
PADANG – Akademisi Universitas Pendidikan Indonesia (UPI), Muhammad Retsa Rizaldi Mujayapura, M.Pd., beserta tim mendiseminasikan temuan riset terbaru mereka pada The 2nd International Conference on Education, Sociology, Anthropology, and Communication (ICESAC) 2026 yang diselenggarakan di Universitas Negeri Padang (UNP). Membawakan makalah bertajuk "The Relationship between Contextualized Teaching and Pedagogical Practices among Sociology Teachers in Bandung", penelitian ini menelaah apakah pengajaran kontekstual berbanding lurus dengan praktik pedagogis sosioformatif.
Di ruang kelas sosiologi di Bandung, pemandangan seorang guru yang menjelaskan konsep sosial melalui contoh kemacetan lalu lintas, gaya hidup remaja perkotaan, atau tradisi lokal sudah menjadi hal yang umum. Guru berupaya mengaitkan konten dengan pengalaman siswa (berada pada level taksonomi II-III). Namun, sosiologi masa kini menuntut praktik sosioformatif (level IV) yang membutuhkan kolaborasi, pemecahan masalah nyata, dan penciptaan produk yang dapat dirasakan oleh masyarakat.
Riset ini melibatkan 58 guru sosiologi yang dipilih secara acak dari wilayah Kota Bandung, Kabupaten Bandung, Kabupaten Bandung Barat, dan Kota Cimahi. Hasil analisis korelasi Spearman memunculkan fakta yang mengejutkan: ternyata tidak ada hubungan yang signifikan (p = .508) antara pengajaran yang dikontekstualisasikan dengan praktik pengajaran sosioformatif. Dengan kata lain, sekadar memperbarui konten dengan contoh kasus lokal tidak secara otomatis membuat guru mampu menerapkan praktik pengajaran sosioformatif secara strategis.

Dalam paparannya, Muhammad Retsa menjelaskan beberapa alasan mengapa niat baik guru jarang terealisasi secara maksimal di kelas. Salah satunya adalah kendala praktis di lapangan seperti kurangnya modul kontekstual, terbatasnya pelatihan, hingga kurikulum yang masih berpusat pada pandangan Eurocentric. Selain itu, ketatnya waktu dan sistem penilaian yang masih berorientasi pada ujian menarik guru kembali ke metode pengajaran yang konvensional. Otonomi yang diberikan kepada guru tanpa adanya panduan praktis justru menambah beban tekanan, sehingga menciptakan kesenjangan antara apa yang diketahui (kognisi) dan apa yang dilakukan (perilaku).
Sebagai simpulan, tim peneliti yang berkolaborasi dengan Academia Sinica Taiwan ini menegaskan bahwa penggunaan konteks lokal memang diperlukan, namun belum cukup. Untuk mengatasi persoalan ini, penelitian tersebut merekomendasikan perlunya pembinaan instruksional yang sistematis (instructional coaching) guna mendampingi guru dalam merancang kelas. Selain itu, kerangka penilaian juga harus diubah menjadi penilaian otentik berbasis produk, serta dibutuhkannya ekosistem sekolah yang adaptif sehingga otonomi guru dapat menjadi kapasitas yang nyata, bukan sekadar tekanan.
