Penulis : Alfani (2401063), Fifi Amelia Putri (2501576)
Editor : Syalwa Ramadianti (2407430)
Menjadi mahasiswa Pendidikan Geografi tidak hanya berkaitan dengan kegiatan perkuliahan di dalam kelas, melainkan juga mencakup berbagai aktivitas lain seperti tugas, praktikum, kegiatan lapangan, hingga aktivitas organisasi. Padatnya aktivitas tersebut menuntut mahasiswa untuk mampu mengatur waktu dan menjaga keseimbangan antara kewajiban akademik dengan kebutuhan untuk beristirahat dan melakukan aktivitas di luar perkuliahan.
Di tengah rutinitas tersebut, mahasiswa membutuhkan ruang untuk sejenak keluar dari kesibukan atau padatnya akademik. Jeda tidak selalu berarti berhenti dari aktivitas, tetapi dapat diwujudkan melalui kegiatan yang menyenangkan, positif, dan memberikan kesempatan untuk berinteraksi dengan orang lain. Dalam hal ini, seni dan olahraga menjadi salah satu bentuk kegiatan yang dapat memberikan suasana berbeda dari rutinitas akademik. Melalui Seni, mahasiswa dapat mengekspresikan kreativitas, sekaligus menikmati suasana yang lebih santai setelah menjalani aktivitas perkuliahan. Sementara itu, olahraga memberikan kesempatan untuk bergerak, menjaga kebugaran, dan melepas kejenuhan. Keduanya juga dapat menjadi ruang untuk berinteraksi dan membangun kebersamaan dengan mahasiswa lainnya.
Kebutuhan akan ruang di luar rutinitas akademik tersebut dapat difasilitasi melalui berbagai kegiatan yang diadakan oleh Departemen Minat dan Bakat. Sebagai bagian dari himpunan, Departemen Minat dan Bakat tidak hanya mewadahi dan mengembangkan minat serta bakat mahasiswa pendidikan geografi dalam bidang seni dan olahraga, tetapi juga menghadirkan ruang bagi mahasiswa untuk berkegiatan bersama di luar aktivitas perkuliahan. Melalui Biro Seni dan Biro Olahraga, berbagai kegiatan dirancang untuk memberikan kesempatan bagi mahasiswa menyalurkan minatnya sekaligus menikmati suasana yang berbeda dari rutinitas akademik. Kegiatan dua diantaranya adalah Geografi Berseni (GBS) dan Geografi Berkeringat (GBK).
Geografi Berseni : Wadah Ekspresi dan Penyeimbang Rutinitas

Salah satu kegiatan yang dirancang Biro Seni adalah Geografi Berseni (GBS). GBS merupakan program kerja yang bertujuan menampung minat dan bakat seni mahasiswa Pendidikan Geografi sekaligus mempererat hubungan antar angkatan. Kegiatan ini dilaksanakan secara rutin satu kali setiap bulan pada hari kamis sore, sehingga pelaksanaannya dapat menjadi ruang bagi mahasiswa untuk berkegiatan di luar rutinitas perkuliahan tanpa mengganggu kegiatan akademik.
GBS memiliki bentuk kegiatan yang beragam melalui Muvgeo (Music and Vocal of Geography), Geri (Geografi Menari), dan Seruga (Seni Rupa Geografi). Muvgeo memberikan ruang bagi mahasiswa yang memiliki ketertarikan pada musik dan vokal, sedangkan Geri menjadi wadah untuk menyalurkan minat dalam bidang tari. Sementara itu, Seruga menghadirkan kegiatan seni rupa seperti melukis, menggambar, membuat manik-manik, dan berbagai bentuk karya kreatif lainnya. Keberagaman kegiatan tersebut membuat GBS tidak hanya menjadi ruang untuk menyalurkan kemampuan seni, tetapi juga memberikan pengalaman yang berbeda dari kegiatan akademik. Mahasiswa dapat berkarya, berinteraksi, dan menikmati proses kreatif bersama mahasiswa lainnya.
Hal menarik lainnya adalah setiap kegiatan GBS juga mengangkat tema tertentu yang disesuaikan dengan momen atau hari besar pada bulan tersebut, seperti tema hari anak di bulan Juli atau tema kemerdekaan di bulan Agustus sehingga setiap pelaksanaannya terasa bermakna dan tidak monoton. Selain dilaksanakan secara luring di lingkungan kampus UPI, GBS juga dapat dilakukan melalui konten kreatif pada platform seperti TikTok, Instagram, dan YouTube. Hal tersebut menunjukkan bahwa ruang berkesenian bagi mahasiswa dapat hadir dalam berbagai bentuk, baik melalui kegiatan bersama secara langsung maupun melalui media digital.
Pada akhirnya, GBS tidak hanya tentang menghasilkan karya seni. Melalui kegiatan bernyanyi, menari, menggambar, maupun membuat berbagai karya kreatif, mahasiswa juga memiliki kesempatan untuk sejenak melepas penat dari rutinitas akademik. Berkegiatan bersama membuat suasana menjadi lebih santai, membuka ruang untuk saling berbincang, sekaligus mempertemukan mahasiswa dari berbagai angkatan dalam suasana yang berbeda. Dengan begitu, seni tidak hanya menjadi ruang untuk menyalurkan kreativitas, tetapi juga menjadi salah satu cara untuk menyegarkan kembali diri sebelum kembali menjalani kesibukan perkuliahan.
Geografi Berkeringat: Vitalitas Fisik sebagai Penopang Produktivitas

Berbeda dengan Geografi Berseni yang menyasar aspek emosional dan kreatif, Geografi Berkeringat berfokus pada aktivitas fisik dan olahraga sebagai sarana menjaga kebugaran tubuh mahasiswa. Di lingkungan mahasiswa geografi Universitas Pendidikan Indonesia (UPI), kegiatan ini dikenal luas melalui program rutin GBK Badminton yang diselenggarakan secara terjadwal, serta GBK Insidental yang hadir lebih fleksibel dalam bentuk pertandingan basket, futsal, voli, hingga kompetisi e-sport seperti Mobile Legends. Kehadiran kedua bentuk kegiatan ini menjadi penyeimbang penting di tengah rutinitas perkuliahan yang banyak menuntut aktivitas duduk dan berpikir analitis dalam waktu lama.
Aktivitas akademik mahasiswa di bidang geografi yang melibatkan penggunaan perangkat komputer dan analisis data spasial dalam durasi yang panjang berpotensi menimbulkan berbagai permasalahan kesehatan, seperti nyeri punggung, kelelahan mata, dan penurunan kebugaran fisik. Oleh karena itu, aktivitas fisik yang dilakukan secara rutin, seperti latihan GBK Badminton setiap pekan, memiliki peran penting dalam menjaga sirkulasi darah, kekuatan otot, dan daya tahan tubuh mahasiswa. Keseimbangan antara aktivitas akademik dan aktivitas fisik diperlukan untuk menjaga kondisi tubuh tetap optimal, karena kelelahan fisik dapat berdampak pada penurunan konsentrasi dan performa, baik dalam kegiatan pembelajaran di kelas maupun aktivitas lapangan. Selain manfaat fisik, olahraga juga memicu pelepasan hormon endorfin yang berperan penting dalam meningkatkan suasana hati dan mengurangi kecemasan yang timbul akibat tekanan akademik. Aktivitas berkeringat bersama rekan-rekan sesama mahasiswa geografi, baik melalui GBK Badminton maupun GBK Insidental, menjadi momen untuk melepaskan penat sekaligus membangun kembali semangat sebelum kembali menghadapi tugas dan tanggung jawab akademik. Rasa lelah fisik yang muncul setelah berolahraga justru sering kali diikuti oleh ketenangan pikiran yang sulit didapatkan hanya dengan beristirahat pasif.
GBK Insidental menjadi wadah yang menampung minat mahasiswa yang lebih beragam, mulai dari basket, futsal, voli, hingga e-sport seperti Mobile Legends, yang diselenggarakan secara spontan maupun sebagai kompetisi antarkelas dan antarangkatan. Selain menyehatkan tubuh, kegiatan semacam ini menumbuhkan semangat sportivitas, kerja sama tim, dan kekompakan yang turut berdampak positif terhadap dinamika kelompok belajar di kelas. Momen kebersamaan seperti yang terekam dalam dokumentasi foto bersama pada kegiatan GBK Insidental cabang basket menjadi gambaran nyata bagaimana kedekatan yang terjalin di lapangan sering kali membawa kekompakan yang sama, bahkan lebih erat, ketika mahasiswa kembali duduk bersama menyelesaikan tugas kelompok.
Kegiatan Geografi Berkeringat juga kerap menjadi sarana pengenalan lingkungan geografis secara langsung, misalnya melalui kegiatan mendaki gunung, susur sungai, atau bersepeda ke kawasan bentang alam tertentu. Aktivitas semacam ini tidak hanya melatih ketahanan fisik, tetapi juga memberikan pengalaman nyata yang memperkaya pemahaman mahasiswa terhadap objek kajian geografi itu sendiri, sehingga olahraga dan keilmuan dapat berjalan beriringan secara alami. Pada akhirnya, konsistensi dalam menjaga kebugaran fisik melalui GBK Badminton maupun GBK Insidental membentuk pola hidup yang lebih sehat dan disiplin. Kebiasaan bergerak aktif secara rutin akan terbawa hingga mahasiswa menyelesaikan studi dan memasuki dunia kerja, di mana tuntutan produktivitas sering kali jauh lebih tinggi. Dengan demikian, olahraga bukan sekadar kegiatan pelepas penat sesaat, melainkan investasi jangka panjang bagi kesehatan dan keberlanjutan performa akademik maupun profesional mahasiswa geografi UPI di masa depan.
Sinergi Geografi Berseni dan Geografi Berkeringat sebagai Penyeimbang Akademik
Geografi Berseni dan Geografi Berkeringat pada dasarnya saling melengkapi dalam membentuk keseimbangan hidup mahasiswa geografi. Jika Geografi Berseni berperan menenangkan pikiran dan menyalurkan kreativitas, Geografi Berkeringat berperan menjaga stamina dan vitalitas fisik. Keduanya bekerja secara simultan untuk memastikan mahasiswa tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga sehat secara fisik dan mental. Beberapa manfaat yang dapat dirasakan mahasiswa ketika kedua kegiatan ini berjalan beriringan dengan aktivitas akademik antara lain peningkatan konsentrasi dan daya ingat setelah tubuh dan pikiran mendapatkan waktu istirahat yang berkualitas, penurunan tingkat stres dan kecemasan akademik melalui penyaluran emosi secara sehat, serta terbentuknya jejaring sosial dan solidaritas antar mahasiswa yang memperkuat rasa memiliki terhadap himpunan maupun program studi. Selain itu, pola hidup seimbang yang terbentuk sejak masa perkuliahan akan terus terbawa hingga mahasiswa memasuki dunia kerja kelak.
Di banyak himpunan mahasiswa geografi, kegiatan Geografi Berseni dan Geografi Berkeringat telah menjadi agenda rutin yang terjadwal, baik dalam bentuk kegiatan mingguan dan bulanan. Keberlangsungan kegiatan-kegiatan ini tidak lepas dari dukungan berbagai pihak, mulai dari himpunan mahasiswa, dosen pembimbing kemahasiswaan, hingga program studi yang menyediakan ruang dan waktu bagi mahasiswa untuk mengembangkan potensi di luar bidang akademik. Dukungan tersebut penting agar kegiatan Geografi Berseni dan Geografi Berkeringat tidak dipandang sebagai kegiatan tambahan yang tidak penting, melainkan sebagai bagian integral dari proses pembentukan mahasiswa yang utuh, baik secara intelektual, emosional, maupun fisik.
Pada akhirnya, GBS dan GBK bukan sekedar program kerja yang mengisi kalender kegiatan himpunan. Keduanya adalah kegiatan yang secara praktis membantu mahasiswa menjaga keseimbangan di tengah padatnya aktivitas perkuliahan maupun jeda bagi pikiran yang terus bekerja memproses materi perkuliahan. Mahasiswa yang memiliki ruang untuk bergerak dan berkreasi cenderung lebih mudah kembali fokus ketika harus menghadapi tugas, praktikum, atau kegiatan lapangan berikutnya. Selain itu, kedua kegiatan ini menjadi kesempatan untuk berinteraksi dengan mahasiswa angkatan lain di luar konteks perkuliahan dan alumni. Interaksi yang terjalin di luar kelas, seperti baik saat latihan badminton maupun saat membuat karya bersama dalam GBS, secara tidak langsung memperkuat rasa kebersamaan yang menjadi pondasi penting dalam kehidupan berorganisasi, perkuliahan sehari-hari, serta membangun relasi yang lebih luas.
Dengan berbagai pilihan kegiatan yang tersedia, baik di bidang seni maupun olahraga, mahasiswa dapat menyesuaikan keterlibatannya sesuai minat dan kondisi masing-masing. Keterlibatan dalam GBS dan GBK juga tidak menuntut mahasiswa untuk memiliki kemampuan khusus sejak awal. Baik yang baru pertama kali mencoba maupun yang belum pernah sebelumnya, semua tetap bisa ikut berpartisipasi. Kegiatan ini memang tidak dirancang sebagai ajang kompetisi kemampuan, melainkan sebagai ruang untuk mencoba, belajar, dan menikmati prosesnya bersama. Keduanya tidak hadir untuk menampung minat dan bakat saja, tetapi juga memberikan kesempatan bagi mahasiswa untuk berkarya, bergerak, berinteraksi, dan mengambil jeda dari kesibukan perkuliahan kemudian kembali melanjutkan perkuliahan dengan semangat yang baru.
Memulihkan energi tidak selalu berarti berhenti sepenuhnya dari aktivitas, tetapi dapat dilakukan dengan beralih sejenak pada kegiatan yang memberikan suasana berbeda. Bagi mahasiswa Pendidikan Geografi, GBS dan GBK menjadi dua ruang yang dapat mengisi jeda tersebut melalui cara yang berbeda. Seni memberikan ruang untuk berekspresi, sementara olahraga memberikan ruang untuk bergerak. Kedepannya, keberlanjutan GBS dan GBK sangat bergantung pada antusiasme dan partisipas aktif mahasiswa itu sendiri. Departemen Minat dan Bakat dapat merancang program sebaik mungkin, tetapi kegiatan ini baru benar-benar bermakna ketika mahasiswa hadir, terlibat, dan menjadikannya bagian dari keseharian mereka selama menjadi mahasiswa di Pendidikan Geografi.