Jl. Dr. Setiabudi No.276A, Kota Bandung 40143
UPI-FPIPS-Logo-blok
Kabut Asap Lintas Batas: Ketika Kebakaran Hutan Indonesia Melumpuhkan Negara-Negara ASEAN
Penulis: Fazrul Ramadhanni (2406956) Editor: Nendeh Rizka Nurfadilah (2508823)

Gambar 1. Asap Kebakaran Hutan Menyelimuti Pulau Borneo dari Citra Satelit. Sumber: NOAA, 1 September 2026.

Sejak Agustus 2026, kawasan Asia Tenggara kembali diselimuti kabut asap tebal yang berasal dari kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Sumatra dan Kalimantan. Hingga pertengahan Oktober 2026, krisis ini belum berakhir dan asapnya telah menjalar ke Malaysia, Singapura, Brunei Darussalam, Filipina, Timor Leste, bahkan sampai ke bagian selatan Vietnam. Sekolah-sekolah ditutup, berbagai acara olahraga diubah atau dibatalkan, masker N95 dibagikan kepada warga, dan sejumlah pemerintah mengaktifkan skema subsidi layanan kesehatan akibat asap. Situasi ini dinilai cukup serius sehingga isu kabut asap lintas batas resmi dimasukkan ke dalam agenda pertemuan menteri luar negeri ASEAN di Manila pada November 2026 menjelang KTT ASEAN. Dari sudut pandang geografi, penyebab bencana ini bertumpu pada kombinasi kondisi fisik wilayah dan iklim. Pulau Sumatra dan Kalimantan memiliki hamparan lahan gambut yang luas, yaitu tanah organik kaya karbon yang sangat mudah terbakar ketika dikeringkan untuk perkebunan atau pertanian. Pada tahun 2026, kondisi tersebut diperparah oleh El Nino yang kuat dan Indian Ocean Dipole (IOD) positif yang membuat musim kemarau menjadi lebih kering. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menjelaskan bahwa kekeringan akibat El Nino hanya menyiapkan kondisi yang rentan, sedangkan api tetap membutuhkan sumber penyulut yang umumnya berasal dari aktivitas manusia. Kebakaran gambut juga lebih berbahaya karena dapat menyala di bawah permukaan selama berhari-hari hingga berminggu-minggu dan, menurut kajian yang dirujuk Greenpeace, melepaskan partikulat tiga hingga enam kali lebih banyak dibandingkan kebakaran di lahan lain. Skala kebakaran di dalam negeri Indonesia sendiri tergolong besar. Sistem Pemantauan Karhutla (SiPongi) Kementerian Kehutanan mencatat luas area karhutla pada periode Januari hingga Juli 2026 mencapai 202.004,30 hektare, atau naik sekitar 69 persen dibandingkan tahun 2025, dan angka itu belum mencakup Agustus hingga Oktober. Pada 14 Oktober 2026, SiPongi mendeteksi 20.334 titik panas dalam pemantauan 24 jam, walaupun hanya 1.784 di antaranya berkategori tingkat kepercayaan tinggi sehingga titik panas tidak dapat disamakan dengan jumlah api yang pasti menyala. Kementerian Kesehatan mencatat lebih dari 50.000 kasus infeksi saluran pernapasan akut pada Juli hingga Agustus yang berkaitan dengan karhutla, sementara di Palangka Raya, Kalimantan Tengah, Indeks Standar Pencemaran Udara (ISPU) pada 11 Oktober 2026 menyentuh angka 414 yang masuk kategori berbahaya. Di sisi penegakan hukum, kepolisian menyatakan pada 17 September 2026 telah meluncurkan 219 penyelidikan pidana dengan 162 orang ditetapkan sebagai tersangka, serta menyelidiki 95 perusahaan.

Gambar 2. Prajurit dan Petugas Pemadam Berupaya Mengendalikan Kebakaran Lahan di Banjarbaru. Sumber: Malay Mail (14 Oktober 2026).

