Jl. Dr. Setiabudi No.276A, Kota Bandung 40143
UPI-FPIPS-Logo-blok
Mahasiswa Indonesia Jalani Pengalaman Akademik di Universiti Kebangsaan Malaysia

BANGI, SELANGOR, MALAYSIA – Sejak 6 November 2024 hingga 26 Februari 2025, program Student Mobility antara Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) dan Universiti Kebangsaan Malaysia (UKM) telah memberi kesempatan berharga bagi mahasiswa Indonesia untuk menimba ilmu lintas negara. Selama hampir empat bulan, seorang mahasiswa asal Indonesia berkesempatan mengikuti perkuliahan, penelitian lapangan, serta beradaptasi dengan sistem pendidikan dan dinamika kampus UKM. Pengalaman ini tidak hanya membuka ruang pertukaran budaya, tetapi juga memberi pemahaman mendalam mengenai perbedaan dan persamaan dalam dunia akademik kedua negara.

Sistem Pendidikan: Identitas dan Kebangsaan

Sistem pendidikan Malaysia memiliki struktur berbeda dibanding Indonesia. Mahasiswa wajib melalui jenjang pra-universitas sebelum masuk perguruan tinggi. Tahapan ini dianggap penting untuk memastikan kesiapan akademik.

Di UKM, Bahasa Melayu tetap digunakan sebagai bahasa pengantar utama, meskipun banyak universitas lain beralih ke Bahasa Inggris untuk menyesuaikan tuntutan global. Kebijakan UKM ini mencerminkan upaya menjaga identitas budaya sekaligus menanamkan rasa kebangsaan kepada generasi muda. “Bahasa menjadi pondasi nasionalisme. Kami ingin mahasiswa tidak hanya cerdas, tetapi juga bangga dengan akar budaya sendiri,” ungkap salah satu dosen UKM dalam diskusi kelas.

Fasilitas Penunjang Mahasiswa

Fasilitas kampus UKM terbilang lengkap dan modern. Kolej kediaman menyediakan akomodasi bagi mahasiswa, sementara transportasi bus internal memudahkan mobilitas antar-fakultas. Selain itu, tersedia pusat kesehatan, sarana olahraga, laboratorium, hingga ruang belajar yang menunjang aktivitas akademik maupun non-akademik.

Meski demikian, ada catatan perbaikan, seperti kondisi asrama yang memerlukan renovasi dan jaringan internet yang kadang tidak stabil. Kendati begitu, fasilitas yang ada dinilai sudah cukup untuk mendukung mahasiswa lokal maupun internasional beradaptasi dengan kehidupan kampus.

Dinamika Organisasi Mahasiswa

Kehidupan kampus di UKM juga diperkaya dengan aktivitas organisasi mahasiswa. Dari kelab hobi, organisasi sosial, hingga partai mahasiswa, semuanya mendapat dukungan penuh dari pihak universitas. Mahasiswa dapat mengembangkan bakat, menyalurkan aspirasi, sekaligus berlatih kepemimpinan.

Menurut pengamatan mahasiswa Indonesia tersebut, peran organisasi mahasiswa di UKM cukup aktif, meskipun skala kegiatannya berbeda dengan di Indonesia. Diskusi publik, kegiatan bakti sosial, hingga acara seni kerap digelar dengan dukungan dana universitas. Hal ini memperlihatkan bagaimana UKM membangun ekosistem pendidikan yang partisipatif dan seimbang antara akademik dan non-akademik.

Keilmuan Geografi: Dua Perspektif Berbeda

Dalam bidang akademik, mahasiswa ini menemukan perbedaan fokus antara UPI dan UKM. UPI menitikberatkan pada Pendidikan Geografi, sementara UKM lebih menekankan pada Geografi Sosial dan Fizikal. Perbedaan ini memperluas cakrawala keilmuan sekaligus memberi kesempatan untuk mempelajari disiplin yang belum banyak digali di kampus asalnya.

Selama di UKM, ia mengambil lima mata kuliah: Ekosistem Bandar, Hidrologi Lembangan, Pembangunan dan Pengurusan Alam Sekitar, Geografi Ekonomi dan Dasar Awam, serta Penilaian Risiko dan Kepengurusan Bencana. Di samping itu, ia turut mengikuti peringatan GIS Day dengan kegiatan pemodelan data spasial, seminar ilmiah, serta presentasi poster yang melatih kemampuan akademik sekaligus komunikasi publik.

Perbedaan gaya pembelajaran juga terasa. UKM lebih menekankan ketelitian dan kedalaman materi, sementara UPI cenderung menekankan aspek interaktif dan penyampaian yang menarik. Kedua pendekatan ini, menurutnya, sama-sama penting untuk membentuk pemahaman menyeluruh.

Riset Lapangan dan Penggunaan Teknologi

Salah satu pengalaman paling berkesan adalah riset lapangan. Mahasiswa ini mengikuti penelitian di Sungai Hulu Langat untuk mata kuliah Hidrologi Lembangan, serta di Melaka untuk Pembangunan dan Pengurusan Alam Sekitar. Penelitian ini didukung penuh oleh universitas dengan penyediaan transportasi, laboratorium, dan instrumen ilmiah.

Berbagai alat ilmiah digunakan, mulai dari Air Particle Meter, Water Quality Meter, hingga Spectrophotometer. Pengalaman tersebut memberinya keterampilan baru yang belum pernah didapat di UPI. “Saya merasa seperti benar-benar terjun sebagai peneliti lapangan. Peralatan modern membuat hasil penelitian lebih akurat dan mendalam,” ujarnya.

Selain riset, ia juga aktif menghadiri seminar dan diskusi akademik yang menghadirkan pakar internasional. Forum-forum ini menjadi sarana penting untuk memperluas jaringan sekaligus memahami bagaimana isu-isu global dikaji dari perspektif Malaysia.

Belajar dari Bentang Alam Malaysia

Selain ruang kelas dan laboratorium, bentang alam Malaysia menjadi media belajar nyata. Wilayah barat Semenanjung Malaysia memperlihatkan variasi lanskap mulai dari pesisir Laut Cina Selatan, dataran rendah aluvial, hingga Pegunungan Titiwangsa.

Keanekaragaman geologi terlihat dari dominasi batuan granit, sedimen, dan metamorf. Saat kunjungan ke Batu Caves, mahasiswa ini menyaksikan langsung struktur batuan kapur yang menjadi salah satu ikon geologi dan wisata Malaysia.

Pemanfaatan lahan juga menarik untuk diamati. Pesisir banyak digunakan untuk permukiman dan perkebunan kelapa sawit, sementara kawasan pegunungan masih didominasi hutan hujan tropis. Hutan tersebut tidak hanya menjadi sumber konservasi, tetapi juga daya tarik pariwisata yang mendukung ekonomi lokal.

Refleksi Akademik

Pengalaman akademik di UKM memberi pemahaman baru tentang bagaimana universitas di Malaysia membangun sistem pendidikan yang adaptif dan berorientasi global, tanpa meninggalkan identitas nasional. Perbedaan pendekatan antara UPI dan UKM justru membuka ruang saling melengkapi.

“Belajar di Malaysia membuat saya sadar bahwa pendidikan bukan sekadar soal isi kurikulum, tetapi juga bagaimana sebuah bangsa menjaga jati diri di tengah arus globalisasi,” tutupnya dalam catatan perjalanan akademiknya.

Penulis: Rafi Mahesa Akbar Sisnawar

Program Studi Pendidikan Geografi, Universitas Pendidikan Indonesia 

Email: [email protected]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *