Penulis : Amara Indriani Tambunan (2310328), Aviliany Danuri (2307526), dan Siti Rahma Septiyani (2305349)
Penyunting: Felicia Syifa’ Hermanu Putri (SaIG, 2504208)
Sejak awal September 2026, kami menjalani magang di Balai Hidrologi dan Lingkungan Keairan melalui Program Penguatan Pengalaman Profesional Non Kependidikan (P3NK). Kegiatan yang kami ikuti yakni Pengelolaan Data Bidang Hidrologi dan Lingkungan Keairan. Kelompok magang kami mengerjakan pemetaan risiko banjir di sepanjang Sungai Batang Toru sampai ke muara, dan tiap orang memegang bagian yang berbeda.

Dok: Penulis
Sejak minggu pertama, kami ditugaskan untuk mendukung kajian pemetaan risiko banjir di DAS Batang Toru, sebuah kawasan yang sempat dilanda banjir bandang besar pada akhir November 2025. Tugas ini terbagi menjadi beberapa bagian yang saling terhubung, ada yang mengerjakan analisis tata guna lahan sebagai salah satu data dasar, kemudian ada yang mengerjakan analisis GFI sebagai indeks bahaya, dan terakhir mengenai analisis risiko banjir itu sendiri dengan menggabungkan kerentanan dan kapasitas untuk membuat peta risiko banjir di DAS Batang Toru.
Minggu-minggu awal ini terasa cukup menantang sekaligus menyenangkan, karena kami harus banyak belajar hal baru dalam waktu singkat, mulai dari mendalami Google Earth Engine untuk mengolah citra satelit, mencari referensi metode yang sesuai, hingga berdiskusi intensif dengan pembimbing dan rekan tim untuk memastikan hasil kerja benar-benar bisa dipakai di tahap selanjutnya. Proses analisis tata guna lahan ini dimulai dengan pengolahan citra Sentinel-2 melalui Google Earth Engine, menggunakan data latih Dynamic World dan algoritma klasifikasi Random Forest, untuk tiga titik waktu yaitu tahun 2020, 2023, dan 2026. Pemilihan rentang waktu ini disengaja agar dapat menangkap kondisi tutupan lahan sebelum dan sesudah kejadian bencana. Tidak jarang kami harus mengulang proses dari awal ketika menemukan hasil yang kurang sesuai, namun proses coba dan perbaiki inilah yang justru membuat kami semakin memahami bagaimana data spasial yang baik itu dibangun, bukan sekadar dihasilkan dalam sekali proses.
Di sela kesibukan tersebut, kami juga sempat menyusun laporan singkat mengenai progress yang telah dicapai untuk dilaporkan kepada pembimbing. Pengalaman ini mengajarkan saya pentingnya komunikasi yang ringkas namun tetap informatif dalam dunia kerja. Pada akhirnya, peta tata guna lahan yang dihasilkan diserahkan kepada rekan satu tim untuk menjadi salah satu input utama dalam perhitungan Curve Number, sebuah momen yang cukup membanggakan karena menandai bahwa pekerjaan ini benar-benar menjadi bagian dari rangkaian kajian yang lebih besar.

Dok: Penulis
Sementara itu pada bagian analisis menggunakan metode Geomorphic Flood Index (GFI), prosesnya tidak selalu mulus, kami sempat berkali-kali bolak-balik antara dua software berbeda karena tools/plugin yang awalnya ingin dipakai ternyata sudah tidak didukung lagi, dan harus belajar dari nol memahami logika di balik rumus-rumus hidrologi yang sebelumnya cuma kami kenal di teori perkuliahan.
Momen paling berkesan adalah ketika akhirnya berhasil menghasilkan peta pertama yang polanya benar-benar mengikuti jaringan sungai asli DAS Batang Toru, rasanya seperti kerja keras berhari-hari akhirnya terbayar. Di sisi lain, kami juga belajar bahwa dunia kerja penuh dengan keterbatasan yang tidak diajarkan di kelas, seperti data yang tidak selalu tersedia atau bahkan bersifat privat, sehingga kami harus terbiasa mencari jalan keluar sendiri, termasuk memanfaatkan berita di media sebagai sumber data alternatif untuk validasi.

Dok: Penulis
Pembimbing magang dari instansi, Bu Rosidatu, Bu Dian, dan Pak Asep, cukup fleksibel dalam membimbing dan turut membantu terkait ketersediaan data, meski jadwal konsultasi tatap muka tidak selalu mudah ditemukan sehingga progres pekerjaan lebih sering dilaporkan lewat laporan tertulis singkat. Pengalaman ini mengajarkan kami pentingnya inisiatif dan kemampuan menyampaikan hasil kerja secara mandiri, dua hal yang menurut kami jadi bekal berharga sebelum benar-benar terjun ke dunia kerja.

Dok: Penulis
Selain mengerjakan kajian teknis, kami juga berkesempatan melakukan wawancara dengan salah satu narasumber di BHLK, yaitu Bapak Riksa Nugraha Utama, S.P., M.T., yang menjabat sebagai Pengelola Sumber Daya Air Ahli Pertama di Unit Hidrologi. Wawancara ini dilakukan untuk melengkapi instrumen Tata Kelola Informasi Geospasial, sekaligus menjadi kesempatan bagi kami untuk memahami lebih dalam bagaimana instansi pemerintah mengelola data geospasial dalam mendukung tugas dan fungsinya.
Dari wawancara tersebut, kami mendapatkan banyak wawasan baru, mulai dari struktur organisasi BHLK sebagai balai teknis yang melayani seluruh Indonesia, penggunaan teknologi seperti ArcGIS, QGIS, Google Earth Engine, hingga drone untuk mendukung analisis hidrologi, sampai bagaimana implementasi Kebijakan Satu Peta dikoordinasikan melalui Pusat Data dan Informasi Kementerian PU. Kami juga belajar bahwa BHLK aktif berkolaborasi dengan berbagai pihak, mulai dari BRIN hingga sejumlah perguruan tinggi, dalam merumuskan standar teknis seperti SNI terkait hidrologi.

Dok: Penulis
Salah satu bagian paling berkesan dari wawancara ini adalah ketika narasumber berbagi tantangan yang masih dihadapi dalam pengelolaan informasi geospasial, seperti ketidaksesuaian data dasar dengan kondisi lapangan dan keterbatasan sumber daya manusia yang berkompeten khusus di bidang ini. Beliau juga berpesan bahwa lulusan Sains Informasi Geografi memiliki peluang luas di berbagai sektor, tidak terbatas pada bidang geodesi semata, selama memiliki keahlian kuat dalam pengolahan data spasial. Pesan ini menjadi pengingat berharga bagi kami untuk terus mengasah kemampuan, sekaligus menutup rangkaian kegiatan awal magang yang penuh pembelajaran ini.