Dampak kesehatan yang paling nyata dirasakan oleh warga Indonesia sendiri. Lembaga riset independen Center for Research on Energy and Clean Air (CREA) memperkirakan asap karhutla menyebabkan sekitar 1.700 kematian di Indonesia sepanjang Agustus 2026, dan pada puncaknya tanggal 18 Agustus sekitar 41 juta orang atau 15 persen penduduk terpapar kualitas udara kategori tidak sehat atau lebih buruk. Perlu dipahami bahwa angka tersebut merupakan estimasi pemodelan terhadap kematian akut jangka pendek, bukan hitungan kasus yang tercatat satu per satu di rumah sakit. CREA juga mengingatkan bahwa polusi udara kronis dari pembangkit listrik, industri, dan transportasi, terutama di Pulau Jawa, menyumbang sekitar 2.000 kematian pada bulan yang sama. Dari sisi ekonomi, lembaga kajian CELIOS memperkirakan biaya ekonomi dan kesehatan akibat karhutla selama Januari hingga Agustus 2026 berada pada kisaran Rp39,29 triliun hingga Rp123,1 triliun. Malaysia menjadi negara tetangga yang paling awal dan paling lama terdampak, terutama negara bagian Sarawak yang berbatasan langsung dengan Kalimantan Barat. Pada 21 Agustus 2026, Serian mencatat Indeks Pencemaran Udara (IPU) sebesar 242 yang termasuk kategori sangat tidak sehat, dan pada 29 Agustus angkanya naik hingga 302. Seluruh 591 sekolah di 10 pejabat pendidikan daerah di Sarawak sempat ditutup pada 20 Agustus, dan pada 4 September 2026 keadaan darurat diumumkan di Distrik Serian. Memasuki Oktober, asap bergeser ke Semenanjung Malaysia. Pada 9 Oktober 2026, sekolah ditutup di Kuala Lumpur, Putrajaya, Johor, Melaka, Negeri Sembilan, dan Selangor, serta sebagian wilayah Pahang, dengan sekitar dua juta siswa terdampak ketika IPU Kuala Lumpur mencapai sekitar 170. Raja Malaysia, Sultan Ibrahim, menyatakan sekolah semestinya ditutup ketika IPU mencapai 150 atau lebih, sementara Perdana Menteri Anwar Ibrahim menyampaikan telah berbicara langsung dengan Presiden Prabowo Subianto mengenai langkah yang perlu diambil.

Gambar 3. Cakrawala Kuala Lumpur Tertutup Kabut Asap dari Kebakaran Hutan Regional. Sumber: Hasnoor Hussain/Reuters, via Al Jazeera (9 Oktober 2026).

Singapura mengalami lonjakan polusi yang tidak pernah terlihat dalam beberapa tahun terakhir. Pada 4 September 2026, Pollutant Standards Index (PSI) 24 jam di wilayah tengah masuk kategori tidak sehat untuk pertama kalinya sejak Oktober 2023, dan pada 15 September seluruh lima wilayah berada pada kategori tersebut untuk pertama kalinya sejak September 2019. Puncak sementara terjadi pada 9 Oktober ketika PSI wilayah tengah menyentuh 192, yang merupakan angka tertinggi pada tahun 2026 saat itu, dan pada 15 Oktober dilaporkan PSI wilayah barat mencapai 212 yang termasuk kategori sangat tidak sehat. Pada 12 Oktober, IQAir menempatkan Singapura sebagai kota paling tercemar di dunia, dan pemerintah mengaktifkan skema subsidi perawatan kesehatan terkait asap yang terakhir kali digunakan pada 2015. Pemerintah Singapura tidak menutup sekolah secara nasional, tetapi menyiapkan masker N95 untuk kelompok rentan dan ruangan berpendingin udara di pusat komunitas sebagai tempat berlindung.

Gambar 4. Gedung-Gedung di Singapura Tampak Samar Akibat Asap Kebakaran Hutan Indonesia. Sumber: CNBC Indonesia (13 Oktober 2026).

Brunei Darussalam dan Filipina juga merasakan dampaknya meskipun letaknya berbeda. Di Brunei, pada 1 September 2026 PSI di Brunei-Muara mencapai 215 dan di Belait 211, keduanya termasuk kategori sangat tidak sehat, sehingga pemerintah menerapkan pembelajaran dari rumah pada 2 hingga 3 September. Di Filipina, asap menempuh jarak hampir 2.000 kilometer dan membuat kualitas udara di Metro Manila mencapai kategori sangat tidak sehat dengan indeks kualitas udara hingga 300 pada akhir Agustus hingga awal September. Pembelajaran tatap muka di sekolah negeri Quezon City dan sebagian Metro Cebu dihentikan, dan Kantor Pertahanan Sipil (OCD) menganjurkan penggunaan masker N95 di Palawan, Cebu, serta sejumlah wilayah Mindanao. Menurut fisikawan atmosfer Universitas Filipina, Gerry Bagtasa, terakhir kali Filipina terdampak asap dari Indonesia adalah pada tahun 2015, dan badan cuaca PAGASA menjelaskan bahwa asap terbawa oleh angin muson barat daya (habagat).

Gambar 5. Kabut Asap dari Kalimantan Menyelimuti Cakrawala Kota Metro Manila. Sumber: Niño Jesus Orbeta/INQUIRER.net (1 September 2026).

Penyebaran asap ini menunjukkan peran arah angin musiman dalam menentukan siapa yang terdampak. Ketika angin muson barat daya bertiup, asap dari Kalimantan terbawa ke utara menuju Filipina, sedangkan ketika arah angin bergeser, asap mengarah ke Malaysia dan Singapura. Pada 14 September 2026, asap dilaporkan mencapai Vietnam bagian selatan karena angin di atas kawasan selatan ASEAN bertiup dari arah tenggara. Pada pertengahan Oktober, Timor Leste, yang menjadi anggota ke-11 ASEAN sejak Oktober 2025, menutup seluruh sekolah selama tiga hari mulai 15 Oktober 2026 karena asap kebakaran hutan di Nusa Tenggara Timur memperburuk kualitas udara di Dili. Fakta-fakta ini menegaskan bahwa asap tidak mengenal batas administratif negara. Krisis 2026 bukan peristiwa tunggal, melainkan bagian dari pola yang berulang. Pada 2015, kebakaran seluas sekitar 2,6 juta hektare menimbulkan kerugian ekonomi Indonesia sebesar 16,1 miliar dolar AS atau sekitar 1,9 persen produk domestik bruto menurut Bank Dunia. Studi Universitas Harvard dan Columbia memperkirakan kabut asap 2015 menyebabkan sekitar 100.300 kematian dini, yaitu 91.600 di Indonesia, 6.500 di Malaysia, dan 2.200 di Singapura. Pada 2019, Malaysia menutup lebih dari 1.200 sekolah dalam satu hari ketika asap kembali menyelimuti kawasan tersebut. Berulangnya kejadian ini memperlihatkan bahwa akar masalahnya, yaitu pengeringan gambut dan pembakaran untuk membuka lahan, belum teratasi secara tuntas. Pada tingkat kebijakan, kawasan ini sebenarnya telah memiliki ASEAN Agreement on Transboundary Haze Pollution (AATHP) yang diratifikasi Indonesia pada 16 September 2014, dan perjanjian tersebut mengatur pencegahan serta pemantauan pencemaran asap lintas batas. Namun Menteri Luar Negeri Malaysia, Mohamad Hasan, menyatakan pada 12 Oktober 2026 bahwa mekanisme ASEAN untuk bencana alam belum mencakup kabut asap karena tidak digolongkan sebagai bencana alam, sehingga Malaysia akan membawa isu ini ke Manila. Anggota parlemen Malaysia, Syed Saddiq, bahkan mendorong ASEAN menyampaikan nota diplomatik kepada Indonesia dan menghentikan pembiayaan bagi perusahaan yang terbukti membakar lahan. Di sisi lain, Presiden Prabowo dilaporkan menyetujui bantuan asing untuk memadamkan api, Jepang mengirim kapal JS Kunisaki bersama tiga helikopter CH-47, dan Sarawak menggelar operasi modifikasi cuaca. Seorang anggota DPR RI juga mengingatkan bahwa perusahaan sawit asal Malaysia dan Singapura turut beroperasi di Indonesia, yang menunjukkan bahwa pertanggungjawaban atas kebakaran tidak sesederhana menunjuk satu negara. Pada akhirnya, krisis kabut asap 2026 menegaskan bahwa kebakaran hutan di satu wilayah dapat menjadi persoalan kesehatan, pendidikan, ekonomi, dan diplomasi bagi banyak negara sekaligus. Penanganan yang hanya mengandalkan pemadaman saat api sudah membesar tidak lagi memadai, terutama ketika perubahan iklim dan fenomena seperti El Nino membuat musim kering semakin ekstrem. Pendekatan geografi lingkungan menuntut pencegahan sejak hulu, seperti pembasahan dan restorasi lahan gambut, penegakan hukum terhadap pembakar lahan, pemantauan titik panas melalui satelit secara real-time, serta sistem peringatan dini yang terhubung antarnegara ASEAN. Hanya dengan kerja sama regional yang mengikat dan tidak berhenti pada pernyataan politik, masyarakat di Asia Tenggara dapat terhindar dari siklus asap tahunan yang terus berulang. Sumber Data
  1. com (13–15 Oktober 2026), "Asap Karhutla Persoalan Bersama ASEAN"; "Malaysia Akan Bawa Masalah Kabut Asap ke ASEAN"; "Ramai-ramai Desak Karhutla Jadi Status Bencana Nasional". nasional.kompas.com dan internasional.kompas.com.
  2. com (3 September dan 15 Oktober 2026), "Kondisi Terkini ASEAN Jadi Korban Kebakaran Hutan Kalimantan"; "Indonesia Bagi-bagi Kabut Asap: ... Giliran Timor Leste Sesak". suara.com.
  3. Al Jazeera (9 Oktober 2026), "Malaysia shuts schools as haze from Indonesian fires chokes Southeast Asia". aljazeera.com.
  4. Malay Mail (14 Oktober 2026), "Indonesia haze spikes pollution in Malaysia and Singapore, shuts Timor-Leste schools". malaymail.com.
  5. id (Oktober 2026), "Berapa Luas Hutan Kalimantan yang Terdampak Karhutla Tahun 2026?" (data SiPongi Kemenhut). tirto.id.
  6. id (15 Oktober 2026), "Karhutla Meluas Pemerintah Hadapi 20334 Titik Panas di Indonesia" (data SiPongi). sultramedia.id.
  7. Center for Research on Energy and Clean Air (14 September 2026), "Choking on inaction: Indonesia's fires led to 1,700 deaths in August". energyandcleanair.org.
  8. Katadata (14 September 2026), "CREA: Polusi Udara RI Tewaskan 3.700 Orang pada Agustus" dan Kabar Bursa (16 September 2026) untuk estimasi biaya CELIOS.
  9. Wikipedia, "2026 Southeast Asian haze" (diakses 16 Oktober 2026), sebagai rujukan kronologi PSI/API dan daftar rujukan primer di dalamnya (Reuters, CNA, The Straits Times, The Star).
  10. ABC News (4 September 2026), "Indonesia battling wildfires as smoke haze spreads as far as the Philippines"; INQUIRER.net dan SCMP (1–4 September 2026) tentang kabut asap di Filipina.
  11. Macau Business/AFP (12 Oktober 2026), "Singapore rolls out haze subsidies as Malaysia extends school closures".
  12. World Bank (2016), "The Cost of Fire: An Economic Analysis of Indonesia's 2015 Fire Crisis"; Greenpeace Southeast Asia (2016) tentang studi Harvard–Columbia; Inquirer.net (18 September 2019) tentang penutupan sekolah di Malaysia.
Catatan tentang Foto Foto belum disisipkan otomatis. Unduh dari tautan pada keterangan masing-masing gambar, ganti kotak abu-abu dengan foto tersebut, dan pertahankan keterangan sumbernya. Foto NOAA berstatus domain publik, sedangkan foto Reuters, INQUIRER.net, Malay Mail, dan CNBC Indonesia dilindungi hak cipta, sehingga perlu dicantumkan sumbernya dan dicek izin penggunaannya

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *