Jl. Dr. Setiabudi No.276A, Kota Bandung 40143
UPI-FPIPS-Logo-blok
Tidak Sempurna, Tapi Selesai  

Catatan Perjalanan Skripsi

Penulis:  Muhammad Taufikurohman (SaIG, 2205670)

Penyunting: Felicia Syifa' Hermanu Putri (SaIG, 2504208)

Dok. Penulis

Menyelesaikan skripsi menjadi salah satu perjalanan yang cukup panjang selama masa kuliah saya. Awalnya saya mengira skripsi hanya tentang mencari topik, melakukan penelitian, lalu menuliskan hasilnya. Ternyata prosesnya tidak sesederhana itu. Ada banyak hal yang harus dilewati, mulai dari kebingungan menentukan topik, menyusun proposal, mencoba dan mengulang pengolahan, menghadapi hasil yang tidak sesuai harapan, sidang, sampai revisi yang datang berkali-kali.

Kalau melihat ke belakang, perjalanan ini ternyata bukan hanya tentang menyelesaikan sebuah penelitian. Ada banyak hal yang justru saya pelajari dari proses tersebut, baik tentang pola berpikir, menghadapi masalah, menerima kritik, maupun tentang bagaimana tetap berjalan ketika keadaan tidak selalu sesuai dengan yang kita inginkan.

Salah satu hal yang cukup membingungkan di awal adalah menentukan topik. Ada banyak hal yang bisa diteliti, tetapi justru karena terlalu banyak pilihan, saya sempat bingung harus mulai dari mana. Saya beberapa kali mempertimbangkan topik yang berbeda sebelum akhirnya menemukan topik yang menurut saya cukup menarik untuk dikerjakan.

Pada akhirnya saya memilih topik tentang ekstraksi bangunan karena tertarik dengan perkembangan teknologi di bidang geospasial, terutama penggunaan AI dalam membantu pekerjaan pemetaan. Saya melihat topik tersebut cukup menarik untuk dipelajari karena mempertemukan hal yang selama ini saya pelajari di perkuliahan dengan perkembangan teknologi yang sedang berlangsung.

Setelah berdiskusi dengan dosen pembimbing dan mencari beberapa referensi, perlahan arah penelitian mulai terbentuk. Dari situ saya mulai menyusun proposal, memahami metode yang akan digunakan, dan mencoba memikirkan bagaimana penelitian tersebut dapat dilakukan dengan data yang tersedia.

Dok. Penulis

Pada tahap ini saya mulai sadar bahwa memiliki ide penelitian saja belum cukup. Kita juga harus bisa menjelaskan kenapa penelitian tersebut perlu dilakukan, apa yang sebenarnya ingin diketahui, bagaimana cara mengujinya, dan apakah data yang kita punya benar-benar bisa digunakan.

Beberapa kali saya harus memperbaiki proposal karena masih ada bagian yang belum jelas. Ada hal yang menurut saya sudah cukup, tetapi setelah dikoreksi ternyata masih perlu dipikirkan lagi. Waktu itu memang cukup melelahkan, tetapi justru dari proses tersebut saya mulai lebih memahami penelitian saya sendiri. Walaupun ketika masa penyusunan proposal masih belum sepenuhnya paham terkait penelitian yang akan dilakukan, namun saya tetap terus melangkah.

Perjalanan kuliah saya juga tidak selalu berjalan dalam keadaan yang mudah. Ketika saya berada di semester 5, saya harus kehilangan ayah. Peristiwa tersebut sangat menghancurkan mental saya dan cukup mengubah banyak hal dalam kehidupan saya. Ada masa ketika saya merasa sulit untuk fokus menjalani perkuliahan seperti sebelumnya. Kehilangan orang tua tentu bukan sesuatu yang mudah, apalagi ketika di waktu yang sama saya masih harus menyelesaikan pendidikan ini dengan menyelesaikan skripsi.

Namun, pada akhirnya saya mencoba untuk tetap melanjutkan kuliah. Saya sadar bahwa apa yang sudah saya mulai harus tetap saya jalani. Tidak selalu mudah, dan ada masa ketika semangat naik turun, tetapi saya berusaha untuk tetap berjalan sedikit demi sedikit.

Memasuki masa akhir kuliah, dorongan dari orang-orang di sekitar menjadi hal yang sangat berarti. Terutma datang dari Bapak Dr. Lili Somantri, S.Pd., M.Si. sebagai Ketua Program Studi Sains Informasi Geografi. Beberapa kali beliau memberikan motivasi dan dorongan kepada saya dan teman-teman Angkatan 22 untuk menyelesaikan kuliah dan berusaha lulus tepat waktu.

Dok. Penulis

Bagi saya, dorongan tersebut sangat berarti. Mungkin bagi orang lain kalimat motivasi seperti itu terlihat sederhana, tetapi pada saat sedang berada di masa yang cukup berat, dorongan tersebut bisa menjadi pengingat untuk kembali fokus dan melanjutkan apa yang sudah dimulai.

Salah satu hal yang terus saya pegang adalah bahwa saya harus tetap menyelesaikan pendidikan ini. Pelan-pelan, satu per satu, akhirnya saya bisa sampai pada tahap penyusunan skripsi.

Setelah proposal selesai, saya mulai masuk ke tahap penelitian. Di sinilah saya mulai merasakan bahwa penelitian di atas kertas dan penelitian ketika benar-benar dikerjakan ternyata cukup berbeda.

Ada hal-hal yang berjalan sesuai rencana, tetapi banyak juga yang tidak. Ada hasil yang harus diperiksa kembali, ada bagian yang harus diulang, dan ada percobaan yang akhirnya tidak digunakan karena hasilnya kurang sesuai.

Beberapa proses membutuhkan waktu yang cukup lama. Kadang setelah menunggu hasil pengolahan, hasil yang keluar justru belum seperti yang diharapkan. Akhirnya harus diperbaiki dan dicoba lagi. Proses seperti ini terjadi beberapa kali.

Lama-kelamaan saya mulai terbiasa dengan pola mencoba, mengecek, memperbaiki, kemudian mencoba lagi. Tidak semua percobaan berhasil, tetapi setiap percobaan setidaknya memberi informasi untuk menentukan langkah berikutnya.

Dari sini saya belajar bahwa penelitian tidak selalu harus berjalan mulus. Ada kalanya kita memang harus menerima bahwa percobaan yang sudah dilakukan ternyata belum berhasil. Yang penting bukan menghindari kegagalan, tetapi tahu apa yang harus dilakukan setelahnya.

Saya juga belajar untuk mencatat proses penelitian dengan lebih baik. Hal-hal seperti perubahan yang dilakukan, hasil percobaan, waktu pengerjaan, dan berbagai catatan kecil ternyata sangat membantu ketika harus mengingat kembali apa yang sudah dikerjakan.

Salah satu hal yang cukup saya rasakan selama skripsi adalah perasaan bahwa setiap kali menyelesaikan satu tahap, ternyata selalu ada tahap berikutnya.

Setelah penelitian selesai dan skripsi mulai dirapikan, saya harus menghadapi sidang. Di titik itu saya merasa sudah cukup memahami apa yang saya kerjakan. Namun ketika duduk di depan dosen penguji, muncul pertanyaan-pertanyaan yang membuat saya melihat penelitian tersebut dari sudut pandang yang berbeda.

Ada pertanyaan yang bisa langsung saya jawab, tetapi ada juga yang membuat saya harus berpikir cukup lama. Dari situ saya sadar bahwa memahami skripsi bukan hanya berarti hafal apa yang tertulis di dalamnya. Kita harus benar-benar memahami alasan mengapa penelitian itu dilakukan, mengapa menggunakan cara tertentu, dan apakah kesimpulan yang diambil memang sesuai dengan hasil yang diperoleh.

Setelah sidang, ternyata perjalanan belum selesai. Masih ada revisi yang harus dikerjakan. Ada bagian latar belakang yang perlu diperbaiki, rumusan masalah yang harus dipikirkan kembali, penggunaan istilah yang perlu diperjelas, sampai pembahasan hasil yang harus diperkuat.

Awalnya saya sempat merasa cukup berat. Rasanya seperti pekerjaan yang sudah hampir selesai harus dibuka dan diperiksa kembali, saya sudah seperti tidak mempunyai energi lagi untuk melakukan ini. Tetapi setelah dikerjakan satu per satu, saya justru melihat bahwa banyak masukan tersebut memang membuat penelitian menjadi lebih jelas.

Dari proses revisi itu saya belajar bahwa terkadang kita terlalu dekat dengan tulisan sendiri. Karena sudah membaca dan mengerjakannya berulang kali, kita merasa semuanya sudah jelas. Padahal bagi orang lain mungkin masih ada bagian yang membingungkan atau tambahan yang sangat bermanfaat untuk penelitian kita.

Karena itu, kritik dan masukan dari dosen ternyata sangat membantu saya melihat kekurangan yang sebelumnya tidak saya sadari.

Setelah melewati seluruh proses tersebut, ada beberapa hal yang menurut saya paling berharga.

Pertama, tidak semua yang baru pasti lebih baik. Dalam penelitian saya, saya menggunakan teknologi yang relatif baru. Awalnya ada anggapan bahwa teknologi yang lebih baru seharusnya memberikan hasil yang lebih baik. Ternyata kenyataannya tidak sesederhana itu. Setiap metode punya kelebihan dan kekurangan masing-masing. Dari situ saya belajar untuk tidak mudah menilai sesuatu hanya karena terlihat baru, canggih, atau sedang banyak digunakan. Yang lebih penting adalah melihat apakah sesuatu memang sesuai dengan kebutuhan dan kondisi yang dihadapi.

Kedua, hasil penelitian harus diterima sesuai dengan hasil yang ada.Sebagai peneliti, kita mungkin punya ekspektasi tertentu terhadap hasil penelitian. Namun ketika hasilnya berbeda, kita tidak bisa memaksakan supaya hasil tersebut sesuai dengan ekspektasi kita di awal. Saya belajar bahwa tugas kita bukan membuat hasil terlihat bagus, tetapi menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi berdasarkan data dan proses yang dilakukan.

Ketiga, mencatat proses itu penting. Selama menjalani penelitian, saya baru benar-benar merasakan manfaat dari catatan yang dibuat sejak awal. Ketika ada pertanyaan tentang suatu proses atau perubahan yang dilakukan, saya bisa kembali melihat catatan tersebut. Hal sederhana seperti ini ternyata sangat membantu, terutama ketika sudah melewati banyak tahap dan mulai lupa detail pekerjaan yang dilakukan beberapa minggu atau bulan sebelumnya.

Keempat, revisi bukan berarti penelitian kita gagal. Sebelum sidang, saya mungkin berharap bisa mendapatkan sedikit revisi. Ternyata setelah sidang masih ada cukup banyak bagian yang harus diperbaiki. Dulu saya melihat revisi sebagai sesuatu yang memperpanjang perjalanan. Sekarang saya melihatnya sedikit berbeda. Revisi justru menjadi bagian dari proses untuk membuat pekerjaan menjadi lebih baik.

Kelima, konsistensi lebih penting daripada menunggu motivasi. Tidak setiap hari kita punya semangat yang sama untuk mengerjakan skripsi. Ada hari ketika kita bisa bekerja banyak, tetapi ada juga hari ketika satu halaman saja sulit diselesaikan. Saya belajar bahwa skripsi tidak selesai karena kita selalu bersemangat. Skripsi selesai karena kita tetap mengerjakannya, bahkan ketika sedang tidak terlalu bersemangat.

Untuk teman-teman adik tingkat yang belum mulai skripsi atau yang sebentar lagi masuk ke tahap tersebut, saya ingin berbagi beberapa hal dari pengalaman saya. Jangan overthinking terkait skripsi. Memang akan ada banyak hal yang harus disiapkan, tetapi tidak semuanya harus diselesaikan sekaligus. Kalau sedang mencari topik, jangan terlalu lama menunggu sampai menemukan topik yang terasa benar-benar sempurna. Cari topik yang memang menarik dan kalian rasa mampu untuk menelitinya, kemudian rancang dan pahami data yang memungkinkan untuk digunakan, dan bisa diselesaikan.

Ketika penelitian mulai berjalan dan hasilnya tidak sesuai harapan, jangan langsung berpikir bahwa kalian salah memilih topik. Bisa jadi memang ada bagian yang perlu dicoba lagi. Hal lain yang menurut saya penting adalah jangan menunda-nunda untuk mengerjakan skripsi. Tidak harus selalu menunggu semua data selesai baru mulai mengerjakan atau menulis. Sedikit demi sedikit lebih baik daripada menumpuk semuanya di akhir.

Kemudian, jangan ragu untuk bertanya. Kepada dosen, teman, atau kakak tingkat. Kita tidak harus memahami semuanya sendiri. Kadang satu pertanyaan sederhana bisa menghemat waktu yang cukup banyak. Dan kalau mendapatkan revisi, jangan langsung merasa penelitian kalian buruk. Baca, pahami, lalu kerjakan satu per satu. Tidak semua harus selesai dalam sehari, namun efektifkan waktu.

Terakhir, jangan terlalu membandingkan perjalanan kalian dengan teman lain. Ada yang cepat selesai, ada yang membutuhkan waktu lebih lama. Itu bukan masalah. Yang penting adalah kalian tetap berjalan dan menyelesaikan tanggung jawab kalian sendiri. Semua orang punya timeline nya masing-masing.

Dan terima kasih, perjalanan ini tentu tidak saya lalui sendiri.

Saya ingin mengucapkan terima kasih kepada Bapak Dr. Lili Somantri, S.Pd., M.Si. selaku Ketua sekaligus Pendiri Program Studi Sains Informasi Geografi Universitas Pendidikan Indonesia yang telah menjadi bagian penting dalam perjalanan saya selama masa perkuliahan. Terima kasih, Pa Lili, atas ilmu, pengalaman, arahan, dan berbagai pelajaran yang telah diberikan, baik melalui kegiatan perkuliahan maupun berbagai kegiatan di luar perkuliahan.

Lebih dari sekadar menjadi Ketua Program Studi, Pa Lili juga menjadi sosok yang banyak memberikan motivasi dan dorongan kepada saya dan mahasiswa SaIG untuk terus berkembang dan menyelesaikan apa yang telah dimulai. Saya sangat mengingat bagaimana Pa Lili selalu mendorong kami untuk terus berlari, sebagaimana jargon SaIG, “SaIG Berlari.” Bukan hanya sekadar jargon, tetapi menjadi semangat untuk terus bergerak, berproses, dan tidak berhenti di tengah perjalanan.

Terima kasih, Pa Lili, karena selalu membersamai dan memotivasi kami untuk terus maju, terutama dalam menyelesaikan perkuliahan dan skripsi. Dorongan untuk dapat lulus tepat waktu menjadi salah satu hal yang sangat saya rasakan selama menjadi mahasiswa SaIG. Pa Lili selalu memastikan dan mengingatkan bahwa setiap mahasiswa memiliki tanggung jawab untuk menyelesaikan pendidikannya dengan sebaik-baiknya dan tidak menunda apa yang seharusnya dapat diselesaikan.

Bagi saya, dorongan tersebut bukan sekadar tuntutan untuk segera lulus, tetapi menjadi bentuk kepedulian agar kami tidak kehilangan arah dalam perjalanan sebagai mahasiswa. Terima kasih telah mengajarkan bahwa berlari bukan berarti harus selalu menjadi yang tercepat, tetapi tentang terus bergerak dan tidak berhenti. SaIG Berlari akhirnya bukan hanya menjadi sebuah jargon, tetapi menjadi salah satu semangat yang saya bawa hingga akhirnya dapat menyelesaikan perjalanan ini.

Terima kasih yang sebesar-besarnya saya sampaikan kepada Bapak Dr. Ir. Muhammad Ihsan, S.T., M.T., selaku Dosen Pembimbing I, yang telah meluangkan waktu untuk membimbing, mengarahkan, dan memberikan banyak masukan selama proses penyusunan skripsi. Terima kasih atas kesabaran dan waktunya dalam mendampingi saya sampai penelitian ini selesai.

Terima kasih juga kepada Ibu Anisa Nabila Rizki Ramadhani, S.T., M.T., selaku Dosen Pembimbing II, atas bimbingan, koreksi, dan saran yang sangat membantu selama proses penyusunan skripsi.

Terima kasih kepada Ibu Prof. Dr. Enok Maryani, M.S., Bapak Dr. Andika Permadi Putra, S.T., M.T., dan Bapak Achmad Fadillah, S.Pd., M.Sc., selaku dosen penguji, yang telah memberikan pertanyaan, kritik, dan masukan selama sidang. Banyak hal yang saya pahami lebih baik setelah melihat penelitian ini dari sudut pandang yang berbeda melalui masukan dari para penguji.

Terima kasih kepada seluruh dosen dan tenaga kependidikan Program Studi Sains Informasi Geografi yang telah memberikan ilmu, membantu selama proses perkuliahan, dan menjadi bagian dari perjalanan saya selama menjadi mahasiswa.

Terima kasih juga kepada teman-teman Amertaraga 22 yang selama ini sudah menjadi keluarga yang sangat berharga bagi saya. Terima kasih untuk kebersamaan, kekompakan, saling membantu, saling merangkul, dan semua cerita yang sudah dilewati bersama. Susah maupun senang, serius maupun bercanda, semuanya menjadi bagian dari kenangan yang akan saya kenang selamanya.

Dok. Penulis

Saya juga berterima kasih kepada semua orang yang selama ini hadir dan memberikan dukungan, baik secara langsung maupun tidak langsung. Mungkin tidak semuanya bisa saya sebutkan satu per satu, tetapi saya sangat menghargai setiap bantuan dan kebaikan yang diberikan selama perjalanan ini.

Kalau melihat kembali perjalanan dari awal sampai akhir, saya sadar bahwa skripsi ini bukan hanya tentang hasil penelitian. Di baliknya ada kebingungan mencari topik, proses yang harus diulang, rasa lelah, sidang yang menegangkan, revisi yang tidak ada habisnya, dan banyak orang yang membantu saya melewati semuanya.

Saya belajar bahwa kita tidak harus selalu tahu bagaimana semuanya akan selesai. Kadang, kita hanya perlu menyelesaikan apa yang ada di depan mata. Satu halaman, satu revisi, satu masalah, lalu lanjut ke berikutnya. Begitu terus sampai akhirnya sampai di garis akhir.

Perjalanan ini mungkin tidak mudah, tetapi saya bersyukur bisa melewatinya. Skripsi ini mungkin tidak sempurna, masih memiliki kekurangan dan hal yang bisa diperbaiki. Namun, skripsi ini selesai, dan dari prosesnya saya belajar banyak hal.

Untuk teman-teman yang masih berada di perjalanan yang sama, tidak apa-apa jika prosesnya tidak sempurna. Yang penting, jangan berhenti. Karena terkadang yang kita butuhkan bukan jalan yang mudah, melainkan kemauan untuk terus berjalan sampai akhirnya selesai.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *