Bandung, 16 September 2026 - Departemen Sosial Politik Himpunan Mahasiswa Pendidikan Sosiologi (HMPS) menyelenggarakan Diskursus 2 sebagai bagian dari program kerja yang dilaksanakan secara rutin. Kegiatan yang berlangsung pada Rabu, 16 September 2026, tersebut mengangkat tema mengenai Uang Kuliah Tunggal (UKT) dan advokasi mahasiswa, dengan lokasi pelaksanaan di belakang Gedung D-STI.
Diskursus 2 diselenggarakan sebagai ruang edukasi dan diskusi bagi mahasiswa dalam memahami berbagai persoalan yang berkaitan dengan kehidupan kampus, khususnya permasalahan UKT yang dinilai masih menjadi persoalan yang terus muncul pada setiap pergantian semester. Kegiatan ini juga menjadi salah satu upaya untuk meningkatkan kesadaran mahasiswa terhadap isu-isu yang berkaitan dengan hak dan kondisi mahasiswa di lingkungan kampus.
Ketua Pelaksana Diskursus 2, Ailla Luthfiana Bahtiar, menjelaskan bahwa mahasiswa baru menjadi salah satu sasaran utama kegiatan karena dianggap perlu memperoleh pemahaman mengenai berbagai realitas dan permasalahan yang dapat dihadapi selama menjalani kehidupan perkuliahan. Meskipun demikian, kegiatan ini tidak hanya ditujukan kepada mahasiswa baru, tetapi juga terbuka bagi mahasiswa aktif secara umum.

Menurut Ailla, persoalan UKT merupakan isu yang relevan bagi mahasiswa karena kerap menjadi permasalahan yang muncul dari waktu ke waktu. Oleh karena itu, Diskursus 2 diharapkan dapat menjadi ruang bagi mahasiswa untuk memperoleh informasi sekaligus membangun kepedulian terhadap persoalan tersebut.
Dalam pelaksanaannya, Diskursus 2 tidak hanya berlangsung dalam bentuk penyampaian materi, tetapi juga mendorong keterlibatan aktif audiens. Ibnu Haqqi E, mahasiswa aktif Pendidikan Sosiologi angkatan 2022, berperan sebagai pemantik, sementara Naila Azahra mahasiswa Pendidikan Sosiologi angkatan 2025 sekaligus anggota Kajian (Himpunan Mahasiswa Pendidikan Sosiologi) HMPS, bertugas sebagai moderator.
Moderator dan pemantik secara aktif mengarahkan jalannya diskusi dengan memberikan pertanyaan serta pemantik pembahasan kepada audiens. Hal tersebut mendorong peserta untuk turut menyampaikan pengalaman pribadi maupun pendapat mereka mengenai persoalan yang dibahas. Dengan demikian, diskusi tidak hanya berpusat pada percakapan antara moderator dan pemantik, tetapi berkembang melalui partisipasi langsung dari audiens.
Keaktifan peserta tersebut menjadi salah satu hal yang mendukung tercapainya tujuan Diskursus 2. Audiens tidak hanya berperan sebagai penerima informasi, tetapi juga memiliki ruang untuk menyampaikan pandangan dan pengalaman yang berkaitan dengan UKT dan kondisi mahasiswa di lingkungan kampus.
Pembahasan mengenai UKT dalam Diskursus 2 juga menjadi relevan karena persoalan biaya pendidikan merupakan bagian dari realitas yang dihadapi mahasiswa selama menjalani perkuliahan. Pergantian semester kerap diikuti dengan kembali munculnya pembahasan mengenai UKT, sehingga mahasiswa perlu memiliki ruang untuk memperoleh informasi dan memahami persoalan tersebut secara lebih kritis.
Tidak hanya membahas persoalan secara umum, forum ini juga memberikan kesempatan kepada mahasiswa untuk menghubungkan topik diskusi dengan pengalaman yang mereka alami. Berbagai tanggapan yang disampaikan audiens menunjukkan bahwa isu UKT memiliki keterkaitan langsung dengan kehidupan mahasiswa dan dapat dipandang dari beragam pengalaman serta sudut pandang.
Kondisi tersebut membuat Diskursus 2 berlangsung secara dua arah. Interaksi antara pemantik, moderator, dan audiens menciptakan ruang yang memungkinkan pembahasan berkembang sesuai dengan respons serta pengalaman peserta. Hal ini sekaligus memperlihatkan bahwa diskursus tidak hanya menjadi tempat penyampaian informasi, tetapi juga ruang bagi mahasiswa untuk menyuarakan pandangan terhadap persoalan yang dekat dengan kehidupan mereka.
Sebagai ketua pelaksana, Ailla menyampaikan bahwa mahasiswa yang mengikuti Diskursus 2 diharapkan dapat membawa informasi yang diperoleh untuk meningkatkan kepedulian terhadap berbagai persoalan yang terjadi di lingkungan kampus. Ia juga menekankan pentingnya kesadaran mahasiswa, baik mahasiswa baru maupun mahasiswa aktif, untuk lebih memperhatikan persoalan yang berkaitan dengan kehidupan dan kepentingan mahasiswa.
Bagi Ailla, Diskursus 2 kali ini memberikan kesan yang menyenangkan. Keaktifan audiens dalam menyampaikan pendapat serta kondisi diskusi yang tetap kondusif menjadi hal yang berkesan selama kegiatan berlangsung. Ke depannya, ia berharap jumlah audiens yang hadir dapat semakin banyak, dengan suasana diskusi yang tetap kondusif dan partisipasi yang aktif. Selain itu, ia berharap isu-isu yang diangkat dalam diskursus berikutnya semakin beragam dan menarik, sehingga dapat menjangkau serta melibatkan lebih banyak kalangan mahasiswa.
Melalui pelaksanaan Diskursus 2, (Himpunan Mahasiswa Pendidikan Sosiologi) HMPS berupaya menghadirkan ruang diskusi yang memungkinkan mahasiswa untuk saling bertukar informasi, pengalaman, dan pandangan mengenai persoalan yang mereka hadapi. Dengan adanya forum semacam ini, mahasiswa diharapkan tidak hanya mengetahui permasalahan yang ada, tetapi juga memiliki kesadaran untuk lebih peka terhadap berbagai isu di lingkungan kampus.
