Jl. Dr. Setiabudi No.276A, Kota Bandung 40143
UPI-FPIPS-Logo-blok
MENEMBUS BATAS WAKTU: SENI BERDAMAI DENGAN PROSES DAN DRAMA SKRIPSI

Penulis: Nabila Shovina Putri (SaIG, 2004591)

Penyunting: Najib Ali Parhan (2408419)

     Kata atau pertanyaan “kapan lulus ?” atau “bagaimana skripsinya sudah sampai bab berapa ?” seringkali seperti petir yang menyambar di siang bolong, menjadi kalimat yang menakutkan bagi kebanyakan manusia yang bernama “mahasiswa akhir”. Pada awal dimulainya masa perkuliahan sebagian besar mahasiswa pastinya akan membuat target perkuliahan yang sama yaitu menyelesaikan studinya dengan tepat waktu dalam kurun waktu 4 tahun juga predikat cumlaude, kemudian melanjutkannya pada dunia kerja ataupun jenjang pendidikan yang lebih tinggi lagi. Semuanya tersusun rapi lengkap dan selintas terbayangkankan seakan semuanya mudah untuk dicapai.

     Namun, terkadang realita tidak berjalan mulus sesuai rencana. Ketika di depan sana teman-teman lain sudah sibuk mengunggah foto-fotonya dengan toga di media sosial, namun sebagian dari kita justru ada yang masih harus terjebak dengan berbagai data, jurnal, revisi-revisi yang tak kunjung mendapatkan acc, menunggu di depan ruang dosen untuk bimbingan dengan ketidakpastian, sepi, dan pikiran “kapan ini akan selesai”. Lulus tidak tepat waktu atau sering orang bilang “lulus telat” bukanlah hal yang diimpikan oleh banyak orang, tentunya ada perasaan merasa tertinggal dan perasaan-perasaan lainnya yang menghampiri. Namun, dibalik kata “terlambat” itu justru menyimpan sebuah proses perjalanan, pembelajaran yang banyak yang tidak didapatkan di dalam kelas.

Dok. Penulis

      Perjalanan panjang selama menyelesaikan tugas akhir atau skripsi ini jarang yang berjalan lurus dan lancar, selalu ada saja hal-hal lain tak terduga yang menyertainya. Salah satu hal yang cukup menguras energi dan waktu adalah pada saat menentukan lokasi penelitian, berulang kali mengganti lokasi karena ternyata data yang dibutuhkan sulit didapatkan dan cukup memakan waktu kalau diteruskan, hingga akhirnya lokasi ketiga lah yang dipakai, yaitu sebuah sub DAS di Kabupaten Bandung. Rintangan tak selesai disana, setelah masalah lokasi selesai, tantangan selanjutnya yaitu proses revisi skripsi yang seolah tanpa akhir. Draft yang dibuat berhari-hari bahkan begadang sekalipun tetap mendapatkan revisi di saat bimbingan yang hanya hitungan menit saja di meja dosen, belum lagi perbedaan pendapat antara kedua pembimbing juga kadang muncul di tengah-tengah revisi, hingga perlu waktu lagi untuk menemukan titik temu yang disepakati semua pihak dengan tanpa mengorbankan kualitas dari penelitian itu sendiri. Perjalanan revisi berulang kali dengan perjalanan menuju ke kampus yang cukup jauh juga tentunya menguras waktu dan tenaga.

      Perjuangan menyelesaikan skripsi bukan hanya menguji kemampuan akademik tapi juga pertarungan mental yang cukup intens, apalagi ketika masa akhir perkuliahan tidak sesuai dengan batas waktu rencana yang diharapkan. Melihat teman-teman yang sudah jauh melangkah, pikiran-pikiran lain bermunculan, pertanyaan “kenapa orang lain bisa lebih mudah menyelesaikannya kenapa aku tidak ?”, mulai meragukan kemampuan diri sendiri terus berulang di kepala. Di tengah-tengah perjalanan skripsi, ada saat-saat dimana sekedar membuka laptop untuk melihat skripsi saja rasanya sangat berat apalagi untuk pergi kampus untuk bimbingan dan menyelesaikan revisi skripsi, rasa ingin menyerah dan cemas seringkali menghantui.

Dok. Penulis

       Meskipun perjalanan dalam menyelesaikan skripsi ini tidak mudah, penuh dengan keringat, air mata, dan rintangan, namun justru dari proses itulah akhirnya penulis mendapatkan pelajaran hidup yang berharga yang belum tentu didapatkan oleh orang lain. Berulang kali berganti lokasi penelitian, revisi yang tiada akhir, dan kritikan tajam saat bimbingan, ketersediaan data yang tidak sesuai ekspektasi hingga harus terus berganti instansi untuk mendapatkan data yang sesuai harapan, dan rintangan lainnya membuat ketahanan mental, dan kemampuan bertahan di tengah-tengah ketidakpastian penulis teruji disana. Selain itu kemampuan menurunkan ego, menerima saran dan masukan dari orang lain, manajemen waktu, berpikir kritis, dan beradaptasi dengan cepat terhadap segala hal yang tidak terduga selama prosesnya juga terasah saat itu. Setiap revisi-revisi yang ada dari mulai pembuatan proposal skripsi, skripsi, hingga akhirnya mendapatkan acc, dan revisi pasca sidang skripsi bukanlah bentuk penolakan, tapi agar penulis dapat terus mengasah dirinya untuk menghasilkan karya yang baik yang dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah.

     Alhamdulillah, setelah melalui proses yang sangat panjang dan melelahkan, dengan dukungan dan do’a dari keluarga, dan orang-orang terdekat, juga arahan dan motivasi dari Bapak Dr. Lili Somantri, S.Pd., M.Si. selaku ketua Program Studi Sains Informasi Geografi, arahan dari kedua Dosen Pembimbing Skripsi yaitu Bapak Prof. Dr. Ir. Dede Rohmat., M.T. selaku Dosen Pembimbing I dan Bapak Hendro Murtianto, S.Pd., M.Sc. selaku Dosen Pembimbing II dan Dosen Pembimbing Akademik, dan segenap dosen yang senantiasa membimbing penulis dan Mahasiswa-Mahasiswa SaIG lainnya sejak awal perkuliahan hingga kini, terima kasih atas segala ilmu, motivasi, inspirasi, kritik dan saran, dorongan, juga wejangannya kepada penulis, sehingga penulis pada akhirnya bisa menyelesaikan skripsi dan studinya di tahun 2026 ini dan menyandang gelar Sarjana Geografi (S.Geo).

Dok. Penulis

Pada akhirnya, hidup bukanlah arena perlombaan siapa yang paling cepat. Setiap orang punya lintasan, arena, garis edar, dan waktunya masing-masing, tidak perlu merasa tertinggal dari siapapun. Lulus ‘terlambat’ tidak serta merta menjadikan seseorang itu gagal atau kalah. Sesuatu yang terlihat terlambat oleh orang lain hanya menandakan proses pembelajaran diri yang harus lebih panjang dan dalam, ada hikmah dan pembelajaran tersendiri di dalamnya. Ijazah dan toga pada akhirnya menjadi bukti sebuah perjuangan yang terbayar tuntas dengan do’a dan kerja keras di dalamnya. Skripsi yang baik adalah skripsi yang selesai. Lulus tepat waktu dengan jalan yang mulus memang membahagiakan tapi lulus di waktu yang tepat dengan berhasil melewati berbagai rintangan dan keraguan diri tanpa berhenti dan menyerah adalah sebuah kemenangan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *