Sikap apatis terhadap politik tidak hanya ditunjukkan melalui ketidaktertarikan dalam mengikuti perkembangan politik, tetapi juga dapat terlihat dari kurangnya pemahaman mengenai hak dan kewajiban sebagai warga negara. Kondisi tersebut berpotensi melemahkan partisipasi masyarakat dalam kehidupan demokrasi. Oleh karena itu, mahasiswa sebagai bagian dari generasi muda perlu memiliki kesadaran politik agar mampu memahami persoalan publik secara kritis dan tidak bersikap acuh terhadap berbagai keputusan yang diambil oleh pemerintah.
Melalui kegiatan Diksi Talk X Diskursus, mahasiswa diajak memahami pentingnya partisipasi politik sebagai salah satu unsur utama dalam kehidupan demokrasi. Partisipasi politik tidak terbatas pada keikutsertaan dalam pemilihan umum, tetapi juga mencakup keterlibatan dalam menyampaikan pendapat, mengikuti perkembangan isu publik, mengawasi kebijakan pemerintah, serta berpartisipasi dalam diskusi mengenai persoalan yang dihadapi masyarakat. Dengan demikian, mahasiswa diharapkan mampu menyadari bahwa keterlibatan mereka memiliki arti penting dalam menjaga keberlangsungan demokrasi.

Kegiatan ini menghadirkan Muhammad Haidar Mutawwakil dan Nurul Sidiqah, S.Pd. sebagai pemateri yang membahas persoalan apatisme dan buta politik di kalangan masyarakat, khususnya generasi muda. Pembahasan diarahkan pada pengenalan berbagai bentuk sikap apatis, dampak yang dapat ditimbulkan, serta pentingnya membangun kepedulian terhadap persoalan politik dan kebijakan publik. Mahasiswa juga diajak untuk memahami bahwa politik bukan sekadar persoalan perebutan kekuasaan, melainkan sesuatu yang berkaitan erat dengan kehidupan masyarakat sehari-hari.
Selain membahas pentingnya partisipasi politik, kegiatan ini turut menekankan perlunya kemampuan berpikir kritis dalam menyikapi berbagai informasi. Di tengah banyaknya informasi yang beredar, mahasiswa perlu membiasakan diri untuk memeriksa kebenaran informasi, membedakan fakta dan opini, serta memahami konteks dari suatu permasalahan sebelum mengambil kesimpulan. Kemampuan tersebut menjadi penting agar mahasiswa tidak mudah terpengaruh oleh informasi yang belum tentu benar dan mampu membentuk pandangan berdasarkan pemahaman yang lebih menyeluruh.
Suasana kegiatan semakin interaktif melalui sesi diskusi dan tanya jawab yang memberikan kesempatan kepada peserta untuk menyampaikan pertanyaan, pandangan, serta tanggapan terhadap materi yang disampaikan. Sesi ini menjadi ruang bagi mahasiswa untuk bertukar pikiran dan memahami bahwa persoalan politik dapat dilihat dari berbagai sudut pandang. Perbedaan pendapat yang muncul juga menjadi bagian dari proses pembelajaran dalam membangun sikap demokratis dan menghargai pandangan orang lain.
Kegiatan kemudian dilanjutkan dengan Focus Group Discussion (FGD), yang mendorong peserta untuk mendiskusikan persoalan secara berkelompok dan menyampaikan hasil pembahasannya. Melalui kegiatan tersebut, mahasiswa tidak hanya memperoleh pemahaman secara teoritis, tetapi juga berlatih menyusun argumen, bekerja sama, mendengarkan pendapat orang lain, serta menyampaikan hasil pemikiran secara sistematis. Tahapan ini diharapkan dapat membantu peserta menerapkan pemahaman yang diperoleh selama kegiatan ke dalam proses diskusi dan pengambilan sikap terhadap persoalan publik.
Rangkaian kegiatan berlangsung mulai dari pembukaan, penyampaian materi, diskusi dan tanya jawab, pelaksanaan FGD, presentasi hasil diskusi, hingga penyerahan sertifikat kepada pemateri dan penutupan. Seluruh rangkaian tersebut menjadi bagian dari upaya menciptakan ruang belajar yang tidak hanya berfokus pada penyampaian materi, tetapi juga memberikan kesempatan kepada mahasiswa untuk terlibat aktif dalam membahas isu-isu politik dan kewarganegaraan.
Melalui penyelenggaraan Diksi Talk X Diskursus, mahasiswa diharapkan semakin memahami bahwa kepedulian terhadap politik merupakan bagian dari tanggung jawab sebagai warga negara. Kepedulian tersebut dapat dimulai dari langkah sederhana, seperti mengikuti perkembangan isu nasional, memeriksa kebenaran informasi, memahami kebijakan publik, serta berani menyampaikan aspirasi secara bertanggung jawab. Langkah-langkah tersebut dapat menjadi bentuk partisipasi nyata dalam kehidupan demokrasi.
Tema “Apatis Itu Mahal: Harga yang Harus Dibayar Akibat Buta Politik” menjadi pengingat bahwa ketidakpedulian terhadap politik bukanlah sesuatu yang sepenuhnya terpisah dari kehidupan sehari-hari. Sebaliknya, sikap tersebut dapat berdampak pada kemampuan masyarakat dalam memahami dan merespons kebijakan yang memengaruhi kehidupan mereka. Melalui kegiatan ini, HMCH UPI berharap mahasiswa dapat membangun kesadaran politik yang lebih baik, mengembangkan pemikiran kritis, dan mengambil peran aktif dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.
